
“Anthony! Tolong panggil Omero dan Noel juga untuk datang kemari.”ucap Dante pada adiknya.
“Baiklah Dante!” jawab Anthony segera bergegas memanggil orang yang dimaksudkan Dante.
“Kau mau mengadakan rapat dengan mereka semua, Dante?”
“Tidak Bella!” Dante menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Bella. Dante menunggu hingga semua orang yang dipanggilnya berkumpul.
“Kau mau apa Dante?” tanya Omero lalu dia melirik Bella. ‘Cantik! Kau memang cantik sekali, sama persis seperti ibumu.’ bisik hati Omero ketika dia melihat putrinya dan sebenarnya dia ingin sekali langsung memeluk Bella, namun dia berusaha menahan dirinya. Dia tak mau membuat Bella merasa risih dan terkejut karena Omero belum mengatakan yang sebenarnya pada Bella.
“Aku mau kalian berada ditempat yang aman!” dante bicara sambil mendekat pada Noel yang sedang mendorong kursi roda Omero.
“Aku minta maaf padamu Noel, aku tidak bisa menyelamatkannya.” kata Dante lirih. Dia merasa sangat bersalah karena terpaksa membiarkan Dante Emilio, ayahnya Noel mati terbunuh disana.
Noel tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Dia akan sangat senang sekali kalau dia mati ditanganmu! Kau tidak perlu khawatir, aku yakin ayahku tidak akan marah karena memang ayahku mungkin sudah mati.” Noel tidak menyalahkan siapapun dan ini membuat Dante lega. Walaupun dia tetap merasa tak enak hati pada Noel.
Lalu Dante menatap kearah Omero dan berkata, “Apa kau ingin aku melakukan sesuatu sekarang?”
Omero menggelengkan kepalanya, Aku ingin kau memberitahukan kepadanya ketika suasana sudah kembali nyaman! Aku bisa menunggu untuk itu!”
“Kau yakin tidak mau memberitahunya sekarang?” tanya Dante memastikan.
Omero memilih menggelengkan kepalanya, “Aku mau kau memiliki alasan untuk tetap hidup Dante!”
“Baiklah ayah.” jawab Dante tersenyum dan mengangguk lagi, “Kalau begitu aku antarkan kalian ketempat yang aman. Kalian akan tetap berada disana sampai situasinya aman.”
Tanpa banyak bicara lagi Dante langsung menuju ke lift dan memencet tombol lift.
“Kita turun lebih dalam lagi Dante?” Bella bertanya dan Dante yang masih tidak berekspresi apapun menatapnya.
“Kalian akan tinggal disini!” Dante menunjuk kesebuah ruangan disamping ruang senjata saat lift sudah turun ketempat yang dituju Dante.
__ADS_1
“Mereka tidak akan pernah bisa masuk kedalam. Kalian akan aman berada disini.”
“Ini tempat yang kau tunjukkan padaku kan?”
Dante mengangguk, “Iya tapi bukan kedalam sana! Kau hanya akan menunggu diruangan ini Alex!” ucap Dante menyerahkan putranya kepada Bella yang saat ini menatap Dante dengan ekspresi cemas.
“Dante, apa kau akan pergi sekarang?” tanya Bella.
“Iya Bella! Aku akan menyelesaikan pertarungan terakhir ini Bella. Jaga dirimu baik-baik dan Alex! Tetaplah disini sampai aku kembali. Jangan pernah keluar dan meninggalkan ruangan ini. Semua kebutuhan kalian ada didalam sana. Apa kau paham?” Dante memegangi kedua pundak Bella.
“Dante…..” Bella tak tahu lagi harus berkata apa dan hanya memanggil nama pria itu.
“Sssshhh! Jangan pasanga wajah begitu Bella! Kau jangan khawatir, aku akan baik-baik saja.”
Bella ingin rasanya mempercayai ucapan Dante, dia ingin agar tidak merasa cemas dan khawatir tapi bagaimana caranya? Kata-kata Dante itu bukan memberinya ketenangan malah membuatnya semakin tidak karuan dan perasaannya galau.
“Tapi Dante?” Bella menatap Dante lagi dengan tatapan sendu.
“Bella, dengarkan aku.” Dante menatap istrinya dan merapikan rambut Bella, “Aku titipkan Alex dan bayi dalam kandunganmu! Aku akan kembali bertemu dengan mereka dan denganmu. Jadi kau harus menungguku disini. Jangan banyak berpikir, oke?”
Dante menggelengkan kepalanya, “Aku tidak akan menyerah! Aku tidak akan mati! Ini janjiku padamu, aku akan kembali padamu dan aku akan selalu bersamamu.”
