
Dante melirik jam tangannya dan mengecek kondisi timnya.
“Dante! Jam itu kok di modifikasi ya? Kenapa ada satelit disana?” tanya Nick seraya memanggil Dante karena dia mulai kepo soal jam tangan yang dipakai Dante.
“Ya, aku memang memodifikasinya! Aku butuh pantauan satelit! Apa yang mau kau katakan padaku?” Dante menatap Nick, sedangkan dia masih sibuk dengan jam tangannya.
“Oh, aku cuma mau tanya apa yang akan kau lakukan setelah kau menemukan kembali kedamaian dan memenangkan perang kali ini?”
Dante tidak langsung merespon pertanyaan sahabatnya itu, pertanyaan itu sulit baginya untuk menjawab jadi dia memilih untuk diam sejenak dan memikirkannya.
“Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu padaku?”
“Kehidupanmu sekarang sudah sempurna Dante! Kau sudah memiliki istri dan anak! Aku rasa mungkin sudah tiba waktunya kau pensiun dan tidak lagi mengurusi masalah seperti ini. Kau bisa menjalani kehidupan yang bahagia bersama keluargamu dan menjauh dari dunia gelap! Karena aku tidak tahu akhir cerita kita kalau kau tetap berada disini!”
“Kenapa kau berkata begitu padaku?” Dante menatap serius pada Nick, dia merasa aneh dengan pertanyaan yang diajukan temannya itu.
“Entahlah, Dante! Aku hanya ingin menyarankan padamu supaya kau keluar dari dunia gelap ini Dante! Setelah dendammu terbalaskan dan kau sudah menemukan pembunuh ayahmu, aku rasa lebih baik kau pergi dengan istri dan anakmu dan menikmati hidup! Lagipula kau sudah memiliki segalanya!” kata Nick.
Dante tersenyum kecut, “Apa kau pikir segala sesuatunya bisa dengan begitu mudah dihentikan setelah dimulai? Apa kau pikir aku pasti hidup tenang dan damai setelah aku meninggalkan pekerjaan ini?”
Nick mengatupkan bibirnya, “Aku, Barack, hans dan Eddie tidak memiliki keluarga. Kami bisa melakukan apapun yang kamu mau tanpa harus memikirkan keluarga kami. Tapi kau berbeda!”
Nick diam sejenak sambil menepuk lengan Dante lalu berkata, “Aku melihat kekhawatiranmu! Saat ini hatimu terbagi dua antara keluargamu dan pekerjaanmu! Aku tidak menyalahkanmu. Tapi aku kasihan padamu. Apa tidak sebaiknya kita mencari pekerjaan lain saja Dante? Masih banyak bisnis yang aman bisa kita lakukan. Setelah pertarungan malam ini selesai mungkin kita bisa duduk bersama dan membahas soal itu.”
Dante melemparkan senyum sinis pada Nick. “Sekali kita masuk kedunia ini, akan sulit untuk keluar! Lagipula satu-satunya cara untuk keluar dari sini adalah tidak menjual senjata lagi. Tapi aku sudah terlanjur menjadi buronan FBI, CIA dan juga federal! Jadi untuk apa lagi aku bersembunyi?” Dante memberikan jawaban yang cukup rasional dan Nick pun tahu tentang kondisi ini.
“Jadi, maksudmu sampai mati kita akan tetap menjalankan bisnis ini, begitu?”
“Sampai keadilan ditegakkan! Sampai aku menemukan sesuatu yang baru untuk kita jadikan pekerjaan!” ujar Dante. “Setidaknya, sesuatu yang juga bisa menghasilkan banyak uang untuk kita dan keluarga kita nantinya dan tidak akan melawan hukum.”
__ADS_1
“Fuuuhhh!” Nick berdecak namun dia tidak memprotesnya. Bagaimanapun dia sangat mengenal Dante, pria itu selalu berhati-hati dalam melakukan apapun apalagi dalam mengambil keputusan.
“Sudahlah jangan kau berpikir macam-macam! Saat ini kau tidak perlu memikirkan aku akan bagaimana nanti setelah semua urusanku selesai! Yang harus kita pikirkan sekarang adalah pekerjaan kita hari ini tidak boleh sampai gagal. Karena aku tidak mau kehilangan mereka semua!”
“Kalau kita mendapatkan mereka semua, itu berarti semuanya sudah berhasil! Bukan begitu Dante?”
“Hmmmm!” Dante mengangguk. “Aku jenuh! Selama hampir dua bulan ini masalah ini terus saja merongrong kita.”
“Ya kau benar! Aku akan dengarkan apa yang kau katakan tapu tolong jaga dirimu baik-baik Dante! Aku tidak mau sampai direpotkan oleh istrimu yang akan terus bertanya kepadaku dimana suaminya!”
