
“Oh, benarkah sayang?” goda Bella lagi pada Alex yang dijawab anak itu dengan anggukan kepalanya.
“Terimakasih Sarah, kau sudah menjaganya.”
“Tentu saja aku menjaga keponakanku!” ujar Sarah senang melihat senyum diwajah Bella.
“Dante memberitahumu?” tanya Bella yang kaget dengan ucapan adiknya.
Cepat-cepat Sarah menggelengkan kepalanya melihat Bella yang sudah kaget dan mengerling menatapnya. “Bukan! Dante tidak memberitahuku apapun.Aku hanya mencoba mencari tahu saja sendiri. Dan aku menarik benang merahnya, ternyata kau memang benar-benar memiliki kemiripan sikap dengan Alex! Aku memngetahui itu dan aku melihat senyummu di Alex! Meskipun sorot matanya sama seperti Dante.” jawab Sarah menjelaskan.
“Hahahaha….kau pintar sekali Sarah! Kau meneliti sampai sejauh itu.”
“Semua itu karena rasa penasaranku! Alex sangat menyayangimu dan Dante juga sepertinya terganggu denganmu! Aku beberapa kali bicara dengannya tentanmu.”
“Tunggu! Apa amksudmu bilang Dante terganggu denganku, Sarah?” tanya Bella mengeryitkan dahi.
“Hmmm….dia terus mencarimu! Setiap kali membicarakan tentangmu matanya terlihat bergoyang, aku bisa melihat dimatanya ada rindu, ada rasa khaawatir dan dia ingin kau Bella! Hheheehe!” celetuk Sarah terdengar santai saat dia menceritakan pada Bella semua yang terjadi pada Dante selama dia tidak ada.
“Sekarang kau ikut-ikutan memanggilku juga dengan nama Bella?” Bella bertanya untuk menutupi rasa malunya pada adiknya Sarah.
‘Jadi Dante benar-benar memperdulikan aku saat aku tidak ada disisinya? Jadi dia juga merindukan aku seperti yang barusan dikatakan Sarah? Jadi sebenarnya dia suka padaku? Duh…..tapi sebelum aku pergi, sepertinya dia tidak peduli padaku. Aku bahkan mengemis terus padanya!’ bisiknya dalam hati.
“Nama itu bagus juga, kenapa kau tidak memberitahuku tentang nama itu?” goda Sarah.
“Karena aku tidak ingin kau memanggilku dengan nama itu! Bell? Nama itu bukan nama yang bagus.” ujarnya tak suka. ‘Siapa yang memanggil namaku seperti ibuku memanggilku dengan nama Belinda.’
Sebenarnya dia sangat merindukan ibunya setiap kali ada orang yang memanggilna dengan nama Belinda dan satu-satunya yang bisa memanggilnya seperti itu saat ini hanya Sarah.
__ADS_1
“Apakah mereka menyiksamu hari ini?”
“Maksudmu Dante?” tanya Bella pada Sarah yang langsung menganggukkan kepalanya.
Bella langsung menggelengkan kepalanya, “Aku tidak punya masalah dengan Dante! Dia tidak pernah berbuat apapun padaku dan aku tidak pernah merasa tersakiti olehnya.”
“Apa kau yakin dengan apa yang barusan kau katakan itu?”
“Iya! Memangnya kenapa?” tanya Bella.
“Aku selalu melihat kalau Dante selalu merasa bersalah setiap kali dia memikirkanmu.” ucap Sarah dengan jujur yang membuat Bella tersenyum.
‘Jadi Dante merasa bersalah karena menyiksaku didalam ruangan gelap itu? Apa mungkin dia hanya melampiaskan kemarahannya saja? Tapi kenapa kemarahannya sangat menakutkan begitu?’ gumam hati Bella yang merasa bingung saat mendengar perkataan adiknya tapi dia merasa bahagia didalam hatinya. Soal perasaan memang Bella tidak pernah terbuka pada Sarah dan lebih cenderung menyimpannya sendiri.
Sangat berbeda dengan yang dilakukannya dengan Dante, dia selalu terbuka padanya tentang segala hal. Bella tak pernah menutupi apapun dari Dante, jangankan terbuka dalam bercerita dalam hal tubuhnya pun dia selalu terbuka pada pria itu. Dia selalu mengatakan semuanya apa adanya,apa yang dirasakannya dan apa yang diinginkannya.