Sebenarnya Bella tidak mau berpisah dengan Dante. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia harus membiarkan Dante pergi menemui Jeff dan menyelesaikan semuanya. Itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan hidup mereka dan menghentikan teror ini!
Bella paham tentang hal ini sehingga dia berusaha untuk menguatkan dirinya dan melepaskan tangannya dari pelukan Dante. Meskipun dengan berat hati dan derai airmata seperti dia tidak akan bertemu Dante lagi. Itulah hal yang paling ditakutkannya.
“Aku pergi dulu Bella!” Dante mendekat pada Bella dan hendak mengecupnya tapi---
“Kau tidak boleh! Jangan! Kau harus menjauh dariku.” untuk pertama kalinya Bella melarang dan menahan Dante yang ingin mengecupnya dan meletakkan jarinya dibibir Dante.
“Bella?” Dante bicara memelas.
__ADS_1
“Tidak Dante! Kau tidak boleh mengecupku! Pokoknya tidak boleh! Kau boleh menciumku lagi nanti setelah kau kembali! Aku akan menunggumu disini dan aku akan tetap disini sampai kau kembali.”
Dengan linangan airmata Bella bicara. Didalam hatinya ingin sekali memeluk Dante dan membawa pria itu kedalam rengkuhannya. Tapi apalah daya, tangannya tak sanggup melakukan itu. Ada rasa takut yang membuat Bella memilih untuk menahan dirinya.
‘Hanya ini cara satu-satunya yang membuatnya bisa kembali dalam keadaan hidup! Aku tidak ingin kau pergi Dante!’ bisik hatinya.
‘Aku ingin kau kembali! Aku ingin kau memiliki alasan untuk kembali padaku dan Alex!’ inilah alasan Bella yang membuatnya berusaha keras menahan dirinya. Godaan Dante baik wajahnya dan bayangan tubuhnya yang tidak bisa dilepaskan Bella tetap harus dia ikhlaskan malam ini.
‘Kau harus kuat Bella supaya Dante bisa kembali.’ dia berusaha menguatkan dirinya.
‘Dante harus punya alasan kuat untuk kembali padaku dan anak kami. Dia harus menemuiku dan anakku juga. Dia harus kembali untuk melihat aku melahirkan anak kedua kami dan melihat mereka bertumbuh dewasa.’ itulah yang ada didalam pikiran Bella yang berhasil memaksanya untuk menahan diri. Hal ini diluar dari kebiasaannya yang tak pernah menahan Dante.
“Bella?” Dante bicara lirih dengan ekspresi memohon.
“Aku mohon Dante! Simpan saja ciumanmu itu untuk nanti! Kau kan sudah berjanji akan kembali?”
Akhirnya Dante tersenyum dan mengangguk. Dia akhirnya pasrah dan tidak ingin mengganggu istrinya lagi. Akhirnya dia hanya mengelus rambut istrinya dan anaknya dengan lembut. Dua orang yang sangat disayanginya dan penyemangat hidupnya.
“Sekarang kau memberikanku alasan yang lebih besar lagi untuk kembali Bella. Tunggulah disini dan jaga anak-anak! Aku sangat menc…..”
“Jangan katakan apapun, Dante!” sebelum Dante menyelesaikan kalimatnya, Bella kembali memotong perkataannya dengan suara memekik.
“Kau aneh sekali. Jadi kau tidak mau mendengar kata-kataku tadi?” Dante tersenyum.
Bella menggelengkan kepalanya masih terisak, “Biarlah kau simpan saja sampai kau kembali nanti baru kau mengatakannya padaku Dante.”
“Jadi itu yang kau mau?”
Bella mengangguk lagi, “Iya. Bisakah kau mewujudkannya?”
Dante akhirnya mengangguk, dia mengikuti permintaan Bella, “Kalau begitu aku pergi sekarang. Aku akan segera kembali karena aku sudah sangat merindukanmu.”
__ADS_1
Dante hanya bisa mengelus pipi Bella lalu dia melirik pada temannya. “Ayo kita pergi dari sini.” dengan langkah tegas dia melangkah menjauh dari Bella.
“Aku pergi dulu! Aku tidak akan lama dan aku akan kembali padamu. Cup!” Barack bicara lalu memberikan kecupan pada Sarah. Satu sisi Bella memilih untuk tidak memberikan apapun pada Dante sedangkan Sarah memilih untuk mencium bibir Barack cukup lama. Sarah benar-benar menikmati waktu-waktu itu bersama dengan Barack.