Dante tertawa mendengar perkataan temannya, dia sudah bisa membayangkan bagaimana menyusahkannya Bella. “Ya aku tahu! Sekarang kau jagalah pikiranmu. Aku tidak bodoh! Aku tahu apa yang harus aku lakukan dan aku bukan orang yang mau cepat mati! Masih banyak hal yang ingin kulakukan bersama anakku.”
Setelah Dante menyelesaikan kalimatnya, dia berjalan menjauhi Nick dengan satu kunci yang ada ditangannya dan saat itu Dante berpapasan dengan Henry yang terlihat berwajah sendu.
“Ada apa denganmu Henry? Apa ada masalah?” tanya Dante.
“Tidak Tuan! Tapi bisakah anda berjanji satu hal padaku?” ujar Henry.
“Saya begini karena ada dua kali saya mendengar kata-kata seperti ini, Tuan!” jawab Henry.
Dante mengeryitkan keningnya, “Dua kali? Apa maksud perkataanmu? Kapan aku mengatakan hal inii padamu?”
“Tuan! Anda memang tidak mengatakannya pada saya! Tetapi ayah andalah yang pernah mengatakannya. Dia mengatakan tidak apa-apa! Semua akan baik-baik saja tetapi kenyataannya, dua hari kemudian saya tidak bisa lagi bertemu dengannya!” ucap Henry dengan suara lirih. Dia tersenyum pilu, dia tak ingin mengalami hal yang sama lagi untuk kedua kalinya.
“Henry! Dengarkan aku. Aku bukanlah ayahku!” dia berkata tegas sambil menepuk pundak Henry.
“Tolong sampaikan pesanku kepada Omero! Jaga dia dengan baik. Kalau ada sesuatu segera bawa Omero ke bunker dan amankan semua orang dirumah ini!”
“Baik Tuan. Saya mengerti.” Henry mengangguk patuh.
__ADS_1
“Satu pesanku lagi untukmu Henry! Jangan pernah keluar dari bunker sebelum enam bulan! Dan nanti setelah kau membantu Nick masuk kedalam ruang pengendali, jangan bawa kunci emasnya. Kau bisa taruh didepan pintu. Dimanapun kau bisa letakkan yang penting harus didepan pintu saja untuk pengamanan. Aku tidak ingin sampai Nick tidak bisa keluar dari dalam sana!”
“Untuk masalah kunci, saya mengerti Tuan. Tapi untuk masalah enam bulan ini…..ehm….” Henry tidak terlalu yakin tentang itu. Dia bahkan terlihat mengeryitkan dahinya tak mengerti maksud kata-kata Dante.
“Dengarkan aku Henry! Jangan keluar dari bunker sebelum enam bulan dan sekarang katakan saja iya.”
Setelah Dante memaksanya seperti itu, Henry pun akhirnya menganggukkan kepalanya. “Tapi tolong berikan saya alasannya Tuan. Kenapa harus menunggu begitu lama?”
“Apa untuk hal seperti ini kau masih minta alasan Henry?”
“Maafkan saya Tuan.” jawab Henry cepat.
“Aku hanya memintamu untuk tidak keluar selama enam bulan! Radiasi di daerah sini akan besar sekali. Terkena udaranya saja akan mengakibatkan karsinogenik! Bisa menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak diinginkan dan bisa menyebabkan kaner atau yang lebih parahnya bisa langsung mengganggu otak.” kata Dante menjelaskan.
“Saya paham Tuan.”
Dante merasa lega dengan anggukan kepala Henry, “Kalau memang masih bisa bertahan sampai dua tahun itu bahkan lebih bagus lagi! Tapi kalau memang benar-benar mendesak maka enam bulan waktunya kau sudah bisa keluar dari sana. Itupun hanya orang tua saja. Jangan sampai anak dan istriku keluar! Pastikan mereka aman.”
“Tuan!” Henry berusaha menahan air matanya.
“Sudahlah Henry. Jangan terlalu mendramatisir masalah. Aku tidak apa-apa. Lakukan saja apa yang kuperintahkan. Kau paham?”
Henry akhirnya pun menganggukkan kepalanya dan sudah tak berani lagi bicara apapun.
“Ya sudah. Aku harus pergi sekarang.” tanpa menatap Henry lagi, Dante pun langsung pergi tanpa mengunjungi Omero. Dante sudah melangkahkan kakinya keluar rumahnya dan dia juga tidak meminta Henry untuk mengantarnya seperti biasanya.
__ADS_1
“Semoga mereka melakukan apa yang sudah aku perintahkan. Seandainya itu dibutuhkan.” hanya itu harapan didalam hati Dante. Dia bukan orang yang memiliki banyak impian.
Cukup satu atau dua impian saja sudah cukup baginya dan saat ini yang diinginkannya adalah keamanan keluarganya dan membalaskan dendam ayahnya. Apakah Dante akan mendapatkan kedua keinginannya itu?