
‘Apa yang harus kulakukan sekarang? Ah, Dante! Mungkin aku bisa minta tolong padanya untuk menjauhkan Sarah dari temannya itu. Apa selama aku pergi dia merayu Sarah? Ah, untung saja Sarah tidak mudah untuk dirayu. Pasti dia selalu mendekati Sarah kan!’ gumam dihatinya Bella masih kesal.
“Tapi kau juga menyukai temannya, kan Belinda? Bahkan sekarang kau bersama dengannya! Aku tidak tahu kau sudah menikah dengannya atau belum.” ujar Sarah sekenanya.
“Sarah! Aku sedang membicarakanmu, kenapa kau malah membalikkan semuanya padaku?” protes Bella tapi dia tidak menjawab pertanyaan Sarah.
Menikah dengan Dante? Itu belum terjadi, tentu saja Bella tidak bernai bicara terlalu jauh. Apa yang akn dipikirkan Sarah? Dia tidak mau merusak pikiran Sarah walaupun Bella sangat tidak yakin kalau Sarah tak paham tentang hubungannya dengan Dante. Tapi untuk mengaku? Bella belum berani.
“Bella, kalian sedang bicara apa? Kalian ini aneh! Aku tidak mengerti!” ucap Alex menggelengkan kepalanya sambil menatap kedua wanita itu bergantian.
Mereka lupa kalau saat itu ada Alex disana. Keduanya bicara menggunakan bahasa Indonesia dan sebagai anak kecil, Alex pusing sendiri karena tidak paham apa yang mereka bicarakan.
“Maaf ya Alex! Ini adalah pembicaraan orang dewasa. Kau mau tidur sekarang?” tanya Bella.
“Kenapa kau banyak memperbincangkan tentang orang dewasa? Kapan kau bicara tentang anak-anak? Aku inikan anak-anak?” ujar Alex mulai protes lagi.
“Ehm...besok kalau kita sudah bermain lagi. Nah, sekarang kau harus tidur dulu ya.” Bella berusaha memberikan jawaban singkatnya pada Alex.
“Iya Bella!” jawab Alex yang tak mau berdebat lagi,
‘Huh! Syukurlah Alex mengajak aku bicara! Aku tidak enak hati membicarakan hubunganku dengan Dante pada Sarah!’ Bella merasa lega lalu dia menatap Sarah.
“Aku akan menidurkan Alex dulu.” ujar Bella smabil menarik Alex kedalam pelukannya membiarkan anak itu tidur disebelahnya. “Kita tunda obrolan kita sampai aku menidurkan Alex ya.” ucapnya tanpa memandang Sarah.
“Oke. Kau bisa selesaikan kewajibanmu dulu.” jawab Sarah.
“Iya! Terima kasih Sarah, kau tunggu dylu saja setelah Alex tidur kita lanjut bicaranya.”
“Hoooaaammmmm! Ya sudah Belinda!” ujar Sarah menguap.
“Kau sudah mengantuk Sarah?” tanya Bella yang melihat adiknya menguap lebar.
“Iya. Aku mengantuk sekali. Aku dari pagi menemani Alex dan tidak terasa lelahnya baru sekarang badanku baru terasa pegal-pegal. Dia mengajaku bermain terus.” Sarah bicara dengan bahasa Indonesia tak ingin menyinggung Alex.
“Ya dia memang selalu begitu. Kalau begitu, kau sebaiknya tidur saja. Kau tidur disana kan?” ujar bella melirik kearah pintu kamar sebelah.
“Tapi bukankah kau ingin bicara denganku? Hoaaaammmm!” ujar Sarah sambil menguap lebar.
__ADS_1
“Ya tapi nanti saja. Tidurlah dulu Sarah! Besok baru kita bicara lagi.”
“Ya sudah kalau begitu, aku tidur duluan ya.” ucap Sarah sambil melangkah menuju kekamar sebelah sedangkan Bella langsung mengalihkan pandangan matanya tertuju pada bocah laki-laki yang sedang menatapnya.
“Bella, kau sudah selesai bicaranya?” Alex terlihat tidak senang karena diacuhkan.
“Sudah!” Bella menganggukkan kepala. “Aku sudah selesai bicaranya. Ada apa Alex sayang?”
“Aku sangat merindukanmu!” ucap Alex dengan tersenyum manis pada Bella.
“Aku juga Alex sayang! Aku ingin sekali bertemu denganmu sampai aku menangis setiap malam karena aku sangat merindukanmu.”
“Kenapa kau tidak kembali saja kalau kau merindukanku, Bella?” tanya Alex memiringkan kepalanya.
