PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 415. PESAN UNTUK ANAKKU


__ADS_3

Dante tertawa lepas sambil mengecup dahi putranya. Sibuk? Ya! Dirinya memang sedang sibuk sekarang karena harus mengurus masalah persenjataan mereka dan Jeff juga sudah siap untuk menyerang mereka. Lalu kenapa dia bermain dengan Alex sekarang? Karena Dante ingin meninggalkan sesuatu yang bisa dikenang oleh putranya.


“Kau tahu apa yang paling aku takutkan Alex?”


 


Bocah laki-laki itu dengan polosnya menggelengkan kepalanya menunggu jawaban ayahnya.


“Aku tak ingin kehilangan kesempatan untuk bermain lagi denganmu Alex! Mungkin karena kau sudah dewasa atau karena umurku yang sudah tidak cukup lagi untuk menemanimu, itu bisa membuatku tidak bisa lagi bermain denganmu! Karena itu aku ingin menggunakan waktuku sekarang untuk mu Alex!”


 


“Maksudnya apa daddy? Aku tidak mengerti? Bisakah kau bicara bahasa anak-anak saja?”


Dante menggelengkan kepalanya, karena dia juga tahu pasti anaknya tidak akan paham ucapannya. “Tidak ada maksud apa-apa, sayang!” dia tersenyum lalu merapikan rambut anaknya. Tapi kata-kata Dante itu sudah membuat Belinda gelisah karena dia sudah mendapat kesan negatif dari perkataan Dante.


‘Apa maksud kata-kata Dante yang terakhir itu? Tidak ada umur? Apa memangnya yang akan terjadi padanya? Dia sakit keraskah? Tapi kalau aku lihat fisiknya dia tidak sakit! Bahkan tadi malam dia yang membuatku sakit dibawah dan seluruh badan sampai kelelahan. Apa maksudnya dia akan melakukan sesuatu yang berbahaya?’ Belinda mulai menggunakan instingnya dan membayangkan hal-hal mengerikan didalam pikirannya.


 


“Jadi kau mau bermain denganku atau tidak Alex?” Dante kembali mengulang pertanyaan pada anaknya dan Alex dengan cepat menganggukkan kepalanya.


“Aku senang sekali daddy! Aku mau main denganmu, dadd!” ucap Alex bersemangat.


“Bagus! Bagaimana kalau setelah main, aku buatkan dinner? Kita akan makan ditempat khusus! Tempat yang belum pernah kau datangi dan disana ada harta karun untukmu!”


 


Kata-kata Dante benar-benar mengubah insting laki-laki Alex dan dia sudah tersenyum dengan pandangan mata berbinar-binar..


“Daddy! Jadi sekarang aku sudah punya waktu bermain denganmu? Terus kita nanti makan malam bersama dan aku akan bermain denganmu lagi mencari petualangan harta karun ditempat rahasia?” imajinasi liar Alex membuat Dante menganggukkan kepalanya.


 


“Yeeeaaaaayyyyyy!” senang sekali Alex mendengar ucapan Dante sehingga dia tersenyum cerah.


“Tentu saja.” dengan senangnya Dante pun tersenyum melihat anaknya, dia merapikan rambut Alex. “Mau main sekarang denganku? Atau kau mau menyelesaikan urusanmu dulu disini? Kau sedang apa disini tadi bersama Belinda?”


 


Dante bertanya karena dia melihat beberapa tangkai bunga yang masih berserakan dan sepertinya anak dan istrinya itu belum selesai bermain.


“Kata Bella, dia suka bunga jadi aku ajak dia main kesini. Di sinikan banyak bunganya. Lihatlah ini daddy!” tangan Alex menunjuk pada mahkota Belinda. “Aku yang buat mahkota bunga supaya Bella bisa jadi cantik seperti ratu.”

__ADS_1


 


Alex bicara dengan sangat antusias hingga mulut kecilnya itu bicara berantakan.


“Dan aku menjadi rajanya! Raja yang tampan dan ratu cantik.” ucap Dante.


“Daddy!” senyum Alex langsung hilang, dia mencembungkan pipinya mendengar ucapan menggoda ayahnya. Dia tidak suka mendengar itu karena dia ingin hanya dia yang jadi raja dihati Belinda.


“Hahahaha!” Dante justru tertawa melihat sikap anaknya.


“Daddy! Kenapa kau tertawa padaku?”


“Ratumu sekarang belum ada Alex! Tapi suatu saat nanti kau akan menemukan ratumu.” Dante kembali merapikan rambut anaknya. “Ingat kataku, dua puluh tahun lagi kau baru menemukannya.”


 


“Hah! Itu lama sekali daddy!” Alex masih mencembungkan pipinya tak senang.


“Kau belum membuat otot-otot tubuhmu seperti aku Alex!” Dante menunjukkan sisi tubuhnya yang berotot kepada anaknya.


“Iya, aku akan berlatih buat tubuhku seperti daddy!”


