
“Apa yang kau mau aku lakukan?”
“Tolong rahasiakan kabar ini, Anna!” ucap Anthony pelan setengah berbisik pada dokter dan juga sahabatnya itu. Dia tidak ingin siapapun mendengar ucapannya dan tahu tentang kehamilan Bella.
“Kau memintaku merahasiakan berita ini? Dari siapa?” Anna menyipitkan matanya.
“Dari Jenderal Robert Kane!” jawab Anthony penuh penekanan.
“Ssshhhh, kau serius ingin merahasiakan ini dari ayahmu? Kalau dia tahu, bisa-bisa kepalaku melayang, Anthony!” celetuk Anna bergidik ngeri. Tapi Anthony tak meresponnya, dia haya diam dan memandang Dokter Anna saja menunggu jawaban dari wanita itu.
“Fuuh! Aku tidak berani melawan ayahmu Anthony!”
“Bukan melawannya Anna, hanya merahasiakan berita ini saja.” pinta Anthony lagi dengan penuh harap pada sahabatnya itu.
“Terus terang saja aku tidak berani Anthony tapi aku akan berusaha untuk tidak membahas ini dengannya kalau dia bertanya padaku. Tapi aku akan berusaha menghindarinya.”
“Aku tidak mau ayahku memanfaatkan kehamilan Bella untuk menyerang Dante!”
“Kau tidak mau menangkap pria itu? Bukankah dia penjahat nomor satu saat ini yang sedang menjadi incaran federal?” tanya Anna.
“Bukan dengan cara begitu! Kau tahukan dia sedang dalam masa sulit, stressnya dan kondisi psikisnya belum baik. Aku tidak ingin dia dimanfaatkan selama kondisinya belum memungkinkan dan kalaupun dia sudah sembuh juga. Aku sudah berulang kali mengatakan padamu kalau aku tidak ingin dia terbebani dengan masalah ini. Apalagi aku melihat sendiri bagaimana dia tersiksa dalam ruangan itu.” Anthony menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak ingin dia kembali tersiksa dengan Dante.”
“Ah, masuk akal yang kau bilang. Saat pertama kali aku melihatnya dan mengobatinya, aku juga merasa kasihan. Bagaimana bisa dia mendapat banyak siksaan bekas cambukan seperti itu. Ya Tuhan, membayangkannya saja aku tak sanggup seandainya itu terjadi pada tubuhku sendiri,” Anna bicara sambil bergidik ngeri.
“Itulah alasannya kenapa aku ingin kau merahasiakan ini dari ayahku.”
“Ya, baiklah kalau untuk alasan medis dia tidak bisa diajak bekerjasam dan aku mendukungmu untuk hal ini Anthony.”
“Terimakasih Anna.”
“Anthony, aku belum memberitahunya tentang kehamilannya. Mungkin kau harus memberitahukannya dengan hati-hati. Aku tidak yakin kalau dia siap menerima bayi itu, kau harus bicarakan ini pelan-pelan. Kau paham kan maksudku?”
“Nah, aku pun sudah bingung bagaimana memberitahunya soal kehamilannya! Kau sudah khawatir akan mengganggu psikisnya apalagi menjadikan dia sasaran dalam pertempuran? Bisa kau bayangkan bagaimana stressnya dia nanti? Ini alasan kenapa aku mengkhawatirkannya. Aku tidak mau dia kenapa-napa,” ujar Anthony memijat keningnya.
“Jadi karena ini kau ingin ayahmu tidak mengetahui kehamilannya?”
__ADS_1
Anthony menganggukkan kepalanya setelah Anna selesai mengutarakan pertanyaan padanya.
“Katakan saja pada ayahku nanti saat dia tahu soal kehamilan ini, bilang kalau itu adalah anakku.”
“Anthony?” Anna mengeryitkan dahinya.
“Hanya sementara saja yang penting ayahku tidak memakai Bella untuk menjebak Dante!”
“Kau benar-benar gila Anthony!” Anna menggelengkan kepalanya.
“Mau bagaimana lagi? Aku tidak tega kalau dia dimanfaatkan untuk kepentingan militer dan kita juga sudah membahas alasanku bukan?”
“Baiklah. Tenang saja, aku akan membantumu! Kau benar-benar membuatku berada diposisi yang sangat sulit Anthony! Lalu bagaimana jika Irene tahu tentang ini?”
“Kenapa kau bicara sambil berdecak? Aku juga tidak tahu bagaimana hubunganku dengannya.”
“Tapi bukankah kalian sudah bertunangan Anthony?”
“Entahlah Anna!” Anthony mengangkat bahunya, “Aku berencana untuk memutuskan pertunanganku dengannya.” ujar Anthony lagi.
