
Menagih Perasaan
Zula sedang melayani pembeli ketika Juki datang ke kios. Ekspresi pemuda itu terlihat datar seperti papan.
"Kok sudah balik. Mbak Lodi baik-baik saja?"
Juki hanya mengangkat bahu menanggapi pertanyaan Zula.
"Pak Hendar sudah pergi?"
"Masih di sana."
"Terus, kenapa kamu tinggalkan Mbak Lodi sendirian?"
"Si Hendar itu sudah tidak marah. Marahnya sudah habis di sini."
"Kok bisa gitu?" tanya Zula penasaran.
"Entahlah. Mukanya ada dua tuh orang," sahut Juki kesal.
Saat Juki tiba di rumah Lodi, Hendar sedang asyik ngobrol dengan Bu Sum. Tertawa akrab seperti ketemu teman lama.
"Tapi syukurlah daripada marah-marah," ujar Zula.
Juki diam mendengar komentar itu.
"Bantuin beberes, yuk," kata Zula.
Juki membantu beres-beres sebentar lalu segera pulang.
"Kamu kenapa marah-marah di kiosku, Ndar?"
"Aku? Marah-marah? Pegawaimu saja yang salah paham."
Lodi melirik Juki. Juki mengangkat bahu.
"Jadi apa maumu?"
"Lodi, aku minta maaf."
"Aku terpaksa jual mobil untuk melunasi para pengrajin. Hutang juga belum kelar."
"Aku sungguh-sungguh minta maaf."
Juki entah lega atau jengkel dengan situasi itu. Perlahan dia meninggalkan Hendar dan Lodi. Tanpa pamit.
***
"Jadi Hendar akhirnya membeli semua sisa kemeja?"
"Iya, Bu."
"Syukurlah. Kamu bisa beli mobil lagi."
"Iya. Kasian Fajar kalau ke mana-mana naik motor."
[Aku masih 3 hari di sini. Besok ke pantai yuk]
Lodi tak tahu harus menjawab apa. Hendar sudah lunas membayar kemeja yang 100 kodi. Tapi, bukan berarti ia harus menuruti keinginan Hendar, kan?
"Aku sibuk mengurus cerai. Jadi tak sempat menghubungimu, Lodi."
Hendar membela diri soal terlambat membayar tagihan.
"Dan aku juga tak pernah berhasil menghubungimu. Kamu ngapain ganti nomor?" sahut Lodi kesal.
"Ada yang menerorku."
Seorang duda mengajak jalan-jalan ke pantai itu sesuatu.
"Hendar itu duda ya, Mbak?"
"Iya. Memang kenapa, Nad?"
"Ah, nggak apa."
Rasa bersalah Nada membuat ia ingin mbaknya segera bertemu seseorang.
[Atau ke gunung?]
[Tidak. Terima kasih]
[Baiklah. Kita ke pantai. Kujemput jam 5 agar menikmati senja]
Lodi tercekat. "Ini orang nekat, atau memang gagal paham?"
***
__ADS_1
Pagi, siang, malam datang dan pergi silih berganti. Sesuai presisi. Mati, hidup dan cinta, siapa sanggup memprediksi?
"Kenapa namanya Fajar, Mbak? Lahirnya kan siang?"
Lodi, Zula dan Juki ngobrol cantik di kios.
"Kalau lelaki, kuberi nama Fajar. Kalau perempuan, Mentari."
"Apa filosofinya?"
"Saat fajar atau mentari datang, gelap pergi. Tanpa keributan terjadi."
"Wooo .... Keren." Juki dan Zula serempak berseru.
"Mbak, meski tumpukan kemeja dah habis, Juki tetap boleh kerja di sini, kan?" tanya Zula.
Lodi menatap Zula. Lalu gantian Juki.
'Apakah ada cinta di antara mereka berdua?'
"Aku sih terserah Juki. Karena sejujurnya, aku belum mampu menggaji secara layak."
"Terima kasih kalau diizinkan, Mbak. Aku akan coba menawarkan lebih gencar. Via online."
Tuttt
Tuttt
Lodi mengangkat telponnya.
"Nada? Aku ke sana."
"Aku pergi dulu. Nada lahiran. Sudah ditungguin ibu. Sumbang juga menunggu di sana. Tapi ia terus menyebut namaku."
"Sendiri, atau kuantar?" Juki menawarkan.
"Sendiri saja."
Lodi menggendong Fajar. Lalu teringat sesuatu.
"Tapi sepertinya aku minta diantar saja. Fajar tak boleh diajak masuk rs. Kau tidak apa, menggendong Fajar?"
"Asiyappp. Aku biasa menggendong anak Mbak Santi. Fajar, aku juga yang mengazani."
Bertiga mereka ke klinik bersalin. Bu Suminah menyambut Lodi tergopoh. Wajahnya berkerut sana sini.