 


“Aku pasti bisa! Lebih darimu daddy! Aku pasti lebih tampan dan lebih keren.”


“Bagus!” ucap Dante masih dengan senyum diwajahnya melihat bagaimana anaknya tidak mau kalah.


“Well, Alex kenapa kau tidak mengajak Bella ke rumah kaca itu? Didalam sana bunga-bunganya lebih cantik daripada diluar sini. Ada banyak bunga dari berbagai negara di rumah kaca. Mungkin Bella suka sakura?”


 


“Eh, iya daddy. Aku tadi lupa!” Alex bersemangat dan dia langsung menawarkan pada Belinda.


“Ehm….terima kasih Alex. Kalau nanti aku ingin kesana bersamamu. Tapi kau sekarang sudah punya waktu bermain dengan daddy-mu. Bagaimana kalau kita bermain mainan kesukaanmu saja? Mungkin kau ingin main kereta-keretaan? Atau kau ingin bermain bole? Karena kau tidak bisa main bola denganku, kan?”


 


Penawaran yang diberikan Belinda jauh lebih baik sehingga Alex lupa dengan taman bunga dan dia langsung mengangguk setuju. “Aku mau main kereta saja! Aku mau bikin relnya yang panjang daddy!” ucap Alex mengalihkan pandangannya dari Belinda. Dia menatap Dante. “Kau mau ikut main bersama kami Bella?” tanya Alex.


 


“Ya sudah. Ayo kita main kereta.” Bella langsung menatap Dante dan tersenyum. “Bagaimana Dante? Kau mau kan menemaninya bermain kereta?”

__ADS_1


“Jadi kau tidak mau ke rumah kaca?”


“Tidak Dante.” jawab Belinda menggelengkan kepalanya.


“Baiklah. Kalau begitu kita main kereta.”


Dante berdiri dan menggandeng anaknya dan satu tangan lainnya merangkul Belinda.


‘Apa ada sesuatu yang akan terjadi padanya? Kenapa aku merasa sedikit aneh ya? Bukankah dia sedang sibuk bekerja tapi kenapa dia menyisihkan waktu untuk bermain bersama? Apa yang di inginkannya?’ Belinda tidak menyangka kalau Dante akan melakukan hal seperti ini.


 


Kekhawatiran dihati belinda berusaha dia sembunyikan. ‘Aku tidak pernah membayangkan kalau kami berjalan bertiga seperti ini dan mendengar Dante bicara dengan anaknya. Mengajak anaknya bermain dan dia merangkulku bukan sebagai wanita simpanannya tapi dia menjadikanku sebagai istrinya nanti. Hm….. tapi dia membawa map. Apa isi map itu ya? Dia masih bekerja kah?’


 


‘Ah sudahlah, tak penting apa isi map itu yang penting adalah aku dan Alex bersama Dante sekarang.’ Belinda merasa agak aneh karena tidak biasanya Dante mengajak mereka sambil memegang map. Tadi pria itu menyelipkannya diantara tangan dan tubuhnya dan sekarang memegangnya dibelakang pinggang Belinda sambil merangkulnya.


 


‘Fuuuh! Apakah ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan? Berapa lama mimpi ini akan menjadi nyata? Apakah ini akan bertahan selamanya? Atau hanya aku bisa merasakan ini hanya dalam waktu singkat saja? Dante…..pffffh! Melihat Dante yang bersikap seperti ini kenapa rasanya begitu mengerikan ya? Seolah-olah dia akan pergi jauh dan aku merasa sangat sedih? Lebih menyakitkan daripada tamparannya.’


 


Belinda sejujurnya sangat mencemaskan Dante sehingga tangannya merangkul pinggang Dante sangat erat dan pria itu merasakan tapi dia tidak mengatakan apapun pada Belinda. Dante terus mengajak bicara putranya dengan tersenyum bahagia. Tak lama mereka sampai diruangan tempat bermain.


“Ayo bangun relnya!” ucap Dante membantu anaknya untuk membangun rel keretanya.


 


“Daddy, kau pintar sekali. Siapa yang mengajarimu?” tanya Alex.


“Ayahku! Grandpa mu yang mengajariku. Kami bermain kereta bersama dulu dan kau lihat kereta didalam kotak kaca itu? Yang sudah tua?” Dante menunjuk pada model kereta yang ditutup bingkai kaca seperti di museum.


 


“Itu kereta buatanmu dengan grandpa?


“Iya! Dia membuatkan itu untukku.” Dante mengangguk dan senyumpun mengembang diwajahnya meskipun didalam hatinya sangat berbeda.


 


‘Kami menyelesaikan kereta itu satu hari sebelum kematian ayahku! Dan sejak itu aku tidak pernah bermain kereta lagi! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Kami harus menghadapi dua pasukan dengan kondisi yang aku tidak ketahui apakah pasukan federal akan menyerang balik, orang dibelakang Anthony akan berkhianat atau tidak. Aku harus melindunginya juga.’ gumamnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2