PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 22. APA KAU TAKUT PADAKU?


__ADS_3

Tatapan pria itu semakin tajam, menunggu penjelasan dari Bella. Dia ingin mengetahui semuanya, apa yang terjadi pada gadis itu. Setelah empat tahun lamanya, kini gadis itu jauh berbeda dari saat pertama kali bertemu.


Tangan Dante terjulur kearah Bella tapi dia langsung menghentikannya. Bella hanya diam tak menolak dan pasrah jika pria itu melakukan apapun, dia membiarkan Dante melakukan apapun yang dia mau.


“JAWAB!” ujar Dante marah.


“I---iya Tuan.” Bella mengganguk dan merasa cemas. “Aku meminumnya hampir setiap jam saat mau tidur dan saat aku bangun aku juga meminum obatnya..Aku tidak bisa hidup tanpa itu, Tuan.” Dia mengungkapkan semuanya tanpa ada sedikitpun yang ditutupi.


Dante tidak melihat kebohongan dimata gadis itu, hanya ketakutan dan kebingungan yang terpancar dari mata indah berwarna hijau itu.


“Apa ada tambahan lain yang kau minum selain sepuluh butir itu?” Dante masih belum berhenti, dia ingin mendengar penjelasan lebih detail dari Bella. Hatinya panas penuh amarah. Kedua tangannya mengepal erat ingin memukul seseorang.


“Aku tidak tahu, Tuan. Tapi setiap kali aku melayani seseorang, mereka memberikan minuman padaku.”


“Ada sesuatu diminuman itu? Apa yang kau rasakan setelah meminumnya?”


“Aku tidak tahu.” ucap Bella menggelengkan kepala sambil mendekat pada pria itu saat tangan besarnya menarik lengannya. Karena merasa sakit, Bella memilih mendekatkan tubuhnya. Dia tak ingin merasakan kesakitan lagi akibat ulah tangan pria itu.


“Jelaskan bagaimana rasanya!” pinta Dante lagi.


“Hem…..rasanya panas seperti terbakar tapi sangat enak saat seseorang menyentuhku. Maksudku, aku bisa menikmatinya. Enak sekali,” jawabnya jujur.


“Pffhhhh!” tangan pria itu langsung meremas sekuatnya membuat Bella kesakitan.


“Aahhh….sakit Tuan….” teriak Bella karena kedua jari tangan Dante menjepit kasar dagunya Bella. Wajahnya meringis dan bibirnya mengerucut.


“Kau tahu rasanya sakit. Tadi kau bilang enak!” sindir Dante dengan tatapan merendahkan.


“Iya tuan….aaahhhhh…..sakit Tuan!”


“Sekali lagi kau berani bilang kalau sentuhan mereka itu enak aku akan memotong ini! Dan aku akan menggantungnya dihadapanmu. Paham?”


Mata Bella mendelik ngeri saat melihat bagaimana pria itu mempraktekkan bagaimana dia akan memotong bagian tubuhnya. ‘Huh, dasar pria aneh! Kenapa dia jadi marah? Kan dia yang nanya, ya kujawab jujurlah!’ protesnya dalam hati saja.


“Kenapa kau tidak lari saja dari sana? Apa kau tahu apa yang mereka berikan padamu?” dia bertanya lagi dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


“Sarah! Adikku Sarah! Dialah alasanku tidak melarikan diri. Kalau aku pergi maka mereka akan menghukum adikku dan melakukan hal yang jauh lebih buruk lagi pada adikku! Jawabnya dengan kepala tertunduk sedih.


“Aku tidak mau adikku bernasib sama sepertiku. Aku menyayanginya dan aku rela melakukan apapun untuk melindunginya.”


“Apa kau takut padaku?” tanya Dante yang sudah mulai melunak setelah mendengar penjelasan Bella dan diapun tak lagi berbuat kasar.


“Iya. Takut Tuan!” jawabnya mengganggukkan kepala. Memang itu kenyataannya, dia sangat takut pada pria itu dan tak ingin nasibnya menjadi lebih buruk lagi.


“Ada apa denganmu? Masih takut padaku? Mengapa tubuhmu bergetar dan keringat dingin?”


“A—aku dingin….” jawab Bella dengan tubuh menggigil.


“Kau kedinginan?” tanya Dante mengerutkan dahi.


Bella hanya mengganggukkan kepalanya dan wajahnya terlihat makin pucat pasi. Ini sudah hari ketiga dia tidak meminum obat yang biasa menenangkannya. Dia terlihat seperti orang linglung dan tubuhnya tak berhenti bergetar.


“Apa kau baik-baik saja? Masih bisa berkonsentrasi, ha?”


