
Dante tersenyum puas dan menggerakkan jari telunjuknya pada Bella untuk mendekat. Bella yang melihatnya pun merasa seperti mimpi. ‘Dia memanggilku mendekat? Tumben.’ Bella melangkah mendekati Dante.
“Apa kau masih menggigil kedinginan?”
“Ya Tuan. Aku harus minum obatnya.”
“Cih….sudah tidak ada obat lagi. Dalam mimpi pun takkan kuberikan obat itu!” ujar Dante lalu menatap tubuh Bella yang berbalut handuk. “Lepaskan handukmu.”
“Baik, Tuan.”
“Ingat ya didepan istrimu jangan pernah menatapku.” Dante menegaskan sambil tangannya memegang sesuatu yang selalu dia pegang setiap kali berada didekat Bella. Wanita itu mulai meremang dan mendesah lirih.
“Ssssh…..aku paham Tuan.” Bella menundukkan kepala tepat melihat tangan Dante yang bergerak didadanya. Apa-apaan sih dia ini? Selalu melakukan hal yang sama, ssshhhh…..kenapa tangannya pandai sekali bermain-main berputar seperti itu?’
“Jangan pernah mengatakan tentang hubungan kita pada siapapun dirumahku.”
“Iya, Tuan.”
“Kau juga tidak diijinkan minum alkohol saat berada dirumahku. Tidak ada seorang pelayanpun yang kuijinkan meminum alkohol apalagi kau bekerja mengasuh anakku. Jika kau sampai melanggar atau kau salah bicara didepan istriku maka nyawa adikmu taruhannya.”
“I----iya Tuan….ahhhhh…..” Bella menjawab sambil menahan desah. Aduh jangan dipencet kayak gitu juga. Aduh…...apa-apaan sih dia ini?
“Kau juga tidak boleh menjalin hubungan dengan pelayan dirumahku. Kau tidak boleh menyukai siapapun! Aku tidak mengijinkan.”
“Iya, Tuan. Ada lagi?”
“Angkat kepalamu! Kenapa kau terus menunduk, apa aku menyuruhmu menunduk?”
“Sakit Tuan…...” jawab Bella mendonggakkan kepala menatap Dante sambil meringis kesakitan. Tangan Dante mencengkeram dua miliknya dengan kuat lalu memencet puncaknya.
“Kalau sampai istriku tahu hubungan kita, aku akan memotong milik adikmu. Kau paham?”
“Iya Tuan. Aku janji itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak akan pernah mengatakan apapun pada istrimu tentang hubungan kita.” ucapnya takut.
“Baguslah kalau kau sudah paham. Kau juga harus siap setiap saat jika aku memintamu! Ingat, tidak boleh ada seorangpun yang boleh tahu tentang kita. Ini rahasia kita berdua, mengerti?”
Bella hanya mengangguk. Huff…..syukurlah dia sudah melepaskan tangannya. Ya ampun sampai biru? Dia mencengkram milikku terlalu kuat.’ lirihnya melihat bekas lebam di dua miliknya yang tadi di genggam oleh Dante.
“Kau kenapa lagi?”
“Dingin…..aku juga ingin itu Tuan…..ini benar-benar membuatku gila.”
Tangan Dante sontak menarik lengan Bella. “Kemana Tuan?”
__ADS_1
“Jangan berisik! Ikuti saja.” ujarnya tanpa melepaskan tangannya.
“Tuan…...”
“Kau harus olahraga supaya badanmu sehat. Ini hukumanmu.”
“Ha? Olahraga?”
“iya olahraga. Bukankah kemarin kau minta olahraga?”
Bella mengeryitkan dahinya. Kemarina dia memang minta olahraga tapi olahraga tempat tidur. Nah sekarang olahraga apa yang dimaksudnya?’
“Kau kenapa lagi senyum-senyum sendiri seperti orang tidak waras.”
“Aku pakai handuk dulu, Tuan.”
“Tidak perlu! Tinggalkan handukmu.”
“Apa? Tuan mau aku olahraga tanpa mengenakan apapun? Olahraga dengan tubuh telanjang?”
“Bisa diam tidak? Berisik!”
“Lepaskan tanganmu! Apa yang kau lakukan ditubuhku?” ucap Dante terkejut. Anak ini benar-benar ya…..aku suruh diam dia malah memelukku. Gumamnya tanpa melirik Bella.
“Kau tidak boleh menyentuhku! Apa kau lupa peringatanku?” ujar Dante menghela napas. Bisa saja dia melepaskan tangan Bella yang memeluknya erat dan mengusirnya tapi hatinya merasa berat dan enggan. Ada apa dengannya? Kenapa malah menikmati pelukan wanita ini? Rasanya berbeda, tidak seperti saat Tatiana istrinya memeluknya. Dia merasakan perasaan berbeda dan sangat nyaman bersama Bella. Dalam hatinya sebenarnya dia ingin Bella yang mengambil inisiatif, dia tidak mau wanita itu tahu isi hatinya yang sebenarnya.
