PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 276. MEMANGGIL NAMA DANTE


__ADS_3

Kedua tangannya sudah basah keringatan, belum lagi ditambah jantung yang berdegup kencang seperti bedug malam takbiran. Dante sebenarnya sangat merindukan suara Bella seperti tadi. Dengan keberadaan Bella disampingnya membuat Dante semakin sulit berkonsentrasi, tapi dia juga memikirkan tentang sikap Bella yang agak aneh. Semuanya itu sangat mengganggu pikirannya.


“Dante….”


“Sudah kukatakan diam! Jangan panggil aku begitu.”


‘Arrgggg maunya apa sih? Aku bisa semakin gila kalau begini! Aku tidak bisa memegangnya tapi justru memegang setir. Tapi…..huhh, harusnya aku mengajak Henry supaya dia yang menyetir.’


‘Tidak boleh! Aku tidak suka urusan prribadiku diikuti oleh orang lain.’ Dante pun berdecak pelan.


“Dante!” ucapan Bella membuat dante kembali menatapnya, “Apa yang kau inginkan kali ini?”


“Aku tidak mau apa-apa,” jawab Bella masih menatap dante dan sepanjang perjalanan Bella tidak berpaling dari wajah tampan Dante. “Dante!”


“JANGAN MEMANGGILKU! Kalau kau tidak mau apa-apa, ubah pandanganmu ke depan dan jangan menatapku begitu. Jangan mengganggu konsentrasiku dengan memanggil namaku terus.”


“Dante, kau marah padaku?”


Pria itupun menoleh sedikit pada Bella lalu mengalihkan kembali pandangannya ke jalan. Dia tidak bicara apapun lagi karena dia memendam semuanya didalam hatinya tentang apa yang dipikirkannya. Dante fokus kembali pada setirnya dan tanpa membuang lebih banyak waktu lagi dia mengendalikan pedal gasnya sehingga mereka tiba di bandara dan pesawat sudah menunggunya.


“Dante.”


“APPPAAA!” jawab Dante frustasi karena Bella terus-terusan memanggil namanya tanpa mengatakan hal lainnya lagi membuat Dante semakin frustasi. “Kenapa kau terus memanggilku Belinda?”


“Dante, kau tidak menjawab pertanyaanku. Kau marah padaku dante! Hueee…...hueee…..aku sudah tidak bersama seribu laki-laki dan aku sudah tidak disentuh oleh laki-laki tapi kau masih marah padaku.” ucap Bella terisak.


Tiba-tiba Dante menginjak rem dan menghentikan mobilnya. “SSHhhh!” Dante mencoba mengendalikan emosinya sambil menatap Bella. “Kenapa denganmu? Kenapa kau memanggilku terus-terusan?” tanya Dante menurunkan intonasi suaranya.


“Dante….heueue….hueee….”


“Sudah...sudah...jangan menangis lagi! Kemarilah.” Dante membuka sabuk pengaman Bella lalu memindahkan tubuh Bella dari kursi penumpang ke pangkuannya. “Kenapa kau terus-terusan memanggilku? Kau tahu kalau kau baru saja menganggu konsentrasiku mengemudikan mobil? Bagaimana kalau aku membuat kesalahan dan menimbulkan kecelakaan? Jangan panggil aku seperti itu lagi saat aku sedang mengemudikan mobil. Apa kau paham Belinda?”


Dante bicara pelan-pelan sambil menatap bella, tangan Dante menyandarkan kepala wanita itu pada tubuhnya dan membelai lembut rambut Bella untuk menenangkannya.


“Dante...jangan marah padaku. Maafkan aku.” airmata Bella kini sudah berhenti, usapan lembut dirambutnya membuat Bella merasa tenang.


“Hmmm! Aku tidak akan marah padamu, itu cukup?” Dante bicara sambil emngangkat dagu Bella dan keduanya saling bertatapan.

__ADS_1


“Cukup!”


“Baguslah. Aku tidak mau berlama-lama bicara di parkiran pesawat begini. Kita lanjut bicara diatas pesawat ya?” tanya Dante yang dijawab Bella dengan anggukan kepala. Dante pun membuka pintu mobilnya dan menggendong Bella. ‘Aku mengerti sekarang, dia butuh ketenangan. Saat aku sudah memberikan ketenangan dia berhenti memanggilku.’


‘Aku harus bicarakan ini dengan Anthony dan bertanya pada dokter yang merawat Bella selama ini,’ bisik hatinya sambil menggendong Bella berjalan menuju pesawat.


“Selamat malam Tuan!” sapa para kru pesawatnya.


“Bawa masuk mobilku ke bagasi pesawat.”


“Baik Tuan!” pria itupun langsung berjalan menuju ke mobil Dante.


