PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 492. APA KAU MASIH NORMAL?


__ADS_3

“Cih! Kau pikir aku suka sesama jenis? Gunakan otakmu kalau bicara Anthony! Aku masih menyukai wanita dan aku sudah punya istri dan dua anak!” balas Dante.


Dia tersenyum mendengar perkataan konyol adiknya itu. Sehingga membuat moodnya yang tadi khawatir pada Anthony menjadi tenang. Tidak seperti biasanya dia berteriak pada adiknya itu.


‘Aku berusaha berbaik hati padanya tapi kenapa dia kurang ajar sekali mengataiku begitu?’ celoteh Dante didalam hatinya.


“Ya aku hanya ingin menggunakan otakku dan aku ingin berpikir kalau kau tidak mungkin menyukaiku! Tapi caramu tadi bicara padaku lembut sekali, nah sekarang ini caramu bicars duah normal dan membuatku merasa nyaman untuk bekerjasama denganmu…hahahaha.”


Anthony diam sejenak sambil mengelus dagunya. “Tapi tetap saja perasaanku sedikit penasaran saat kau bertanya seperti tadi padaku! Ini tidak seperti kau yang biasanya Dante.”


‘Dasar anak bodoh! Aku sudah mengkhawatirkannya sampai jantungku mau copot ketika mendengar ledakan itu tepat didepanku. Dan aku tidak lagi menemukan jejeknya hanya melihat mobilnya yang terbakar membuatku frustasi.’ pikir Dante.


‘Dia sudah benar-benar membuatku stress tapi bisa-bisanya dia bicara seperti itu padaku? Mempermalukanku dan mengatai aku penyuka sesama jenis?’ keluh Dante lagi.


Dia berusaha menetralkan emosinya dengan menggenggam erat tangannya dan saat ini dia harus fokus karena Dante sedang menyetir. Dia masih terdiam ditempat setelah dia melihat isi mobil yang terbakar habis dan orang yang ada didalamnya gosong.


“Kita masih punya perjanjian karena itu aku khawatir sekali padamu. Apakah pernyataanku ini cukup untuk membuatmu yakin kalau pikiranmu itu salah besar?”


“Ah begitu rupanya! Kau tahu perjanjian kita sekarang sudah masuk ke dalam perangkap! Kini aku mulai pusing memikirkan jalan keluar dari masalah ini.” ucap Anthony.


“Apa maksudmu masuk dalam perangkap? Aku tidak paham Anthony!”


“Temanku Anna yang menyamar menjadi Bella sudah dibawa oleh orang Jeff. Dia baru saja dibawa oleh mereka dan ini yang membuatku frustasi!”


“Sekarang kau ada dimana?” tanya Dante.


“Apa kau melihat lorong dimana mobil yang terbakar itu?” Anthony menoleh ke belakang.


“Apa kau masuk kedalam lorong itu?” tanya Dante menghela napas panjang,


“Iya. Aku masuk ke lorong itu karena sudah tidak ada pilihan lagi kalau aku tetap mengemudikan mobilku lurus mengikuti jalur maka mobilku akan terbakar dan kami bisa mati terpanggang.”


“Ya sudah kalau begitu, aku akan mencoba menggeser mobil ini dan menuju kearahmu.”


“Ah tidak perlu Dante! Diujung lorong itu kau juga tidak bisa masuk karena ada sebuah truk besar yang baru saja menabrakku. Dan sekarang di pintu tembusan lorong ada mobilku yang menutupi akses jalan itu.”

__ADS_1


“Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?” tanya Dante lagi.


“Aku akan berjalan ke ujung lorong sana dan bertemu denganmu disana, Dante!”


“Tidak akan cukup waktunya. Aku sedang menghindari kejaran dari orang-orang federal.” Dante langsung menolak rencana Anthony karena dia sudah memperhitungkan apa yang terjadi da dirinya juga tidak mau terlihat dengan mobil yang dipakainya sekarang.


“Pasukan federal katamu? Mereka masih mengejarmu Dante? Biarkan aku saja yang menyuruh mereka untuk menghentikan pengejaran.” ucap Anthony lagi.


“Kalau kau menyuruh mereka melakukan itu aku rasa mereka tidak akan melakukannya karena mereka berada dibawah komando Robert Kane.” Dante pun mengatakan yang sebenarnya.


“Tapi aku berpangkat Mayor. Aku juga anaknya Robert Kane. Apa mereka tidak mempercayaiku?” ujar Anthony mencoba menyakinkan Dante.


“Hahahaha tidak perlu kau memberikanku pertanyaan bodoh seperti itu Anthony!”


“Apa maksudmu dengan pertanyaan bodoh? Aku hanya merasa penasaran saja apakah mereka memang tidak akan mendengarkan perkataanku?”


Anthony pun mengerutkan dahinya karena tidak ada respon dari Dante.


