
‘Ya ampun apa yang sudah kulakukan pada istriku? Apa yang kuperbuat padanya? Bagaimana bisa aku tidak merasakan apa yang kulakukan tadi bersamanya? Mengapa aku malah menjadikannya pelampiasan dan malah membayangkan sedang bersama Bella? Perasaan tadi itu adalah perasaanku untuk wanita lain bukan untuk istriku. Tatiana maafkan aku!’ ucapnya dalam hati.
Dia sama sekali tidak menikmati kebersamaannya bersama Tatiana tapi dia merasakan suatu perasaan lain saat dia membayangkan wajah Bella. Semuanya hanyalah Bella, yang mengisi hati dan pikirannya kembali.
Dia bahkan sama sekali tidak mengingat wajah istrinya ketika mereka melakukannya, pikirannya entah berada dimana dan dia hanya mengingat Bella…..Bella dan Bella. Dia menumpahkan semua rasa itu dan ini belum pernah terjadi pada Dante sebelumnya.
‘Kau sangat berbeda hari ini sayang,” ujar Tatiana tersenyum puas. Sikapnya makin manja pada Dante dan tidak peduli atas apa yang telah diperbuat oleh suaminya tadi.
“Maafkan aku Tatiana! Aku bersikap kasar padamu.” jawab Dante sambil memegang lebam biru akibat ulahnya tadi. Dia benar-benar mengasari istrinya, memukul dan bermain sangat kasar layaknya memperlakukan seorang wanita malam.
“Aduh sakit.” ujar Tatiana saat tangan Dante memegang bagian tubuhnya yang nampak bengkak dan lebam biru.
“Aku….aku telah menyakitimu. Maafkan aku!” Dante mengangkat tubuhnya disamping Ttaiana, menarik wanita itu kedalam pelukannya dan mengelus bekas-bekas lebam yang diakibatkan oleh perbuatan Dante yang terlalu kencang menahannya. Bahkan pria itu sempat memukuli bokong istrinya sampai bengkak dan lebam biru membuat wanita itu merasakan sakit di bokongnya.
Wanita itu memiliki luka bukan hanya disatu tempat, tapi dibeberapa bagian tubuhnya terutama titik saraf sensitif, Dante melihat semua bekas luka itu.
“Aku hanya bercanda, sayang. Tidak sakit sama sekali. Aku bahkan sangat menikmatinya, sayang. Kali ini kau sangat berbeda dan aku suka itu! He he he he...” ucapan Tatiana membuat Dante hanya mengerlingkan mata menatapnya.
“Aku tidak sengaja melakukannya. Maafkan aku telah berbuat kasar padamu.” ucap Dante lirih.
“Kau sama sekali tidak menyakitiku, sayang. Aku tahu kau hanya ingin memuaskanku, iyakan?”
“Suamiku, kau adalah laki-laki yang tampak sangat kejam dan garang diluar, bagi orang yang tidak mengenalmu kau sangat mengerikan tapi sebenarnya kau adalah pria yang lembut. Apakah kau tahu kalau aku tidak pernah merasakan hubungan yang sekeras ini denganmu sebelumnya. Ehm….maksudku, aku tidak pernah merasakan kau yang bersikap sangat menginginkanku!” ucap Tatiana dengan wajah sumringah.
“Tapi tadi, kau memperlakukanku seperti kau begitu menginginkanku dan mendambakan tubuhku. Kau benar-benar mencari kepuasanmu dan memuaskanku. Ini belum pernah terjadi selama pernikahan kita, sayang. Kau benar-benar melampiaskan semua perasaanmu padaku. Terimakasih. Untuk pertama kalinya aku merasakan benar-benar dicintai olehmu.” jawab Tatiana.
Dia menyalah artikan sikap suaminya tadi, dia begitu bahagia merasakan bagaimana suaminya melampiaskan semua perasaan padanya. Dia menganggap bahwa pria itu melakukannya karena kasih sayang dan cinta yang begitu besar juga rasa bersalah karena sejak lama mereka tidak saling memuaskan. Tatiana memeluk erat tubuh suaminya dan senyum menghiasi wajah cantiknya.
__ADS_1
“Apa kau merasa begitu?” tanya Dante. Posisi mereka berdua masih dalam keadaan polos diatas ranjang. Tatiana menggangguk sebagai jawaban lalu melirik kearah suaminya.
“Kau benar-benar membuatku merasa sangat puas dan lebih hidup, sayang! Ini sangat aneh terasa seperti ada sesuatu yang berbeda. Terima kasih, sayang.” balas Tatiana lalu mengecup bibir suaminya.
Tok! Tok! Tok!
“Siapa yang berani mengetuk kamarku?” tanya Dante tanpa merespon untuk membukakan pintu kamarnya. Tapi suara ketukan kembali terdengar.
