
Dante menghela napas lagi. ‘Wanita itu! Dia sudah membuatku kesal karena dia sudah memaki istriku! Yang dilakukan Tatiana hanya membujuk Bella ini sudah tepat, dia akan menunjukkan pada Bella kalau dia peduli padanya. Aku akan membiarkan Tatiana bicara dengan wanita itu! Aku juga akan mencuri kesempatan untuk mencabut CCTV besok saat Bella keluar untuk berlatih piano. Aku akan membersihkan semuanya, aku tidak ingin Tatiana sampai masuk keruang kerjaku dan melihat semuanya. Aku tidak mau menyakiti hatinya jika dia melihat apa yang kulakukan dikamar Bella. Meskipun selama ini Tatiana tidak pernah masuk keruang kerjaku dan tidak pernah mengusik file ku tapi aku harus tetap berjaga-jaga.’ Dante sudah memikirkan semuanya.
Dia tidak ingin menyakiti hati Tatiana apabila tahu apa yang terjadi di kamar itu karena Dante sering menyentuh Bella disana bahkan bercinta dikamar itu, rasa bersalahnya membuatnya merubah rencana.
“Alex ada apa? Kenapa kau diam saja?” tanya Dante yang melirik ke arah Alex dan menyadari jika anaknya terlihat murung dan diam sejak tadi.
“Aku mau tidur daddy!” jawab Alex menatap piring kosong yang berada dihadapan bocah itu. Makanan masih belum dihidangkan dipiringnya.
“Tapi kau belum makan. Nanti Lorenzo akan datang dan menemanimu bermain piano. Kau tidak ingin menunjukkan padaku permainan pianomu, Alex?”
Alex mendongak menatap ayahnya tapi tidak menjawab apapun.
“Ada apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?” pria itu melepaskan genggaman tangannya dari Tatiana dan membuka tangannya untuk Alex.
“Kau ingin aku memelukmu?”
Alex tak bergeming, hanya diam saja memandang Dante yang bertanya padanya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Kau ini kenapa Alex sayang? Maafkan daddy ya tadi aku tidak datang ke kamarmu karena aku mengantuk sekali. Beberapa hari ini daddy kurang tidur. Kau mau memaafkanku?” Dante mencoba untuk bicara lagi dengan putranya.
‘Untunglah dia menganggukkan kepala.’ hati Dante agak lega ketika melihat putranya mengangguk dan mau meraih tangan Dante lalu masuk kedalam dekapan pria itu. “Kau merasa nyaman?” tanya Dante yang kembali hanya dijawab Alex dengan anggukan kepala.
“Kau mau apa?”
“Aku mau bobok daddy.” ucap Alex.
“Baiklah, aku akan mengantarmu ke kamar.” ucap Dante menggendong Alex.
“Tapi Dante?” Tatiana mencoba mencegat.
“Tidak lama!” Dante menengok pada istrinya dan tersenyum. “Tunggu saja disini kalau Lorenzo sudah datang tolong temani dia dulu. Aku juga tidak enak padanya karena dia datang dan Alex tidak mau bermain piano. Sedangkan dia sibuk sekali, kau tahu kan bagaimana teater dan pagelaran musiknya?”
Tatiana menganggukkan kepala, dalam hatinya dia sangat kesal karena tidak bisa mengikuti Dante ke kamar anaknya. Dia khawatir jika suaminya menemui Bella lagi.
__ADS_1
“Kalau begitu aku ke kamar Alex dulu.”
“Kau akan menidurkannya?” tanya Tatiana lagi sambil mendongak menatap Dante yang sudah berdiri.
“Ya, dia mau tidur. Sepertinya dia kesal padaku karena aku tidak memandikannya dan tidak datang padanya.” jawab Dante.
“Ah anak ini memang sangat manja.” ujar Tatiana menyunggingkan senyum dan mengangguk.
“Aku pergi menidurkannya dulu. Nanti aku akan kembali setelah Alex tidur.”
Tatiana mengangguk setuju dan tidak melarang Dante, dia tetap duduk dikursinya sambil melemparkan senyum kearah tangga padahal dia sudah tidak melihat Dante lagi disana.
‘Anak itu sangat mengganggu. Apa dia akan mengadu pada ayahnya? Dante tidak akan menyalahkanku jika kau mengadu anak kecil! Aku sudah mengatakan pada Dante apa yang aku lakukan padamu. Aku juga sudah duluan mengatakan pada Dante apa yang kulakukan pada Bella.’ Tatiana tersenyum puas.
FLASHBACK ON
“Kau tidur pulas sekali Dante!”