“Kau bisa turun dan berjalan menaiki tangga ini?” tanya Dante pada Bella. ‘Aku harus membuatnya terbiasa disisiku karena sepertinya dia sangat gugup sekali berada bersamaku,’ bisik hati Dante melihat tangan Bella yang gemetar.


“Aku tidak bisa jalan Dante.”


“Memangnya kau tidak punya kaki?” tanya Dante yang masih berdiri hendak menaiki tangga pesawat.


“Kakiku lemas Tuan Dante!” ujar Bella mengatakan yang sebenarnya. Dia ingin berdiri sendiri tapi entah mengapa pandangan matanya yang tertuju pada mata Dante membuatnya semakin tidak akru-karuan dan Bella kehilangan konsentrasinya.


“Apa Anthony ingin membunuhmu?” Bella bertanya pada Dante sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Bella menghirup aroma khas tubuh pria itu dan menyerap hangat tubuh Dante sambil memejamkan matanya.


“Cih! Memangnya dia berani melakukan itu? Dalam mimpi pun aku tidak akan mengijinkannya melakukan itu!” Dante tersenyum sini yang tidak terlihat oleh Bella.


“Dante….Lalu apa yang mengganggumu? Menjemputku bisa membuatmu kesulitan maksudnya?” Bella mengeluh.


“Sudahlah. Jangan lagi kau pikirkan, bicara denganmu hanya membuat emosiku tidak jelas!” ucap Dante tak menunggu lama memprotes Bella dan menyuruhnya diam.


“Dante?”


“Sudah kubilang berapa kali jangan memanggilku seperti itu.” Dante sudah berada diatas tangga pesawat langsung berhenti.


“Kau marah padaku?” tanya Bella lagi.


“Fuuh! Aku tidak marah padamu, jangan takut dan jangan menangis lagi.” Dante pun pasrah tak berani meminta Bella untuk diam. Dia melangkahkan kakinya menuju tempat duduk dikabin pesawat.


“Dante….”

__ADS_1


Belinda….apa mereka memberikanmu obat macam-macam?” tanya Dante sambil melangkah menuju tempat duduk menatap Bella. Dante tak mengerti kenapa Bella bisa menjadi seperti itu. Gangguan mental seperti apa yang dialami oleh Bella? Anthony belum menjelaskan apapun padanya tadi.


“Aku tidak minum obat. Dante!” Sambil menggelengkan kepalanya dia berbisik pelan,”Dante.”


“Berhentilah memanggil namaku begitu. Kita bahas masalah lain. Apa Anthony menyentuhmu?”


“Tidak! Kau yang bilang padaku kalau tidak boleh ada pria lain yang menyentuhku! Karena itu aku tidak biarkan Anthony menyentuhku.”


Ingin rasanya Dante bersorak dalaam hati dan dia tersenyum lebar seraya bibirnya mengecup Bella.


“Dante, apa kau khawatir Anthony menyentuhku?”


Sebelum Dante sempat mencium bibir Bella, pertanyaan Bella ini sungguh menggelitik hatinya.


“Sssss! Khawatir katamu? Cih! Jangan banyak bicara padaku kalau aku tidak menyuruhmu bicara!” ujar Dante mendudukkan Bella di sofa dalam kabin itu lalu memasangkan sabuk pengamannya. Dia duduk di seberang Bella sehingga pandangan matanya bisa terus mengintimidasi Bella.


“Dante, dismapingku ini ada kursi kosong, kepana kau tidak duduk dikursi ini saja? Supaya tidak terlalu jauh aku denganmu.”


“Jangan banyak permintaan! Kita mau take off. Bisakah kau mengendalikan dirimu?”


“Apakah setelah take off kau akan duduk disampingku?”


“Ak----”


“Uweeekkkk!”


Belum sempat Dante melanjutkan kalimatnya, saat itu pesawat take off justru Bella memuntahkan semua isi perutnya. Tidak terlalu banyak tapi rasanya pahit membuat Bella merasa tidak nyaman.


“Ada apa denganmu? Kenapa kau muntah-muntah?” Dante gelagapan dan dia celingak celinguk, “Pramugari!”


Seorang pramugari bergegas menghampiri, “Ya Tuan. Ada yang bisa saya bantu?”


“Tolong bawakan handuk dan air hangat.” ucap Dante cepat membuka sabuk pengamannya dan duduk disamping Bella lalu membersihkan semua kotoran ditubuh Bella.


“Dante!” ingin rasanya Dante tidak mengubris panggilan itu tapi dia menatap Bella.


“Apa yang kau inginkan?” tanya Dante yang sibuk membersihkan bekas muntahan Bella.

__ADS_1


__ADS_2