
“Eughhh…..hati-hati dengan itu! Kalau kau menebasnya maka aku tidak akan bisa punya keturunan lagi nantinya.” protes Anthony.
“Cih! Apa itu yang terpenting bagimu?” tanya Dante yang dijawab Anthony dengan anggukan kepalanya tapi ada senyum diwajahnya.
“Ya, itu memang yang terpenting bagiku. Tapi baiklah kita kembali ke pembahasan kita saja. Bagaimana kau menyakinkan aku bahwa Bella akan aman denganmu?”
Dante mundur beberapa langkah dan menyimpan belati kecilnya ke tempatnya. “Tidak bisakah kau berpikir sendiri apa yang akan membuat Bella aman disisiku?” tanya Dante.
“Hmmm….aku tidak bisa berpikir tentang itu karena kau sudah menyiksa Bella!” Anthony kini berjalan mendekati Dante dan mulai bicara. “tapi kalau aku tidak pernah melihatnya lagi dan kau tahu suatu saat nanti kalau dia mati karenamu jangan pernah berharap aku akan mengampunimu Dante.”
“Aku akan pastikan itu menjadi hari-hari paling sulit untukmu! Kau tidak akan pernah bisa lari dariku!”
“Cukup bagus juga ancamanmu itu. Kau punya nyali juga untuk melakukan itu padaku?”
“Memang! Kau pikir aku takut padamu Dante?” Anthony tak gentar tapi dia sudah memasukkan kembali senjatanya.
“Hahahaha aku tidak melihat ketakutan diwajahmu Anthony.” Dante bicara jujur tanpa mengomentari apa yang dilakukan Anthony.
“Memang! Karena aku tidak pernah takut padamu dan aku memang tidak menyukaimu. Kau itu sangat buruk, Dante! Tapi jujur aku percaya pada janjimu kalau kau sudah berjanji maka kau akan menepatinya. Itulah kelebihanmu Dante.” ucap Anthony mengutarakan kekagumannya pada Dante.
“Kalau begitu menyingkirlah! Aku ingin mengambil Bella.” ucap Dante tak sabar.
“Berikan aku alasannya Dante!”
“Cih! Apa anakku yang ada didalam kandungannya tidak cukup untuk menyakinkanmu kalau aku tidak akan menyiksanya?” Dante merasa kesal dan tidak suka jika dia ditekan. Tapi saat ini dia sudah tidak mau membuang waktu lagi berbasa basi dengan Anthony, dia ingin bertemu Bella.
“Fuuuh! Baiklah kalau memang itu alasanmu. Itu adalah sesuatu yang masuk akal. Oke aku terima itu tapi tolong bersikap baiklah padanya. Bella sedang mengandung jadi berhati-hatilah, dia sangat sensitif.” pesan Anthony pada Dante.
‘Memangnya dia pikir aku adalah ahrimau kelaparan sehingga aku menerkam Bella?’ bisik didalam hati Dante.
“Kau tidak perlu mengajariku!” Dante memegang kerah baju Anthony, “Wanita dijokbelakangku, dia memakai topeng mirip Bella. Aku ingin kau membawa gadis itu.” Dante bicara langsung pada intinya.
“Kenapa aku harus memabwanya? Kau sudah membawa Bella lalu untuk apa aku membawanya lagi? Apalagi Bella palsu?” tanya Anthony sambil melirik sedikit ke mobil Dante.
__ADS_1
“Kau lupa? Atasanmu menggunakan video rekaman Bella sedang memanggil namaku berusaha untuk menarik perhatianku sebulan yang lalu?”
“Hmmm….video itu. Jadi kau pikir aku membutuhkan pengganti Bella untuk menghindari amarah dari atasanku bukan karena aku mengembalikannya padamu?” protes Anthony yang kembali sadar apa maksud Dante setlah dia berpikir beberapa saat.
“Bukan!” Dante menggelengkan kepalanya. “Aku tidak peduli dengan atasanmu yang juga ayahmu itu! Aku tidak peduli apa yang ingin dikatakannya saat kau mengembalikan Bella padaku.”
“Lalu apa yang kau ingingak?”
“Bukankah kau menginginkan Jeff Amadeo?” Dante mengingatkan Anthony pada rencana mereka.
“Memang itu targetku.” Anthony menganggukkan kepalanya.
“Lalu berikanlah wanita itu pada atasanmu. Aku akan memberitahumu kapan akan ada transaski terkahir penjualan senjataku dan suruhlah atasanmu untuk membawanya. Pancing Jeff keluar dengan memakai wanita itu, dia pasti akan emncarimu untuk mendapatkan wanita itu,dia menginginkan Bella.”
“Jadi maksudmu Jeff juga mengincar Bella?” pertanyaan Anthony yang tidak mendapatkan jawaban apapun dari Dante yang membuatnya kesal.