“Apa kau bilang? Kau sudah gila? Kau membahayakan dirimu sendiri dengan tindakanmu itu. Dia itu putri Tuan Presiden, Anthony!” pekik Anna tak percaya apa yang didengarnya.
“Lantas kenapa dulu kau jadian dengannya?”
“Dulu itu tidak sengaja. Aku tidak serius dengannya karena aku adalah pengawal pribadi selama ayahnya berkampanye dan aku diminta untuk menjaganya. Tapi saat itu dia salah paham, aku ingin mengatakan padanya kalau aku tidak mencintainya tapi karena dia menanyakan itu ketika ayahnya dan ayahku sedang berbincang, jadi aku merasa tidak enak hati dan aku terpaksa mengtakan kalau aku mencintainya.” kata Anthony menjelaskan.
“Aduh Anthony! Kau buat masalah saja. Aku rasa dia akan sangat sulit untuk berpisah denganmu nanti. Dia sangat mencintaimu apalagi karakternya yang manja, kau akan kesulitan untuk berpisah dengannya.”
“Entahlah Anna! Tapi aku tidak mencintainya dan aku tidak menyukai anak manja sepertinya.” ucap Anthony mengangkat bahunya sambil berdecak.
“Aah Anthony…..Anthony….apa kau terkekang selama ini bersamanya? Kau sudah tidak bisa lagi bersama dengan wanita-wanitamu?” Anna tersenyum simpul.
“Hey Anna! Kenapa kau bicara sarkas begitu padaku? Kau pasti sudah termakan gosip diluaran yang bilang kalau aku ini selalu gonta ganti wanita, iyakan?” celetuk Anthony sambil tertawa.
“Hmmm….tapi memang gosip itu benar kan? Pacarmu banyak sekali Anthony.”
“Mana ada? Wanita-wanita itu saja yang berusaha mendekatiku tapi aku tidak seperti itu.” jawab Anthony sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Ah, sudahlah. Intelijen sepertimu ini memang banyak sekali bermain wanita,” Anna mencibir, “Aku pergi dulu Anthony. Jangan lupa berikan dia vitamin untuk bayinya.”
“Kondisi psikisnya sekarang ini, apakah akan berpengaruh pada bayinya?”
“Sedikit banyaknya mungkin iya, tapi jangan khawatir itu masih bisa diatasi. Kau berikan saja perhatian padanya yang cukup saja ok? Kau menyukainya Anthony?”
“Jangan mulai bergosip lagi. Aku tidak tahu aku menyukainya atau tidak tapi aku hanya merasa kasihan saja padanya. Setiap melihatnya aku membayangkan bagaimana sulitnya dia didalam ruangan gelap itu sendirian.” jawab Anthony sejujurnya.
“Benih-benih cinta diawali dengan rasa kasihan. Bukankah begitu menurutmu Anthony?”
“Hahahahah!” Anthony tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
“Sudahlah Anna! Aku benar-benar kasihan saja padanya.”
“Baiklah. Aku mengerti, sudah dulu ya aku pergi dulu. Besok aku akan datang lagi dan jangan lupa makanannya sudah dimakan olehnya dan sekarang dia sedang beristirahat.”
“Terimakasih Anna!”
“Hem...sampai jumpa besok Anthony!”
Anthony melambaikan tangan dan kemudian kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya dengan mata masih memandangi Anna yang berjalan keluar. ‘Hamil? Aduh kau buat masalah saja Bella! Kita lihat peruntungan dulu, apa dia percaya kalau itu anaknya?’ ucapnya dan dia pun mengambil handphonenya untuk menghubungi seseorang.
Tapi, belum sempat dia menekan nomor untuk membuat panggilan, pelayannya sudah memanggil namanya dan berjalan mendekati Anthony. “Permisi Tuan Anthony!”
“Iya ada apa mencariku?” Anthony tidak jadi menelepon dan dia menatap kepala pelayan yang sudah berdiri dihadapannya.
“Tuan Robert baru saja sampai dan dia meminta saya untuk memanggil Tuan agar segera menemuinya diruang kerjanya sekarang, Tuan!”
“Ah, baiklah aku akan kesana sekarang. Terimakasih ya. Satu lagi, tolong suruh seorang pelayan untuk masuk dan menemani Bella. Pelayan wanita kalau boleh.”
Kepala pelayan itu menganggukkan kepala, “Saya mengerti Tuan.”
Anthony pun bergegas pergi menuju ruang kerja ayahnya setelah kepala pelayan itu pergi. ‘Apa sebenarnya yang ingin disampaikan ayah padaku? Tumben pagi-pagi dia sudah memanggilku?’ bisik hati Anthony sambil terus melangkah mendekati ruang kerja ayahnya.
Tok tok tok
“Masuk!”
__ADS_1
“Apa kabar ayah?”