
“Alex sayang, ikut sama mommy dulu ya. Bella mau pipis.” bujuk Bella, dia tidak bertanya kenapa anak itu mengencangkan pegangan tangannya. ‘Ah tidak pedulilah! Daripada kesempatanku bertemu Sarah hilang lebih baik kuserahkan saja anak ini pada ibunya. Ibunya yang lebih berhak dan jika ibunya mau mengasuhnya sendiri silahkan saja, aku yang enak jadi tidak lelah.’
“Bella! Nanti kita jadi main kan?” tanya Alex memastikan sehingga Bella pun menganggukkan kepala.
“Tapi aku pergi ke toilet dulu sebentar ya sayang.” Bella bicara sambil mengedipkan mata pada Alex membuat anak itu seakan paham dan perlahan melepaskan tangannya.
Alex pun menganggukkan kepala dan saat Alex turun dari pangkuannya, Bella cepat-cepat berdiri lalu pergi menuju kamar mandi tepat saat Dante kembali.
“Dimana dia?”
“Dante, kenapa kau justru malah mencari orang lain? Bukannya menyerahkan ponsel dan tas ku dulu?”
“Aku tidak melihat Alex bersamanya padahal tadi mereka terlihat akrab, aku jadi penasaran kemana wanita itu pergi.” Dante mengulurkan tangannya memberikan tas dan ponsel Tatiana.
“Terimakasih Dante. Tadi dia bilang mau ke kamar mandi buang air kecil.” jawab Tatiana dengan senyum lembut yang selalu menghiasi wajahnya.
“Oh begitu.” Dante pun tidak berkomentar lagi dan langsung mendekat pada Alex dan memeluknya.
“Bagaimana kalau kita turuh duluan? Aku sangat lelah dan kurasa Alex juga kelelahan.” usul Tatiana sambil memegang tangan Dante dengan posisi Dante yang sudah menggendong Alex.
“Tapi wanita itu tidak tahu mansion kita, sayang.”
“Ini kan rumah kita, pelayan disini juga tahu kemana harus membawanya. Kenapa kau sepertinya sangat khawatir? Bukankah lebih baik kalau dia diantar oelh pelayan agar dia mengenal mereka dan bisa punya teman disini?”
“Kau benar juga Tatiana. Bella bisa diantar oleh pelayan nanti. Ayo kita turun.” Dante yang menggendong Alex dengan satu tangan dan tangan satunya merangkul istrinya. Mereka bertiga turun dari pesawat seperti layaknya keluarga kecil yang bahagia.
‘Pufff lega rasanya suami dan anakku bisa ikut turun denganku! Aku tidak suka caranya yang merebut Alex dariku! Aku tidak akan membiarkan Alex bersikap manja padanya dan mengabaikanku. Aku ibunya tapi anak itu tidak pernah bersikap manja padaku!’ Tatiana berdecak kesal sambil menuruni tangga pesawat, dia menyimpan perasaannya dalam-dalam agar tidak terlihat oleh Dante.
“Daddy kenapa tidak menunggu Bella? Dia belum keluar! Nanti pesawatnya terbang lagi daddy!” ujar Alex yang sudah berada diatas buggy dan mengingatkan Dante. Matanya terus menatap kearah pesawat dan terlihat dia sangat cemas.
“Kau ingin menunggunya?” tanya Dante.
“Iya daddy. Aku mau dia. Bilang pesawatnya jangan bawa Bella ya daddy.”
“Tapi dia masih dikamar mandi, kita duluan saja kerumah dan nanti kau bisa bertemu dengannya dirumah. Lihatlah langit sudah mendung sepertinya sebentar lagi turun salju. Kau tidak suka salju kan?” Tatiana mengingatkan sebelum Dante bicara lagi.
__ADS_1
“Mommy mu benar sayang.”
“Baiklah daddy.” Alex tak membantah lagi setelah Dante bicara tapi matanya terus menatap ke pesawat
Drrrrttttt drrrrtttttt drrrrttttt drrrtttttttt…….ponsel Dante berbunyi.
“Tatiana, temanku menelepon.” menunjukkan ponselnya yang berdering.
“Bagaimana kalau kau jawab teleponnya setelah kita sampai di mansion?” Tatiana menyarankan.
“Tidak bisa sayang. Ini telepon penting. Kalian pergilah dulu, ini telepon penting dan aku tidak bisa membiarkanmu mendengar pembicaraanku ditelepon.” ujar Dante.
