PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 356. BUNYI ALARM


__ADS_3

“Ah sudahlah. Aku masih punya banyak urusan lain!” Dante lalu menyalakan mobilnya dan hendak menginjak pedal gas. Tapi…….titttttittitiiitititttt


“Pfff!”


Dante memutar bola matanya. “Kau tidak menginginkan aku pergi dari tempat ini bukan?” kedua tangannya sudah mengeapl menahan kekesalan sambil memukul kemudinya.’’


“Baiklah kalau kau tidak mengingingkan aku pergi dari tempat ini bukan?” ucapnya lirih. “Baiklah kalau memang itu maumu! Aku akan menunggu disini sampai kau melakukan apa yang kau inginkan!” ujar Dante yang masih berada didalam mobilnya dan belum melangkahkan kaki keluar.


Dia hanya memperhatikan lingkungan sekitarnya sambil menunggu kejutan apa yang akan menantinya. “Sudah lima menit aku menunggu tapi kau belum juga keluar! Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku? Menyuruhku keluar dari mobilku? Aku tidak akan melakukan itu! Apalagi aku belum melihat siapa dirimu! Walaupun kemungkinan terbesar itu adalah Barack, tapi mari kita tunggu saja benarkah itu Barack?”


Tititititititit


“Hei! Apa-apaan kau? Ingin membuat telingaku tuli. Hah?” ucap Dante yang sudah mengomel kesal karena bunyi alarm jam tangannya tidak bisa diajak kompromi padahal dia sudah ada disana tapi tetap saja berbuyi. “Dia benar-benar ingin aku keluar bukan?” suara itu sangat mengganggu telinga Dante.


“Untung aku masih membawa headset!” ucapnya menutup tetlinganya dan membiarkan jam tangan yang  terus saja berbunyi tanpa henti. “Apa yang kau inginkan Barack? Kau ada disini bukan? Hanya kau saja yang tahu tentang masalah ini di jantungku! Dan kau juga tahu apa hubungannya jam tangan ini dengan benda di jantung!”


“Dan dia masih saja terus berbunyi! Apa sebaiknya aku keluar saja ya?” Dante bertanya pada dirinya sendiri sambil mengelus janggutnya.


Tititititititti


Lagi-lagi bunyi itu mengganggu Dante. “Oke! Baiklah kalau memang itu maumu. Dante tak berllama-lama lagi. Wuuuuzzzzzz……..ttiiiitttttttttttt


Dia pun menginjak pedal gasnya dalam-dalam emninggalkan tempat itu. “Aku sudah menunggumu tapi kau tidak datang. Aku adlaah tamu undangan seharusnya kau yang menjemputku dengan membukakan pintu bukan menyuruhku keluar sendiri!” Dante sudah tak peduli lagi dengan bunyi yang ada di jam tangannya, dia tetap melajukan mobilnya.

__ADS_1


“Oh tidak!”


CIIIIITTTTT


BRAAAKKK


DUGG.....mobil yand dikendarai Dante terpeleset. Entah kenapa jalanan itu licin.


“Ssshhhh keningku!” Dante mengelus keningnya sendiri sambil meringis. ‘Ah ada sedikit darah di pelipisku! Tapi tidak masalah, yang penting aku baik-baik saja!’ gumamnya.


Tiiiiiiiittttt………


Disaat bersamaan suara jam itu memang tak henti-henti terus saja berbunyi seperti ada orang menggangu program disana.


Mobil itu memiliki jeruji-jeruji yang bisa dikelaurakan di bagian belakang mobi; dan bagian depannya,ada tali pengait yang terhubung dengan tangan besi kuat sehingga apabila terjadi selip dan jalanan licin bisa mengeluarkan jurus jitu untuk menahan dan mencengkeram aspal supaya mobil tidak terpelanting.


“Siapa yang menumpahkan oli sebanyak ini dijalan?” kesal Dante tapi dia masih tidak mau turun dari mobilnya. Dia mencoba bermanuver dengan mobilnya dan meninggalkan daerah yang banyak tumpahan oli itu. “Bagus! Disini saja aku parkir.”


