PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 313. ALEX PENYEMBUHNYA


__ADS_3

“Baiklah. Aku mengerti sekarang. Itulah kenapa setiap kali ada penyerangan kau sering sekali menyuruh anak buah kita untuk pergi dan tidak perlu menyerang balik. Tapi besoknya kau membuat masalah dengan mereka dan menghancurkan mereka perlahan-lahan.”


“Hmm! Karena anak buah mereka selama ini tidak mengganggu kita sama seperti anak buah kita Hans. Mereka hanya memenuhi keinginan para pemimpinnya saja. Tapi ingat, mereka juga punya orang dirumah yang menunggu mereka! Inilah alasanku.” jawab Dante.


“Aku tidak menyangka kalau kau memiliki perasaan begini Dante! Karena sebenarnya kau adalah orang yang paling mengerikan diantara kami.”


“Aku memang mengerikan tapi hanya pada mereka yang memang menyinggungku! Tapi bagi mereka yang tidak menggangguku, aku tidak punya urusan dengan mereka. Sekarang aku mau mandi Hans! Apa kau masih ingin bicara denganku atau ikut aku ke kamar mandi bersamaku?”


“Huhhh!” Hans mencibir, “Aku masih waras Dante! Mungkin sebaiknya kau cepat-cepat jemput Bella dari kamar anakmu! Atau jangan salahkan aku kalau nanti dia malah ikutan tidur dengan Alex.”


“Itu tidak mungkin terjadi.” Dante menggelengkan kepalanya, “Bella tidak mungkin tidur bersama dengan Alex karena dia baru bangun tidur. Yang ada dia pasti sangat kelaparan sekarang.” ujar Dante sambil tertawa.


“Hahahaha….terserah kau sajalah Dante. Tapi jangan salahkan aku jika yang ku katakan ini  benar ya. Kalau melihat gelagatnya seperti Bella lebih betah dengan anaknya daripada denganmu. Hahaha.”


“Pergi kau Hans! Aku mau mandi dulu.” usir Dante.


“Oke! Kau yakin tidak mau memberikan tambahan pengamanan di rumah sakit minimal sebagi shift pengganti anak buah yang bersama dengan Eddie?”


Dante yang sudah hendak menutup pintupun kembali menatap Hans, “Aku tidak ada niat untuk menukar shift! Tapi kalau bisa, kau suruh saja orangmu untuk datang ke rumah sakit. Mungkin aku ingin menambah sekitar sepuluh orang lain. Ya, mungkin jumlah itu cukuplah.”


“Baiklah kalu begitu. Aku akan menyiapkan sepuluh orang untuk menemani Eddie dirumah sakit.”


“Ingat Hans! Aku minta orang-orang terbaik. Kau paham maksudku kan? Karena yang mengincar kita juga bukan orang sembarangan jadi pastikan orang-orang kita yang berada dirumah sakit adalah yang terbaik. Mengerti kan?”


“Ya aku mengerti. Keamanan dan kesembuhan Omero adalah yang utama bukan?”


Dante mengangguk, “Apakah kau bisa melakukan sesuatu juga untuk Tatiana?”


“Apa yang ingin kau lakukan padanya, Dante?”


“Hmmm. Aku ingin kau memata-matainya Hans! Ikuti kemanapun dia pergi dan cari tahu tentang dia.”


“Bagaimana cara mencarinya Dante?” tanya Hans.

__ADS_1


“Kau pastikan dulu saja apa yang ingin kau lakukan.”


“Baiklah Dante. Akan kupikirkan soal itu.” jawab Hans menganggukkan kepalanya.


“Tidak! Aku hanya ingin kau mengambil fotonya kalau dia selingkuh.” ujar Dante.


“Hanya itu saja yang kau inginkan?”


“Hemm!” Dante menganggukkan kepalanya.


“Aku tidak mau ada yang terlewatkan dari semua kegiatan Tatiana! Aku tidak ingin ada yang terlewatkan. Kau harus mendapatkan Tatiana utuh! Kalau ada sesuatu yang buruk padanya segera beritahukan padaku. Paham kan?”


“Kau ini apa-apaan Dante? Bukankah tadi kau yang bilang kalau kau tidak akan kembali padanya? Apa kau yakin dia akan mengangkat teleponmu? Lagipula, apa kau tega menyakiti Bella dan anakmu?” Hans yang ingin pergi malah mengatakan itu pada Dante dengan sedikit emosi.


“Pffff! Sudahlah, kalau tidak ada lagi yang ingin kau katakan sebaiknya kau menghindar dari hadapanku. Aku mau mandi.”


