
“Aku mengerti Dante!” Nick berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Kini hanya ada Dante diruangan itu yang tersenyum miris. “Apa yang sedang kau rencanakan padanya? Sebenci itukah kau pada Bella? Kenapa kau bisa merendahkan dirimu sendiri didepan Lorenzo? Derajatmu lebih tinggi darinya tapi kau malah menjadikan dirimu sebagai pemuas nafsunya? Aku tidak bisa mengampunimu kalau terbukti kau bersalah Tatiana! Kita akan lihat bagaimana hasilnya Tatiana!” ucap Dante bersandar didinding dengan matanya menatap ke tempat tidur yang tadi diduduki oleh Nick.
“Bella, aku merasa sangat bersalah padamu dan juga pada diriku sendiri!” Dante berdecak, “Apa yang sedang kau pikirkan? Aku tidak mempercayaimu sedikitpun padahal kau adalah orang yang jujur, karena itu aku kehilanganmu sekarang. Anthony membawamu pergi! Dimana kau sekarang Bella? Apakah kau tidak merindukan anakmu? Dia selalu menanyakanmu dan merindukanmu! Alex cerewet sekali persis sama sepertimu yang tak bisa diam!”
Dante tersenyum mengingat Bella yang selalu banyak bicara dan banyak bertanya, seperti Alex. Tatapan dan ekspresi wajah polos serta senyum yang menggemaskan yang selalu dirindukan oleh Dante. Kerinduan itu dia obati dengan memandang wajah anaknya yang persis sama seperti Bella. Semuanya sama, sikap dan tingkah lakunya pun sama bahkan kesukaan mereka pun sama. Hati Dante semakin sakit seperti diiris-iris. Pikirannya benar-benar kalut sekarang, membayangkan keselamatan Bella diluar sana.
“Bella!” suara dari kamar Alex membuat Dante terhenyak dan dia bergegas berlari menuju kamar itu.
“Bella!”
“Ya Tuhan! Alex sampai menggigau memanggil namanya?” ucap Dante dan dia melihat Alex. Tadinya dia hendak memeluk anaknya itu tapi dia justru tersenyum lalu membuang wajahnya. Sudut matanya berair, tak bisa dia menahan bening airmata yang jatuh.
“Alex sangat menyayangi Bella! Apakah memang ini yang terbaik? Apakah Tatiana menipuku selama ini? Apa saja yang sudah dia lakukan dibelakangku selama ini?” ucap Dante lagi sambil berpikir, rasa penasaran tentang apa yang dilakukan Tatiana dibelakangnya membuat pria itu semakin yakin untuk mencari tahu dan mengungkit kebenaran.
“Bella!” lagi-lagi Alex memanggil.
“Kasihan sekali kau Alex! Ini semua salahku harusnya aku percaya pada Bella! Kau tidak akan tersiksa seperti ini karena merindukannya. Dia ibumu Alex!” Dante tersenyum dan berjalan mendekat ke tempat tidur anaknya.
“Bella! Aku rindu!” lagi-lagi Alex memanggil namanya.
“Alex sayang, apa kau bermimpi buruk?” tanya Dante yang sudah duduk disamping anaknya dan mengelus rambut Alex. “Tidurlah Alex, Bella baik-baik saja disana. Aku akan terus berusaha mencari bella. Kau tidak perlu khawatir begini! Aku minta maaf, secepatnya aku akan membawa Bella kembali padamu.”
“Semoga saja kau mengerti Alex!” ucap Dante dengan senyuman ketika Alex memeluknya dan meletakkan tangan mungilnya dipinggang Dante.
“Bella! Bisakah kau mendengarku? Anakmu sangat merindukanmu sejak tadi pagi dia selalu tersenyum saat bicara tentangmu. Apa kau tidak akan pernah kembali? Anthony kemana kau membawanya?” tanya Dante merebahkan tubuhnya dengan tangan kekarnya memeluk Alex.
Dreeetttt dreeettt dreeettttt
__ADS_1
“Ha...siapa yang meneleponku?” dia mengambil ponselnya. “Nomor tidak dikenal?” Dante tersenyum tipis, menimbang sejenak apa dia mau menjawab telepon atau tidak lalu dia pun memutuskan untuk menjawab telepon itu.
“Halo?”
“Hey Dante! Ini aku Barack! Aku dan Sarah masih hidup. Sekarang aku butuh bantuanmu!”
