PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 308. TIDUR BERSAMA


__ADS_3

“Nah, bagus begini. Tidurlah Belinda Alexandra! Kau juga sudah kelelahan. Aku tidak ingin kau sakit. Nanti setelah kau bangun kita akan membuat sop ikan bersama-sama! Bukankah itu yang kau inginkan?” lagi-lagi Dante mengatakan kalimat menggoda itu lagi membuat Bella menganggukkan kepala tapi dia tidak membuka matanya lagi.


“Pintar sekali! Aku suka sekali kalau kau menurut begini Belinda. Aku suka kalau kau tidur dan setelah bangun nanti kau akan merasa lebih segar. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau lakukan bersamaku.” ucapan lembut itu membuat Bella menyunggingkan senyumnya. Dante terus mengulang kata-kata lembut itu hingga Bella benar-benar tertidur pulas.


“Belinda Alexandra?” panggil Dante tapi tak ada sahutan lagi karena orang yang dipanggilnya sudah tidur pulas dan tak mendengar panggilannya.


“Syukurlah kalau sudah tidur pulas.” dante tersenyum puas. “Kau memang berbeda Belinda! Aku harus memperlakukanmu berbeda, tidak sama seperti Tatiana. Kau juga tidak bisa diajak bicara seperti aku bicara dengan teman-temanku.”


Hati Dante kini merasa lega lalu dia mengecup kening wanita itu yang sejak tadi selalu saja bermanja-manja dengannya. Sentuhan tangan Dante sempat membuat Bella sedikit bergidik saat merasakannya tapi dia enggan untuk kembali pada dunia nyata. Matanya sudah menikmati tidur dan dunia mimpi.


“Aku tahu kau pasti sedikit terganggu karena ciumanku tadi. Itu adalah kecupan untuk membuatmu makin pulas lagi. Kau akan mimpi indah dan aku tidak akan melepaskan tanganku darimu. Selamat tidur Belinda Alexandra!”


“Akhirnya aku bisa tidur juga.” Dante merasa lega dan memejamkan matanya. Tangannya tetap memeluk Bella sesuai dengan janjinya tadi akan menemani wanita itu dan tidak akan melepaskannya.


Tidak butuh waktu lama untuk Dante tertidur pulas.  Dia sudah sangat kelelahan sehingga kurang dari dua menit, dia juga sudah menyusul Bella ke alam mimpi.


Akhirnya keduanya tertidur pulas. Bella yang dari semalaman juga tidak tidur karena pandangannya tertuju pada foto pernikahan Dante dan Tatiana yang membuatnya tidak mau menyentuh makanannya juga.


Dia tidak mengubah posisi duduknya dan tidak mengganti pakaiannya hanya diam disana hingga Dante datang. Dia merasa lelah menunggu Dante karena dia ingin bicara padanya.


Setelah tertidur cukup lama, Dante pun terbangun dan melihat kalau Bella masih tertidur pulas.  Lalu Dante melirik jam tangannya, “Fuuh! Lama sekali aku tertidur!” ucapnya tersenyum. “Memang aku kelelahan, satu bulan terakhir aku tidak tidur nyenyak dan dua hari kemarin aku tidak tidur juga.”


Dante memandang Bella, “Sepertinya kau juga punya maslaah tidur sama sepertiku! Tapi kau tidak menyadarinya. Lihatlah dirimu sekarang, kau bahkan tidur lebih lama dariku.”


“Aku tidak akan membangunkanmu. Sudah sembilan jam kau tidur. Istirahatlah dulu Belinda!” ucap Dante dan perlahan dia mengangkatlengannya lalu meletakkan kepala Bella keatas bantal.


‘Apakah seperti ini wajah Cassandra ketika dia besar? Sama seperti wajahmu?’ senyum Dante hilang lagi ketika dia memandang Bella. ‘Kalian berdua sama-sama tidak bisa menjaga sikap denganku. Kalian berdua sama-sama suka menggangguku!’ gumamnya didalam hati.

__ADS_1


Dante kembali mengamati wajah Bella sebelum dia meringis memegangi lengannya, “Sssh….pegal juga lenganku. Saat Cassandra masih kecil dia sering sekali tidur sepertimu di tanganku. Tapi selama aku menikah dengan Tatiana, dia tidak pernah tidur diatas tanganku.’ Dante tersenyum miris saat bayangan dua wanita itu kembali muncul.


