
“Dia terluka di kepala dan sepertinnya dia amnesia, Tuan. Dia tidak ingat apapun bahkan namanya sendiri pun dia tak mengingatnya.”
“Hem….tahan dia. Aku bisa manfaatkan dia jadi bonekaku! Terus awasi gerak geriknya dan obati lukanya. Jangan sampai lengah! Pastikan dia lupa ingatan atau tidak. Kalau dia ternyata tidak lupa ingatan langsung bunuh saja!”
“Baik, Tuan.” ujar anak buahnya. Lalu Jeff mematikan teleponnya lalu tersenyum menatap Tatiana.
“Kita lanjutkan permainannya.”
“Baiklah! Aku juga ingin tahu seperti apa kemampuanmu!” ujar Tatiana menggerakkan tubuhnya dan mengubah posisinya dengan kedua kakinya ditekuk dan membukanya lebar. Jeff melepaskan semua pakaiannya lalu dia mengambil sesuatu dari sakunya lalu memberikan pada Tatiana.
“Ambil ini! Akan membuatmu semakin menikmati sensasi sakit yang menyenangkan.” ujar Jeff memberikan sebuah pil yang langsung diambil Tatiana.
“Pil apa ini?”
“Seperti kubilang tadi. Pil itu akan memberimu sensasi lebih menarik.” Jeff enggan menjelaskan panjang lebar dia mendorong pil ditangan Tatiana memasukkan kedalam mulutnya. Jeff mengambil gelas berisi air diatas nakas lalu menyodorkan pada Tatiana. Pria itu memberinya pil yang diproduksinya, pil itu adalah obat terlarang yang selalu dibawa oleh Jeff. Pria itu adalah produsen dan pengedar obat terlarang nomor satu didunia.
Tak butuh waktu lama obat itu langsung bereaksi begitupun dengan Jeff. Pria itu langsung memulai permainannya menyiksa Tatiana. Ada senyum sinis dan menyeringai diwajahnya, baginya ini sebuah permainan yang menarik karena dia bisa menikmati istri Dante, musuh besarnya.
Siksaan demi siksaan yang diberikan oleh Jeff ditambah reaksi obat membuat Tatiana menjerit-jerit menahan sakit dan nikmat disaat bersamaan. Tatiana tersenyum puas, untuk pertama kalinya dia merasakan permainan yang berbeda. Jeff memperlakukannya layaknya binatang.
Bukannya marah, justru sebaliknya Tatiana merasa puas dan senang bahkan dia merasa kepuasan hanya dari seorang Jeff yang sepadan dengan bermain dengan sepuluh pria seperti kemarin. “Kau benar-benar hebat.” ucap Tatiana memuji Jeff yang masih menyiksanya.
“Sudah kubilang kalau kau akan menyukainya!”
“Ahhh…..aku sangat suka! Kupikir kau bukan seorang masokis!” ucap Tatiana.
“Akulah master masokis! Aku bisa menyiksamu sampai-sampai kenikmatan yang kau rasakan membuatmu lupa tentang apapun.” kata Jeff.
“Kau tidak boleh membuat luka ditubuhku yang bisa dilihat oleh suamiku.”
“Memangnya kenapa kalau suamimu tahu, hem? Kau bisa datang padaku.” ujar Jeff mulai taktiknya.
“Sssshhhhh……..banyak sekali darahnya!” seru Tatiana saat melihat bagian tubuh bawahnya yang mengucurkan darah. “Enak sekali! Apa yang kau gunakan menusuknya?”
__ADS_1
“Obeng!” jawab Jeff tenang.
“Kenapa kau tidak menjawabku? Kenapa kau tidak mau suamimu tahu?”
“Dia tidak tahu kalau aku masokis.” jawab Tatiana tanpa sadar bicara.
Pengaruh obat yang diberikan Jeff membuatnya mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya dia katakan. Dan itu membuat Jeff cukup puas dan senang, setidaknya dia mengetahui lebih banyak tentang Dante dari mulut Tatiana langsung. Sedangkan Tatiana yang tidak tahu siapa Jeff sebenarnya malah menikmati permainan pria itu yang masih terus menanyakan tentang beberapa hal padanya.
Sepertinya Tatiana akan mendapat hantaman keras dari Dante karena dia sudah bermain dan menceritakan semuanya pada Jeff, musuh Dante. Di sisi lain Jeff terus bermain-main ditubuh Tatiana memberikan siksaan dan kenikmatan sesama masokis. ‘Ini sangat menarik! Ternyata istrimu seorang masokis Dante! Ha ha ha ha aku bahkan menikmati tubuh istrimu dan menyiksanya!’ Jeff tersenyum.
