
‘Piano ini sungguh menggangguku.’ bisik hatinya meskipun saat ini Dante duduk bersama dengan anaknya yang memainkan lagu kesukaan Alex, tapi tetap saja hatinya melayang pada Bella. ‘Andai aku mempercayaimu dan aku tidak menghukummu sekeras itu, kau tidak akan diculik dan saat ini kau masih ada disampingku.’ ujar hatinya.
Perasaannya menjadi tidak tenang apalagi dentingan musik piano ‘Aku tidak memainkan alunan melodi yangs ama seperti yang kau mainkan tapi kenapa rasanya aku seperti melihatmu memainkan piano? Bella, bukankah kau ingin menjadi pianis? Aku ingin membantumu meraih cita-citamu. Tapi kenapa kau meninggalkanku?’
Dante benar-benar merasa tersiksa batinnya dengan pikirannya sendiri. Semua kata-kata Bella terasa terulang kembali ditelinganya. Bahkan kini dia seakan mendengar ulang semua percapakannya dengan Bella. Hal ini membuat Dante tidak sanggup lagi melihat tuts piano, dia memilih merubah pandangan matanya ke arah lain,
DREEEENG
Sesak hati Dante sehingga dia bukannya memencet tuts sesuai iramanya tapi dia justru menaruh semua jari tangannya memencet tuts piano dan tidak sesuai dengan syair lagunya, pandangan Dante fokus pada satu tempat.
“Daddy, kenapa mainan pianonya begitu?” Alex protes.
“Maaf Alex! Aku melihat sesuatu! Aku harus mengambilnya dulu ya.” jawab Dante sambil menatap Alex lalu dia memalingkan wajahnya pada sesuatu yang menarik perhatiannya.
“Tempat ini selalu bersih dan tidak mungkin ada sesuatu yang seperti itu disana! Mereka selalu membersihkan ini. Aku rasa jika seandainya itu ada, seharusnya tidak berada disana tapi seharusnya berada dilantai! Apa yang dilakukannya disana?” Dante berpikir ketika dia melihat sesuatu yang dari tadi menarik perhatiannya.
“Daddy!” panggil Alex.
“Sebentar Alex!”
Dante lalu meraih ponsel disakunya dan menghubungi Henry. “Panggil ahli forensik yang aku miliki! Suruh mereka datang sekarang ke ruang latihan piano Alex!” perintah Dante.
“Baik Tuan. Akan saya panggilkan mereka sekarang.” jawab Henry.
Dante memiliki pekerja ahli sendiri di mansionnya karena dia tidak mungkin membawa sebuah kasus ke kantor polisi jadi dia membuat sendiri kerajaannya disana.
“Daddy, apa yang kau lihat?” tanya Alex saat dia melihat ayahnya sedang memperhatikan sesuatu.
“Sesuatu yang harus diambil tim forensik! Kita tidak boleh menyentuhnya karena itu adalah bukti kejahatan!” ujar Dante lagi menjelaskan pada putranya sambil tetap tersenyum.
“Jadi aku tidak boleh pegang apa-apa?” tanya Alex polos.
“Iya!” jawab Dante mengangguk. ‘tempat lain boleh tapi tempat bukti kejahatan kau tidak boleh memegangnya ya. Biarkan tim forensik melakukannya Alex!”
“Oh!” Alex mengangguk. “Memang ada kejahatannya dimana daddy?” tanya Alex lagi.
“Kau cerewet sekali Alex!” Dante tertawa kecil, “Diruangan ini ada kejahatan kemarin dan sekarang aku sedang menelitinya.” ujar Dante terkekeh melihat anaknya. ‘Cerewetnya Alex persis sama seperti Bella. Wanita itu juga banyak bicara, akan selalu bertanya.’
“Oh begitu!” hanya itu jawaban dari Alex yang terlihat seperti orang dewasa, dia seperti sangat mengerti apa yang diucapkan oleh Dante.
__ADS_1
“Alex mengerti?”
“Nggak!” ucap Alex jujur dari bibirnya membuat Dante tersenyum melihat tingkah anaknya.
“Kau masih kecil Alex. Nanti aku akan mengajarimu.”
“Benarkah daddy?”
“Hem!” Dante menanggukkan kepala dan jari kelingkingnya yang sudah siap untuk pinky promise disiapkan oelh Dante.”Tentu saja sayang! Aku akan mengajarimu banyak hal, semua yang ingin kau pelajari.”
“Apa kau akan mengajariku sepertimu daddy?”
