
“Bukankah benar apa yang kukatakan? Kau menipu anakmu sendiri, kau tega sekali! Kalau kau tidak bisa masak harusnya kau bilang saja kau tidak masak, tidak perlu mengakui masakan buatan chef dirumahmu sebagai masakanmu!”
“Apa kau bilang?” hampir sesak napas Dante mendengar ucapan Sarah, dia bahkan hampir tidak bisa bicara apa-apa lagi. Di tuduh menipu? Ini adalah sesuatu yang paling dibenci oleh Dante! Dia memang pandai memask dari dulu tapi Sarah memang tidak tahu dan tiba-tiba saja mengatakan didepan Dante. Ingin rasanya tangan Dante yang gatal itu bergerak cepat ke pipi Sarah.
“Apa kau pernah melihatku memasak? Apa kau tahu kalau aku bisa memasak atau tidak?” ujar Dante berusaha menahan semua emosinya. ‘Kalau tidak ingat aku ingin menjemput Bella dan aku tidak mau kau mengadu macam-macam pada Bella, sudah habis kau? Eh, ada apa ini? Kenapa aku merasa tidak nyaman kalau dia mengadu pada Bella? Memangnya hubunganku dengan Bella itu apa? Aku tidak takut pada Bella!’ bisikan hati Dante mengingatkan dirinya sendiri yang dilema.
“Kalau kau memang bisa masak, kenapa bukan kau yang memasaknya? Tapi kau malah menipu anakmu dengan mengatakan masakan koki itu adalah masakanmu?”
“Sarah! Jangan ikut campur masalahku. Urus saja masalahmu sendiri! Atau kau sudah enggan untuk bertemu dengan Barack lagi? Maka aku akan biarkan kau bicara!” ancam Dante.
“Eh jangan! Aku masih mau bertemu dengan Barack! Baiklah, aku berpura-pura bodoh saja kalau itu tadi masakanmu.” cibir Sarah sambil menjauh dari Dante, cepat-cepat dia berlari menaiki tangga.
“Bella! Adikmu itu benar-benar tidak bisa diatur. Kata-katanya membuat telingaku pekak. Dia tidak jauh berbeda denganmu tapi kau masih bisa takut padaku. Sarah tidak bisa menjaga mulutnya. Barack kapan kau kembali dan membawanya pergi? Aku tidak mau dia ada dirumahku terlalu lama.’ ujar Dante dihatinya.
“Tuan! Semua yang anda minta sudah siap.” suara Henry membuat Dante kembali sadar dari lamunannya.
“Bagus! Tapi sekarang aku ingin keruang penyiksaan dulu.”
“Sekarang Tuan?”
“Hmm. Siapkan pakaian untuk wanita itu.”
“Anda akan membawanya Tuan?” Henry bertanya sambil menyodorkan kotak senjata yang diminta Dante dan melihat pria itu mengecek isinya.
“Iya, aku ingin dia sekarang. Siapkan pakaian untuknya dan antarkan aku ke belakang.”
“Baik Tuan.” Henry segera menjauh sebentar dan menelepon meminta kepada anak buahnya yang wanita untuk menyiapkan pakaian baru yang selalu ada di stok dirumah itu. Pakaian itu semuanya milik Tatiana yang belum dipakainya dan belum dipilih olehnya. Pakaian-pakaian yang berjejer rapi didekat ruang laundry itu adalah tempat menyimpan pakaian itu.
__ADS_1
“Kau boleh kembali ketempat kerjamu.” ucap Henry sambil mengambil pakaian yang diberikan oleh bawahannya tadi. “Ini Tuan!” ucap Henry menunjukkan pakaian yang akan digunakan oleh wanita itu.
“Tidak masalah. Pasangkan chip yang tidak rusak terkena air dan tidak akan dicurigai siapapun yang menyetrika pakaian ini nantinya.”
“Oh,baik Tuan.”
Henry paham dan dia langsung pergi sejenak untuk memasangkan chip sesuai permintaan dante. Tak berapa lama dia kembali membawa pakaian itu pada Dante, “Maaf Tuan, sudah membuat anda menunggu lama.”
“Ayo cepat kesana dan mempersiapkannya.” Dante berjalan cepat ke ruang penyiksaan dengan diikuti oleh Henry dibelakangnya. Henry langsung membuka pintu setibanya diruangan penyiksaan.
“Ahhhh! Akhirnya kalian membuka pintu ini. Sampai kapan aku harus disini? Ini seperti berada dipenjara. Kapan aku bisa keluar? Kenapa aku harus tetap disini? Bayarannya memang setimpal tapi aku semakin gila kalau aku tidak melakukan apapun disini.” wanita itu mengoceh memandang Dante dan Henry tanpa merasa malu walaupun tubuhnya tanpa sehelai benangpun.
