PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 215. DUA PILIHAN


__ADS_3

“Aku tidak pernah berpikir sejauh itu!” jawab Tatiana.


“Kau mungkin bisa membohongi orang lain. Tapi kau tidak akan pernah bisa membohongiku Tatiana!” Omero kembali menatap Tatiana. “Kau tidak menyukai Cassandra dan kau merasa kalau dia adalah pengganggu. Kau takut Dante memperhatikannya kelak apalagi Cassandra sangat menyukai Dante!”


“Cassandra suka makanan buatan Dante dan dia juga suka bermain dengan Dante. Dante pun sangat menyukai Cassandra. Itu membuatmu merasa tidak tenang, kau marah dan semakin membenci Cassandra saat melihat anak itu tumbuh besar menjadi gadis kecil yang sangat cantik! Kau iri dan cemburu padanya, karena kau sudah membayangkan jika dia sudah besar nanti.”


Omero membuang pandangannya keluar jendela mobil, “Kau sama egoisnya seperti ibumu! Kalian selalu berlindung dengan menggunakan penyakit kalian sebagai alasan dan tidak mau berobat. Tapi kalian juga tidak mau melepaskan pria yang kalian sukai! Kau tahu kenapa aku memilih kembali pada ibumu? Karena dia mengancam jika aku meninggalkannya maka dia akan membunuh wanita itu dan anak kedua anak kami!” Omero terlihat sangat sedih.


“Aku terpaksa menyakiti hati wanita itu dan memilih ibumu karena aku tidak ingin hidupnya tersiksa dan kehilangan anaknya! Lebih baik baginya pergi jauh dan memulai hidup baru, rasa sakit dihatinya pasti akan hilang seiring dengan berjalannya waktu!”


“Jadi kau sengaja mengajakku keluar hanya untuk mengatakan kalimat ini?”


“Aku mengajakmu keluar untuk bicara dan memberimu pilihan, Tatiana!” Omeroa menatapnya lagi.


“Aku tidak mau pilihan manapun! Aku bisa menentukan hidupku sendiri dan semuanya baik-baik.”


“Tidak kali ini Tatiana!” Omero menggelengkan kepalanya, “Aku tidak akan membuat Dante terus menerus menderita karenamu. Dia sudah seperti anakku sendiri, aku akan memberimu pilihan untuk melindungi Dante dan Alex!”


“Aku tidak mau memilih apapun!” Tatiana berteriak sambil menggelengkan kepalanya dan mencoba membuang pandangannya keluar jendela mobil.


Omero memegang tangan Tatiana, masih berusaha untuk membujuknya. Tapi---


“Lepaskan tanganku ayah!”


“Tatap mataku Tatiana! Aku akan tetap memberimu pilihan walaupun kau tidak suka! Kau tidak punya alasan apapun untuk menolak pilihanmu!”


“Ayah!”


“Silahkan pilih Tatiana! Pertama, kau ikuti terapinya untuk menyembuhkan penyakitmu atau yang kedua kau bisa terus bersenang-senang dengan pria-pria itu karena penyakitmu yang tak ingin kau sembuhkan tapi aku mau kau bercerai dengan Dante! Kau harus pilih!” kata Omero tegas.

__ADS_1


“Sudah kubilang aku tidak akan memilih! Biarkan aku menjalani hidupku sendiri, berhentilah mengurusi hidupku, ayah!”


“Fuuh! Kau jangan pernah berpikir kalau kau bisa menolak! Aku memberimu dua pilihan! Jika kau tidak mau memilih maka aku terpaksa mengatakan yang sebenarnya pada Dante! Biar dia yang memutuskan apa yang akan dia lakukan!”


“Jangan mengancamku!” teriak Tatiana semakin marah dan hidungnya kembang kempis.


“Pikirkan baik-baik Tatiana! Kau berobat dan sembuh bisa melanjutkan hidupmu bersama Dante dan Alex. Atau kau bercerai dan teruskan kesenanganmu bersama pria-pria itu, tapi kau harus ingat suatu saat Dante akan tahu. Dan saat itu terjadi, pikirkan apa yang akan dilakukannya pada seorang pengkhianat! Kau tahu betul betapa kejamnya dia pada orang yang membohongi dan mengkhianatinya! Apa kau pikir dia akan melepaskanmu begitu saja, ha? Aku pun akan ikut menanggung itu, Tatiana!”


 


Sementara itu diwaktu yang bersamaan di Kota Nova Gorica, Slovenia


“Ehmm…..”


“Bella! Kau sudah sadar?” Anthony melihat Bella berdehem dan menggeliatkan tubuhnya. Dia pun langsung mendekat ke tempat tidur. Anthony memegang tangan wanita itu,raut wajahnya terlihat sangat bahagia saat memandang Bella yang sudah mulai sadar .


