PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 402. KEPERCAYAAN


__ADS_3

“Dari mana kau bisa tahu kalau aku tidak akan celaka?”


“Aku juga tidak tahu Dante!”


 


“Hans!” Dante bicara dengan penuh penekanan. “Kau adalah temanku yang paling jujur! Dan kau tidak bisa menyembunyikan rahasia apapun dariku, Hans!”


Dante tidak melanjutkan kata-katanya tapi dia tersenyum, dia tahu kalau sahabatnya sudah mengerti apa yang diinginkannya tapi bagaimana dengan Hans? Apakah dia akan berkata jujur pada Dante?


 


Apakah dia akan berkelit dan melakukan manuver? Hatinya bingung menentuka pilihan! Satu sisi dia ingin menjaga ucapan Barack dan di sisi lain dia juga ingin mewujudkan janjinya pada Henry tapi melihat wajah Dante yang sudah seperti sekarang sulit juga untuknya berbohong.


“Ehm….Dante mungkin kau saja yang melihat itu sebagai sesuatu yang aneh!” ujar Hans tak ingin bicara lebih banyak lagi.


“Hans! Pilihanmu hanya dua! Kau jujur padaku atau kehilangan kepercayaan selamanya?” ujar Dante. Kalimat itu sangat tidak disukai oleh Hans. Dia tidak ingin kehilangan kepercayaan sahabatnya itu.


“Apakah setelah aku menceritakan ini, akan mengubah pandanganmu tentang seseorang?” tanya Hans.


 


“Aku tidak akan merubah pandangan kepada siapapun! Aku menilai seseorang berdasarkan fakta! Seandainya memang dia pantas dinilai baik aku tidak akan merubah sikapku! Tapi seandainya aku merasa dia merugikanku maka aku akan melakukan tindakan terbaik untuk membuat diriku tidak terjatuh karena jebakannya!”


 


“Orang itu tidak bersalah Dante! Dia adalah orang yang jujur dan dia memang benar-benar menyayangimu setulus hatinya!” ujar Hans.


‘Aduh, bagaimana aku menjelaskan tentang Henry? Dante sudah semakin curiga!’bisik hati Hans yang berharap Dante menghentikan pertanyaannya sampai disana saja.


 


“Hans! Aku tidak suka bicara berputar-putar dan kau lihat kan?” Dante menunjuk jam tangannya.


“Waktu kita hampir habis Hans! Kau harus istirahat dan aku harus mengerjakan hal lainnya.”


Mendengar ucapan Dante, Hans mengangguk dan sejujurnya dia juga merasa sedikit bersalah.


“Maafkan aku Dante! Tapi aku berharap kau tidak merubah sikapmu setelah kau tahu tentang ini.”


 


“Katakan saja Hans!”


“Henry! Dia sudah memberikan kendaraan yang tepat untukmu sehingga Barack tidak khawatir.” Hans selesai bicara, dia memperhatikan Dante yang tidak merespon apapun dan hanya diam menatap Hans dengan pikirannya sudah melayang mencoba mempelajari maksud dari kata-kata Hans.


 


“Kau jangan negatif thinking dulu pada Henry!”

__ADS_1


“Jadi Barack meminta Henry menyiapkan persenjataanku tanpa mengatakan kepadaku dulu?”


“Karena hany itu yang bisa dilakukan.” ucap Hans gusar.


“Kenapa Barack tidak bicara denganku? Bukankah mudah untuk menyuruh Henry memberikan ponselnya padaku?”


 


“Percayalah padaku, aku sudah bicara dengan Henry sejak awal dan dia tidak pernah bicara dengan Barack! Dia bicara dengan temannya Barack!”


“Jadi aku ini ditusuk dari belakang oleh mereka maksudmu?”


“Kau jangan salah duga dulu! Apa kau pernah melihat bahwa aku melakukan sesuatu yang buruk dibelakangmu?” tanya Hans.


 


“Lalu apa yang mau kau katakan?”


“Dante, apa kau tahu sejak kapan Henry bekerja?”


“Aku rasa sebelum aku lahir, dia sudah bekerja padaku!” jawab Dante.


“Kau percayakan padanya?” tanya Hans lagi.


 


“Dia bukan orang sembarangan Dante!” ucap Hans.


‘Maafkan aku Henry! Aku harus menceritakannya kepada Dante supaya tidak terjadi salah paham. Dia sudah mengetahui tentang hal ini. Aku rasa dia akan mengerti dan tidak akan berpikir macam-macam tentangmu!’ bisik hati Hans.


