PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 34. JULIAN DIBUNUH


__ADS_3

‘Sepertinya aku harus bisa mengendalikan diriku. Mereka berdua adalah keluargaku yang sebenarnya tapi aku berjanji akan memberikan kehidupan yang baik untuk wanitaku! Mungkin suatu hari nanti aku akan membebaskannya dengan kondisi yang aman tidak seperti dulu saat aku terlalu terburu-buru membebaskannya. Kali ini aku tidak akan membiarkan hidupnya hancur lagi, aku pastikan dia akan hidup dengan baik dan bahagia.’ ujar Dante dalam hatinya.


Sejujurnya dia tidak ikhlas saat memikirkan itu, tapi dia tetap mengatakan pada dirinya dengan niat yang dia sendiri tak pahami.


“Ayo kita masuk kedalam. Tidurkan Alex!” ucap Tatiana. Dante pun setuju lalu mereka berdua masuk bersama dengan Alex yang masih tidur didekapan Dante.


“Jika kau ingin pergi, maka pergilah sekarang supaya kau tidak  pulang larut malam.” kata Tatiana.


“Apa kau tidak keberatan menjaga Alex?”


“Dante! Aku sudah bilang padamu kalau dia anakku, berarti kau tidak perlu bertanya lagi soal itu. Tidak seorang ibu yang keberatan untuk menjaga anaknya.”


Hati Dante pun merasa lega dan tersenyum puas. “Aku berangkat, sayang.”


“Hati-hati dijalan Dante!”


“Jaga kesehatanmu dan istirahatlah, jangan terlalu lelah.”


Tatiana mengangguk dan melambaikan tangannya dari pintu kamar Alex karena Dante tidak mengijinkannya untuk mengantarnya kebawah.


“Maafkan aku Tatiana, aku harus meninggalkanmu dan mengurus sesuatu hal yang tertunda disini.” ujar Dante yang sejenak melupakan masalah perasaannya untuk membuat dirinya fokus pada pekerjaan dan sesuatu yang memang harus dia lakukan.


“Anda mau pakai supir, Tuan?”


“Tidak perlu!” jawab Dante. Dia memang sering mengandalkan GPS daripada menggunakan supir. Hanya dalam keadaan tertentu saja dia akan menggunakan supir.


‘Aku sudah meninggalkannya terlalu lama. Tapi aku harus membuat perhitungan dulu dengan seseorang sebelum menemuinya. Issss…..semoga tidak terjadi sesuatu padanya. Aku bahkan belum sempat melihat cctv.’ Dante merasa cemas saat berkendara tapi dia tetap berusaha mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal hingga dia tiba ditempat yang sejak tadi ingin dia datangi.


Klek!


Suara pintu dibuka...


“Hei akhirnya kau datang juga Dante!” sapa Eddie yang baru saja keluar dari villa. Dia sengaja menyambut Dante karena dia sudah memberitahu penjaga untuk mengabari jika Dante sudah datang.


“Mana dia?” tanya Dante setelah beberapa menit berlalu.


“Ada didalam.”


“Cepat antarkan aku kesana. Aku tidak punya banyak waktu.”


“Hei kenapa kita harus berkumpul ditempat ini?”


“Hans kau membawa pesananku?” dia tidak menjawab pertanyaan Eddie malah menanyakan hal yang menurutnya lebih penting.


“Ya, ini.”

__ADS_1


Dante mengambil amplop dari tangan Barack termasuk plastik berisi obat yang diberikannya.


“Apa itu?” tanya Eddie.


“Apa kau serius berhubungan dengan wanita itu, Dante?”


“Kau sudah mengecek kebenaran hasilnya?” tanya Dante tidak menjawab justru bertanya balik pada Hans.


“Ya. Aku sendiri yang datang menemuinya dan aku memintanya untuk memberikan urin juga. Aku mengambil sampel darahnya dan membawanya ke lab, aku bahkan menunggu saat mereka mengecek dan langsung mengambil hasilnya begitu selesai.”


“Siapa yang kau temui?” tanya Eddie penasaran.


“Kau tanya saja pada Dante.” jawab Hans.


“Hei kalian sudah berkumpul rupanya.” tak lama Barack pun tiba dan belum turun dari mobilnya.


“Aku meneleponmu sejak tadi. Kenapa kau tidak menjawab teleponku?”


“Aku sedang fokus menyetir makanya tidak menjawab teleponmu. Maafkan aku Barack.” lalu Barack menepuk bahunya dan menatap Dante.


