
“Aku memang bukan ibu yang baik.” airmata buaya pun berderai.
“Sudahlah jangan menangis lagi.” Dante langsung memeluk Tatiana. “Aku tidak ingin memarahimu Tatiana, aku hanya ingin memberitahumu kalau apa yang kau lakukan itu salah. Harusnya kau cerita padaku. Kau tidak bisa menyimpan semuanya dibelakangku.” Dante benar-benar merasa tidak enak hati. “Aku tahu kau melakukan ini karena kau mencintaiku.”
“Aku salah Dante. Sebenarnya aku ingin bicara denganmu tapi aku tidak berani. Aku takut kau akan membenciku karena aku tidak bisa memberi makan Alex. Aku sudah memberikan segala macam makanan tapi dia tetap menolak dan hanya ingin makan masakanmu.”
“Tidak apa-apa Tatiana. Aku mengerti. Maafkan kata-kataku yang menyakit hatimu ya.”
Tatiana menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu memikirkan aku Dante. Aku paham kondisinya karena ini memang salahku!”
“Tidak, aku tidak ingin mencari siapa yang salah dan benar, aku hanya mencari kebenaran. Aku ingin berdiskusi denganmu karena ini masalah anak kita. Aku tidak mau sampai dia memikirkan hal yang buruk.” ujar Dante.
“Aku mengerti. Aku akan selalu menceritakan perihal apapun padamu. Aku minta maaf.” ucap Tatiana dengan wajah memelas.
‘Sialan kau Henry! Mulai berani kau mengadu pada suamiku. Sebentar lagi aku akan membuat perhitungan denganmu!’ gumam Tatiana didalam hatinya yang kini marah pada Henry.
“Sudahlah. Aku sangat mencintaimu, kita tidak perlu membahas hal ini lagi. Aku harap kita sudah sama-sama mengerti sekarang. Aku akan buatkan makanan Alex dulu ya.”
Tatiana tersenyum tapi masih dengan kesedihannya. “Sekali lagi aku minta maaf Dante. Aku telah mengecewakanmu, aku adalah ibu yang gagal dan tidak bisa memberi makan anak sendiri.” Tatiana menghina dirinya sendiri dihadapan Dante membuat pria itu merasa semakin bersalah.
“Jangan bicara begitu. Sudah ya istirahatlah. Kau adalah ibu yang baik, saking baiknya kau menutupi semua masalah didalam hatimu. Itu yang membuatku sangat malu padamu Tatiana. Aku menyusahkanmu.” kata Dante lagi.
“Sudahlah Dante. Pergilah, buatkan makanan Alex. Jangan pikirkan aku, biar aku istirahat sekarang.”
“Tapi aku takkan pergi kalau masih melihatmu sedih begini.”
“Tenang saja, aku tida apa-apa. Aku tidak marah padamu justru aku marah kalau kau lama membuat makanan untuk Alex.” Tatiana bicara sambil mengerucutkan bibirnya pura-pura marah.
“Maafkan aku sayang.”
“Pergilah. Alex sudah lapar dan dia pasti sudah menunggu masakanmu.”
“Baiklah, aku pergi dulu.” Dante pun pergi dan menutup pintu kamar.
“Alex! Anak itu, huh! Tatiana benar, aku harus cepat-cepat.” Dante bersemangat sekali, dia langsung pergi ke dapur.
“Tolong siapkan bahan-bahan makannya.”
“Kesukaan Tuan Alex?” tanya sang koki.
Dante menganggukkan kepala, “Dua porsi!”
“Dijadikan satu Tuan?”
“Tidak usah. Pisahkan saja.” ujar Dante singkat.
“Baik, Tuan.”
Norman pun menyiapkan semua bahan makanan yang diminta oleh Dante.
__ADS_1
“Norman!” Dante menoleh pada orang disampingnya.
“Tumben sekali anda memanggil nama saya, Tuan.” ujar pria itu tersenyum. ‘Aku pikir Tuan Dante tidak tahu namaku karena ini kedua kalinya dia memanggil namaku sejak aku bekerja disini.” ucap hati Norman.
“Tidak bisakah kau memasak seperti aku?” Dante memicingkan matanya pada Norman.
“Ehm, tentu saja bisa Tuan.”
“Kalau begitu lakukan seperti yang aku lakukan. Ada dua stove disampingku untuk memasak. Aku ingin kau melakukannya sama persis seperti yang aku lakukan dan jangan pernah melupakan rasanya. Harus persis sama dengan masakanku.”