Hans tersenyum dan mengangkat bahunya, “Kalau begitu aku pergi dulu Dante.”


“Eh! Mau kemana kau?” tanya Dante dengan tangannya mengisyaratkan Hans untuk tidak pergi dulu.


“Sibuk sekali kau Hans, seperti menjaga presiden saja.” gurau Dante.


“Kesibukanku sekarang berubah jadi pengasuh anahk. Hehe.”


“Hanya sementara! Sampai semuanya sudah kembali aman. Setelah itu kau bisa kembali ke pekerjaanmu.”


“Hahahah…..aku amlah lebih suka pekerjaan ini Dante! Bermain dengan anak-anak!” ucap Hans sambil melambaikan tangannya.


“Sebaiknya aku mandi saja. Dari tadi tertunda terus!” Dante bergumam sendiri lalu menutup pintu kamarnya dan menuju ke kamar mandi.


“Bella, apa sebenarnya yang ada dipikiranmu? Kenapa kau berbeda jauh begitu?” Dante kembali bergumam sambil membuka pakaiannya. “Bella, kau bisa kembali menjadi dirimu sendiri saat kau melihat dan aku melihatmu Aelx seperti kau yang belum sakit! Dan seperti dirimu sebelum kau pergi dari tempat ini. Memperhatikan Alex seperti biasa dan kau normal saat itu. Apakah mungkin Alex bisa membuatmu kembali normal?” pertanyaan itu keluar dari bibir Dante disaat dia baru selesai mandi karena sepanjang mandi dia terus saja memikirkan Bella.


Dia terus berpikir apa yang harus dilakukannya untuk Bella, dan bagaimana semua traumanya tidak mempengaruhi bayinya. Mengingat apa yang baru saja ini menjadi salah satu hal positif untuk Dante sehingga dia langsung buru-buru mengambil handuk dan menuju ke ruang ganti pakaian.

__ADS_1


‘Alex! Jadi ini yang bisa membuatmu kembali normal?’ gumamnya didalam hati dan Dante berjalan keluar dari kamarnya, dia bergegas menuju ke kamar anaknya.


“Hei Dante, kenapa kau buru-buru sekali?”


“Ssssttt! Jangan mengatakan apapun yang tidak penting. Minggirlah Hans, aku harus segera masuk.”


Klek….


“Belinda...”


Flashback on


Ketika Bella baru saja masuk ke kamar Alex.


“Aku punya banyak mainan baru. Ini semuanya kereta baru.” Alex mengulangi kalimat itu saat Bella ingin menurunkannya dari pangkuannya.


“Aku ingin melihat semua keretamu! Bisakah kau tunjukkan padaku keretamu?” Bella kembali menggoda anaknya.


“Tentu saja boleh, Bella!” tanpa menunggu lama Alex segera berlari ke tempat mainannya dan membawa kota mainannya.


“Wow! Besar sekali Alex? Sini biar aku bantu angkat.” ujar Bella.


“Diam disana Bella! Ini urusanku, aku ini lelaki yang kuat!” ucap Alex yang menolak bantuan Bella. Alex memilih mendorong sendiri kotak mainannya mendekat pada Bella.


‘Huhh! Kadang-kadang anak ini sama galaknya seperti Dante! Walaupun dia masih manis dan lucu tapi kalau sikapnya sudah seperti itu,dia sangat cocok sekali sebagai anak Dante! Hihihi….tapi darimana dia mirip denganku ya?’ gumam hati Bella sambil menatap Alex mendorong kotak yang cukup besar untuk anak seusianya. Tapi untunglah dibawah kotak itu ada rodanya sehingga memudahkan Alex untuk mendorongnya.


“Wah, mainan ini banyak sekali, Alex.” seru Bella terlihat antusias melihat banyaknya mainan baru milik Alex yang memenuhi kotak besar.


“Henry yang memberikannya!” ujar Alex. Karena memang Henry yang meletakkan semua mainan itu dikamarnya sesuai perintah Dante karena semua mainan anaknya diambil oleh Tatiana. Dante saat itu masih di Indonesia saat dia menghubungi Henry dan memintanya untuk membelikan mainan kesukaan anaknya.


Sehingga saat pulang semua mainan itu sudah tersedia dan masih ada dalam segelnya. Karena Alex agak rewel masalah mainan bekas. Dia hanya mau mainan baru yang masih ada segelnya.


“Apa kau mengajak adikku Sarah untuk bermain juga?” goda Bella mencubit pipi anaknya.

__ADS_1


“Tentu saja! Kami ini kan sekarang sahabat!” jawab Alex.


__ADS_2