“Sebaiknya kau pelankan suaramu karena pemilik tempat ini sudah berada disini.” ucap Henry.
“Apa yang kau inginkan?” tanya wanita itu menatap Dante dengan pandangan mata yang serius sekali.
“Pakai pakaianmu dan ikut denganku.”
“Kau akan mengerjakan pekerjaan selanjutnya.” ucap Dante.
“Maksudmu?” wanita itu memicingkanmatanya.
“Kau ada disini untuk bekerja bukan?” Dante kembali memberi penegasan.
“Iya tapi rencananya hanya tinggal di tempat ini selama beberapa hari tapi sekarang aku hitung ini sudah sebulan.” jawab wanita itu.
“Bayaranmu akan digandakan. Sekarang pakailah pakaian ini dan segera ikut denganku, lakukan dengan cepat karena aku tidak punya banyak waktu.” ujar Dante dingin dan kaku karena dia memang tidak mudah bersosialisasi dengan wanita.
__ADS_1
“Sssshhhh!” wanita itu memicingkan matanya. Henry mendekat dan memberikan pakaian itu. “Sudah lama aku tidak berpakaian.” ujarnya menerima pakaian dari Henry. “Wah sekarang kau memberiku pakaian bermerek dan mahal! Wahhhh ini asli! Sangat bagus.” tanpa malu-malu dia memakai pakaiannya didepan Dante dengan pikirannya yang sedikit melayang memikirkan Dante.
‘Lebih tampan dari pria yang mengajakku bekerja disini, boleh juga tapi sikapnya dingin itu bikin lemas.’ bisiknya didalam hati. Dengan sikap dingin dan acuh Dante itu malah membuat wanita itu semakin penasaran pada Dante.
“Aku sudah selesai.” ujarnya sambil memakai sepatunya.
“Ikut aku sekarang!” Dante tidak peduli dia berjalan lebih dulu diikuti Henry dibelakangnya meninggalkan wanita itu yang berjalan paling belakang.
‘Kemana dia mau membawaku ya?’ tanyanya didalam hati sambil melewati banyak anak tangga hingga akhirnya mereka sampai ke tangga utama yang bergerak ke atas.
“Wah ternyata keluar dari tempat ini pun masih gelap. Apakah sekarang sudah malam hari?” ucap wanita itu yang tidak dihiraukan oleh Dante maupun Henry.
“Kita langsung ke pesawat sekarang Henry!” ucap Dante langsung naik ke buggy diikuti oleh wanita yang mengenakan topeng wajah Bella.
“Baik Tuan!”
“Jangan duduk disampingku!” ucap Dante sambil menunjuk kearah belakang.
“Ah baiklah,” dia tak suka diperintah oleh Dante tapi akhirnya mengangguk pasrah dan pindah tempat duduk ke belakang.
‘Wah, dinginnya! Biarlah kau menolakku sekarang tapi sepertinya dia pemimpin disini. Aku akan berusaha untuk menggodamu! Hahahaha,’ bisik dalam hatinya lagi. Wanita itu punya profesi yang sama seperti Bella dan ini yang membuatnya tidak malu-malu untuk menggoda Dante. Sikapnya sedikit banyak membuat pria itu merasa risih.
‘Darimana Nick mendapatkan wanita ini? Dia memakai topeng yang mirip dengan Bella tapi aku tetap tidak tertarik padanya karena dia palsu! Sikapnya ini sangat membuatku tidak nyaman.’ gumamnya dalam hati. Dante memang tidak pernah tertarik dengan wanita lain. Jadi apapun yang dilakukan oleh wanita penggoda tidak terlalu berpengaruh pada Dante hingga akhirnya mereka berhenti disamping pesawat dan Dante turun dari buggy.
“Ikuti aku!” ujar Dante masih dengan sikap dinginnya.
“Apa kita mau liburan?”
__ADS_1
“Tidak!” jawab Dante tegas dan dia duduk di sofa sambil menunjuk sofa didepannya, “Duduklah. Kita perlu bicara.”
‘Apa wanita ini bisa diajak diskusi? Sepertinya benar yang dikatakan Nick, dia tidak akan loyal! Tapi aku hanya membutuhkannya untuk sementara saja. Kalaupun dia tidak loyal itu bukan urusanku yang penting aku bisa mendapatkan Bella dan membawanya dengan aman kembali ke mansion ku.’ bisik hati Dante. Dia tidak suka tapi dia mencoba menahan diri karena hanya ini cara terbaik dan teraman untuk membawa Bella kembali.