PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 447. AKU PERCAYA PADAMU


__ADS_3

Dante tersenyum puas, ‘Ini yang aku harapkan! Dia tadi seperti ketakutan dan itu justru bahaya bagi kami. Kami tidak akan bisa menggunakan kekuatan secara maksimal!’ celetuk Dante lagi didalam hatinya yang merasa senang karena rencananya berhasil.


‘Noel bukan orang yang bodoh! Dia cukup pinta dan aku melihat bagaimana ketenangan Henry saat Noel membawa alat-alat ke mobil. Dia tidak protes dan tidak terlihat khawatir. Aku yakin sekali Noel sudah paham tentang misi ini.’


 


Sebenarnya memang tidak sulit untuk memberitahu Noel apalagi dia memang punya keahlian dibidang militer juga. Hanya saja dia tidak mempunyai rasa percaya diri yang kuat.


“Terima kasih untuk menyemangatiku, Dante.” ucapnya.


“Noel, matikan lampunya. Sebentar lagi kita sudah memasuki wilayah sekitaran penjara.” kata Dante dan Noel pun langsung melakukan apa yang diperintahkan Dante.


 


“Di depan sana kita tempatnya kita harus berhenti kan?” tanya Noel.


Dante mengangguk dan mengedarkan pandangan keluar untuk memastikan keadaan.


“Iya kau benar! Kita akan berhenti disana dan kita akan menunggu sampai suasana memungkinkan untuk memanjat pagar penjara.” kata Dante.


 


“Tapi bagaiamana caranya kita melakukan itu Dante? Kau lihatlah penjagaan disana. Sepertinya kecil kemungkinan kita bisa masuk dengan mudah.” Noel terlihat agak cemas.


“Aku tahu!” Dante tersenyum sambil melihat kearah jam tangannya.


“Apa yang akan kita lakukan? Bagaimana caranya kita masuk kesana?” cecar Noel karena dia belum mendapatkan jawaban dari Dante.


 


“Kalau jalanlah kesebelah kanan. Disana ada tempat untuk memarkirkan mobil.” ucap Dante sembari menunjuk dengan dagunya kesuatu arah.


Noel pun melirik kearah yang ditunjukkan Dante.


“Jadi kita akan masuk kedalam tanpa mobil dan hanya dengan senjata seadanya saja?”


Dante melirik Noel dan kembali berusaha menyakinkan Noel dengan tatapannya. “Apa kau percaya padaku? Kalau kau tidak percaya, lebih baik kita kembali saja dan lupakan misi ini.” jawab Dante.


 


Noel pun mengangguk lagi karena dia merasa takut dan terintimidasi. “Kalau saya tidak percaya pada anda, saya tidak akan berada disini. Saya akan memilih kembali pada pekerjaan saya sebelumnya.”


“Kalau begitu bersabarlah! Kita hanya tinggal menunggu waktu yang tepat supaya bisa masuk kedalam sana tanpa dicurigai dan aman untuk beraksi!” kata Dante.


 

__ADS_1


“Ehm, kita akan masuk kedalam sana?”


Dante mengangguk dan melirik Noel. ‘Kita akan masuk kedalam sana tapi aku harus memastikan dulu, jangan sampai kita masuk dan tidak bisa keluar lagi nanti! Bella, Alex, aku masih ingin bertemu dengan kalian dan aku tidak akan melakukan tindakan gila dan gegabah!’ bisik hati Dante mengingatkan dirinya untuk berpikir jernih.


 


Dia terus menatap tempat itu dengan serius mencoba untuk memperhitungkan ulang semua yang sudah direncanakannya dan dipelajarinya tadi diruang kerjanya. Dia sudah membuat prediksi waktu, mempelajari denah penjara dan cara masuk serta bagaimana cara untuk keluar dari sana. Karena posisi orang yang akan diselamatkan berada di ruang tahanan khusus yang ada di bawah tanah.


 


“Ayo kita turun! Mobil ini aman disini. Nanti kita akan coba keluar dari sana!” Dante menunjuk kearah menara yang kini bisa mereka lihat. Dan itu terlihat seperti sesuatu yang mustahil untuk dilakukan.


‘Hah? Bagaimana caranya keluar dari menara itu? Kok aneh ya? Kita harusnya menyusup kan? Tapi kenapa malah masuk ke menara pengintai? Aku tidak paham tapi biarlah.’


 


‘Aku hanya mengikuti saja apa yang dikatakan Dante! Bagaimanapun Dante adalah orang yang lebih berpengalaman daripada aku.” bisiknya lagi dalam hati. Noel berusaha untuk menurut, dia tidak banyak bertanya lagi tapi mulai berpikir apa yang sedang dipikirkan oleh Dante.


Kenapa Dante bisa berpikir seperti itu? Menara setinggi itu? Keluar dari sana? Bagaimana caranya bisa menuruni menara itu nanti?