 


“Lalu?” dengan wajahnya yang dingin Dante bicara tapi dia terlihat masih tetap sabar dan tidak meninggikan suaranya. Dia menahan semua emosinya.


“Teman Barack bernama Manuel itu, dia satu divisi dengan Henry!” akhirnya Hans pun bicara jujur mengatakan yang sebenarnya.


Cukup dengan kata-kata itu Dante sudah paham yang dipikirkan oleh Hans. Dan memang benar raut wajah Dante pun langsung berubah ketika mendengarnya.


 


Dia sudah bisa menyimpulkan sesuatu tapi sayangnya masih tidak tahu apa yang dikatakan Dante, pria itu masih diam dan tidak mengatakan sepatah katapun setelah Hans bicata. Dan ini sangat mengganggu Hans.


Kenapa harus membuatnya menunggu dan dia terlihat menjadi gusar. Wajah Dante yang tanpa ekspresi mengandung satu makna yang tak bisa dipahami oleh Hans.


 


“Jadi dari tadi kau bicara kemana-mana hanya untuk mengatakan itu saja?” ujar Dante setelah mereka berdua diam selama hampir lima menit.


“Ya! Kami tidak bisa memberitahumu tentang hal ini karena Henry tidak ingin kau berpikiran buruk tentangnya dan sejujurnya dia memang sangat setia padamu Dante!.”

__ADS_1


 


“Aku tahu!” jawab Dante sambil tersenyum.


“Jadi kau tidak marah kan padanya? Kau tidak akan mengusirnya dan membiarkan Henry pergi kan?” tanya Hans yang masih cemas.


“Hans! Jadi kau takut kalau aku marah?” Dante berdiri saat berbicara.


“Hmm! Aku takut kau marah padaku dan Henry!” jawabnya cepat karena memang itulah yang dia pikirkan sejak tadi.


“Fuuuh!” Dante menghempaskan napas lalu diam sejenak dan menatap Hans.


“Kau benar-benar taku aku marah pada Henry?”


 


“Ya tentu saja!” jawab Hans mengangguk karena pembicaraan mereka sudah berlangsung selama satu jam. Karena rasa khawatirnya Hans tak berani jujur sebelumnya karena dia khawatir jika kejujurannya itu bisa membuat hubungan Dante dan Henry menjadi buruk. Apalagi Dante memang sangat membenci mata-mata.


 


“Sudahlah! Sebaiknya sekarang kau tidur! Siapkan dirimu karena malam ini mungkin adalah malam yang berat. Kau tidak akan punya waktu untuk beristirahat! Aku tidak tahu penyerangan seperti apa yang akan terjadi nanti.” setelah selesai bicara Dante langsung berdiri dan melangkah keluar ruangannya. Dia bergegas langsung ke bawah meninggalkan Hans seorang diri.


 


“Dasar bodoh! Satu jam dia menghabiskan waktuku hanya untuk mendengar ucapannya itu?” gumam Dante lagi. Entah apa yang ada dalam pikirannya, apakah dia marah pada Henry, tidak ada yang tahu.


Dante tidak membuka isi hatinya kepada siapapun, dia hanya berjalan menyusuri tangga ke lantai dasar hingga netranya tertuju pada bayangan yang sedang berjalan mendekat.


 


“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Dante pada dua orang yang berjalan mendekatinya.


“Ehm...kami tidak melakukan apapun. Hanya berjalan-jalan saja di halaman belakang mengisi waktu luang sambil menunggu topengnya siap dibuat.” ucap Nick yang memang sedang berjalan berdua dengan Henry.


 


Sedangkan orang yang disebelahnya tidak banyak bicara, Henry tidak ingin ikut campur kalau dirinya tidak ditanya dan Dante juga tidak mengatakan apapun padanya.


“Topengnya sudah selesai?” tanya Dante.


“Belum Dante! Ini setengah jam lagi baru selesai!” Nick yang menjawab sambil melihat kearah jam tangannya.


 


“Lalu, sekarang kalian mau kemana?” tanya Dante menatap Henry.


“Kami akan pergi ketempat pembuatan topengnya, Tuan.” Henry tahu kalau Dante ingin dirinya yang menjawab sehingga dia menjawab duluan.


Dante mengangguk, “Kalau begitu setelah kau mengantar Nick ketempat pembuatannya segera temui aku! Sekarang aku mau pergi melihat keadaan Omero.” ujar Dante lalu berbalik menuju ruangan dimana Omero dirawat.

__ADS_1


__ADS_2