“Aku sudah mengerjakan semua yang kau perintahkan.”


“Dimana Nick?’tanya Dante.


“Hans, mana pesananku yang satu lagi!” tanya Dante.


“Oh iya aku hampir lupa. Tunggu sebentar.” Hans langsung berlari ke mobilnya dan membuka bagasi.


“Berikan pada Barack.”


“Wooww buat apa ini Dante?” tanya Barack.


Dante hanya diam tak menjawab pertanyaan Barack, dia melirik jam tangannya. Setelah itu mereka pun pergi ketempat dimana Julian berada.


Klek…..suara pintu terbuka.


“Apa yang kau inginkan dariku? Kau sudah mendapatkan semua perjanjianmu.” teriak Julian ketika dia melihat Dante masuk kedalam ruangan.


“Tapi kau belum bertanggung jawab untuk ini!” ucap Dante menunjukkan amplop dan obat.


“Apa maksudmu? Apa yang kau inginkan lagi dariku?”


“Apa kau ingin kami mengurusnya?” tanya Nick menawarkan diri, dia yang sejak tadi menunggu didalam ruangan melirik kearah Dante dan melihat wajah pria itu dipenuhi kemarahan.


“Aku yang akan mengurusnya sendiri! Dia telah meracuni diriku!”

__ADS_1


Kelima orang temannya tidak percaya mendengar ucapannya.


“Hah?” Barack kaget mendengar ucapan Dante tapi dia langsung menutup mulutnya ketika Nick dan Hans memelototinya.


“Baiklah kalau itu maumu.” Nick kembali duduk disofa sedangkan Dante memilih berjalan menghampiri Julian yang sudah ketakutan.


“Berapa harga obat ini?” tanya Dante.


“Lima puluh ribu satu butir.” jawab Hans karena Dante melirik kearahnya.


“Berapa kau jual padanya?” tanya Dante menatap tajam Julian.


“Aku tidak tahu!”


Bug! Bug!


Tanpa basa basi Dante memukul Julian. Wajah Julian yang sudah babak belur pun tak membuat Dante memelankan pukulannya, justru dia meninjunya lebih keras lagi.


“Berapa hutang orang tuanya?” tanya Dante lagi.


“Banyak! Sangat banyak karena bunganya besar.” jawab Julian dengan suara bergetar.


Bug!  Bug!


Kembali Dante mendaratkan pukulan, kali ini suasana hatinya bertambah buruk, bahkan tak ada seorang pun temannya yang berani mendekat.


“Kalian sudah menumpang hidup darinya, kalian juga menyiksanya! Kau masih berani menyombongkan diri dihadapanku, ha?”


“Hans! Urus yang tadi kau bawa!”


“Berikan padaku!” Hans mengambil yang tadi dibawa oleh Barack dan langsung ditancapkan ke saklar lalu mendekat pada Dante dan menaruh alat itu di lantai.


“Aku tidak tahu kalau wanita itu penting bagimu.” kata Julian.


Bug! Bug! Bug!


“Siapa yang mengijinkanmu untuk melakukan itu padany? Penting atau tidak wanita itu bagiku tapi kau harus membayar semuanya! Kau sudah memberikannya padaku sebagai jaminan hutang dan kau menipuku dengan memberikan jaminan yang sudah rusak! Jaminan yang ketakutan setiap malam! Jaminan yang memiliki trauma! Kau sudah menipuku karena kau tidak mengatakan padaku kalau kau memberi pil ini padanya untuk bertahan setiap hari! Kau pikir aku melakukan ini karena wanita itu penting?” teriak Dante lalu berhenti sejenak dan kembali menghajar Julian.


“Aku melakukan ini karena kau telah mencurangiku! Kau harus membayar semuanya! Berani sekali kau! Bahkan kau juga hampir mencuranginya, kau ingin mengambil adiknya dan menjualnya. Bukankah begitu rencanamu?” kembali Dante menjadikan Julian samsak dan memukulinya.


“Dante hentikan! Dia bisa mati kalau terus kau pukuli!” Nick mendekat pada Dante lalu berbisik karena sejak tadi dia melihat Dante selalu marah-marah.


“Memang itu yang aku inginkan. Aku mau dia mati!” jawab Dante yang sontak membuat Nick mengerjapkan mata dan bergidik ngeri.


“Mungkinkah Dante bisa melakukan hal itu?” tanya Barack sambil menyikut Hans.

__ADS_1


__ADS_2