Tok! Tok! Tok!
“Sayang, sepertinya anak kita sudah selesai latihan piano. Mungkin Alex yang mengetuk pintu, tidak ada satupun pekayan yang berani mengetuk pintuk kecuali jika Alex yang memintanya.” Tatiana langsung bangkit dari tempat tidur lalu mengenakan bathrobenya.
“Biar aku yang buka pintunya. Kau bersihkan dirimu, biar aku yang mengurus anak kita. Istirahatlah sayang, aku tahu kau lelah.” ujar Dante lalu memberi kecupan didahi istrinya.
“Tapi, sayang…..kau juga belum tidur dari semalam, bukan? Biarkan aku saja yang mengurus Alex.” pinta Tatiana. Dia memberikan perhatian penuh pada suaminya karena hatinya bahagia pagi ini.
‘Ahhh….gawat kalau begini. Aku rasa lebih baik aku menghindari Tatiana untuk beberapa menit atau beberapa jam ke depan untuk menenangkan perasaanku!’ gumamnya dalam hati. Dia menyadari bahwa semua rasa yang telah diberikannya tadi bukanlah untuk Tatiana istrinya sehingga Dante harus mencari alasan yang tepat.
‘Apa yang kulakukan padanya tadi itu salah! Aku sudah menyakitinya dan aku tidak boleh membuatnya merasa senang apabila disakiti, itu hubungan yang menyimpang!’
Dia mencintai istrinya dan sangat berhati-hati dalam bersikap pada istrinya karena itu Dante berusaha mencari sesuatu yang biasa mengalihkan emosinya. Tanpa pria itu sadari rasa cintanya pada Tatiana istrinya tidaklah sebesar yang dia pikir. Toh, dia lebih membayangkan wajah wanita lain dan perasaannya lebih bergejolak saat memikirkan wanita lain daripada memikirkan istrinya.
Dan kepuasan yang didapatnya saat bersama istrinya terasa berbeda dibandingkan dengan kepuasan yang didapatnya dari Bella. Kenangan masa lalu itu bahkan mampu memporakporandakan akal sehatnya. Tapi Dante belum menyadari semua itu.
“Daddy!” ujar Alex sambil tersenyum saat pintu kamar terbuka dan melihat wajah ayahnya. Bocah laki-laki itu melebarkan tangannya minta digendong dan Dante pun menggendongnya.
“Saya permisi dulu, Tuan.” kata pelayan yang mengantar Alex. Dante hanya mengganggukkan kepalanya tanpa melirik pada pelayan itu.
__ADS_1
“Apakah kau merindukan daddy?”
“Sangat rindu! Daddy kemana saja? Aku tidak melihatmu.” jawab Alex jujur.
“Hem….daddy sibuk sekali. Ada banyak pekerjaan yang harus kuurus Alex sayang. Tapi sekarang daddy sudah disini bersamamu. Daddy akan menemanimu, apa kau senang?”
“Senang….senang sekali daddy! Tapi kita mau kemana?” tanya Alex lalu menyandarkan kepalanya dibahu Dante yang menggendongnya.
Sikap bocah laki-laki itu sangat berbeda pada ayahnya. Dia selalu manja dan lembut pada ayahnya, sedangkan pada Tatiana sikap Alex lebih acuh dan tidak terlalu mempedulikannya. Alex sangat menyayangi ayahnya dan sebaliknya Dante pun menyayangi putranya dan memanjakannya. Bagi Alex, bahu Dante adalah tempat favoritnya, dia selalu meletakkan kepalanya dibahu itu dan bermanja-manja.
Alex tidak pernah bersikap semanja itu pada Tatiana, meskipun wanita itu bersikap baik padanya.
“Kita ke kamarmu ya sayang.” jawab Dante melangkah kearah kamar putranya.
“Aku tidak mau ke kamarku daddy…...aku lapar.” ujar Alex membuat Dante mengedipkan mata menatapnya dan menghentikan langkah tepat didepan kamar Alex.
*Visual Akexander Sebastian
“Apa anak daddy belum makan?” tanya Dante yang kini merasa khawatir apalagi saat Alex mengatupkan mulutnya dan menggelengkan kepala.
“Kenapa tidak makan sama mommy? Apa kau menunggu makanan daddy ya? Apa kau mau daddy yang masak makanan untukmu?”
Alex tersenyum ketika mendengar ayahnya menawarkan sesuatu yang diinginkannya, dia mengganggukkan kepala.
Hai para pembaca semua 👋👋 mohon dukungannya ya buat novel ini. Tolong dilike dan komen ya biar author makin semangat nulisnya 🙏🙏😘
__ADS_1