
“Kakak ipar! Ayolah…..” Sarah mencoba merajuk.
“Bella yang memintamu melakukan itu?” tanya Dante lagi tak yakin.
Sarah tak punya pilihan lain kecuali menganggukkan kepalanya dan menatap Dante serius. Pria itu benar-benar kehilangan kesabaran dengan Sarah tapi haruskah dia marah?
Sedangkan sekarang Dante sudah melihat jam tangannya, waktu transaksi akan berlangsung sekitar lima belas menit lagi. Dan dia tidak punya banyak waktu melayani wanita itu dan bersitegang dengannya hingga akhirnya dengan berat hati dia pun berkata, “Masuklah! Duduk dikursi belakang.”
“Dante, kau tidak marah padaku bukan?”
“Kalau kau memperlambat langkahku, maka aku akan memarahimu dan meninggalkanmu disini. Aku tidak peduli jika ada orang yang mengambilmu.” ujar Dante dengan marah.
Sarah menatap Dante, apakah itu ancaman? Bukan! Itu serius! Dante sepertinya marah sekali pada Sarah dan dia menyesal tidak mengecek semua perlengkapan lebih dulu!
“Terima kasih ya.” ucap Sarah mengelus-elus kakinya sambil masuk kedalam mobil.
“Syukurlah kau tidak mati beku diatas sana.” kata-kata Dante saat dia menyuruh Sarah masuk kedalam mobil. Dia pun masuk kedalam mobil lalu menutup pintu.
“Iya dingin sekali disana. Aku merasa saat pesawat sudah mengudara! Tapi untungnya didalam sana lebih hangat. Apa karena banyak barang ya?”
“Karena perjalanan kita kurang dari tiga puluh menit. Kalau aku terbang lebih lama lagi, kau pasti sudah beku dan mati disana!” ujar Dante tanpa melirik kebelakang. Dia membuang wajahnya menatap keluar jendela.
“Jangan sekali-kali kau naik ke bagasi pesawat seperti itu lagi! Kau paham? Masih untung aku menyimpan barang-barangku masih ada pengatur udaranya.”
“Kalau seperti pesawat komersil pada umumnya tidak memiliki itu. Kau sudah mati hanya dalam beberapa menit diatas sana! Aku tidak mau melihat kegilaanmu seperti ini lagi dimasa depan.”
“Iya, aku minta maaf.” ucap Sarah sedikit meringis.
Noel yang tidak tahu apa-apa hanya diam saja mendengarkan percakapan kedua orang itu.
Noel juga tidak tahu apa rencana selanjutnya karena Dante belum mengatakan apa-apa padanya. Tapi dia hanya menurut dan percaya pada Dante.
“Dante, apa aku tidak akan bertemu dengan Barack?” tanya Sarah pada Dante saat dia melihat pria itu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
“Sebaiknya apapun pertanyaanmu kalau tidak menyangkut hidup dan mati sebaiknya kau simpan saja dulu sampai aku menyelesaikan misiku. Apa kau paham itu? Jangan membuat masalah disini.”
Sarah tidak bicara apapun lagi tapi dia hanya mengerucutkan bibirnya saja ketika dia melihat Dante sudah melakukan panggilan telepon.
__ADS_1
“Iya Dante. Apa kau akan datang?” tanya Eddie saat menerima telepon Dante.
“Aku datang. Sekitar lima menit lagi aku akan tiba ditempat itu. Tapi aku tidak akan menemuimu! Lakukan transaksi seperti biasanya.” ujar Dante.
“Baiklah. Tapi kau sudah menyiapkan backup plan bukan?” tanya Eddie lagi.
“Ya sudah kupikirkan. Kau tenang saja!”
“Apa kau bawa pasukan bersamamu?”
“Tidak! Aku hanya datang berdua bersama Noel.”
“Aku melihat ada pasukan disekitar kita. Berarti mereka itu bukan orang kita iyakan?”
“Hmmmmm! Berhati-hatilah dengan mereka! Yang sekarang mengepung kita adalah pasukan Jeff dan juga pasukan federal.”
“Oke, aku paham! Kau sudah punya rencana lain?”
“Iya.” jawab Dante singkat sambil menganggukkan kepalanya.
“Baiklah. Semoga semuanya berjalan dengan baik dan tidak ada masalah.” ucap Eddie.
“Sudah, Dante! Orang yang akan bertransaksi dengan kita, mereka sudah datang dan aku sudah melihat mereka.”
