
“Aku tidak akan tergoda dengan semua tipu muslihatmu itu!” ucap Dante yang kemudian berjalan kembali menuju ruang kerja Hans. Tak ada sedikitpun keinginan Dante untuk menyelamatkan Bella karena dia pikir semua yang ada didalam video itu hanyalah rekayasa saja yang dibuat oleh pihak federal untuk menjebaknya.
“Aku tidak ada waktu memikirkan wanita! Sekarang aku masih harus fokus pada Barack!” ujar Dante ketika dia membuka pintu ruang kerja Hans.
Dreeettttt dreeeetttttt dreeeettttt
Ponselnya kembali bergetar membuat Dante mengurungkan niatnya untuk membuka pintu lalu mengambil ponselnya. Dia melihat siapa penelepon sebelum mengangkatnya.
“Aku sudah melihat videonya, Nick!”
“Bagaimana Dante? Apa kau ingin kami menyelamatkan wanita itu?”
“Biarkan saja!” jawab Dante acuh.
“Dante! Dia benar-benar memanggil namamu! Aku melihat sepertinya dia benar-benar menginginkanmu dan ada sesuatu yang aneh padanya. Sepertinya dia sakit!” ujar Nick.
‘Sakit? Huh! Mana mungkin dia sakit! Jangan-jangan setelah mendapatkan enak-enak dari Anthony dia sengaja mengikuti perintah pria itu,’ bisiknya didalam hati.
‘Cih! Pasti mereka ingin menjebakku! Tidak akan semudah itu. Aku tidak akan menyerah pada pihak federa; walaupun kau mati ditangan pihakfederal!’ gumam Dante sebelum menjawab pertanyaan Nick.
“Jangan terpengaruh dan terkecoh dengan semua tipuan itu. Biarkan saja mereka melakukan permainan itu! Kita tetap fokus pada bisnis kita, jangan sampai ada kesalahan dari semua transaksi yang kita lakukan. Pastikan kau fokus pada pekerjaanmu, Nick! Jangan sampai kau membahayakan anak buah kita! Mereka harus selamat dan pulang ke keluarga mereka dengan aman.” ujar Dante.
“Aku mengerti Dante, Tapi apa kau tidak ingin menyelamatkan Bella? Kau serius mengatakan ini? Bukankah kau yang memintaku untuk membawanya kembali hidup-hidup? Dia adalah ibu dari anakmu, kau sendiri yang meminta padaku untuk menyelamatkanya, kau lupa itu Dante? Sekarang kita sudah menemukan keberadaannya dimana, kau tidak ingin menyelamatkannya?”
Nick jadi bingung dengan sikap Dante sehingga dia mengulangi pertanyaannya dan mengingatkan Dante pada perintah awal yang dia berikan pada Nick untuk membawa Bella kembali.
“Dia memang ibu dari anakku! Tapi aku tidak tahu apa yang sudah dilakukannya bersama dengan Anthony!” jawab Dante.
“Apa kau cemburu Dante?”
“Jaga mulutmu! Kalau tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan denganku aku tutup teleponnya!”
“Baiklah! Aku hanya ingin memastikan sekali lagi agar tidak ada kesalahan dan penyesalan nantinya, jadi kau tidak ingin aku mencari Bella, begitu kan?” tanya Nick memastikan untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
“Sudah kujelaskan padamu jangan terkecoh! Fokus saja pada pekerjaan kita dan bisnis kita!”
“Baiklah kalau memang itu mau mu.” ujar Nick.
“Dante! Apa kau masih menelepon?” Hans baru saja membuka pintu langsung menegur Dante yang langsung menoleh pada temannya itu.
“Aku masih bicara dengan Nick. Kau tunggulah didalam sebentar.”
“Tapi ini penting! Kau harus tahu tentang berita ini.” Hans menegaskan kembali.
“Dante! Sepertinya kalian sedang rapat ya? Aku jadi ingin ikutan juga, bisakah video call?”
“Kau fokus saja pada pekerjaan disana! Biar yang disini kamu yang urus.” jawab dante.
“Ya sudahlah kalau begitu. Aku tidak akan melakukan apapun untuk mencari Bella, aku akan pergi dari Roszke sekarang! Tujuan kita selanjutnya adalah transaksi di Jerman bukan?”
Dante tidak memperpanjang lagi pembicaraan dan langsung memutuskan panggilan teelpon dan memandang Hans. “Apa yang ingin kau katakan padaku?”
