PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 63. AKU MENCINTAINYA


__ADS_3

Wajah Bella kembali tertunduk, senyum manisnya hilang.


“Melindungimu?”


Bella menggangguk, “Iya. Dia tidak mengijinkanku melihat wajahnya padahal aku pernah memintanya beberapa kali. Dia juga tidak pernah bicara denganku padahal aku sangat ingin mendengar suaranya agar aku bisa mengingatnya seumur hidupku meskipun aku bilang kalau aku membencinya….ha ha ha….aneh ya? Aku tidak tahu perasaanku. Kadang aku membencinya tapi aku mencintainya. Tapi pria itu tidak pernah mau menunjukkan wajahnya dan memperdengarkan suaranya. Mungkin dia sengaja melakukan itu karena dia ingin melindungiku agar aku tidak mengingatnya seumur hidupku. Dia selalu menggunakan cara yang berbeda dari orang lain, bukan? Entahlah, Tuan. Aku mencintainya.”


Sejenak tak ada pembicaraan diantara mereka hanya ada keheningan, pria itu hanya memandang wanita yang jongkok dihadapannya tanpa bicara sepatah katapun. Mereka berdua lupa kalau mereka sedang dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun.


“Sudah puas menangis?” tanya Dante akhirnya memecah keheningan.


“Entahlah Tuan! Aku tidak tahu. Airmataku tidak pernah habis untuknya.” Bella menggelengkan kepalanya dengan wajah masih menunduk.


“Maafkan aku karena aku ingin sekali memuaskanmu tapi entah kenapa aku malah terpancing mengingat kembali masa laluku bersamanya dan bersikap bodoh begini.” ucap Bella lagi menghapus airmatanya lalu berusaha berdiri menatap dante.


“Lihatlah dirimu! Sudah dipakai seribu lelaki tapi kau juga tidak bisa menghargai perasaanku. Kau membuang-buang waktuku saja mendengar tangisanmu untuk pria yang kau sendiri tidak tahu dia seperti apa, pria yang hanya ada dalam fantasimu! Sepertinya aku sial sekali membawamu!”


“Maafkan aku, Tuan!” Bella merasa bersalah lalu menundukkan wajahnya.


“Maaf terus yang kau ucapkan dari tadi. Capek aku mendengarnya!”


Huh! Ini juga karena milikmu, coba kau ijinkan aku bermain dengannya aku takkan jadi begini! Aku memang menginginkanmu tapi kau terus saja menyalahkanku,’ celetuk Bella dalam hati, meskipun ingin sekali dia lupakan kekesalannya tapi dia tak berani.


“Ayo keluar dari sini! Sudah kelamaan kita disini. Aku mau mandi, kau harus menyabuniku.”


“Ha? Kita mandi bersama? Aku harus menyabunimu?” tanya Bella yang berdiri dibelakang Dante. Pria itu hanya meliriknya lalu berjalan keluar dari ruang sauna dan masuk ke kamar mandi disampingnya.


“Belinda! Kesini, jangan cuma berdiri disitu, cepat sabuni aku!”


“Eh...iya….he he….” jawabnya terkekeh lalu maju dan mengambil sabun, menyabuni seluruh tubuh Dante seperti yang diperintahkannya.


‘Aissss…..mandi bersama seperti ini sambil melihat tubuhnya yang basah kok dia semakin tampan ya?’ gumam Bella yang sudah senyum-senyum sendiri melupakan tangisannya diruang sauna tadi. Moodnya sangat mudah berubah-ubah, dia seperti anak kecil yang gampang menangis dan dengan sedikit kesenangan dia langsung melupakan masalah dihatinya.


“Yang bersih sabuninya jangan hanya melihat satu tempat saja. Perhatikan tempat yang kau sabuni, jangan main-main disitu!”


“Iya, baik Tuan.” ujarnya cemberut seraya malas-malasan membersihkan tubuh Dante.

__ADS_1


“Eh….gosok yang benar. Kurang terasa, jangan hanya berputar-putar didaerah yang sama.”


“Iya Tuan!!!!!”


“Kau tidak bisa serius ya? Kau bukannya menyabuni.”


Cepat-cepat Bella menggeleng dan menatap dante yang sudah emosi jiwa dengan suara meninggi.


“Maaf Tuan. Aku tidak akan memikirkan hal-hal yang aneh lagi.”


“Terus saja kau bilang begitu! Tadi juga bilang begitu, sekarang juga kau bilang begitu lagi. Terus saja kau berfantasi, berapa lama aku mandinya kalau kau menyabuni sambil berfantasi?”