“Masih.” jawabnya memaksakan diri. “Bisakah aku keluar dari ruangan ini?” pintanya saat menyadari jika seluruh ruangan itu berwarna. Dia takut pada kegelapan dan warna hitam.


“Sejak malam itu. Aku disekap diruang gelap….semuanya gelap dan hitam.” ucap Bella.


“Sejak kapan kau takut dengan gelap?” tanya Dante lagi.


“Sejak hari itu….haaa…..hari itu….” tiba-tiba dia histeris dan ketakutan, tangannya mencengkeram sprei erat-erat. Bola matanya mengerjap dan panik.


“Kendalikan dirimu!” tanpa menunggu lagi, Dante langsung menarik Bella mendekat padanya dan mendekapnya erat. Ekspresi wajah pria itu sulit diartikan, dia mengusap-usap punggung Bella.


“Aku takut sekali, tolong jangan tinggalkan aku disini sendirian, Tuan! Aku mohon….” pinta Bella yang berada dalam dekapan Dante. Tubuhnya memeluk Dante bak anak bayi, meringkuk diatas pangkuannya dengan wajah ketakutan dan pucat.


“Aku disini! Tenanglah, aku akan mengganti catnya! Ayo pindah kembali ke kamarmu.” ucap Dante.


Sebelum Bella menjawab, Dante sudah menggendong gadis itu kembali ke kamarnya yang sudah dibersihkan. Aroma segar memenuhi kamar yang terlihat sudah rapi dan kemas.


“Apa kau merasa lebih baikan disini?”

__ADS_1


Bella mengedarkan pandangannya kesekeliling kamar lalu mengganggukkan kepala. “Terima kasih, Tuan.”


“Bisakah kau kutinggal sendirian disini?”


“Jangan tinggalkan aku disini! Aku takut!” Bella memohon kepada Dante dengan raut wajah memelas.


BRUKKKK!!!!


Dante menghempaskan tubuh Bella keatas ranjang membuat gadis itu terkejut dan berteriak. “Aaaakhh!”Bella memegang punggungnya dan mengelusnya karena sedikit sakit akibat terhempas.


“Aku bukan babysitter mu! Kau tahu diri tidak? Tugasmu disini untuk melayani bukan dilayani! Apa kau paham itu? Jangan manja!” ucap Dante berusaha untuk merendahkan intonasi suaranya.


‘Benar juga apa yang dikatakannya, aku tidak boleh begini. Aku harus kuat dan menjalankan tugasku agar hutangku tidak bertambah lagi. Aku harus bisa mengendalikan diriku,” gumam Bella.


“Kau tidak ingin aku melayanimu, iyakan? Kau tidak ingin aku menyentuhmu, bukan?”


“Itu adalah wewenangku. Kapanpun aku mau melakukannya maka aku yang akan memutuskan, bukan kau yang mengaturku! Meskipun aku tidak menginginkanmu selama kau masih menjadi jaminanku maka selama itu pula kau tidak bisa mengabaikan permintaanku dan harus menurutiku!”


“Aku mengerti. Maafkan aku, Tuan. Aku janji akan berusaha keras untuk mengendalikan diriku. Hal sepeti tadi tidak akan terulang lagi kedepannya.”


“Dokter akan datang kesini untuk melihat kondisimu. Tidak akan ada lagi obat yang kau maksud karena aku tidak suka wanita yang menggunakan obat terlarang dalam bentuk apapun! Dan satu hal lagi, kau harus ingat kalau kau tidak sembuh dalam waktu tiga bulan maka jangan salahkan aku jika aku akan mengambil adikmu dan menjualnya!”


Ucapan Dante Sebastian membuat Bella ketakutan, bola matanya memindai Dante lalu menggelengkan kepala dengan cemas.


“Aku yang menentukan apa yang mau aku lakukan. Tak ada siapapun yang boleh membantah dan barang siapa yang tidak mengikuti keinginanku maka jangan salahkan aku akan memberikan hukuman yang sangat berat!”


“Tuan! Aku mohon jangan sentuh adikku. Kau boleh lakukan apapun padaku tapi tidak pada adikku. Biarkan dia hidup tenang dan bahagia, aku mohon Tuan. Aku tidak mau adikku mengalami nasib sepertiku.” ucap Bella memohon dan menggelengkan kepala sambil menatap Dante dengan tatapan memelas.


“Bangunlah! Bersihkan tubuhmu dan jika kau mengalami demam maka berusahalah untuk bertahan. Aku akan menunggumu dibawah untuk sarapan.”


“Apakah kau akan meninggalkanku sendirian diruangan ini, Tuan?”


*Visual Belinda Alexandra Amani alias Bella


__ADS_1


__ADS_2