Jeff Amadeo yang berada di Italia sedang menikmati permainannya bersama Tatiana sedangkan Dante sama sekali tidak tahu kalau istrinya sedang bersama musuhnya, orang yang sedang berperang dengannya dan yang menculik Barack. Andai saja dia mengetahui apa yang sedang dilakukan Tatiana, entah bagaimana reaksi Dante.
...*******...
Sepuluh jam kemudian.
“Daddy, apa kita sudah sampai?” Alex perlahan membuka matanya dan menatap pria didepannya.
“Maafkan aku mengganggumu dengan mengelus rambutmu.” Dante tersenyum, “Sebentar lagi kita turun, jadi kau harus bangun sekarang Alex.” suara Dante sangat lembut menenangkan hati Alex.
“Minumlah dulu.” Dante mendudukkan anaknya dan menyodorkan air minum. “Setelah ini kita turun.”
“Apa kita sudah mendarat daddy?”
“Sudah. Lihatla kita sudah dibandara. Aku membangunkanmu setelah landing.”
“Apa aku akan bertemu Bella-ku disini? Ini tempat Bella-ku kan daddy?” kata Alex yang mengingat jika Bella berasal dari Indonesia.
‘Aduh! Kenapa kalimat itu terus yang dia tanyakan padaku? Bella lagi dan lagi. Apa dia tidak punya pertanyaan lain padaku selain ingin bertemu dengan Bella?’ ujarnya dalam hati tapi bibirnya masih mengatup. Dante menggelengkan kepala saja sebagai jawaban untuk anaknya.
“Jadi kita ketemu Bella disini?” Alex mengerutkan alisnya dan wajahnya cemberut.
“Aku sudah bilang kalau Bella tidak ada disini. Aku kesini untuk menyelamatkan temanku, Alex sayang. Ini misi yang berbeda.”
__ADS_1
“Oh!” hanya satu kata itu saja yang diucapkan Alex. Banyak yang ingin ditanyakannya tapi Alex tidak lagi bicara, dia hanya menatap Dante.
“Ayo kita turun.” Dante membuka tangannya membiarkan Alex mendekat dan masuk dalam dekapannya.
“Kita pergi berdua daddy?” ucap Alex yang mengalungkan kedua tangannya di leher Dante.
“Iya sayang. Kau dan aku sudah pergi berdua. Kau senang sekarang?” tanya Dante menggendong anaknya.
“Aku senang daddy.” jawabnya sambil menempelkan kepalanya ditubuh Dante begitu damai dan dia pun tersenyum dengan tangan mengalung manja di leher ayahnya.
“Kau senang menempel padaku seperti ini?” tanya Dante yang membuat dirinya merasa sakit sendiri.
‘Kau ini benar-benar mengingatkanku pada ibumu, Belinda Alexandra! Dia juga sangat senang menempel padaku begini. Untuk apa aku memikirkannya sekarang? Aku bisa melupakannya dulu, siapa yang tahu mungkin dia sekarang sedang menikmati sesuatu yang paling dia sukai yang panjang milik Anthony! Cih! Sepuluh jam dipesawat aku masih saja berpikiran seperti itu.’
Pikiran itu kembali membuat Dante kesal dia sudah mencoba berbagai cara untuk mengalihkan pikirannya selama perjalanan di pesawat tapi tetap saja pikiran itu selalu mengganggunya. Dante berpikir kepergian Bella memang sengaja ingin meninggalkan dirinya. Dante tidak tahu jika Bella bahkan tidak sadarkan diri setelah mengalami semua kekasaran karena perbuatannya.
Ini bukan pertama kalinya bagi Bella, kejadian saat dia melahirkan Alex sudah membuatnya trauma ditambah lagi kejadian Julian yang mengambilnya dan menjadikannya wanita malam itupun membuatnya trauma lagi dan mengganggu mentalnya. Di tambah lagi harus melayani banyak laki-laki dan kemarin disiksa Dante benar-benar mengena pada Bella yang membuatnya seperti sekarang.
Tapi Dante tidak tahu semua itu dan tentu saja dia tidak merasa bersalah saat ini. Justru hatinya tak berhenti memaki Bella, dia pikir Bella benar-benar menikmati hidupnya bersama Anthony.
“Kita kembali ke tempat panas ini lagi, daddy.” ucapan Alex membuat Dante meliriknya.
“Panas?”
“Iya daddy! Panas nggak ada salju.” Alex menjelaskan maksudnya.
“Iya Alex. Di Indonesia iklimnya tropis dan disini memang tidak ada salju seperti ditempat kita.”
“Tapi aku suka disini daddy.”
Dante tersenyum dan melirik Alex, “Kenapa kau suka disini?”
“Aku suka daddy, Aku bisa makan manggis!” ucap Alex polos.
__ADS_1
“Ah, buah kesukaanmu Alex?” tebak Dante.