“Aku pikir kau tidak akan meneleponku lagi!” Dante merasa bahagia mendengar suara Barack, dia tersenyum dan semua rasa sedihnya sejenak hilang dan sedikit terlupakan.
“Mauku juga ingin meneleponmu, Dante!”
“Lalu kenapa kau sekarang menghubungiku?”
“Sudah kukatakan tadi, aku butuh bantuanmu!” ujar Barack.
“Dimana kau?”
“Aku pikir kau tidak ingin aku menemuimu. Mereka memberikan tanda padamu didaerah tempat kau berada. Tapi kau tidak merespin jadi aku menunggu sampai kau meneleponku.”
“Kau tidak tahu siapa yang kita lawan dante! Aku sudah mempelajarinya selama aku bersembunyi!”
“Katakan padaku informasi apa yang kau dapatkan.” Dante kini serius, dia yang tadinya ingin tidur bersama Alex justru berdiri dan melangkah kearah balkon dan bicara diluar agar tak mengganggu Alex.
“Jeff Amadeo! Mungkin dia adalah lawan yang setimpal denganmu Dante! Atau mungkin dia lebih kuat darimu! Aku tidak yakin, kau bisa mengukurnya sendiri nanti.”
“Katakan siapa dia?”
“Pemilik bisnis narkotika terbesar di Meksiko dan juga pemilik ladang ganja terbesar didunia. Dia bukan orang yang mudah dikalahkan! Kau telah mengusiknya Dante. Bella adalah wanita yang selalu didatanginya setiap satu bulan sekali. Coba kau bayangkan, dia terbang ke Indonesia setiap bulan hanya untuk menemui Bella! Pria itu maniak dan dia benar-benar menginginkan Bella. Setahuku dia juga memiliki masalah kejiwaan, dia psikopat! Dia sudah menikah tiga kali, istri pertamanya meninggal karena dia kecewa karena pelayanan istrinya kurang memuaskan hingga dia menyisa istri pertamanya sampai mati. Dia hipersek, Dante! Istri keduanya memilih bunuh diri karena tak tahan dengan keinginannya yang aneh-aneh dan istri ketiganya masih hidup sampai sekarang. Tapi aku tidak tahu siapa istri ketiganya itu.”
__ADS_1
Lengkap sudah informasi yang diberikan oleh Barack padanya. “Darimana kau mendapatkan informasi ini?” tanya Dante memicingkan mata.
“Tentu saja aku bertaruh nyawa untuk mendapatkannya. Aku hampir mati karena dia menginginkan Bella! Setahuku Bella adalah satu-satunya wanita yang selalu membuatnya kembali. Dia selalu memberikan banyak uang pada Bella. Itu informasi yang aku dapatkan.” Barack mendengus kasar dan terdengar oleh Dante.
“Hem….lawan yang bagus ternyata!” Dante tersenyum.
“Sebenarnya tidak baik juga jika kita menyinggungnya. Kau memang salah satu mafia terbesar dibidang senjata tapi mereka lebih mengerikan. Mereka tidak punya hati! Mereka sudah bisa membunuh siapapun tanpa berpikir dua kali!” ujar Barack.
“Barack! Mana ada mafia yang punya hati?”
“Ya memang tidak! Tapi saat ini kau sedang lemah Dante! Dan dia tahu itu dan memanfaatkan ini, kau lemah karena kau memiliki Bella!”
Ucapan Barack ini sangat menyakitkan hati dan perasaan dante. Rasa kehilangannya pada Bella juga kata ‘kelemahan’ yang ducapkan oleh Barack begitu menyinggung harga dirinya.
“Apa bantuan yang kau minta dariku? Satu lagi, bagaimana keadaan Sarah?”
“Gadis itu baik-baik saja. Dia ada disisiku sekarang, kau tidak perlu mengkhawatirkannya.”
“Apa kau memakainya?”
“Tidak Dante! Aku menjaganya dengan baik seperti menjaga berlian. Tenang saja! Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya.”
Sedangkan Barack diseberang sana sedang melirik Sarah yang sedang tertidur. Dia hendak memastikan keadaan gadis itu, ‘Dia tidur kan ya? Tapi kalau dia terbangun juga bagus sih! Aku ingin dia kedinginan hari ini,’ bisik hati Barack dan sebenarnya dia ingin tertawa.
“Kau menyukai gadis itu?” tanya Dante yang seolah tahu isi kepala temannya.
“Iya! Dia sedang tidur sekarang.”
__ADS_1