“Aku tidak tahu bagaimana caranya kembali kesini.” jawab Bella.
“Sekarang kau sudah kembali. Aku senang sekali!” ucap Alex tersenyum.
“Itu karena daddy-mu menjemputku! Kalau daddy-mu tidak mau menjemputku ya aku tidak tahu bagaimana caranya bisa bertemu lagi denganmu.” Bella menjawan lagi sambil memeluk erat Alex.
“Apa kau menyayangiku Bella?” tanya Alex mengerjapkan matanya menatap Bella.
“Aku juga menyayangimu.” balas Alex sambil memeluk Bella.
“Sekarang tidur ya Alex. Besok pagikita main bersama lagi. Kau mau main apa? Hmm….bagaimana kalau besok kita main boleh diluar?”
Alex menganggukkan kepalanya menyetujui saran Bella. “Kalau begitu cepatlah tidur. Kalau kau cepat tidur besok pagi kau juga cepat bangun dan kau bisa mandi lalu kita bisa main bola.”
“Benarkah?” mata Alex berbinar dan mengerjap.
“Aku janji!” ucap Bella dengan serius.
“Tapi kau akan tetap disini kan Bella?” tanya Alex yang terlihat cemas.
“Iya. Ayo sekarang tidur ya.”
Setelah Alex yakin apa yang dikatakan oleh Bella, anak itupun mencoba untuk memejamkan matanya dan tidur disisi Bella. “Ah, akhirnya kau tidur juga!” ujar Bella yang susah payah menidurkan Alex.
__ADS_1
Segala bujuk rayu sudah dilakukannya agar mata anak itu terpejam, tapi Bella tak marah padanya justru dia tersenyum merekah sambil merapikan selimut Alex lalu mengecup keningnya.
Tak bosan-bosan Bella mengamati wajah Alex yang sedang tertidur pulas. Kadang dia merapikan rambutnya, kadang memeluknya dan kadang ikut tidur disampingya. Dia memperlakukan Alex bagaikan boneka teman tidurnya.
Klek….
“Belinda!” seru Dante seketika dia masuk.
“Sssssttttt! Alex sudah tidur Dante, jangan berisik.”
‘Hah? Berisik dia bilang? Apa yang dilakukannya itu? Aku sudah berdiri disini dan dia masih tiduran disamping Alex dan memluk anak itu? Pfff!” makin kesallah Dante tapi dia masih berusaha menahan dirinya. Saat dia melihat Bella dengan santainya tidur disamping Alex sambil menatap anak itu. ‘Hah bahkan dia tidak menatapku dan tidak peduli dengan kehadiranku disini?’ ucap Dante dihatinya.
“Apa yang kau lakukan disitu?”
“Menemani anakku tidur.” jawab Bella tanpa merasa bersalah.
“Kan dia sudah tidur. Cepat bangkit dari sana sekarang!”perintah Dante kesal.
“Aku tidak mau! Aku sudah janji padanya kalau aku akan menemaninya sampai besok pagi.” jawab Bella menggelengkan kepalanya.
“Kenapa kau membuat janji bodoh seperti itu? Cepat bangun! Bukankah kau mau makan sop ikan?”
“Sop ikan?” Bella mengulang ucapan Dante sambil menatap pria yang kini sudah berada disampingnya. Dante duduk disisi tempat tidur sambil memegang tangannya. Dia menatap Bella dengan instens.
“Hmm….bukankah tadi kau mau sop ikan?”
“Iya.” Bella mengangguk.
“Kalau begitu bangunlah! Apalagi yang kau tunggu?” Dante mengeryitkan dahinya tak senang.
“Hmmm….Dante bisakah kau suruh Henry untuk membawakannya kesini saja?” tanya Bella.
Dia bahkan tersenyum seperti tidak merasa bersalah dan baru saja memberikan sebuah ide cemerlang tanpa dia sadari wajah pria dihadapannya sudah menahan marah dan wajahnya mulai memerah. Bella memang ingin menemani anaknya tidur karena dia sudah berjanji.
“Bukankah dari tadi kau yang mau kita memasaknya sendiri?” tanya Dante selembut mungkin padahal didalam hatinya rasanya dia mau meledak dengan tingkah Bella.
“Iya, tapi kasihan Alex! Aku tidak tega meninggalkannya, Dante!” ujar Bella yang kini sudah menatap Dante lalu memalingkan padangannya memperhatikan anaknya yang tertidur pulas. Ada senyum diwajah Bella ketika dia memandangi wajah Alex.
__ADS_1