PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 155. SEPERTI SUAMI ISTRI


__ADS_3

“Henry! Apa kau tidak lihat aku sedang apa?”


“Bersiap berburu?” jawab Henry.


Dante melirik Henry dan menganggukkan kepalanya. “Anthony bilang padaku jika dulu dia anggota pemburu makanya kami akan pergi berburu sekarang! Ada perlu apa kau kesini?”


“Nona Bella mengatakan bahwa Tuan Alex tidak mau makan.”


Ucapan Henry membuat Dante berhenti mempersiapkan alat-alatnya dan menatap pria itu. “Kenapa?”


“Katanya ingin makan masakan buatan anda Tuan!”


“Fuuuhhhh!” Dante menghembuskan napasnya lalu dia menatap Anthony, “Kau pergilah bersama dengan Nick.”


“Dante! Dengan aku lagi?” protes Nick.


“Kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan Nick?”


“Iya iya aku mengerti! Baiklah, kau akan menyusul nanti?” tanya Nick.


“Hem!” Dante lalu menatap Nick dengan satu kalimat singkat itu.


“Kalau begitu kau sebaiknya berhati-hati karena aku selalu serius dalam permainan ini!” Nick tersenyum lalu melirik Anthony. “Aku tidak akan bermain mudah denganmu!”


“Aku juga begitu Tuan! Karena aku masih ingin kepalaku masih tersambung dengan leherku!” agak sarkas Anthony menanggapinya.


“Baiklah, ayo kita mulai!” suara yang masih terdengar oleh Dante ketika dirinya sudah menjauh mendekat pada buggy yang dinaiki oleh Henry tadi.


“Maaf saya mengganggu anda, Tuan.” ucap Henry lagi.


“Tidak bisakah Bella memaksa putraku makan?” Dante bertanya.


“Memang tidak ada yang bisa memaksa Tuan Alex, Tuan!”


“Istriku selalu membuatnya makan kalaupun dia tidak bersama denganku!” ucap Dante.


“Nyonya bilang begitu padamu, Tuan?” Henry mengeryitkan dahinya.


Dante menaganggukkan kepalanya setelah mendengar ucapan Henry dan diapun berdecak. “Seharusnya sebagai pengasuh, dia bisa memaksa anakku untuk makan apa yang ada disana dan tidak merepotkan aku begini!” Dante mengomel pelan.


‘Hari ini adalah suatu penentuan yang penting! Aku ingin tahu bagaimana dia bekerja! Apa dia berbahaya untukku atau dia bisa menjadi sumber keuntungan untukku juga. Aku ingin tahu seberapa dia bisa menilai dirinya sendiri tapi aku harus mengurus makanan anakku!’ celetuk dante didalam hatinya yang agak berat karena dia sudah mengagendakan acara pagi ini yang lewat dari jadwal karena aktivitasnya bersama Bella, untuk menguji Anthony.


“Maaf Tuan! Kalau saya agak lancang bicara.” ucap Henry.

__ADS_1


“Apa yang mau kau katakan padaku Henry?”


“Tuan Muda Alex tidak pernah makan Tuan!” ucap Henry akhirnya mengatakan kebenaran.


“Apa?” Dante meninggikan intonasi suaranya dan menatap henry. Dia masih berpikir apa yang ingin dikatakan oleh kepala pelayannya itu.


“Setiap kali anda tidak ada dirumah, Tuan Alex tidak akan pernah makan dan dia memilih mengurung diri didalam kamarnya, Tuan!”


“Tapi istriku selalu memberikannya makan!” ujar Dante terkejut.


“Saya tidak tahu apa yang terjadi didalam kamar tapi setahu saya Tuan Alex akan mengurung dirinya didalam kamar saat anda pergi dan dia hanya meminta susu tapi saya tidak tahu kalau makanan itu dimakan atau tidak! Karena seingat saya, setiap kali saya mengambil baki makanan yang diberikan nyonya pada Alex, makanannya masih penuh.”


“Mungkin Tatiana tidak ada disana?” Dante bertanya lagi sambil menoleh pada Henry.


“Tidak Tuan! Karena Tuan Alex sangat sulit sekali untuk dipaksa makan bahkan Nyonya Tatiana pun akan kesulitan jika meminta Tuan Alex makan!”


“Lalu bagaimana anakku makan?” Dante menatap henry.