“Maafkan aku Tuan. Aku sangat merindukan pelukan. Aku rindu sekali saat seseorang memelukku. Aku senang sekali saat kau mengatakan kalau kita akan olahraga. Aku sudah menunggu ini.”
Dasar, anak ini aku sudah tahu arah pikirannya. Dia benar-benar berpikir aku akan mengajaknya olahraga ditempat tidur. Bisik hati Dante tapi dia pun merasa senang.
“Olahraga apa yang kau pikirkan?” celetuk Dante.
“Hem…..itu….olahraga itu.” Bella tidak berani melanjutkan ucapannya. Eh…..bukannya olahraga yang itu ya maksudnya? Tanya Bella pada dirinya.
“Cih…..” dengus Dante. “Memangnya kau mau aku melakukan olahraga apa?” Dante tiba-tiba membalikkan badannya, menatap Bella.
“Tidak tahu. Memangnya kita mau olahraga apa?” tanya Bella balik.
“Dasar bodoh!” menyentil kening Bella.
“Aduh...sakit Tuan!” Bella memegang jidatnya yang kena sentil lalu menatap tajam pada Dante.
“Aku sudah bilang jangan pernah berpikir yang aneh-aneh! Aku tidak mau melakukan olahraga yang ada diotakmu itu! Ingat ya, aku tidak berminat pada wanita bekas seribu laki-laki.”
__ADS_1
“Jadi maksudmu, kita olahraga sungguhan di gym gitu ya?” tanya Bella dengan wajah polosnya.
“Aiihhhhh…..kau ini kenapa bodoh sekali? Memangnya ada olahraga lain kalau bukan di gym?” Dante mengepalkan tangannya menahan marah lalu membalikkan badan mendekati pintu.
“Tunggu…..Tuan.” Bella berusaha mengejar Dante yang berjalan cepat.
“Stop! Jangan dekat-dekat! Ingat menjaga jarak, jangan kau lakukan lagi hal tadi atau aku akan menambah hukumanmu lebih berat lagi.”
Bella memilih diam mengatupkan bibirnya dan mengikuti Dante dari belakang. ‘Huh…..ini tidak adil. Dia pakai baju lengkap sedangkan aku tidak berpakaian sama sekali. Dia bahkan tidak mau meminjamkan baju untukku padahal di wardrobenya banyak pakaian. Satu kemeja atau kaus saja pun dia tidak memberinya padaku? Padahal aku menggigil kedinginan, dia tidak peduli.’ Bella terus menggerutu didalam hatinya. “Jadi, kita olahraga di gym ya Tuan?”
“Ya, sesuai keinginanmu tadi malam. Bukankah ini yang mau lakukan tadi malam?” ujar Dante memberikan botol air mineral padanya.
“Tapi aku tidak ada tenaga untuk olahraga. Aku belum makan, tuan.” ujar Bella.
“Jadi, kau memang tidak suka olahraga?”
“Bukan begitu. Aku suka olahraga tapi kalau sudah makan banyak.” jawab Bella jujur membuat Dante mendengus kesal.
“Masuk!” perintah Dante yang langsung diikuti Bella tanpa membantah.
“Kita treadmill dulu setelah itu lanjut ke alat lain.”
“Ha? Treadmill?”
“Pakai sepatu kalau kau mau.” tunjuk Dante kearah rak sepatu disudut ruangan.
“Bagaimana dengan pakaian? Kau tidak memberiku sehelai pakaian.”
“Apa kau butuh?” ujar Dante membuka pakaian. Bella menatapnya sambil tersenyum senang. “Hei apa kau senyum-senyum? Aku tanya apa kau butuh pakaian?”
“Emm….tidak. Tidak jadi saja.” jawab Bella yang kehilangan fokus saat menatap tubuh kekar berotot Dante.
“Kau bisa pakai ini kalau kau butuh pakaian.” Dante memberikan kemeja yang sudah dilepasnya.
“Tidak mau! Aku tidak usah pakai baju.” Bella menggelengkan kepala menolak sambil tersenyum melihat roti sobek ditubuh Dante. Rasa dingin menggigilnya pun hilang dalam sekejap.
“Kau mau apa senyum-senyum sendiri?”
“Tidak apa-apa Tuan. Ternyata tebakanku benar, tubuhmu persis seperti yang ada dalam pikiranku.”
“Apa kau mau kusentil lagi?”
__ADS_1