
Dia mengecup lembut bibir Tatiana tapi hati dan benaknya ada ditempat lain. ‘Aku merasa sangat bersalah padamu Tatiana! Untung saja kau tidak tahu apa yang terjadi tadi malam. Itu semua diluar kontrolku, keinginanku bersama Bella tidak bisa kutunda lagi tadi malam aku benar-benar ingin dia disisiku bahkan aku berharap setiap malam dia berada dipelukanku. Aku tidak tahu kenapa tapi rasanya begitu nikmat jika bisa menghabiskan malam dengannya.’
‘Aku merasa aku memiliki gairah hidup saat bersama Bella dan pagi ini gairah hidupku membuatku bersemangat menjalani kehidupanku. Dia sangat jauh berbeda denganmu Tatiana! Tapi aku aku berbohong padamu untuk melindunginya. Aku mencintaimu Tatiana tapi aku merasa perasaan cinta dan sayangku pada Bella jauh lebih besar dari rasaku padamu. Dia memiliki sesuatu yang tidak kau miliki, sikap polosnya, manja, semua tentang Bella membuatku berbeda. Dia ibu kandung anakku, ada ikatan kuat diantara kami yang tidak kita miliki Tatiana.’ ucap Dante didalam hatinya.
Meskipun fisiknya saat ini bersama Tatiana, menikmati waktu mereka berdua dikamar tanpa ada yang mengganggu dengan aktivitas favorit suami istri tapi sebenarnya dibenak Dante, dia sedang melakukan itu bersama Bella. Dia memejamkan matanya mengingat kembali aktivitasnya bersama Bella tadi malam dan tadi pagi. Wanita didepannya itu bukan lagi Tatiana tapi digantikan oleh bayangan Bella.
“Ehmmm…...Dante sakit sekali!”
“Apa aku mendorongnya terlalu kencang?” tanya Dante yang tak tahu bahwa bagian inti istrinya memang terluka akibat percintaannya bersama Lorenzo yang menggunakan alat siksa tadi.
“Tidak! Hanya sakit saja. Tapi ini enak Dante sama seperti yang pernah kau lakukan saat kita di Indonesia. Kau membuat dorongan yang sangat kuat sampai tubuhku rasanya remuk, Dante!” ujar Tatiana yang benar-benar tidak bertenaga saat itu, bahkan tubuhnya penuh peluh dengan napas terengah-engah mereka menghabiskan satu jam bersama.
“Maaf karena aku tidak memberikanmu ini beberapa hari ini.” ucap Dante.
Tatiana menggelengkan kepala dan tersenyum, “Aku tahu kau sibuk dan tadi malam kau pasti bermain dengan teman-temanmu bukan? Sudahlah tidak perlu dibahas lagi, aku sangat lelah hari ini. Istirahatlah dulu Dante.”
“Ya sudah. Kau juga istirahat sayang! Biar aku mengurus Alex dulu. Aku akan buatkan makanan untuk Alex dulu. Sebentar lagi dia selesai les piano, bukan?”
Tatiana menganggukkan kepala dengan senyum diwajahnya.
“Dante!”
“Apa?” tanya Dante lagi dengan suara yang lembut sambil membelai lembut rambut Tatiana.
“Sebesar apa cintamu padaku Dante?” pertanyaan Tatiana yang membuat wajah Dante tersenyum lembut pada Tatiana sebelum menjawabnya.
“Aku bisa menyerahkan hidupku untukmu menukarnya dengan nyawamu! Aku rela mati asalkan kau bisa hidup dan bahagia, aku tidak masalah sama sekali, sayang.”
“Terimakasih sudah mengungkapkan perasaanmu padaku, Dante.”
“Kau yang terbaik, Tatiana!” Dante mengecup dahi istrinya dan tersenyum.
“Oh iya, aku ingin minta ijin padamu Dante!”
__ADS_1
“Kau mau kemana?” tanya Dante,
“Aku ingin menghadiri pertemuan asosiasi kanker, kau tahu penyakitku dulu kan kanker rahim.”
“Iya.” Dante menganggukkan kepalanya. “Kau ingin berpartisipasi dalam program amal itu lagi?”
Tatiana menganggukkan kepalanya. “Iya Dante! Aku merasakan sakitnya punya penyakit itu dulu dan aku ingin berbagi dengan mereka. Jika kau ijinkan, aku ingin pergi selama dua hari satu malam karena ada gala dinner.” Tatiana bicara sambil menatap Dante dengan penuh harap seolah memohon agar suaminya memberi izin padanya.
“Lakukanlah! Kapan kau akan berangkat sayang?”
“Besok! Kau mengizinkanku Dante?”
“Pergilah! Aku akan menyiapkan semuanya untukmu.” jawab Dante.