“Sudah tidak berpendar lagi, Dante.” jawab Hans lirih.
“Sinyal itu sudah tidak berkedip lagi, sudah hilang Dante! Tidak ada lagi sinyal yang diberikan oleh Barack.” ujar Hans.
“Apa kau bilang?” Dante bicara tanpa menunggu jawaban Hans, dia langsung berlari kedalam dan menuju laptopnya. Chip yang ada di jam tangan Dante masih terhubung ke laptop sehingga Hans dan Eddie tahu apa yang terjadi pada pendar merah milik Barack.
“Dimana titik kordinat dia menghilang?” intonasi suara Dante meninggi saat bertanya.
“Masih dilautan Dante!”
“Apa kau bilang? Masih di lautan?” Dante mengerutkan dahinya ketika bicara dan tanpa menunggu lebih lama lagi dia langsung mengecek sendiri keabsahan informasi yang didapatnya.
“Iya!” Hans menganggukkan kepalanya.
“Kau bisa lihat sendiri Dante!” Eddie menunjukkan tempat terakhir mereka melihat titik merah milik Barack. “Apa mereka membunuh Barack?” tanya Eddie tapi tak mendapat respon dari Dante.
__ADS_1
Dia menatap Dante tapi pria itu sama sekali tidak melihat padanya, pandangan mata Dante fokus di layar laptop didepannya.
“Atau mungkin seseorang melepas chip itu?”
Dante kembali tak merespon pertanyaan itu, dia masih memandang ke arah monitor dan teman-temannya masih menunggu jawaban dari Dante.
“Apa mungkin pesawatnya jatuh?” giliran Hans yang berpikir jauh entah kemana.
“Bagaimana menurutmu Dante?” Hans semakin tak sabaran karena orang yang ditanya masih belum menjawab juga.
“Segala kemungkinan bisa saja terjadi.” hanya itu yang diucapkan oleh Dante menanggapi pertanyaan teman-temannya tadi dan matanya masih tak teralihkan dari layar laptop.
‘Mati? Tidak mungkin, aku masih percaya kalau Barack tidak semudah itu dikalahkan. Tapi kenapa sekarang dia tidak memberikan sinyal lagi? Apa yang sebenarnya terjadi padamu Barack? Apa yang harus aku lakukan sekarang?’ Dante masih belum bisa memutuskan apapun saat ini. Dia berpikir sesuatu yang berbeda dengan teman-temannya.
“Dante kau mau kemana?” tanya Hans saat dia melihat pria itu justru berdiri setelah mengambil chip dari laptop dan memindahkannya kembali ke jam tangannya.
“Aku akan menjawab pertanyaan kalian nanti! Untuk masalah hilangnya sinyal dari Barack, aku tidak ingin kalian membicarakannya dengan siapapun sebelum aku kembali dan memberikan informasi yang lebih akurat pada kalian!” ujar Dante sebelum dia menutup pintu ruang kerja itu dan meninggalkan kedua temannya yang masih gamang tidak mendapat penjelasan apapun.
‘Aku yakin kalau kau masih hidup Barack meskipun sekarang sinyal itu sudah tidak ada. Aku tidak tahu apa alasanmu mematikan sinyal itu tapi aku yakin kau masih hidup!’ Dante mengingatkan dirinya sendiri sambil melangkah menuju kamar yang dijaga ketat didepannya.
“Silahkan Tuan!” penjaga didepan kamar memeprsilahkan Dante untuk masuk setelah membuka pintu.
Dia memasuki kamar tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya, dengan wajahnya yang dingin matanya bertautan dengan seorang wanita yang sedang menghapus airmatanya.
“Kenapa kau datang tiba-tiba?’ tanya wanita itu dengan suara parau.
“Kau menangisi Barack?” tanya Dante melipat kedua tangannya didepan dada.
“Iya! Apa kau sudah mendapatkan kabar terbaru dari Barack?” tanya Sarah penuh harap.
“Sarah! Sejak kapan kau menyukai Barack?” tanpa mempedulikan pertanyaan Sarah, dia malah balik bertanya pada wanita itu.
“Ehm….itu…..” Sarah tidak bisa menjawab pertanyaan Dante, dia justru mengulum senyuma.
__ADS_1
“Anakku sudah tidur dari tadi?” tanya Dante karena Sarah tidak menjawab.