PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 553. BERSIAP UNTUK BERTEMPUR


__ADS_3

Melihat ini Manuel hanya tersenyum tapi kemudian pandangannya tertuju pada seseorang yang terlihat canggung satu sama lain.


“Ehm…..terima kasih sudah membantuku sampai sejauh ini Anna. Kau memang sahabatku yang paling baik! Jaga dirimu baik-baik.” ucap Anthony pada Anna.


Kata-kata Anthony itu membuat Dante berdecak didalam hatinya. ‘Tak bisakah kau lihat kalau wanita itu sangat mencintaimu? Dasar bodoh! Kenapa aku punya adik tak sensitif begitu?’


“Apa kalian semua sudah siap?” tanya Dante yang dijawab dengan anggukan kepala dan tiga orang temannya langsung mendekat pada Dante.


“Lebih dari siap Dante!”


Setelah kata-kata itu terucap dari salah satu temannya, Dante pun menuju kearah lift tanpa bicara lagi. Hingga mereka tiba diatas.


“Kau sudah siap Dante?” tanya Barack memecah kesunyian yang membuat Dante menatapnya.


“Lebih dari apapun aku sudah siap!” Dante mengalihkan pandangannya pada Manuel.


“Bagaimana dengan Henry? Apa kau sudah bicara dengannya?”


“Semua sudah sesuai rencana! Saat kita berangkat dari sini mereka akan memulai penyerangan.”


“Bagus!” Dante tersenyum senang. “Pastikan Henry dan semua pasukannya harus melindungi diri mereka. Tidak ada yang boleh terkena senjata yang mengandung serum itu.” Dante mengingatkan kembali.


“Maksudmu jangan sampai serumnya masuk kedalam tubuh pasukan bukan?”


Dante mengangguk, “Ya karena percuma saja kalau serum itu sudah masuk ketubuh kalian!”


“Baiklah, aku akan mengingatkan Henry soal itu.” ucap Manuel lagi.


“Lakukan sambil kita menuju  kesana sekarang! Minta mereka untuk menyerang sekarang juga.”


“Baiklah, aku akan lakukan itu.” jawab Manuel. Sambil mereka berjalan menuju ke kendaraan mereka yang memiliki kecepatan seperti Avangard, yang berkecepatan empat kali kecepatan suara, Manuel mencoba menghubungi Henry untuk memperingatkannya.


Tidak boleh ada kesalahan lagi, sedikit saja kesalahan akan berakibat sangat fatal. Bukan hanya nyawa mereka yang hilang tapi nyawa banyak manusia didunia ini. Misi bunuh diri? Ya mungkin bisa dibilang begitu!


Karena mereka tidak tahu apa yang terjadi disana. Bahkan Dante harus turun tangan sendiri tanpa menggunakan anak buahnya untuk menyerang sekarang. Dia hanya menggunakan teman-temannya saja.


“Coba hubungi! Tanyakan keberadaannya dan pastikan semuanya berjalan dengan baik. Jangan sampai kita putus komunikasi dengannya. Misi ini sangat penting.” kata Dante.


“Baiklah, Dante.!” jawab Manuel.


Dan disaat bersamaan ponsel Dante bergetar.


“Sebentar!” dia langsung menjawab panggilan telepon itu. “Ada apa Eddie?”


“Dante, pekerjaanku semuanya sudah beres! Semua anggotamu sudah kutemukan, apa kami kembali ke markas sekarang?” tanya Eddie.


“Jangan dulu! Kondisi dirumahku tidak baik. Aku khawatir kau akan menjadi target berikutnya jika kau dalam perjalanan kesini. Aku tidak tahu bagaimana kondisi ditempat itu.” sahut Dante.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu. Aku juga sudah bertanya pada Nick tadi. Tapi dia tidak bisa memberiku jawaban makanya aku menghubungimu.”


“Tetaplah diluar untuk sementara. Mungkin aku akan membutuhkanmu nanti. Tapi carilah tempat bersembunyi yang aman dan kalau bisa jangan terlalu banyak cctv-nya.”


“Baik Dante. Hubungi aku kalau kau butuh bantuanku.”


“Jaga anak buahmu Eddie! Jangan sampai kau mendapat masalah karena anak buahmu berubah menjadi android.”


“Aku mengerti.” ucap Eddie lalu memutuskan panggilan.


“Apa ada masalah Dante?”


Dante menggelengkan kepalanya saat Barack bertanya. Yang paling dikhawatirkan Barack adalah jika Dante tidak fokus. Sehingga dia bertanya, berharap dia bisa menghibur Dante dan mencoba membuat pria itu tidak kehilangan fokusnya.


“Ayo kita berangkat!”


