
“Oh begitu?” Barack kembali memicingkan matanya masih menunjukkan ekspresi tidak percaya.
“Sudah kukatakan padamu kau tidak perlu terburu-buru untuk mempercayaiku. Kau baru saja mengalami kecelakaan jadi menurutku tidak jadi masalah jika kau butuh waktu untuk berpikir. Sebaiknya sekarang kau kembali beristirahat, berpikirlah dengan tenang dan saat kau sudah yakin apa yang kukatakan padamu tadi, kau bisa kembali padaku agar kita bisa bicara serius.”
Jeff bersikap seolah memberikan dukungan pada Barack dan dia sama sekali tidak menggurui Barack dan tidak memaksakan kehendaknya. Hal itu membuat Barack tersenyum tapi entah apa makna dari senyuman itu hanya dia yang tahu.
“Apa kau sudah merasa lebih tenang sekarang?” tanya Jeff.
Barack menggelengkan kepalanya.
“Apa yang mau kau tanyakan padaku?”
“Sesuatu yang sangat penting yang mungkin kau lupakan?” kata Barack lagi tanpa merasa takut sedikitpun. Dia tidak nampak takut ketika menghadapi Jeff padahal semua senjata mesin menjurus padanya saat ini, enam orang bodyguard Jeff menodongkan senjatanya pada Barack dengan jarak dekat sekitar satu setengah meter di sekeliling Barack.
“Katakan apa yang aku lupakan?” Jeff bertanya sambil memicingkan matanya.
“Aku masih jelasmengingat tadi kau mengatakan bahwa aku telah hilang selama smeinggu di gunung? Karena aku hilang digunung makanya anak buahmu menodongkan senjata padaku? Apa mereka khawatir aku akan berkhianat?”
“Iya benar, kenapa memangnya? Kau keberatan?”
“Kenapa aku merasa aneh saja, tidak yambung dengan ceritamu!” balas Barack lagi dengan melemparkan senyuman pada Jeff.
“Dimana yang kau rasa tidak yambung?” Jeff dengan suara beratnya bertanya lagi.
“Tadi kau bilang kalau aku hilang digunung, kau bilang anak buahmu mencariku dan karena mereka khawatir mereka menodongkan senjata padaku tapi ada yang kau lupakan! Kau bilang bahwa aku kehilangan ingatanku karena kecelakaan mobilku saat itu masuk jurang. Bukan begitu?”
“Lalu?”
“Sekarang coba kau jelaskan padaku kalau memang aku jatuh ke jurang dan aku kehilangan ingatanku ketika itu bukankah seharusnya aku sadar apa saja yang aku lakukan dihutan? Tapi kenapa aku tidak ingat apapun yang aku lakukan dihutan itu?”
__ADS_1
Glek!
‘Sial! Harusnya aku memikirkan semua alasannya terlebih dulu sebelum aku memanggilnya kesini. Dia tipikal pemikir dan dengan mudahnya dia membolak balikkan perkataan! Apa dia tidak percaya padaku? Ah, mudah itu kalau dia memang tidak percaya aku bisa langsung menghabisinya saat itu juga dan mengirimkan videonya pada Dante.’ Jeff menelan salivanya sendiri.
“Kau tidak mampu menjawabnya?” Barack kembali menatap tajam Jeff sambil memicingkan matanya.
Tok tok tok…….
Barack bertanya bertepatan dengan suara ketukan di pintu.
“Nona, anda dilarang masuk kedalam.”
“Tidak ada yang bisa melarangku untuk bertemu dengan kakakku sendiri!” wanita itu tetap menerobos masuk kedalam ruangan itu. “Jeff! Suruh anak buahmu jangan menggangguku! Aku tidak ingin kesenanganku jadi rusak gara-gara ulah mereka yang mengikutiku terus!”
“Gabriela, aku sedang bicara. Kenapa kau menggangguku?”
“Orang ini tidak lebih penting dari…….kau? Hah, kenapa aku ada disini?”
“Pertanyaan bodoh macam apa itu? Kau pikir aku sudah lupa dengan pria yang pernah tidur denganku? Jadi selama ini kau bekerja dengan kakakku?” tanya Gabriela yang adalah adik perempuan Jeff.
