
Mentari Berguncang
Kios terlihat ramai. Tapi bukan karena banyak pembeli. Penjual lain seperti berbondong memenuhi kios Lodi. Ada apa gerangan?
Tiup lilinnya tiup lilinnya
Tiup lilinnya sekarang juga
Sekarang juga
Sekarang juga
'Ada yang ulang tahun?'
Lodi mendapati Juki ada di tengah kerumunan. Di sampingnya ada Zula yang membawa kue ultah penuh coklat dan lilin.
'Jadi Juki ultah?'
Di dunia nyata Juki memang asisten Lodi. Tapi di dunia maya, Juki bisa menjualkan dagangan siapa saja. Memang yang diutamakan tetap kios Lodi terlebih dahulu.
Itulah mengapa banyak yang suka pada Juki. Ramah, suka menolong, dan kerap hoki. Jualan online ada saja yang pesan.
Lodi juga tahu, beberapa teman dagang yang agak curang mencoba merebut Juki dengan iming-iming bonus lebih besar. Santi yang cerita.
"Lod, kamu hati-hati yak sama Om Soni dan istrinya."
"Kenapa memang?"
"Di depanmu mereka baik banget ma kamu. Tapi di belakang, mau merebut Juki dari tanganmu."
"Oh, ya?"
"Mereka memberi janji bonus lebih besar. Bahkan angsuran motor buat Juki."
"Lalu, kenapa nggak diterima sama Juki?" tanya Lodi penasaran.
"Pertama, Juki nggak percaya ma mereka. Yang kedua, katanya cukup sekali dia merusak pertemanan kita."
Lodi hanya ketawa saat itu. Betapa tidak menyangka seorang Juki yang dulu begitu bandel, sekarang sangat bisa diandalkan.
'Apakah mereka jadian?'
Selintas pertanyaan mampir di pikiran Lodi.
'Ah, jadian atau tidak bukankah itu hak mereka? Toh nggak ada yang dirugikan.'
Lodi memejamkan mata sambil menarik napas panjang. 'Ayolah, Lodi. Apa yang kau pikirkan?'
Potong kuenya
Potong kuenya
Potong kuenya
sekarang jugaaa ...
Sekarang jugaaa ...
Entah kenapa tiba-tiba Lodi ingin menyingkir. Merasa takut ada babak potongan kue pertama? Atau ada sebab lain?
"Mbak Lodi, sini!" panggil Juki.
__ADS_1
Mau tak mau Lodi mendekat.
"Ternyata ada yang ultah. Selamat ya ... Coba aku tahu, kubawakan makanan dari rumah," kata Lodi.
"Aku sudah bawa makanan dari rumah. Kesukaan Mbak Lodi nih. Nasi jagung sambal kelapa lengkap ikan asin," kata Juki.
"Hah?"
Lodi heran sekaligus tertawa lebar. 'Juki memang manis sekali. Tahu aja kesukaanku.'
"Juk, potongan kue pertama mo buat siapa nih?"
"Buat siapa saja dah ... Emang penting?"
"Untukku dan istri ya?" tanya Om Soni.
"Boleh," sahut Juki.
"Tambah gendut lo Om!" timpal yang lain.
"Ah, Yo Ben."
Boleh dibilang Om Soni pedagang paling senior di situ. Dulu ia yang paling kaya, paling laris. Seiring perkembangan teknologi jualannya mulai digeser pedagang online.
"Mbak Lodi mau makan kue juga?" Zula menawarkan black forest.
Sayangnya Lodi sudah punya janji untuk ke rumah Sumbang. Jadi ia tak bisa berlama di kios.
"Mau kutemani, atau sendiri?" tawar Juki.
"Temeni saja deh."
Sampai rumah Sumbang ternyata ada mama menyambut.
"Lodi ... Senang sekali Mama kamu datang kesini. Si kembar mana?"
Mama memanggil Fajar dan Mentari dengan sebutan si kembar.
"Kutinggal di rumah. Habis, Lodi nggak tahu kalau mama datang."
Lodi melirik sekilas namun tajam ke arah Sumbang. 'Akalmu itu, ada saja. Pertama ingin menunjukkan pada ibu bahwa kau bertanggungjawab. Sekarang kamu seperti menjebakku memberi harapan pada mama.'
"Ya sudah, gampang. Nanti Mama pasti ke rumah."