“Bangunlah! Sekarang kau sudah aman, aku sudah membawamu keluar dari ruangan mengerikan itu! Ayo bangunlah Bella! Kau sudah bebas sekarang dan kau aman disini, aku akan melindungimu!” bujuk Anthony kembali memanggil wanita itu, mencoba membawanya kealam kesadaran.


“Bella, syukurlah kau sudah bangun. Aku merasa sangat khawatir.” ucap pria itu merasa lega sambil menyunggingkan senyum saat melihat kedua mata Bella perlahan mulai terbuka. Tapi-----


“Hhheee….” tatapan mata wanita itu bergidik melihatnya.


“Bella, kau takut padaku?” bukan tawa bahagia dan senyum yang ditunjukkan oleh Bella melainkan langsung menarik tangannya dari genggaman Anthony.


Dia menatap pria itu dengan sangat ketakutan, membuat senyum yang tadi tampak diwajah Anthony pun langsung sirna. “Bella? Kau baik-baik saja kan? Jangan takut ya ini aku Anthony. Kau lupa padaku? Aku Anthony.” dengan wajah cemas dia mencoba bicara dengan Bella.


‘Ya Tuhan! Ada apa dengannya? Apa dia melupakanku? Tidak ada yang berubah dari wajahku masih seperti biasa yang dia kenal. Tapi kenapa dia malah takut melihatku dan menghindariku?” Anthony jadi bingung karena saat ini Bella justru menarik dirinya menjauh dari pria itu. Bella merubah posisinya menjadi duduk dan menghindar dari Anthony, entah apa yang ada didalam pikiran Bella tapi dia terlihat sangat takut pada pria itu.


“Bella? Kau tidak mengingatku? Aku Anthony!” lagi-lagi Anthony tak menyerah memanggil Bella dan mencoba untuk mencairkan suasana agar wanita itu merespon dan tidak takut lagi. Baiklah, aku akan menjaga jarakku denganmu, segini cukup ya? Kau tidak perlu takut padaku, aku hanya ingin menolongmu.” Anthony bicara sambil menatap Bella.

__ADS_1


“Hhhhh!”


“Bella, kenapa kau gemetaran begitu? Kau kenapa?” tanya Anthony. ‘Sepertinya dia benar-benar trauma Dia bahkan tidak berani bicara padaku. Bella menjaga jaraknya dan dia sangat ketakutan. Ya Tuhan, kasihan sekali kau Bella! Apa yang telah dilakukan Dante sehingga membuatmu jadi begini? Aku sudah menjauhimu tapi kau masih juga ketakutan,” gumam Anthony lirih.


Dia tidak mengerti apa yang menyebabkan Bella bersikap seperti itu padanya. “Kau tidak apa-apa kan? Kau tidak mau bicara denganku atau kau masih membutuhkan waktu untuk sendiri, Bella?” Anthony kembali mencoba menanyai wanita itu tapi tetap saja tidak ada respon, dia hanya menatap nanar pada Anthony. Bibirnya seakan kelu dan pikirannya masih belum sepenuhnya sadar.


Bella masih sibuk memikirkan sesuatu yang sangat penting baginya.


“Bella? Kau masih belum mau meresponku? Sudah setengah jam kau seperti ini Bella.” ujar Anthony lagi dengan wajah yang semakin khawatir melihat keadaan wanita itu.


“Hhhhh…...” bukannya menjawab, Bella justru semakin gemetaran tubuhnya dan semakin ketakutan.


“Bella, aku tidak akan menyakitimu!”


“Hhhhhh!”


“Oke….oke…..aku tidak akan berusaha untuk menyentuhmu tapi bisakah kau belajar bersikap seperti biasa padaku?” Anthony mengangkat tangannya dan menjauh karena tadi posisinya agak dekat dengan Bella dan mencoba memegang tangannya. Tapi saat melihat respon wanita itu yang ketakutan, Anthony pun menarik tangannya.


Tatapan matanya masih terlihat cemas menatap pada Bella.


“Dante! Kau adalah dia! Dante…...Sky!”


“Dante?” Anthony mengerutkan alisnya ketika mendengar justru nama itu yang keluar dari bibir Bella.


“Kau ingin bercerita padaku tentang Dante?” tanya Anthony lagi.


“Dante!” kembali nama itu saja yang keluar dari bibir Bella, tidak ada kata lain yang diucapkannya.


Tidak ada anggukan kepala, tidak ada ekspresi apapun diwajah wanita itu kecuali nama itu yang disebutnya berulang membuat Anthony semakin furstasi. “Kau ingin bercerita tentang Dante padaku atau kau ingin bertemu dengan Dante?” dia sudah tak tahan lagi mendengar ucapan Bella yang terus saja menyebut nama Dante.

__ADS_1


__ADS_2