
“Kenapa kau tidak membiarkan dia muncul sendiri dan kita menunggu saja? Sangat merepotkan!”ujar Nick. “Lagipula gadis itu bersamanya.”
“Tetap cari mereka! Biar memudahkannya jika dia ingin muncul.”
“Kau yakin kalau mereka masih hidup? Aku sudah mengirimkan foto mobilnya padamu, bukan?” celetuk Nick lagi.
“Aku sangat yakin dia masih hidup. Tapi dia punya alasan kenapa dia bersembunyi.” ucap Dante.
“Tanpa menghubungi kita juga?”
“Hem….aku tahu cara berpikir Barack.” Dante mengangguk.
“Apa dia tidak percaya pada kita makanya tidak menghubungi sama sekali?” tanya Nick.
“Kau pergilah, cek semua data yang sudah kukirimkan dan jangan menginetrogasiku seperti aku sedang berada di kantor polisi!”
“Ya sudah. Aku permisi dulu Dante!” tanpa bicara lebih banyak lagi, Nick sadar jika Dante ingin dia segera pergi dari sana. Dia pun bergegas pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah cepat. Keplaya pelayan Henry berjalan mendekati Dante, berpapasan dengan Nick yang pergi.
“Ada apa kau kesini Henry?” Nick mengomentari saat dia turun dari tangga saat berpapasan dengan Henry yang baru saja mau menaiki tangga,
“Saya ingin menyampaikan pesan pada Tuan Dante!” jawab Henry.
“Oh begitu! Naiklah, Dante masih diatas!” Nick turun ketika Henry menaiki lantai.
“Selamat malam Tuan Dante!” sapa Henry.
“Bersihkan tempat ini! Aku mau besok pagi semuanya sudah kembali seperti semula!” tak ingin berbasa basi, dante langsung mengatakan apa yang dia inginkan.
“Baik, Tuan.” jawab Henry menganggukkan kepala.
“Apa yang kau berikan padaku?” tanya Dante.
“Saya sudah mengirimkan beberapa foto ke ponsel Tuan dan ini saya sudah mencabut alat perekamnya dari kama Anthony.” ucap Henry mengulurkan benda perekam kecil pada Dante.
“Bagus! Terus awasi dia.” ucap Dante.
“Saya permisi Tuan.” ucap Henry setelah selesai menyerahkan benda ditangannya pada Dante.
__ADS_1
“Henry!”
“Ya Tuan!” Henry yang hendak membalikkan badan kini kembali menatap Dante.
“Jangan sampai lengah, tetap perhatikan gerak geriknya.” Dante melirik Henry dengan ekor matanya.
“Baik Tuan. Saya mengerti.” ucap Henry lalu pergi meninggalkan tempat itu.
“Kena kau! Aku sudah muak dengan pengintaian mereka. Lebih baik aku gunakan mata-mata mereka untuk menghancurkan mereka sendiri!” ucap Dante dengan seringai tawa diwajahnya.
Pandangannya kini menatap kearah puncak bukti buatan dimana medali dan seorang wanita masih duduk diam disana. “Sekarang aku akan menyelesaikan urusanku denganmu!” Dante bicara lagi lalu dia turun dari menara dengan langkah tenang. Tiba-tiba ponselnya bergetar...dreeettt…..dreeetttttt
“Ada apa Tatiana?”
“Aku mendengar suara ledakan dan tembakan beberapa kali. Memang terdengar samar-samar tapi cukup mengganggu. Apa kau sedang latihan?”
Tatiana memang sering mendengar suara ledakan ketika Dante berlatih atau menguji senjata sehingga keributan yang ada dibelakang tidak terlalu berpengaruh padanya, dia bertanya untuk memastikan saja.
“Ada pelatihan sedikit dibelakang. Semoga tidak mengganggu tidurmu, sayang.”
“Sedang berlatih malam-malam begini?” tanya Tatiana agak heran.
Dante bicara sambil berjalan kearah dimana Bella berada.
“Ah...pantas saja! Ada Nick ternyata! Baiklah kalau begitu, aku tahu kau pasti tidak akan kembali ke kamar malam ini, iyakan?” Tatiana mengetahui kebiasaan Dante jika temannya datang maka pria itu tidak akan kembali menemuinya malam itu dan akan menghabiskan waktu berkumpul dengan temannya, mendiskusikan pekerjaan membuat wanita itu tidak curiga.
“Maafkan aku, sayang! Aku harus menyelesaikan urusanku dulu, tidurlah bersama Alex kalau kau tidak ingin tidur sendirian.” ujar Dante.