“Entahlah! Aku selalu merasa Tatiana tidak terlalu suka kehangatan. Walaupun dia bilang padaku dia ingin dimanja tapi aku tidak bisa melihat kemanjaannya seperti aku melihat Cassandra yang manja padaku dan sekarang semua kemanjaan Cassandra kulihat pada dirimu Belinda. Sama persis!”


Hati Dante merasa tenang sekali ketika membayangkan itu.


“Terimakasih Belinda, aku seperti melihat gadis kecil itu hidup lagi ditubuhmu Belinda! Apa karena kalian kembar ya?” Dante bertanya-tanya lagi pada dirinya seniri sambil tersenyum. Tak bosan-bosan dia memandang Belinda walaupun dirinya hanya memandang saja tapi hatinya merasa puas dan damai.


“Isss….apa yang sedang aku lakukan? Padahal dengan Tatiana pun aku tidak pernah begini dulu. Ini sudah hampir dua puluh lima menit aku memandangi dia tidur. Hahaha! Aku tidak boleh mengganggunya.” Dante pun menurunkan kakinya daritempat tidur.


“Aisss….aku masih menggunakan sepatu saat aku tidur tadi.” Dante berdecak dan dia membuka perlahan sepatunya lalu berjalan menuju kamar mandi.


Dreeettttt dreeettttt dreeeettttt


Sebelum Dante masuk ke kamar mandi, ponselnya lebih dulu bergetar diatas nakas membuatnya membalikkan tubuh dan mengambil ponselnya secepat mungkin sebelum suara itu mengganggu tidur Bella.


“Ada apa kau meneleponku Eddie? Apa ada masalah?” tanya Dant sambil menjauh dari Bella.


“Kau sudah bertanya pada dokter yang merawatnya?”


“Iya sudah Dante! Tadi aku sudah bertanya pada dokter dan aku juga sudah mengecek latar belakang dokter yang merawat Omero! Semua data lengkapnya sudah kusimpan berikut nama anggota keluarganya termasuk keluarga jauhnya sesuai standar yang selalu kau terapkan untuk dokter-dokter yang berurusan denganmu!”


“Bagus Eddie! Jadi kau percaya pada dokter itu?”


“Tentu saja aku percaya! Menurutmu bagaimana? Apa perlu kita memindahkannya keruang perawatan?” tanya Eddie lagi untuk memastikan.


“Kalau memang itu yang terbaik, pindahkan saja! Tapi kalau bisa dibawa pulang lebih baik lagi. Katakan padaku kalau kau mau bawa pulang! Aku akan mengirimkan pasukan untuk mengawalnya.”

__ADS_1


“Jadi kau ingin merawatnya dirumah, Dante?”


“Kalau memungkin itu jauh lebih baik. Aku ingin merawatnya dirumah. Aku tidak mempercayai tempat lain kecuali mansionku!”


Semua teman-temannya juga sebenarnya tahu hal itu. Dante sulit sekali percaya pada orang lain. Baik dokter, pengacara, maskapai penerbangan dan banyak hal lainnya. Dante tidak mudah menerima kecuali dari rekomendari orang-orang yang sudah dekat dengannya.


“Aku paham. Aku akan mendiskusikan ini dengan Omero.”


“Oh iya. Apa masih ada yang mengikuti kalian disana?”


“Ya masih ada. Tapi dia tidak berani mendekat! Tadi dia hanya melihat saja mungkin mencariinfo sedang apa aku disini dan siapa yang aku tunggu.”


“Mungkin mereka akan menjebak mobilmu! Ada orang-orang mereka yang menunggu di parkiran Eddie! Berhati-hatilah.” ujar Dante memperingatkan temannya.


“Oh mereka itu Dante! Hahahaha!”


“Apa kau sudah membereskan mereka semua?”


“Belum.”


“Cih! Kalau kau tahu mereka menguntitmu sejak tadi kenapa kau belum membereskannya? Kenapa kau malah tertawa, heh? Apa kau ingin meremehkan mereka Ed?”


“Aku tidak berani Dante! Kau yang bilang kalau musuh sekecil apapun tidak boleh diremehkan bukan?” ujar Eddie.


“Lalu? Apa yang akan kau lakukan?”


“Aku sudah melihat pergerakan mereka didepan, aku juga sudah melihat pergerakan mereka didalam rumah sakit. Aku sudah siap siaga Dante! Aku sengaja membiarkan mereka mau apa dan kalau mereka menyerang baru aku akan menyerang, ini rumah sakit jangan sampai membuat kekacauan disini. Kau sendiri yang mengajariku untuk berhati-hati.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2