“Baik Tuan.”
“Satu rasa yang berbeda maka aku tidak segan-segan menghabisi satu anakmu!”
Glek….Norman menelan salivanya mendengar ucapan Dante.
‘Mati aku! Aku harus benar-benar mencatat resepnya jangan sampai salah.’ gumamnya lalu mengeluarkan catatan kecil dari sakunya.
“Baik Tuan. Saya akan ikuti anda.” ucapnya. Pria itu memperhatikan Dante memasaka, semua bahan, bumbu dan sangat serius tidak melupakan hal sekecil apapun.
“Jangan terlalu kaku Norman! Aku tidak mengajarimu dua kali. Jadi kau harus mengingat semuanya kalau kau kaku dan stress kau tidak akan bisa membuat makanan ini sesuai dengan ekspektasiku.”
“Baik, saya mengerti Tuan.”
“Baguslah kalau kau mengerti!” dia pun kembali sibuk dengan masakannya hingga matang lalu meletakkan diatas piring.
“Bagaimana rasanya?”
“Kalau menurut saya, rasanya sudah sama Tuan.” jawab Norman dengan suara terbata-bata.
“Ambilkan aku dua piring.”
“Baik Tuan.” lalu Dante memotong bagian kecil di dua piring itu.
“Kau!” Dante memanggil seorang pelayan wanita.
“Iya Tuan!” pelayan itupun berjalan mendekat.
“Coba kau rasakan dan bandingkan mana yang buatanku dan mana buatan Norman.”
‘Aduh, kenapa susah sekali pekerjaan ku hari ini. Ngeri!’ pelayan wanita itu langsung pucat dan menatap kearah piring berisi makanan.
“Makanlah!” perintah dante pada pelayan itu.
“Baik, Tuan.” tak ada kesempatan untuk melihat kearah Norman sehingga pelayan wanita itu semakin khawatir jika salah bicara,
‘Kau sudah mencoba semuanya. Katakan padaku mana yang lebih enak yang disebelah kanan atau di tangan kiriku?” tanya Dante lagi.
Pelayan itu semakin bingung karena dihadapkan pada pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya,
__ADS_1
“Ehm….” hanya itu yang keluar dari bibirnya.
“Aku mau kau menjawabnya. Jangan buang waktuku karena aku masih banyak pekerjaan.”
“Rasanya sama Tuan! Saya tidak tahu mana yang lebih enak, tapi mungkin yang ini.”
“Kau memilih yang ada ditangan kiriku?”
“Mungkin yang ditangan kanan Tuan.”
“Jadi mana yang menurutmu lebih enak?” Dante memicingkan mata menatap pelayan wanita itu yang menundukkan kepala ketakutan.
‘Aduh, aku harus jawab apa ya?’ bisiknya dalam hati.
“Jawab pertanyaanku!”
“Yang pertama Tuan.”
“Pergilah!”
“Sudah selesai Tuan?” ujar pelayan itu memastikan.
“Memangnya kau mau apalagi?”
“Oh tidak Tuan.. Kalau begitu saya permisi Tuan.” pelayan wanita itu pun bergegas pergi dan meninggalkan dapur, tempat paling aman saat ini adalah diluar dapur. Dimanapun itu asalkan menjauh dari Dante.
“Norman!”
“Ya Tuan!”
“Kau harus meniru masakanku, bukan membuat lebih enak!”
“Saya membuat persis sama dengan yang anda buat Tuan. Saya tadi sudah mengatakan bahwa rasanya sama, mungkin wanita itu bingung harus memilih yang mana.” jawab Norman mencari aman.
“Setiap kali aku pergi, aku ingin kau membuat seperti ini. Harus persis sama seperti yang aku buat dan katakan pada anakku ini adalah buatanku, kau mengerti?”
“Mengerti, Tuan.”
“Ingat ya, satu rasa berbeda putraku bisa tahu. Jadi buat sama persis seperti yang aku buat. Kalau putraku tidak mau makan maka artinya putramu akan masuk kedalam tanah selamanya!”
“Baik, Tuan.” keringat dingin sudah mengucur dikening Norman.
“Baguslah kalau kau paham.”
“Apakah anda ingin saya bantu membawa makanan keatas, Tuan?” tanya Norman lagi.
“Tidak perlu Norman! Aku bisa membawanya sendiri.”
“Baik, Tuan.” ujar Norman sesaat melihat Dante pergi meninggalkan dapur, hatinya langsung merasa lega.
__ADS_1