“Siap!” celetuk Anthony yang sudah terbiasa dengan pertanyaan seperti itu dipekerjaannya. Mereka sudah berdiri didepan Avangard yang akan membawa mereka terbang menuju ke Meksiko.


“Fuuuhh! Aku rasa ini seperti rudal.”


“Bentuknya memang seperti ini karena memang ini cara termudah untuk memecah udara dan dengan begini alat pendorongnya juga tidak terlalu banyak mengeluarkan energi.


“Aku tidak mengerti kalau kau tidak menjelaskan. Hal seperti ini terlalu rumit untukku.” ucap Anthony. Dia pun langsung naik lebih dulu namun segera dihentikan Barack.


“Tunggu! Aku didepan!” Barack menyelanya.


“Kalian tidak tahu bagaimana mengoperasikannya. Hanya aku dan Dante yang mengerti.”


“Oke. Apakah yang akan duduk di kursi nomor dua adalah kakakku Dante?” tanya Anthony.


Barack menggelengkan kepalanya dengan wajah tegas tanpa senyum., “Kau duluan! Setelah itu Manuel dan aku paling belakang.”


“Baiklah.”


Mereka pun naik berurutan. Barack lebih dulu duduk didepan dan Dante ada diposisi paling terakhir.


Dante naik ketika semua teman-temannya sudah berada dalam posisi duduk.


“Kalian sudah siap berangkat?”


“Siap!”


“Pastikan parasut kalian menyala! Kalau parasut kalian tidak bisa dibuka maka nyawa kalian sudah tidak bisa ditolong lagi!” kata Dante mengingatkan semuanya.


“Baiklah! Jadi setelah pesawat ini mengudara kita akan turun dengan menggunakan parasut?”


“Ya! Karena itu kau harus memakai parasutmu.”

__ADS_1


“Aduh!” Anthony pun meringis.


“Ada masalah apa denganmu?” tanya Dante mendengar adiknya meringis.


“Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit malas saja terbang dengan parasut. Ya sudah. Ayo berangkat!”


Pintu pun ditutup setelah mereka semua masuk kedalam.


“Nick, kami sudah mau berangkat.”


“Ya aku mendengar! Lakukanlah sekarang, aku akan mengaktifkan tenaga pendorongnya.”


Suara Nick terdengar oleh semua orang.


“Nick! Aku minta kau jangan sampai ketiduran! Aku memberikan alat komunikasi pada Barack, Manuel dan Anthony! Mereka bisa menghubungimu, jadi tidak hanya aku saja.”


“Aku mengerti Dante! Aku akan lakukan sekarang, bersiaplah!”


Klik


Setelah mematikan telepon, mereka pun bersiap.


“Makan ini.” kata Dante.


“Apa ini?”


“Makan saja! Itu hanya permen biasa untuk membantu melindungi pendengaranmu supaya tidak bermasalah nantinya.” ucap Barack yang memang sudah memakai pelindung pendengaran tapi dia memberikan kepada Anthony sebuah permen.


Anthony pun memberikan permen itu kepada yang lainnya. Suara Nick pun mulai terdengar menghitung mundur.


“Ayo bersiap!” Dante mengingatkan semuanya. Hitungan mundur itu mulai dekat dan Dante pun semakin menegang. ‘Ini adalah alat yang belum pernah diuji coba! Semoga saja hasilnya bagus! Jangan sampai kami terjatuh di lautan.’ itulah yang dipikirkan oleh Dante saat ini.


‘Aku akan pulang Bella! Aku akan menemuimu dan anak kita! Aku sangat mencintaimu. Tunggulah aku kembali Bella! Jaga anak kita baik-baik!’


Hitungan pun semakin dekat dan semakin tertekan orang-orang yang ada didalam pesawat itu.


“Peluncuran dimulai!”


DDUUUAARRRR


Untuk mendorong pesawat itu membutuhkan tenaga yang cukup besar. Sama seperti mendorong nuklir, mereka membutuhkan tenaga yang besar sehingga pesawat bisa mengudara dan aktif.


‘Oh tidak! Ternyata seperti ini rasanya berada didalam pesawat yang kecepatannya diluar batas normal? Seperti antara hidup dan mati?’ pikir Manuel yang merasa sedikit takut. Dia mulai merasa mual.


Situasi pesawat saat ini belum stabil dan mereka merasakan getarannya. Seperti berada didalam mobil yang rremnya blong. Begitu mengerikan, untuk melihat kedepan pun mereka tidak berani.


Barack yang ada didepan lebih memilih untuk melihat tombol-tombol yang ada didepannya. Begitupun Anthony yang lebih memilih duduk bersandar disandaran kursi.

__ADS_1


__ADS_2