"Lalu?"
"Dokter menyarankan operasi. Angkat rahim. Tapi Sumbang ragu-ragu."
"Mana Sumbang?"
"Dia menemani Nada. Hanya suami yang boleh masuk," kata Bu Sum.
"Mbak Lodiii ...." terdengar rintihan.
"Suster, sayalah Lodi. Pasien memanggil saya. Saya boleh masuk, ya?"
Suster memandang Lodi. Lalu rekan sekerjanya.
"Mbak Lodi ...."
"Baiklah. Sebentar saja."
Lodi berlari bagai setengah terbang. Napasnya nyaris berhenti begitu melihat Nada. Pucat pasi. Dokter dan beberapa petugas mengelilingi.
"Mbak Lodi ...."
Nada bersuara. Tapi aslinya, kesadaran entah di mana.
"Nada, ini aku. Ingat Alloh. Laa ilaha illalloh."
"Cara cepat menghentikan perdarahan adalah operasi. Rahim ibu kemungkinan sobek," kata dokter.
"Tapi dokter anak bilang kondisi bayi saya juga kurang bagus. Hidup dan mati fifty fifty. Kalau rahim istri saya diangkat ...."
Lodi spontan mencengkeram lengan Sumbang. "Sempat-sempatnya kau mikir seperti itu. Apa nyawa Nada tidak penting?"
Sumbang memandang Lodi. Nanar.
"Kumohon, biarkan dokter mengangkat rahimnya."
Sumbang masih tak menjawab.
"Kau sudah punya anak. Fajar."
Sumbang memandang Lodi.
__ADS_1
"Tapi selama ini kau melarangku mendekat."
"Demi Alloh, setelah ini aku tidak pernah melarangmu lagi. Tapi tolong, selamatkan nyawa Nada. Berusahalah. Apapun itu."
Sumbang menghela napas panjang.
"Baiklah. Aku akan menandatangani persetujuan operasi."
"Siapkan kamar operasi. Semoga belum terlambat!" Seru Dokter.
"Mbak Lodi ...."
Lodi kembali mendekati Nada. Menggapai tangan Nada yang dingin.
"Maafkan Nada."
Mendengar permintaan maaf Nada, spontan dada Lodi terasa sesak. Setengah mati ibu beranak satu itu menahan air mata.
"Mbak sudah memaafkanmu. Bertahanlah. Anakmu perempuan. Cantik. Beri dia nama Mentari. Lalu bermain bersama Fajar."
Usai mengatakan itu dada Lodi terasa lega. Plong. Maaf itu sepertinya tidak hanya tertuju buat Nada, tapi juga buat Sumbang yang berdiri di antara mereka.
Nada tersenyum dalam pucat. "Makasih, Mbak ...."
Pyohh...
Segumpal darah kembali keluar dari kaki Nada. Warnanya merah segar.
"Dokterrr ...." Lodi berteriak.
Dokter berlari. Perawat mendekat. Sumbang spontan minggir. Lodi nekat berdiri di sisi Nada di dekat kepala.
Selang oksigen diganti sungkup. Infus diperah. Perawat yang lain memasang infus di tangan satunya. Dokter sibuk memberikan instruksi.
Code blue...
Code blue...
Pengeras suara meneriakkan panggilan.
"Laa illaha ilalloh ...."
Lodi membisikkan kalimat tauhid ke telinga Nada. Bibir Nada terlihat bergerak lemah.
Tim code blue datang memberikan pertolongan pada Nada.
"Grojok!"
"Pasien apneu!"
"Seorang dokter bergerak memasang sebuah alat membuka mulut Nada. Setelah itu sebuah slang penghisap dimasukkan."
Alat bantu napas dipompa. Alat perekam denyut jantung juga dipasang. Gelombang datar muncul.
Satu
Dua
Tiga
Empat
Seorang petugas membantu memompa jantung dari luar. Petugas lain sesekali memompa alat bantu napas.
"Epinefrin...."
"Darah...."
"Refleks pupil...."
Lodi ingin berteriak. Sekuat tenaga ia menahan diri. Ia membungkuk mencium kening dan sekali lagi membisikkan kalimat tauhid.
"Epi masuk!"
Dua puluh menit adegan itu berlanjut. Lodi hanya bisa menutup mulut sambil menangis.
"Tuhan, tolong selamatkan nyawa adikku. Biarkan ia bahagia dengan Sumbang dan anaknya. Aku mohon ...."
"Mana keluarga?" akhirnya dokter bertanya.
Sumbang, Lodi, ibu mendekat.
"Maaf, kami sudah berusaha. Tapi...."
"Nadaaaa....." Lodi histeris. Ia tak mau mendengar kalimat dokter selanjutnya.
-bersambung-
__ADS_1