“Seperti yang saya katakan tadi Tuan! Hanya minum susu saja, dia selalu minta banyak susu dan akan meminumnya sampai kenyang.”


Dante pun berdecak, “Tapi Tatiana mengatakan dia menyuapinya makan! Apa kau mengecek didalam kamar Alex?”


“Tidak Tuan!” jawab henry singkat.


“Bisa juga seperti itu Tuan! Tapi kami dipihak dapur tidak pernah membuat makanan apapun untuk Tuan Alex setiap kali anda pergi. Hanya memberikan susu saja sesuai keinginannya.”


Sakit sekali hati Dante mendengar penjelasan kepala pelayannya itu. ‘Kenapa kau tidak jujur padaku Tatiana? Apa kau khawatir karena akan mengganggu pekerjaanku? Jadi kau menyembunyikan semua karena kau tidak ingin menyakiti hatiku?’ Dante mencoba menerka kejadinya sebenarnya dan ada sedikit senyum dibibirnya. ‘Ah kau memang terlalu mencintaiku! Tapi lain kali aku harus memberitahunya kalau dia harus lebih mencinta Alex. Karena aku sudah besar dan bisa mengurus diriku sendiri sedangkan Alex belum mengerti. Tatiana selalu mengkhawatirkanku!’


Dante bergumam didalam hatinya dan merasa agak senang dan ada berbagai perasaan lainnya yang membuatnya semakin kagum dengan Tatiana. Tidak ada lagi pembicaraan diatas buggy itu hingga mereka sampai ke mansion. Dia melihat Alex bergelayut manja digendongan Bella.


“Kau masih tidak mau makan?” tanya Dante sambil mendekat pada Alex.


“Aku lapar!” Alex bicara takut-takut.


“Kalau begitu makanlah.” ucap Dante.


“Tapi tidak ada!” balas Alex.


“Maksudmu masakanku?” tanya Dante lagi.


Alex menganggukkan kepalanya dengan wajah muram.


“Baiklah aku akan masak dulu sebentar untukmu tapi sekarang sudah waktunya kau belajar piano Alex!” Dante bicara sambil melihat jam tangannya.

__ADS_1


“Tapi aku lapar, daddy!” ujar Alex kesal.


“Begini saja. Bagaimana kalau aku mengantarmu ketempat piano lalu aku turun kebawah menyiapkan makananmu dan nanti setelah selesai kau main piano kau bisa makan. Bagaimana menurutmu?”


“Ya daddy! Aku mau!”


Senyum merekah dibibir Dante mendengar jawaban anaknya. “Kalau begitu ayo ku antar dulu ke ruang pianomu.” kata Dante.


“Iya daddy!” Alex pun mengulurkan tangannya pada Dante.


“Biar aku menggendongmu saja!” ucap Dante.


“Ini!” Bella memberikan Alex kepada Dante karena Alex masih berada digendongannya.


‘Mereka ini sedikit banyak lebih mirip seperti suami istri.’ gumam Henry didalam hatinya.


“Nanti kau harus mengajari Bella main piano ya. Dia harus bisa sepertimu Alex.”


“Benarkah? Bella tidak bisa main piano?” tanya Alex mengerjapkan matanya.


“Iya aku tidak pandai main piano. Nanti Alex ajari aku ya.” ucap Bella tersenyum.


“Iya! Aku bisa! Nanti aku ajari ya Bella.” ucap anak itu. Dante membawa anak itu dalam gendongannya dan menaiki tangga kelantai atas menuju ruang piano.


“Aku juga ingin mendengar permainan pianomu Alex.”kata Dante.


“Iya daddy!” jawab Alex semangat.


“Belajar yang rajin ya jangan membuatku kecewa.” ucap dante tersenyum pada anaknya.


Alex tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Kita sudah sampai. Ketuk pintunya Alex.”


Tok tok tok…...Alex mengetuk pintu ruang piano.


“Pintunya tidak dibuka daddy?” ucap Alex sambil mendongakkan kepala menatap Dante.


“Coba kau ketuk lagi Alex!”perintah Dante sambil tersenyum pada anaknya. ‘Lorenzo tidak pernah terlambat.’ ujar Dante didalam hatinya.


Tok tok tok


Alex mengetuk pintu lagi seperti yang diperintahkan Dante. Lalu terdengar suara handle pintu dan pintu terbuka tak lama.


“Lorenzo!” Alex langsung membuka tangannya ketika melihat pria yang baru saja membuka pintu didepannya denga tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2