Dante menggelengkan kepalanya.”Aku tidak akan emngajarimu itu Alex! Tapi aku mau kau jadi sesuatu yang sangat kau sukai, yang akan membuatmu hidup lebih berwarna dan tidak hidup sepertiku. Kau bisa mengejar cita-citamu Alex!”
“Cita-citaku apa?” tanya Alex mengerjapkan matanya.
Sebelum dante sempat menjawab pertanyaan anaknya, pintu sudah diketuk. “Masuk!”
Dante pun tak jadi menjelaskan apapun pada anaknya, justru dia menengok pada pintu yang terbuka.
“Permisi, Tuan! Apa yang harus kami periksa?” tanya tim forensik.
“Kemari mendekatlah padaku.” perintah Dante yang masih duduk dikursi piano bersama dengan Alex.
“Tolong kalian ambil sidik jari yang ada diatas piano itu!” Dante menunjuk dengan jari telunjuknya akrena piano itu berwarna hitam dan permukaannya itu bersih tapi karena ada bekas pegangan tangan maka Dante pun bisa melihat bekasnya di piano.
Di tambah lagi ada sesuatu yang membuatnya kini tersenyum tipis.
“Baik Tuan. Saya akan melihatnya.” jawab tim forensik.
“Dan satu lagi!” Dante menambahkan.
“Iya Tuan?”
“Kau lihat disana ada rambut?”
Mereka pun melihat kearah yang ditunjuk oleh Dante.
“Iya Tuan.”
__ADS_1
“Aku mau kau ambil rambut itu, jadikan bahan bukti. Kalau bisa menggunakan itu untuk sampel pengujian DNA dan cari tahu siapa pemilik rambut itu.”
“Ah yang ada diatas piano itu Tuan?”
Dante tak banyak bicara lagi, dia hanya menatap orang itu.
“Baiklah Tuan! Saya akan segera mengambil sampelnya.” Dia langsung bicara dengan anak buahnya dan bekerja sedangkan Dante menengok Alex.
“Kita duduk di sofa saja Alex, tempat ini akan diperiksa oleh mereka.”
“Iya daddy!”
Alex mengulurkan tangannya dan membiarkan ayahnya menggendongnya. ‘Aku bisa tahu sekarang lebih jelas apa yang terjadi diruangan ini. Letak tangan disana dan apa saja yang dilakukannya. Belinda! Kalau dia menggoda harusnya kau jangan mau! Kau juga salah kalau begini apalagi sampai ada diatas piano?’ ujar hati.
Dante yang masih merasa penasaran dengan penemuannya. Dante sebenarnya sudah percaya dengan Alex tapi Dante ingin mendapatkan bukti lebih akurat sehingga dia memperhatikan detail pengambilan sampel tak ingin ada yang terlewatkan.
“Coba kau ambil kancing baju yang ada disana!” ucap Dante menunjuk sesuatu di karpet berbulut.
“Baik, Tuan!”
“Bahkan kancing bajunya copot disana? Cih! Seberapa bergairah sih kau!” Dante semakin kesal tapi dia berusaha menahannya.
“Tuan, sepertinya ada noda darah yang sudah mengering juga disini.”
Dante langsung menyipitkan matanya dan mendekat pada tempat yang dituju.
“Kenapa bisa ada darah dibawah piano sini? Issss….kau membuatku semakin kesal Belinda!” Dante semakin geram, pikirannya sudah membayangkan yang bukan-bukan.
“Ambil sampel darahnya juga! Cek kesamaan DNA dengan rambut itu!” perintah Dante lagi dengan wajahnya yang sudah tambah muram.
“Sudah Tuan! Semuanya sudah kami ambil!” jawab tim forensik setelah memasukkan semua sampel untuk diteliti di laboratorium.
“Bagus!”
“Kami permisi Tuan!” karena tak ada lagi yang ingin dibicarakan, mereka pun pamit.
“Apa yang mereka ambil disini, daddy?” tanya Alex.
“Yang harus kita teliti Alex! Sesuatu yang mungkin membuatku tidak harus merasa bersalah.” ucap Dante lagi bicara sekenanya walaupun anaknya juga tak paham apa maksud perkataannya. ‘Jika aku mengikuti ucapan Alex, maka aku akan mengatakan bahwa dia tidak bersalah! Semua ini hanya jebakan tapi aku tetap ingin melihat buktinya. Walaupun mungkin ini akan menyakitkan bagiku saat aku tahu kalau dia menyerahkan dirinya pada Lorenzo.” Dante membuat keputusan dalam hatinya.
__ADS_1
“Daddy?” Alex memanggil ayahnya karena pria itu tak fokus padanya.
“Ayo main lagi daddy!”