“Kau ingin menjawab teleponnya dulu?”
“Iya. Kau bisa pergi bersama Alex duluan, aku akan menyusul ke mansion setelah aku menjawab telepon ini.” Dante berusaha membujuk Tatiana.
“Baiklah. Jadi itu adalah panggilan telepon yang tidak bisa aku dengar seperti biasanya, iyakan?”
“Ini demi keamananmu, aku tidak ingin kau mendengar berita buruk apapun sayang.”
“Baiklah kalau begitu aku akan membawa Alex ke mansion. Jawablah teleponmu.”
“Jangan terlalu lama Dante! Kami menunggumu.” ucap Tatiana sambil melambaikan tangan.
“Ada apa Eddie?”
“Dante! Kita ada masalah serius.”
“Ada apa? Ada yang berbahaya?” tanya Dante memasang telinganya.
“Iya. Kita kehilangan kontak dengan Barack!”
“Apa?” ujar Dante terkejut dan memasang wajah serius.
“Aku sudah mencari Barack dan menghubunginya tapi tidak ada respon. Aku khawatir sesuatu yang buruk terjadi padanya.”
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari Eddie sontak membuat tubuh Dante menegang, kepalanya berdenyut dan dia mulai mencoba mendengarkan informasi dan berpikir untuk mencari jalan keluarnya.
“Apa kau yakin tidak ada tanda-tanda keberadaannya? Bagaiman dengan mobilnya atau yang lainnya?”
“Nah, itu masalahnya. Mobil yang dikendarai Barack jatuh ke jurang dan terbakar! Tapi kami masih mencoba mengidentifikasi apakah Barack terluka parah atau bagaimana? Apakah menurutmu anak itu mati?” tanya Eddie.
“Siapa yang mengejarnya?” tanya Dante tanpa merespon pertanyaan Eddie.
“Kami tidak tahu. Saat ini masih di investigasi dan kami sudah mengirimkan orang-orang khusus untuk menyelidiki masalah ini.”
“Selama jasadnya belum ditemukan aku yakin dia belum mati! Aku sangat mengenalnya dan aku tahu bagaimana Barack. Terus lakukan pencarian dan cari tim terbaik. Jangan lupa berikan dia sinyal tanda bahwa kita yang mencarinya.”
“Baiklah aku mengerti apa yang harus kulakukan. Kami akan terus melanjutkan pencarian Barack dan gadis itu.”
“Hem...jaga diri kalian baik-baik karena ada kemungkinan mereka akan mengincar kalian satu persatu. Segera melaporkan pada setiap perkembangan yang ada.”
“Tentu saja. Kami akan selalu menghubungimu dan berkoordinasi dengan yang lain. Jangan khawatir, kami pasti bisa mengatasi masalah ini.” ujar Eddie.
“Jauhi wanita! Itu jalan termudah untuk menggoda kalian dan mempermudah musuh untuk menyerang. Selama pertarungan ini, aku tidak mengijinkan kalian bermain wanita dan jauhi klub malam.”
“Baiklah Dante! Huuuhhhhh pesan itu rasanya lebih cocok untukmu saat ini! Ha ha ha ha.”
“Aku tidak pernah berpaling dari istriku.” jawab Dante.
“Oh ya? Lalu bagaimana dengan wanita itu? Apa untuk pajangan saja yang bisa kau pandangi setiap hari? Atau kau mungkin mau berbaik hati memberikannya padaku? Wajahnya sangat cantik dan tubuhnya sempurna, aku tidak akan menolak!”
“Hei! Kau mau menginterogasiku? Jangan coba-coba memalakku dan mendekati wanitaku!”
“Ha ha ha ha…..kau barusan bilang kau setia pada istrimu lalu kau panggil wanita itu wanitamu? Jangan kemaruk Dante! Apa kau sengaja membawanya kerumahmu untuk selingan? Ayolah…..jangan ingin menguasai semua.”
“Aku peringatkan! Untuk yang satu ini jangan coba-coba untuk mendekatinya.”
“Baiklah. Aku tidak akan berani Dante!”
“Berikan aku informasi penting saja dan jangan mencampuri urusanku dan wanitaku!”
__ADS_1
Klik! Saking kesalnya Dante langsung mematikan ponselnya. ‘Huh apa yang terjadi pada Barack? Aku tidak percaya dia akan mati secepat ini! Siapa yang mencarinya?’ Dante mulai gelisah dan berdiri didekat pesawat dan memikirkan nasib sahabatnya.