“Maafkan aku Tatiana. Apa aku membuatmu menunggu lama?” tanya Dante yang baru bangun tidur langsung melihat jam tangannya.
“Tidak! Aku sudah bangun tidak mungkin tidur lagi. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.” ucap Dante mengusap wajahnya, mengumpulkan kesadarannya untuk bangun dari tempat tidur. Tapi saat dia melihat wajah istrinya, dia melihat wajah itu terlihat muram.
“Kau kenapa? Kenapa wajahmu muram begitu?” tanya Dante yang tertegun menatap istrinya yang menghapus derai airmatanya.
“Tadi aku memarahi Bella.”
“Kau memarahinya lagi? Kenapa? Kesalahan apalagi yang dibuatnya?” tanya Dante agak tegang.
“Karena masalah lampu.”
“Oh….dia tidak mungkin mematikan lampunya Tatianya! Karena setahuku dia takut gelap! Hem...teman-temanku yang memberitahuku.” ucap Dante tersadar kalau dia tanpa sadar sudah salah bicara memberitahu rahasia Bella pada istrinya.
“Oh begitukah?”
__ADS_1
“Iya. Aku rasa bukan Bella yang mematikan lampunya. Tidak mungkin dia melakukan itu.” kata Dante menggelengkan kepalanya.
“Jadi kau menuduhku dan lebih membela dia Dante?” Tatiana meninggikan intonasi suaranya.
“Bukan. Aku tidak menuduhmu berbohong, sayang.” Dante tersenyum setelah dia memikirkannya.
“Aku juga tidak tahu kenapa lampu itu mati. Bella menyalahkanku karena katanya aku yang mematikan lampu. Dia bilang kalau dia berusaha menidurkan Alex dalam gelap. Aku sangat kesal padanya karena dia menuduhku begitu! Aku marah dan memakinya.” lalu Tatiana diam sejenak menunjukkan rasa bersalahnya sambil tangannya menghapus airmata dipipinya dan menatap Dante kembali.
“Tapi saat aku bertemu pelayan waktu aku keluar dari kamar Alex dan dia bertanya padaku apakah kamar itu mati lagi lampunya? Lalu aku bertanya pada pelayan itu, darimana tahu kalau lampu kamar Alex mati? Dia mengatakan kalau Bella baru saja memanggilnya dan menyuruh untuk mengganti bola lampunya yang mati.” Tatiana menjelaskan dengan menangis terisak.
“Ah jadi lampunya memang mati dan Bella sudah menggantinya, begitukan maksudmu?”
Tatiana menganggukkan kepalanya menjawab Dante. “Kau bisa menanyakannya pada pelayan kalau kau tidak percaya padaku.” kata Tatiana lagi untuk menyelamatkan diri.
“Tatiana, jangan asal bicara begitu. Aku tidak perlu mengkonfirmasikan apapun pada pelayan. Kapan aku tidak percaya padamu?” Dante memicingkan matanya lalu mengecup Tatiana setelah dia menggeserkan tubuhnya mendekat pada wanita itu.
“Dante….?”
“Sudahlah Tatiana, sayang! Aku mau mandi dulu. Jangan terlalu dipikirkan hal itu, aku tidak menyalahkanmu. Kalau lampunya memang mati ya memang sudah waktunya mati! Kau juga kan tidak melihat karena kau sudah keluar dari kamar Alex, iyakan?”
Dengan masih menunjukkan wajah sedihnya, Tatiana menganggukkan kepala menerima penjelasan Dante. “Ya sudah ya jangan lagi dipikirkan. Sekarang bantu aku mandi, kita bisa mengurangi ketegangan dengan mandi berdua, bagaimana?”
FLASHBACK OFF
“Selamat malam Nyonya Tatiana!”
“Selamat malam Lorenzo! Apa kabarmu?”
“Seperti biasa, aku baik-baik saja.”
“Lorenzo, aku ada sedikit bisnis denganmu! Sekalian aku juga ingin meminta bantuanmu. Apakah kau berkenan membantuku?” tanya Tatiana yang sudah menyusun siasatnya. Hatinya yang sakit dipenuhi dendam dan cemburu yang sulit dikendalikan. Dia bersyukur bisa mengetahui kebenaran tentang Bella dan Dante begitu cepat sehingga dia bisa segera bertindak.
“Bisnis? Kau tahu kan kalau aku sangat sibuk dan sudah tidak punya waktu lagi untuk membuat bisnis lain untuk sementara waktu ini.” jawab Lorenzo.
__ADS_1
“Bukan bisnis itu, tapi hal lain yang butuh bantuanmu.”
“Kau tahu kalau aku akan selalu membantumu, bukan?” ujar Lorenzo.