“Mau gimana lagi Tuan? Tubuhmu sangat menggoda jadi jangan salahkan aku!”


“Ingat ya! Anakku selalu bangun jam enam pagi jadi sebelum jam enam pagi kau harus sudah ada dikamarnya lalu mandikan dia.”


“Hah?”


‘Dia enggak salah bicara?’ Bella mengerjapkan matanya tak percaya.


“Kita membahas pekerjaan sambil mandi ya?”


“Terserah kau mau pikir apa! Sekarang kau dengarkan aku dan jangan bicara! Kepalaku pusing mendengar ocehanmu seperti burung cicit! Mencicit teruss!!!”


“Iya, Tuan. Aku dengar kok. Setiap jam enam pagi aku harus ke kamar anakmu, benar begitu?”


“Benar. Setelah itu kau mandikan dia, bantu dia berpakaian dan jangan memakaikan pakaian yang tidak dia sukai. Harus yang dia sukai!”


“Baik, Tuan. Aku paham.”


“Setelah itu kau harus membawanya sarapan pagi, setelah sarapan pagi guru pianonya akan datang untuk melatihnya.”


“Oh….anakmu bisa main piano, Tuan?” Bella tersenyum sumringah dan menatap Dante sambil mengerjapkan matanya.


“Memangnya kenapa? Kok kau keliahatan senang begitu?”

__ADS_1


“Iya, aku dulu juga suka main piano. Dulu aku sempat punya piano tapi aku tidak bisa melanjutkan kursus pianoku karena ibuku meninggal. Aku terpaksa menjual piano itu untuk biaya berobat ibuku karena ayahku bangkrut. Piano adalah alat musik kesukaanku. Aku juga bisa main piano, Tuan.”


“Ehem…..” Dante sedikit terkejut mendengar ucapan Bella. ‘Lagi-lagi kebiasaan yang sama persis seperti Alex. Sepertinya memang Alex mengikuti semua sifat dan kesukaan ibunya ini.’


“Maaf Tuan….he he….aku tadi refleks karena kau menyebut piano. Tapi jangan khawatir ya aku tidak akan mengambil piano anakmu.”


“Memangnya siapa yang berpikir kalau kau mau mengambil piano anakku, he?”


“Terus kenapa kau menatapku begitu? Kau pasti berpikir aku akan mencurinya, iyakan?”


“Diam! Setelah les piano selesai segera antarkan dia makan siang. Selesai makan siang antar dia ke kamar dan bacakan buku cerita, dia suka dibacakan buku cerita sampai dia tertidur. Kau paham pekerjaanmu?”


“Paham!”


“Baguslah. Saat dia bangun tidur siang, biasanya dia main bola ditaman belakang. Biarkan dia bermain atau melakukan apapun yang disukainya. Jangan pernah melarangnya, tugasmu hanya mendampinginya dan memastikan dia aman dan tidak terluka saat bermain.”


“Baik. Aku sudah mengerti.” Bella mengangguk-anggukkan kepalanya sambil melirik kearah sesuatu dibawah sana.


“Setelah itu, kau ajak dia mandi sore, bersihkan tubuhnya dan temani dia makan malam. Selesai makan malam biasanya Alex nonton TV atau main game kadang dia juga minta dibacakan cerita tapi hanya sebentar saja. Jam sembilan malam adalah jam tidurnya. Apa kau mengerti tugasmu?” tanya Dante lagi.


“Iya aku sudah mengerti Tuan.” ujar Bella merekam semua jadwal yang dikatakan pria itu.


“Kau harus tidur dengan Alex.”


“Ha? Aku tidur dikamarnya?”


“Iya. Biasanya malam hari dia akan terbangun untuk minum dan dia sering ketakutan kalau bangun sendirian. Kau akan punya kamar pribadi, aku akan memberikan kamar untukmu yang bersebelahan dengan Alex dengan pintu terhubung.”


“Ok. Aku mengerti,”


“Satu hal lagi. Jangan matikan lampunya. Dia tidak suka gelap!”


“Oh begitu. Untuk yang terakhir itu akan selalu aku ingat Tuan karena aku juga tidak suka gelap.”


Dante menghela napas panjang, ‘Tentu saja kau paham itu karena Alex adalah anakmu. Banyak sekali kesamaan yang kau miliki dengan Alex. Apakah kau akan menyadarinya nanti saat bertemu dengannya? Apakah feeling seorang ibu itu ada padamu juga? Apa saat kau bertemu anakmu nanti kau akan menyadari kalau Alex adalah anakmu yang kau kira sudah meninggal?’

__ADS_1


 


__ADS_2