“Shhh! Aku bertanya padamu, kenapa kau tidak menjawab?” agak kesal Anthony melihat Dante yang tidak meresponnya, Dante hanya menatap Anthony dengan serius. “Baiklah, tidak perlu kau jawab anggap saja wajahmu yang membosankan itu menunjukkan bahwa kau mengatakan iya.”
“Tidak! Aku tidak menguji kesabaranmu. Aku mengatakan yang sebenarnya padamu. Kalau diam itu artinya iya?” balas Anthony sudah mulai serius.
“Jangan bahas itu lagi. Bawalah wanita didalam mobilku itu dan kau menyingkirlah. Aku akan mengambil Bella.” ucap Dante.
“Tunggu! Jangan sentuh mobilku, aku tidak mau ada sidik jarimu di mobilku.” lalu Anthony tersenyum sambil membuka pintu mobil. “Kau ambillah Bella!”
Tampak Bella dengan wajah yang pucat dan sedang menatap Dante, tatapan mata Bella itu membuat hati Dante tidak karuan. Dia merasa kehangatan saat bertatapan mata dengan wanita itu, hatinya bergetar karena bibirnya kelu dan kepalanya terasa pening karena khawatir.
“Apa yang kau lakukan disana? Berdirilah.” ucap Dante saat melihat Bella tidak bergeming.
“Dante.” suara lirih itu memanggil nama Dante membuat Anthony jadi meliriknya.
“Hey! Kenapa kau tidak keluar? Bukankah kau mencari Dante dan kau ingin dia menjemputmu? Lihatlah dia sudah datang menjemputmu. Apa yang kau lakukan domobilku? Kenapa kau tidak turun?”
Bella masih belum juga turun dari mobil, dia hanya memandang Dante sambil berbisik memanggil nama pria itu sedangkan Dante merasa mabuk hanya menatap Bella saja membuat otaknya mendadak tidak bisa berpikir dan bibirnya tak mampu bicara.
__ADS_1
“Aku mau turun tapi kakiku tidak bisa bergerak,” ucap Bella pelan.
“Apa? Kau gugup ya Bella? Sini biar kubantu kau berdiri.” celetuk Anthony yang sudah maju duluan hingga membuat Dante tidak suka karena dia tidak ingin Anthony menyentuh tangan Bella membuat darahnya mulai mendidih.
“Aku tidak mau kau menyentuhku Anthony! Aku tidak mau Dante marah padaku.” tampak kecemasan diwajah Bella sambil menggelengkan kepala dengan ekspresi ketakutan.
Dia masih ingat kata-kata yang diucapkan Dante didalam ruang penyiksaan itu masih tergiang dipikirannya, dia menjauhi Anthony dan sikapnya itu menyejukkan hati Dante.
“Dante?”
“Diam! Jangan panggil namaku seperti itu, Belinda!” ucap Dante yang kedua tangannya sudah menggendong Bella dan membawanya keluar dari mobil Anthony. Rasa hangat didalam Bella ketika tangan kekar itu membopong tubuhnya, senyumnya pun merekah.
“Ingat janjimu padaku, jangan sakiti Bella ya Dante.” ucap Anthony saat Dante sudah membalikkan badannya dna berjalan menuju ke mobilnya.
“Segera ambil wanita di jok belakang mobilku itu dan bawa dia kembali kedalam mobilmu.”
“Dante!” Anthony kembali memanggilnya setelah teringat sesuatu.
“Apa lagi maumu?”
“Aku mau baju yang dipakai Bella.” jawab Anthony.
“Apa kau bilang?” Dante langsung membalikkan badannya menatap Anthony dengan kesal dan wajah memerah menahan amarah.
“Hey! Jangan marah dulu padaku. Aku hanya minta baju Bella untuk ditukar dengan baju wanita yang dimobilmu itu.” lalu Anthony berjalan mendekati Bella lalu mengambil sesuatu dari pinggangnya.
“Pegang ini Bella, sebenarnya ini bukan sesuatu yang bisa dipakai untuk meledakkan orang tapi ini sangat aman untuk kau pegang. Ini pisau lipat khusus bisa kau pakai untuk melindungi diri. Jadi kalau ada orang yang mengganggumu kau bisa gunakan ini, bawalah bersamamu kemanapun kau pergi.”
Kemudian Anthony menatap Dante dan berkata, “Cepat! Gantilah pakaiannya.”
“Bukan ide yang bagus! Aku tidak bisa mengganti pakaiannya.” ucap Dante berbisik pada Anthony.
“Apa maksudmu dante? Mereka harus bertukar pakaian karena Bella keluar dari rumahku dengan pakaian itu dan aku tidak mau orang dirumahku curiga.” Anthony bicara dengan sangat serius.
__ADS_1