Karena sudah tak tahan lagi akhirnya Dante pun keluar dari mobilnya dan berniat untuk menghadapi langsung orang yang menyerangnya. Dante membuka pintu mobilnya dengan kasar sambil berkacak pinggang menunggu kedatangan seseorang menghampirinya.


“Dua puluh meter oli itu disebarkan dan ini malam hari, jadi tidak terlihat! Ssshhhh! Andaikan terpelanting dan ada percikan api, habislah aku.” oceh Dante. ‘Sepertinya orang itu tahu kalau tempat ini jarang dijamah oleh mobil lainnya sehingga dia melakukannya disini?’


Semakin kesallah hati Dante, dia sedikit meringis tapi tetap berusaha untuk menahan mimik wajahnya supaya tidak terlihat lemah. Dante masih terlihat dingin dan cukup mengerikan.

__ADS_1


“Aku sudah memperingatkanmu dengan bunyi itu! Tapi kau tak mau mendengarnya dan tidak mau berhenti.”  ada suara seseorang terdengar.


Mendengar ada orang lain disana yang sedang berbicara, Dante segera menoleh untuk melihat orang itu. “Oh, disana rupanya kau bersmebunyi?” tanya Dante.


“Hmmm!” jawab pria itu tanpa senyum menatap Dante. ‘Aku tidak mengenalnya tapi sepertinya dia mengenalku. Oke baiklah kalau memang dia mau begini, aku akan turuti keinginannya!’ gumam Dante lagi sambil melipat tangannya bersidekap.


Dia menatap pria yang ada dihadapannya yang sedang menodongkan senjata pada Dante. “Apa yang kau inginkan dariku?” ucap Dante dengan suara tenang. ‘Aku mengerti psikolgis dari setiap orang yang memegang senjata. Pria ini menodongkan senjata tapi dia tidak hati-hati. Hanya cara dia memegang senjata itu aku tahu dia adalah orang yang profesioanl.’


‘Dia terlalu dekat denganku dan aku bisa saja menyerang dan merebut senjatanya! Gegabah sekali! Mau apa dia? Mengujiku?’ Dante masih memperhitungkan kecakapan orang yang ada dihadapannya walaupun padangan matanya menatap lurus pada orang itu tapi dia sudah memeprhatikan seluruh gerak-geriknya.


‘Ssshhhhh senjatanya cuma ada satu saja. Hanya yang ada ditangannya. dia tidak punya senjata lain, tapi mungkin dia punya pisau. Tapi aku tidak bisa melihat dimana dia menyembunyikan pisaunya! Habislah dia kalau aku merebut senjatanya itu!’


“Kau tidak bersenjata? Aku tahu kau juga tidak memakai rompi anti peluru! Saat aku mengarahkan senjataku ini ke jantungmu maka selesailah hidupmu!” pria itu mencoba mengancam dan menakut-nakuti Dante.


“Memang! Lalu kenapa kalau aku tidak ada senjata dan tidak memakai rompi anti peluru?” Dante balik bertanya sambil menatap orang dihadapannya.


“Tidak perlu! Aku tidak datang menemuimu untuk itu! Ah...aku juga tidak akan merusak jam tanganmu! Sudah cukup kan berisik tadi? Apa itu tidak membuatmu tuli?” ujar pria itu teesenyum tipis.


“Jangan banyak bicara denganku! Apa maumu?” Dante sudah tidak peduli pertanyaan yang diajukan orang itu. Dia hanya mau mengerjakan hal yang penting-penting saja tanpa banyak bicara. Dia masih menunggu sampai pria itu mengatakan sesuatu lagi padanya.


“Dante Sebastian!” dia memanggilnya dengan nama lengkap dan tersenyum. Dante hanya mengeryitkan dahinya menatap orang itu. Dia tak paham apa maksud pria dihadapannya itu.


Dia tampak bersikap tenang dan tak takut, tak ada rasa khawatir sama sekali dengan peluru yang ada didalam senjata orang itu.

__ADS_1


“Apa yang mau kau katakan? Aku sarankan kau tak perlu terlalu dekat denganku seperti ini! Kau tahu senjata yang kau gunakan itu bisa aku rebut kapanpun aku mau!” ucap Dante agak sedikti sombong karena memang kemampuannya luar biasa dalam bertarung.


__ADS_2