“Baiklah…..baiklah. Temanku Anna sudah diambil oleh Jeff dan aku tidak tahumenahu soal federal yang menyerangmu! Aku tidak menyuruh mereka menyerangmu. Kalau mereka sampai menyerangmu itu semuanya bukan atas perintahku!”


“Aku tahu soal itu, kau tidak perlu menjelaskan padaku. Sekarang aku harus mendapatkanmu.”


“Geser mobilmu. Kau bersama dengan temanmu bukan? Kalian bisa menggesernya bersama.”


“Akan kucoba.” balas Anthony.


“Kalau begitu aku akan kesana karena aku harus bertemu denganmu dan menunjukkan apa yang sedang kubawa bersamaku sekarang!” ucap Dante bersemangat.


“Memangnya kau membawa apa Dante?”


“Nanti kau akan tahu saat bertemu denganku. Aku akan bicara denganmu nanti.” Dante pun memutuskan panggilannya dan kembali turun dari mobilnya.


“Ada apa Tuan?”


“Kau turunlah untuk membantuku. Noel tetap dimobil dan jangan anggap remeh orang yang ada disebelahmu! Ingat baik-baik, jangan sampai dia lolos. Aku akan mengurus yang disini.”

__ADS_1


Dante pun mendekat kearah mobil dan berusaha untuk mendorongnya bersama anak buahnya. ‘Kurasa kalau mendorong kebelakang akan sulit tapi sebaiknya kucoba dulu.’ ucap Dante sendiri.


Dia berusaha meluruskan lagi posisi mobil yang tadi sudah menuju kearah lorong. Dante melakukannya dengan sisa-sisa tenaga sehingga posisi mobilnya kini lurus kearah jalan.


Dan untungnya jalan itu adalah jalan yang menurun sehingga dia lebih mudah untuk menggunakan mobilnya yang sudah hangus terbakar untuk menyusuri jalan.


“Agak sulit tapi setidaknya aku bisa melewati lorong itu sekarang.” sepuluh menit berlalu dan akhirnya Dante mendapatkan apa yang dia inginkan, jalan menuju ke lorong.


“Tuan apa kita akan masuk kedalam sana?” tanya Noel dan pria satunya lagi yang dijawab Dante dengan anggukan kepala.


“Ya, kita akan masuk kedalam lorong itu.” jawab Dante. Tanpa banyak bicara lagi dia pun melajukan mobilnya masuk kedalam lorong.


“Lorong ini sempit sekali tuan.” ucap anak buah Dante.


“Lorong ini sebenarnya bukanlah jalan pintas. Ini adalah tempat yang rawan sekali dengan longsor. Batu-batu disini tidak kuat dan sangat rapuh! Bisa saja kita yang lewat disini akan tertimbun kalau ada getaran yang membuatnya runtuh.” Dante menjelaskan dengan mengendari mobilnya dengan agak lambat karena dia tidak mau membuat getaran.


“Mengerikan sekali tuan.” bisik pria itu lagi menanggapi pernyataan Dante.


“Tapi adikku ada diujung lorong sana.” balas Dante.


“Jadi anda sudah menemukannya?” tanya Noel.


“Iya, aku sudah menemukannya dan aku akan membawanya pergi bersamaku sekarang.” sebenarnya Dante malas membahas ini tapi dia tidak ada cara untuk mendiamkan orang yang berada didalam karung yang sudah sangat geram mendengar perkataan Dante.


“Kemana anak buahku? Mereka masa belum sadar kalau aku tidak ada disana? Harusnya mereka sudah mulai mencariku.” pikir Robert Kane yang kini menahan rasa kesalnya karena dia tidak bisa menghubungi siapapun dalam kondisinya yang terikat. Dia sangat membutuhkan bantuan dari anak buahnya. Tentu saja dia seorang jenderal yang harus dilindungi.


Tapi kini dia sendirian dan dia tidak tahu kemana anak buahnya sehingga membuatnya terus-terusan mengumpat didalam hatinya.


“Kau jangan merasa menang dulu Dante! Peperangan ini belum selesai dan kau tidak tahu apa yang mau aku katakan nanti pada Anthony!” ucap Robert Kane mencoba memprovokasi Dante.


Mendengar itu bukannya membuat Dante kesal tapi dia malah tersenyum tipis. “Sebaiknya kau mendengarkan semua rekaman ini.” balas Dante.


“Kau merekam pembicaraanku?”


“Ya! Itu kulakukan untuk menghemat waktuku! Aku juga sudah izin untuk merekam. Aku tidak punya banyak waktu tentang ini makanya aku merekamnya. Karena aku tahu kau tidak mungkin berkata jujur pada Anthony nanti.”

__ADS_1


“Dante Sebastian! Kau benar-benar licik seperti ayahmu!” teriak Robert Kane marah.


“Lebih licik mana ayahku atau kau yang sudah membunuhnya? Seorang teman yang melakukan perbuatan buruk kepada sahabatnya sendiri?” ucap Dante yang membuat Robert Kane terdiam karena perkataan itu membuat hatinya semakin dongkol.


__ADS_2