“Belinda, apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Sarah saat melihat kakaknya hanya diam saja tak meresponnya.
“Maksudmu kenapa aku ikut kesini?”
“Hmmmm!” Bella langsung mengangguk.
“Itu semua karena Dante! Dia menyuruhku ikut dan katanya nanti dia akan mempertemukan aku denganmu. Sekalian dia minta aku menjaga Alex! Tadinya aku mau ke sekolahku saja belajar karena sejak aku bersamanya, aku tidak diizinkan belajar dan kembali ke sekolah. Katanya aku harus ikut dia dulu dan nanti membicarakan tentang sekolah denganmu.” jawab Sarah menjelaskan.
“Coba nanti aku akan bicarakan ini dengan Dante. Sarah, apakah kau ingin kembali ke Indonesia? Aku akan tanya pada Dante apa dia bisa mengirimmu kembali ke Indonesia ya?”
“Eehh! Tidak usah! Aku mau tetap disini saja denganmu. Kalau disini ada sekolah, aku mau kembali ke sekolah yang disini saja Belinda! Aku tidak mau jauh-jauh darimu!” modus Sarah agar dia bisa tetap berada dekat dengan Barack dengan alasan ingin dekat dengan kakaknya.
__ADS_1
‘Kalungku terus saja berpendar! Aku tahu Barack berada disekitar sini. Tapi kapan aku bisa bertemu dengannya? Fuuhh!’ gumamnya didalam hati.
“Aku juga berpikir begitu. Aku tidak ingin kau kembali ke Indonesia karena aku juga tidak mau jauh darimu Sarah. Aku mau kita selalu tetap bersama.”
Sejujurnya Bella sangat senang sekali mendengar ucapan Sarah tadi sehingga dia mengatakan itu. Setidaknya, kalau adiknya ada disana dia tidak akan merasa kesepian.
Lagipula Sarah bisa membantunya menemani Alex kalau dia sedang tidak bisa menemani anaknya. Apalagi sekarang dia sedang mengandung, keberadaan Sarah akan sangat membantunya.
“Belinda! Kemarin itu dia mengusir istrinya! Itu artinya kau akan tinggal disini dan hidup bersama dengan pria itu? Apakah kau akan menggantikan posisi istrinya?”
“Hei, kalian berdua kenapa bicaranya hanya berdua saja? Kalian bicara apa? Aku tidak mengerti apa yang kalian katakan.” protes Alex yang merasa diacuhkan oleh kedua wanita itu yang berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang tidak dimengerti oleh Alex.
“Maafkan kami Alex! Tadi itu kami membicarakan masalah orang dewasa. Bukan berarti kami melupakanmu ya.” Sarah mencoba membujuk Alex yang sudah memasang wajah cemberut.
Dia mencoba mengelus lembut kepala anak itu yang mengerucutkan bibirnya sehingga dia terlihat semakin menggemaskan saat merajuk seperti itu.
‘Ssshhh! Kalau Alex sudah merajuk begini aku ingat ekspresi daddy-nya. Dante sama sekali berbeda dengan Alex sebenarnya! Pria itu tidak pernah merajuk tapi ya begitu dia marah dia akan menunjukkan ekspresi wajah seperti itu padaku. Hihihi! Bisik Bella didalam hati.
“Tadi kalian bilang tentang Indonesia?” tanya Alex. Dia tadi sempat mendengar Bella dan Sarah yang menggunakan bahasa Indonesia sehingga dia tidak paham dan mereka menyebut-yebut Indonesia yang menyebabkan anak itu merasa khawatir akan ditinggal lagi oleh Bella. Itulah alasannya dia merajuk.
“Indonesia? Ah, aku tidak kemana-mana. Aku hanya ingin bermain kereta denganmu Alex. Nanti aku akan menemanimu tidur, oke?” ujar Bella lagi membujuk anaknya.
“Benarkah?” mata anak itu langsung berbinar.
“Hmmm! Ayo main.” jawab bella tersenyum.
“Ayo!” ucap Alex. Bella pun duduk diatas karpet bersama dengan Alex, membuka rel kereta apinya dan mulai memasang membuat Alex semakin antusias.
__ADS_1
“Bella,apa kita akan membuat jalur keretanya juga?” tanya Alex
“Hmmm. Ayo Alex! Kita harus cepat buat jalurnya sekarang.” ujar Bella sama bersemangatnya seperti Alex.