********
Tok tok tok tok
“Selamat pagi Bella! Bagaimana tidurmu semalam? Apa ku tidur nyenyak? Tumben kau sudah duduk saat aku datang. Maaf ya kalau aku mengagetkanmu!” ada senyum diwajah orang yang baru saja membuka pintu, “Kau masih tidak mau bicara denganku ya? Atau kau masih belum mengingatku? Lihatlah tidak ada bedanya aku sekarang atau sebulan lalu saat kita baru berkenalan dirumah Tuan Dante. Aku Anthony! Apa kau masih sulit mengenaliku?”
Anthony bertanya sambil mendekat dan duduk dipinggir tempat tidur Bella.
“Tidak apa-apa kalau kau masih tidak mau meresponku.” Anthony kembali tersenyum, “Aku sudah biasa dengan sikap diammu ini Bella. Sudah sebulan kau begini terus da aku tidak masalah dengan itu.” ada senyum lagi diwajah Anthony ketika dia bicara.
__ADS_1
“Dante!”
“Nah, aku hanya bingung saja padamu. Kenapa kau masih saja menyebut nama pria itu, Bella? Kau tidak kurang dari seratus kali menyebut namanya setiap hari Bella. Apa kau tidak bosan he?”
Anthony menghela napas sejenak setelah menyelesaikan kalimatnya dan menaruh nampan berisi makanan didekat Bella.
“Dante!”
“Lihatlah kau kembali memanggil namanya. Dia sudah melukai tubuhmu, lihatlah!” Anthony bicara lagi sambil menunjukkan luka yang ada ditangan Bella tapi dia tidak menyentuhnya karena tidak ingin Bella menjadi takut dan histeris. Anthony hanya menunjukkan saja dan tetap menjaga jarak tak ingin membuat Bella kaget seperti sebelumnya.
“Dante!”
“Kau sudah memanggil nama itu berkali-kali Bella! Tapi pemilik nama itu sepertinya tidak mau muncul Bella. Tidakkah kau berniat untuk mencoba memanggil namaku, Bella?” Anthony menghela napas, dia rasanya sudah bosan setiap hari Bella memanggil nama Dante ratusan kali.
“Dante!”
“Hahahahah!” Anthony tertawa menggelengkan kepalanya, “Baiklah kau tidak mau memanggil namaku, bukan? Tidak apa-apa, kau sabar ya aku tidak tahu kapan dia akan muncul dan mau merespon tapi ada dua alasan kenapa dia tidak merespon. Pertama, karena dia memang tidak ingin menyerah dan yang kedua karena kau memang tidak penting baginya. Sebanyak apapun yang sudah ku lakukan untuk membuktikan bahwa kau ada bersamaku seperti merekam videomu tapi dia tetap tidak peduli dan tidak akan datang kesini, Bella!”
“Dante…..”
“Hei! Kau sudah mendengar semua penjelasanku kan? Dante mungkin tidak punya waktu untuk datang kesini dan kau harus bersabar ya. Hemmmm….bagaimana jika sambil menunggu Dante datang, kau makan dulu. Lihatlah tubuhmu kurus sekali Bella! Cobalah makan beberapa suap, kau butuh tenaga untuk menunggu Dante.” bujuk Anthony sambil mencoba mengajak Bella bicara dua arah.
“Dante!” panggilan itu lirih tapi terus saja dipanggil Bella setiap kali Anthony berhenti bicara.
“Aku tahu Bella! Kau sudah memanggil namanya berkali-kali selama sebulan terakhir. Berhentilah sejenak dan makan dulu ya. Nanti aku akan usahakan memikirkan cara untuk menarik perhatian pria itu. Dante yang selalu kau sebut-sebut namanya itu.”
Anthony bicara sambil menatap Bella, “Aku akan pindahkan nampannya kebawah ya supaya tidak tumpah seperti kemarin.” uucap Anthony sambil menaruh nampan berisi makanan dilantai. Anthony mengambil mangkok saja dan membawanya mendekat pada Bella, “Makanlah dulu Bella! Satu suap saja, pelan-pelan!”
Bella menatap Anthony dengan tatapan mengamati pria itu dan belum membuka mulutnya. Pandangannya sejak tadi tidak berpaling dari Anthony dan bibirnya terus saja memanggil nama yang sama berulang-ulang seperti biasanya.
__ADS_1
Tatapan matanya pada Anthony tapi pikirannya entah kemana karena dia seperti mengeryitkan dahinya.