PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 144. MAU SOP IKAN


__ADS_3

“Ini bunker. Segala macam makanan ada disini tapi memang tidak ada makanan fresh kecuali aku memang sudah memintanya. Tapi malam ini aku tidak meminta apapun dan ini adalah tempat dimana biasanya aku berkumpul bersama teman-temanku.” ujar Dante melepaskan tangan Bella lalu dia berjalan menuju ke dapur.


“Tuan Dante! Bagaimana caranya kau bisa pandai memasak? Aku sama sekali tidak tahu memasak.”


Dante melirik Bella, lalu dia hanya diam tak merespon lagi. Dia mengambil bahan-bahan makanan dan dalam kulkas.


“Apa kau akan membuatkan aku steak seperti yang tadi dimakan Alex?” Bella bertanya dengan penuh semangat karena dia sangat menyukai steak buatan Dante.


“Kau ingin makan itu?”


“Mau! Tapi aku malah lebih ingin makan sop ikan.” jawab Bella. Jawabannya membuat Dante kembali meliriknya dengan tersenyum tipis.


“Kau masih dendam karena kau tidak bisa memakan itu ketika aku membuatnya?”


“Hemmm! Sop ikan waktu itu kelihatannya enak.” Bella menganggukkan kepala dengan senyum diwajahnya.


“Tapi aku tidak punya ikan segar disini. Butuh ikan segar untuk membuatna supaya rasanya enak.”


“Yeah, berarti tidak bisa dibuat sekarang.” wajah Bella langsung merengut.


“Nanti! Akan kubuatkan untukmu kalau kau sudah jadi pianis.”


“Apa?” Bella mengerjapkan matanya sambil mengerucutkan bibir.


“Kenapa lagi kau melihatku begitu?” tanya Dante.


“Kenapa harus menunggu selama itu Tuan Dante?” Bella menunjukkan wajah memelasnya.


“Kau harus bersabar jika menginginkan sesuatu. Tidak ada yang instans didunia ini.” ujar Dante tanpa melihat Bella. Dia fokus mengerjakan bahan makanan yang ada dihadapannya.


“Apa mungkin aku menjadi pianis?” Bella berjalan lalu duduk dikursi bar yang ada dihadapan Dante.


“Tidak bisakah kau diam sejenak? Aku sedang memasak untukmu.”


“Tidak bisa! Kalau aku diam, aku akan meneteskan liurku karena aku sangat bersemangat sekali melihatmu memasak! Perutku sudah tidak sabar ingin segera mencicipinya.”

__ADS_1


Ucapan Bella membuat Dante tersenyum kecil dengan mata yang bertautan dengan netra wanita itu. ‘Wanita ini benar-benar selalu membuatku mengingat Alex dan merindukan anakku. Dia juga selalu membuatku pengen.’ ujar Dante dihati lalu kembali fokus pada masakannya. Hari ini Dante merasa tersiksa karena terus terusan menahan hasratnya. Entah berapa lama lagi dia bisa menahannya.


“Tidak bisakah kau tidak menunjukka senyummu?” tanya Dante karena hampir sepuluh menit Bella menunggu Dante memasak tapi dia masih saja tersenyum manis.


“Aku tidak menyangka kalau aku bisa makan masakanmu lagi. Mungkin hari ini adalah hari keberuntunganku. Entah keberuntungan apalagi yang akan kudapat setelah makan masakanmu.”


“Oh begitu kah? Bukankah hari ini kau hampir mati terkena peluru nyasar?” celetuk dante yang sudah memindahkan steak ke piring untuk Bella.


“Waahh…..enak sekali! Aku tidak menyangka kalau kau membuatkan ini untukku. Ini sama besar seperti yang tadi dimakan Alex!” Bella memegang piring yang disodorkan Dante dengan bersemangat.


“Kau ini! Sedikit saja kau mendapat kesenangan kau sudah lupa semua rasa sedihmu.”


“Aku masih ingat kok. Tadi aku memang hampir mati kena peluru, tapi kalau misalkan hampir mati terus masih bisa hidup dan makan masakanmu aku tidak apa-apa.” jawab Bella asal memegang piringnya lalu menaruhnya dimeja makan.


“Buka mulutmu Tuan Dante.”


“Aku menyuruhmu untuk makan, kenapa malah mau menyuapiku?”


“Satu suapan pertama saja, nanti sisanya semua untukku.” jawab Bella masih dengan senyum centilnya.