“Tidak perlu Dante, sayang! Aku ingin kali ini menyumbang dengan uangku sendiri.” Tatiana berkilah.
“Apa aku tidak boleh ikut menyumbang?” tanya Dante sambil mengeryitkan dahinya.
“Tidak perlu! Aku punya cukup uang untuk itu. Tambang emas dan berlian milik keluargaku menghasilkan cukup banyak uang Dante! Mungkin saatnya sekarang aku mengeluarkan sebagian uang dari sana.” ujar Tatiana tersenyum.
“Terimakasih Dante! Kau sudah terlalu banyak menolong dan selama ini kau juga yang membiayai keehidupanku. Aku tidak kekurangan apapun.”
“Karena kau istriku dan sudah jadi tanggung jawabku membiayai hidupmu.” jawab Dante mencubit hidung mancung Tatiana.
“Padahal orangtuaku juga menyisakan banyak sekali kekayaan untukku! Tapi kau tidak mau menggunakannya sama sekali Dante! Itu bisa membantumu juga untuk mengembangkan usahamu.”
“Itu milikmu.” Dante menggelengkan kepalanya. “Itu adalah uang keluargamu dan aku tidak akan mengganggunya.” ucap Dante lalu melihat jam tangannya.
“Aku harus segera menyiapkan makanan untuk Alex dulu! Kau beristirahatlah, aku tidak mau kau kelelahan dan besok disana kau capek. Aku tidak mau saat kau pulang nanti malah sakit.”
“Maafkan aku Dante.”
“Aku sangat khawatir sekali padamu Tatiana. Setiap kali kau pulang acara asosiasimu, kau selalu kelelahan dan seperti menahan kesakitan. Aku tidak ingin penyakitmu kambuh lagi.”
__ADS_1
[Ya iyalah Dante, kau kan tidak tahu apa yang dilakukan istrimu diluar sana bersenang-senang bersama banyak laki-laki yang menyiksanya sampai berdarah-darah. Dia selalu berbohong dengan mengatakan mengikuti asosiasi kanker, padahal dia membayar orang untuk menyiksanya makanya pulang kerumah dia lelah dan kesakitan]
“Jangan khawatirkan aku, aku akan menjaga diriku dengan baik.” jawab Tatiana.
“Ya sudah. Beristirahatlah. Aku mau mengurus Alex dulu.”
“Terimakasih Dante.”
Dante membenarkan selimut Tatiana dan dia turun untuk mengganti pakaiannya menuju kamar mandi.
‘Baguslah kau mengijinkanku untuk pergi! Aha…..aku sudah tidak sabar untuk bersenang-senang dengan sepuluh laki-laki!’ senyum merekah dibibir Tatiana, dia lalu mengambil ponselnya diatas nakas.
Lorenzo : Halo Nyonya Rebecca, ada yang bisa aku bantu?
[Saat ini Lorenzo sedang mengajar Alex sehingga dia menggunakan nama Rebecca sebagai pengalih dari Bella yang mengawasi Alex.]
“Besok aku bisa pergi ketempatmu! Kau tahu kan apa yang harus kau siapkan? Jangan lupa aku butuh sepuluh laki-laki! Alat penyiksaan yang paling enak!”
“Baiklah. Aku sudah tahu.”
“Jangan lupakan kewajibanmu sekarang. Pelayan akan menuju kesana, aku sangat lelah tak bisa berpura-pura. Ingat ya besok!”
“Siapa ? Pacarmu yang menelepon ya?” tanya Bella pada Lorenzo saat pria itu sudah menutup teleponnya, dengan tatapan yang menggoda dan menyipitkan matanya sedikit.
“Bukan Nona Alexia Devania!”
“Hihihi...kenapa kau memanggilku seperti itu? Enak didengar.” agak malu-malu Bella bicara. ‘Ehm, sejak tadi sikapnya padaku manis sekali.’ gumam hati Bella.
“Karena kau juga senang aku memanggilmu dengan nama itu, bukan Alexia Devanio?”
“Tapi namanya Bella bukan Alexia!” protes Alex yang ada disamping Bella.
“Alex sayang, aku tahu. Aku hanya menggodanya sedikit boleh kan? Supaya dia bisa cepat belajar sama sepertimu! Aku harus memanggilnya dengan nama yang disukainya.” Lorenzo mengedipkan satu matanya pada Alex.
__ADS_1
‘Aduh! Dia mendekat ke Alex dan sekarang posisinya ada dibelakangku antara aku dan Alex. Apa yang dia lakukan? Dia merangkulku dan satu tangan lagi merangkul Alex. Aaahhh! Sudah lama sekali tidak ada pria yang merangkul mesra begini.’ gumam Bella.