“Ingat, Ed! Berhati-hatilah! Dan tetap waspada dengan lingkungan sekitarmu!”
“Iya! Hanya ada satu kemungkinan, aku mati! Kalau mereka menembak kepalaku…hahahha.” ujar Eddie tertawan. Dia sengaja membuat lelucon untuk mencarikan suasana tapi Dante sedang serius.
“Aku tutup dulu teleponnya! Hubungi aku jika kau butuh bantuan.” ucap Dante.
“Hei! Apa kau yang kau rencanakan hingga kau menyuruh Nick masuk kedalam tempat sakralmu itu? Apa kau tidak berniat mengatakan apapun padaku?”
“Bukan waktunya untuk membicarakan hal itu sekarang! Lakukan saja apa yang harus kau lakukan sekarang. Aku akan bersiap-siap, aku sudah melihatmu!” ujar Dante lalu mematikan teleponnya.
Sekarang Dante memang sudah bisa melihat sahabatnya. Mereka selalu melakukan transaksi di pinggir pelabuhan, tempat yang sepi dan tidak terlalu banyak orang yang memperhatikan. Untuk membawa barang dalam jumlah banyak juga tidak terlalu menarik perhatian. Karena disana banyak sekali peti kemas yang bisa digunakan untuk menyamarkan.
Posisi Dante saat ini ada diatas tebing di pinggiran yang masih bisa melihat kearah tempat transaksi. Jarak mereka masih cukup jauh sekitar satu kilometer tapi Dante masih bisa melihat dengan jelas lokasi transaksi itu dengan binocularnya.
__ADS_1
“Dante, apa tidak terlalu jauh posisi kita sekarang ini?” tanya Noel yang merasa khawatir.
“Terlalu jauh?” Dante tersenyum kecil melirik Noel sejenak.
“Ini adalah posisi teraman! Lihatlah disana ada rumah-rumah pekayan, kita berada diatas bukit! Sehingga kita bisa melihat jelas kondisi disana. Kalau kita berjalan lebih dekat, maka kita tidak bisa memperhatikan sekitar kita! Karena di bawah sana datar justru kita akan terperangkap disana dengan adanya kemungkinan penyerangan dari tempat ini.”
“Tapi di tempat seperti ini bukankah biasanya seorang penembak jitu berada?” tanya Noel lagi.
“Itulah kenapa aku memilih tempat ini.” jawab Dante mengangguk dan melirik Noel.
“Apa kita akan bertugas sebagai penembak jitu disini?”
“Iya, jika dibutuhkan. Makanya kau harus tetap waspada dengan sekitarmu.”
“Tapi, apakah mereka tidak memperhatikan tempat ini?”
“Sudah kukatakan padamu ini adalah tempat paling aman! Mereka tidak curiga disini apalagi kita berada di parkiran mobil.” ujar Dante lagi sambil mengamati daerah lokasi.
“Mereka akan mulai transaksinya.” kata Dante serius. Pandangan matanya kini sudah tidak teralihkan lagi dari tempat itu.
Dante menatap binocularnya, “Tunggu….tunggu! Apa yang ingin kalian lakukan?”
“Sudah kukatakan padamu jangan bicara!” ujar Dante mendengus kesal karena Sarah menganggu.
Sarah hanya bisa mengatupkan bibirnya dan tak lagi mengulang ucapannya, walaupun dia merasa jenuh tapi sekarang yang bisa dilakukannya hanya melihat ke sekitar.
Sarah melihat kalau situasi disana terlalu menegangkan, lagipula tempat yang ingin dilihat Dante terlalu jauh darinya yang tidak menggunakan binocular sulit untuk bisa melihat tempat itu.
‘Sebelah kanan mobil sudah pergi! Sekarang disamping sini kosong. Hanya ada satu mobil disisiku dan disebelah sana aku bisa melihat lautan!’
‘Hanya ada kegelapan saja tidak ada yang kelihatan.’ Sarah bicara sendiri hingga seseorang membuka pintu mobil dan terlihat oleh Sarah.
“Barack!” ucapan Sarah memecah konsentrasi membuat Dante menatap kearahnya.
“Jangan keluar!” secepat kilat Dante berusaha memegang tangan Sarah yang ingin membuka pintu.
“Itu Barack!”
__ADS_1
“Iya, tapi lihat orang yang disebelahnya! Jangan keluar kataku!”