“Hmmm aku tadi melihat Alex tertidur pulas dan kau tidak ingin mengganggunya. Aku tidur dulu Dante. Sampai jumpa besok pagi.”
“Semoga kau bermimpi indah, sayang.” ujar dante lalu memutuskan panggilan telepon.
Tepat ketika Dante hanya tinggal beberapa langkah dari perisai kaca yang melindungi Bella, dia memasukkan ponselnya kedalam skau celananya. Dante meletakkan sidik jarinya sehingga perisai kaca itu pun turun sehingga jalur terbuka.
“Kau tahu kalau aku hampir mati disini?” teriak Bella penuh amarah. Tapi Dante tidak menjawab dan hanya menatap wanita yang masih terikat itu.
“Aku bertanya padamu! Kenapa kau tidak menjawabku?” saat ini Dante sudah berdiri dihadapannya dan Bella masih terus mengomel tapi Dante tidak berkeinginan untuk meladeninya.
__ADS_1
“Hei! Kenapa kau tidak menjawabku? Apa kau tidak mendengar apa yang kukatakan padamu?” Bella mendongak menatap Dante.
Bukannya menjawab wanita itu, Dante memencet sebuah tombol merah yang berada disisi atas Bella dan sebuah pintu terbuka dibelakangnya.
“Wah ada pintu dibelakangku?” Bella menoleh kebelakang tepat di samping speaker sebuah pintu terbuka. Lalu Dante mendorong kursi yang diduduki Bella. “Hei kenapa kau mendorong kursi ini? Eh kursi ini ada relnya untuk masuk kedalam sana?” Bella masih berkomentar tapi Dante tetap diam saja.
Dia hanya mendorong dua sandaran tangan dikursi Bella sehingga masuk kesebuah tempat.
“Hiyaaa…..disini gelap sekali!” teriak Bella. “Apa maksudnya ini? Kenapa kau menutup pintunya, tidak ada cahaya didalam sini.” Bella tidak bisa duduk tenang karena dia takut gelap.
Bella juga tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya didalam sana sehingga membuatnya kahwatir dan cemas, tempat itu memiliki begitu banyak kejutan untuknya sehingga membuatnya terpukau meskipun tanpa dia sadari. Tiba-tiba ruangan itu terang benderang setelah Dante memencet tombol menyalakan lampu. “Huh….ternyata ada lampunya?” Bella kembali bicara dan Dante masih saja diam.
“Apa kita akan turun kebawah?” Bella kembali bertanya ketika Dante memencet tombol dan tiba-tiba saja tempat mereka berdiri bergerak ke bawah seperti lift.
“Hei! Kenapa kau mendiamkanku? Kenapa kau tidak menjawabku?” Bella semakin gemas dan semakin mengomel pada Dante. Siapa yang tidak bete kalau sudah berkali-kali ditanya tapi tidak ditanggapi sama sekali, Dante hanya menatap lurus pada Bella seperti tidak berkenan mengucapkan sepatah katapun. Dia sedang membalas Bella dengan cara yang sama seperti wanita itu memperlakukannya tadi.
“Kau mau aku bicara?”
“Dari tadi aku bertanya padamu. Tentu saja aku mau kau bicara!” mata Bella melotot menatap Dante yang hanya bicara sedikit. “Aku tidak suka sikapmu itu.”
“Apa kau lupa dengan perlakuanmu padaku tadi dikamar Alex? Bukankah kau mengacuhkanku dan enggan bicara denganku? Kau sendiri yang tidak mau bicara padaku, sekarang kenapa kau memaksaku bicara padamu?” ujar Dante.
“Ha! Kau ingin membalas dendam padaku ya Tuan Dante?” teriak Bella marah. “Hei mau kau apakan aku?” teriak Bella. Tiba-tiba pria itu menciumnya.
“Bukankah ini yang kau ingin aku lakukan sehingga kau marah padamu.”
“Hppp…..”
Dante mencium bibir Bella dengan liar dan ganas. Satu detik...dua detik….tiga detik…...terus berlanjut seakan dia enggan melepaskan wanita yang terkejut dan meronta dipelukannya.
Dante tidak mengindahkan hingga beberapa menit ciuman panas dan liar, akhirnya Dante melepaskan bibirnya setelah keduanya hampir kehabisan napas. “Hey!” tangannya menjentik kening Bella.
“Haaa….kau membentakku Tuan Dante! Seenaknya kau menciumku!”
“Bodoh!” jarinya menyentil dahi wanita itu.
“Berhenti menyentil kepalaku!” protes Bella. “Kenapa kau menciumku, ha?”
__ADS_1