 


Apalagi saat dia melihat banyak penjaga yang berlalu lalang diatas menara, sudah bisa dipastikan kalau mereka akan ketahuan menyusup. Pertanyaan-pertanyaan memenuhi pikiran Noel.


Memang terkadang apa yang dikatakan Dante terdengar tidak masuk akal bagi orang biasa, itulah yang terjadi pada teman-teman Dante saat mereka mendengar Dante bicara.


 


 


“Sekarang kita mau kemana, Dante?” tanya Noel yang agak cerewet, dia sering bertanya meskipun pertanyaannya tidak mengganggu fokus Dante.


“Kita akan masuk kedalam penjara!” jawab Dante.


“Apa kita akan berjalan kaki?” tanya Noel lagi.


 


“Tunggu sebentar!” Dante melihat jam tangannya, dia memang orang yang tidak banyak bicara.


‘Sebenarnya apa yang sedang ditunggu Dante?’ Noel bertanya didalam hati, dia masih tidak paham apa yang direncanakan oleh Dante. Dia memperhatikan Dante yang masih melihat pada jam tangannya lalu melihat kearah penjara. Dan saat ini mereka masih bersembunyi dan untung saja tidak ada yang melihat. Dante tersenyum lalu menatap Noel.


 


“Sekarang saatnya!”

__ADS_1


Klik!


Dante memencet sesuatu di ponselnya. Blurb…...tiba-tiba di malam yang gelap itu, penjarapun menjadi gelap karena seluruh aliran listrik ke penjara tiba-tiba terputus.


“Ayo!” Dante menoleh keorang disebelahnya. “Apa yang kau tunggu?” Dante mengingatkan Noel yang masih syok melihat apa yang baru saja terjadi dihadapannya.


“Eh...iya!”


 


“Kau panjat dinding ini dengan cepat! Kita harus sampai di pintu masuk dalam waktu tiga menit! Saat lampu menyala kembali maka aliran listrik ke pagar penjara juga akan menyala.” perintah Dante dan dia sudah lebih dulu menancapkan pengait ke dinding atas lalu Dante segera bergerak cepat menaiki dinding diikuti oleh Noel dibelakangnya.


 


Noel yang masih keherananan pun hanya mengikuti Dante dengan bergerak cepat menaiki pagar penjara yang tinggi itu. ‘Darimana dia tahu kalau dibagian sini pagarnya ada aliran listriknya?’ tanya hati Noel sambil memanjat menyusul Dante.


Dante yang usianya lebih tua daripada Noel tapi fisiknya jauh lebih kuat. Dante memanjat dengan cepat dan sangat lincah, seperti tidak ada bebang baginya.


 


Padahal Dante membawa senjata dan beberapa granat yang menempel ditubuhnya dan dia bahkan berhasil sampai lebih dulu daripada Noel di bagian dalam dinding penjara.


‘Semuanya gelap! Daerah sini gelap semuanya, apa sebenarnya yang terjadi barusan?’ Noel tidak paham tapi dia berusaha mengikuti Dante.


 


“Ayo cepat bergerak!” Dante memberikan penutup wajah pada Noel setelah mereka berada didalam wilayah penjara. “Noel, cepat pakai! Jangan lama bergerak! Waktu kita hanya sedikit!”


“Iya!” jawab Noel yang belum menguasai medan dan dia sedikit gugup tapi dia tetap mengikuti apa yang diperintahkan Date tanpa membanti dia menggunakan penutup wajah.


 


‘Wow, dibagian mata ini aku bisa melihat dengan jelas. Walaupun semua yang aku lihat warnanya tidak terang.’ Noel menikmati penutup wajah yang canggih itu.


“Jangan banyak bicara! Ikuti saja aku, kau bisa melihat dengan jelas dengan alat itu.” kata Dante. Lalu Dante bergerak cepat sekali diikuti Noel dibelakangnya.


 


Mereka berdua menggunakan waktu yang ada seefisien mungkin, memanjat dinding penjara kurang dari satu menit dan sekarang mereka sedang menuju kearah pintu masuk.


‘Aku tidak punya banyak waktu! Aku harus sampai kedalam sana secepat mungkin! Aku menggunakan satelit untuk memadamkan listrik dan tenaga pusat pembangkit listrik. Aku baru saja melakukan penyusupan. Fuuuhh, ini hanya bisa dilakukan dalam waktu tiga menit sebelum mereka menghidupkan semua genset yang mereka miliki!'


 


‘Kalau mereka menggunakan genset itu, dayanya hanya cukup untuk menyalakan listrik dibagian kantor saja.’ bisik hati Dante lagi yang sudah mempelajari tempat itu.

__ADS_1


Dia berusaha tetap fokus karena dia sudah mensabotase listrik dan dia merubah sistemnya sehingga tidak akan ada aliran listrik sampai dia menyelesaikan misinya. Tapi itu tidak akan berlangsung lama, makanya dia bergerak cepat.


__ADS_2