Lodi tersenyum canggung.
"Eh, ini Mas siapa?" tanya Mama ke Juki.
"Dia asisten Lodi di kios," jawab Sumbang.
"Dia adiknya Santi. Orang yang menolong Lodi waktu Fajar lahir. Juga yang mencarikan darah buat transfusi," sambung Lodi.
Juki jadi salah tingkah. Sok malu-malu mengangguk pada mama. Sedang Sumbang memandang Juki dengan rasa tak suka. Sama seperti ketika ada Hendar kemarin.
***
Bu Sum memandang kedua cucunya dengan bermacam rasa. Mestinya dia bahagia. Dapat dua cucu dalam waktu dekat. Bahkan Lodi akhirnya hamil juga setelah tiga tahun menunggu.
"Harusnya kita tak membiarkan Nada tinggal bersama mereka ya, Pak."
"Semua sudah terlanjur, Bu. Bagaimanapun kita harus bersyukur. Lodi sudah memaafkan Nada. Kematian Nada semoga dihitung syahid. Dan itu bisa menjadi penghapus dosanya."
__ADS_1
Pasangan tua itu saling menggenggam tangan. Berbagai ujian sudah mereka lewati. Bu Sum yang mengizinkan dipoligami, Nada yang kehilangan kaki, Lodi yang bercerai, lalu kepergian Nada. Sungguh tidak mudah melewati itu semua.
"Eh, itu ada yang menangis. Sepertinya Fajar."
Bu Sum benar. Popok Fajar basah. Wajar bila menangis. Selesai mengganti popok Fajar, gantian Mentari yang menangis.
Ayah Lodi mengambil alih Fajar dan memberi ASI perah. Gantian Bu Sum menangani Mentari, mencari sebab yang membuat bayi itu menangis.
Popoknya kering. Bu Sum lalu menggendong Mentari. Tangisannya semakin keras, melengking tinggi. Ia coba membujuk dengan memberi ASI perah. Bayi itu tidak mau.
"Nduk cantik kamu kenapa, ya?"
Tangisan Mentari semakin melengking tinggi. Lalu tiba-tiba kedua tangannya bergerak ritmik tak terkontrol.
"Pak, ini gendhuk kenapa?" tanya Bu Sum panik.
***
"Wah, benarkah? Terima kasih ya, Mas," kata mama sambil menyentuh pundak Juki. Hidung Juki jadi kembang kempis karenanya.
"Sumbang, itu ada matoa ayok bawa ke sini. Sama kacang rebusnya. Mama lagi ngemil yang nggak bikin gemuk, nih."
"Ah, badan Tante juga masih oke, kok," sambung Juki.
Mama tertawa berderai mendengar gurauan Juki. Gantian Lodi yang sedikit manyun. 'Kalo gini caranya, kapan aku bisa pamit?'
Mama, adalah ibu mertua yang sangat baik. Saking baiknya untuk mama Lodi ngga tega bilang mantan ibu mertua.
"Ibu lima tahun nikah baru bisa hamil. Itupun terus keguguran. Jadi ibu tahu rasanya ditanya: kapan nih punya momongan?"
Itu cerita mama waktu usia pernikahan mereka sudah setahun tapi belum ada tanda kehamilan.
"Lod, Sumbang cukup kan ngasih kamu uang saku?"
Pokoknya, mama tuh beda banget dengan ibu mertua yang ada di sinetron Indonesia. Makanya, Lodi jadi nggak enakan sama Mama.
Tutt
Tutt
Tutt
Ibu memanggil, video call pula.
"Assalamualaikum, Bu?"
"Lod, kamu di mana?"
" Di rumah Mas Sumbang. Kenapa, Bu?"
"Ini nggak tahu Gendhuk kenapa."
Selanjutnya ibu mengarahkan video ke Mentari. Seketika Lodi menutup mulut.
"Ya Alloh! Pesan taksi online saja ke rumah sakit Kasih Ibu. Lodi langsung ke sana."
"Kenapa Lod?" tanya Mama dan Sumbang bersamaan.
"Aku nggak tahu. Tapi kupikir Mentari harus segera diperiksa dokter. Mending kita juga langsung ke rumah sakit, ketemuan di sana. Kalau aku ke rumah dulu, malah ntar muter-muter kelamaan."
"Ayuk, Ma. Kita ke rumah sakit."
__ADS_1