“Memangnya kenapa dengan senyumku? Memang senyum yang kayak gimana yang harus aku tunjukkan ke orang lain?” Bella mengerjapkan mata menatap Dante menunggu jawabannya.


“Jangan tersenyum! Kau hanya boleh tersenyum padaku.”


“Aku jadi kaku sepertimu, begitu maksudmu? Apa kau cemburu kalau aku tersenyum pada orang lain makanya kau melarangku?” tanya Bella mengerjapkan mata.


“Kalau perlu! Tapi jangan pernah tersenyum pada orang lain. Kau wanitaku dan hanya boleh tersenyum padaku. Kau paham itu?” Dante menyandarkan tubuhnya disandaran kursi. Sedangkan Bella manyun, “Tapi aku bukan kau Tuan Dante, mana bisa aku kaku sepertimu.” jawabnya sambil memasukkan satu suapan kedalam mulut.


“Hemm…...enak sekali!” Bella bertepuk tangan ketika suapan daging pertama menggoyang indera perasanya dan lumer didalam mulutnya. Tingkahnya persis seperti Alex kalau kegirangan dan itupun tidak lepas dari pantauan Dante yang tersenyum.


“Kenapa kau meneteskan air mata?” tanya Dante saat melihat setitik bening lolos dari mata Bella.


“Aku sangat merindukan masakanmu Tuan Dante. Aku pikir aku tidak akan pernah bisa memakannya lagi. Enaaakkkkk sekali!” ujar Bella dengan mata tertutup menikmati betapa lezatnya makanan yang ada didalam mulutnya.


“Habiskan makananmu, jangan banyak bicara.”

__ADS_1


“Aku tidak mau menghabiskannya cepat-cepat, pelan-pelan saja karena aku jarang bisa memakan ini.”


“Aku akan buatkan untukmu kalau aku membuatkan untuk Alex lagi.”


“Itu tidak akan pernah sampai padaku!”ujar Bella yang asyik menikmati makanannya.


“Jadi kemarin, masakan yang aku buat untukmu tidak sampai?” tanya Dante mengeryitkan dahi.


“Kalau maksudmu makanan yang tadi pagi kau berikan padaku itu tidak sampai! Karena kata kokinya ada kecelakaan!” jawab Bella jujur.


“Kecelakaan apa?”


Bella yang tidak tahu alasannya hanya mengangkat bahunya dan Dante tidak bertanya lagi. Dia hanya diam memandang Bella yang sedang makan dan sangat menikmati makanannya.


‘Aku ingin menanyakan lebih banyak tentang kecelakaan itu tapi aku tidak tega mengganggumu makan. Apalagi kau kelaparan.’ ucap hati Dante yang mendengus pelan. ‘Biar aku cari tahu sendiri saja. Setiap tempat dirumahku ada CCTV dan mungkin aku harus mengeceknya sendiri. Tunggu aku punya waktu luang.’ bisik hatinya. Saat ini dia hanya diam dan tidak mengajak Bella bicara.


‘Kau menepati ucapanmu, kau makan pelan-pelan dan sepertinya setiap kunyahanmu itu membuatmu bahagia. Aku selalu melihat senyummu ketika kau menggigitnya dan kau tersenyum sangat manis! Walaupun kau tidak mengatakan apapun padaku tapi aku tahu kau menikmati masakanku. Aku senang kau menyukai masakanku. Tatiana tidak suka masakanku karena dia selalu menjaga berat badannya dan dia banyak makan salad. Jadi aku tidak bisa banyak berkreasi.’ ucap Dante dihatinya karena Bella seperti anak kecil yang sedang makan dan sangat suka makanannya.


Dia fokus dan tidak terganggu dengan semua yang ada di sekelilingnya. Bahkan dia tidak mau bicara dengan Dante, hanya menikmati makanan itu seolah-olah benda berharga.


“Kenapa wajahmu begitu?” tanya Dante saat melihat Bella cemberut.


“Piringku sudah kosong.”


“Kau yang menghabiskannya lalu kenapa menatapku begitu?”


“Haaahhh! Berarti aku tidak bisa lagi memakannya.” Bella mengerucutkan bibirnya dan menatap piring kosongnya dengan tatapan sedih.


“Sudahlah. Minum airmu.”


Dengan malas, dia melakukan perintah Dante.


“Ayo berdiri.”


“Kita mau kemana?” tanya Bella malas-malasan lalu berdiri dari kursinya, bahkan dia menunduk menatap piring kosongnya.

__ADS_1


 


__ADS_2