PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 181. KATA DADDY DICULIK!


__ADS_3

“Oh kau pasti sedih ya. Dia kemana Alex?” Omero bertanya pada cucu kesayangannya.


“Kata daddy diculik orang!” jawaban polos meluncur dari bibir anak itu. Dante belum sempat melarangnya anaknya untuk mengatakan soal itu pada siapapun.


Ucapan Alex sontak membuat Omero terkejut dan mengeryitkan keningnya.


“Bagaimana mungkin dia bisa diculik?” pria paruh baya itu menatap Dante bingung.


“Dia dibawa pergi oleh seorang penguntit, ayah.” ujar Dante berusaha bersikap tenang seperti biasanya.


“Apa mereka memang sepasang kekasih? Atau mungkin wanita itu memberitahu pria itu kalau kau sudah tahu tentang dia dan mau memberikan hukumanmu?” Omero mencoba memberikan alibi.


“Aku rasa bukan begitu. Tidak ada yang tahu aya. Aku sendiri yang menyimpan rahasia itu rapat-rapat.” Dante menegaskan. Tak mungkin dia menceritakan yang sebenarnya pada ayah mertuanya itu.


“Berhati-hatilah Dante! Aku tidak ingin kau terkena bahaya sama seperti ayahmu dulu.” pria paruh baya itu memandang Dante penuh kekhawatiran.


“Aku mengerti ayah.” Dante berusaha mempertahankan kestabilannya dan tetap tersenyum.


“Permisi Tuan!” Henry datang menyapa.


“Kau tidak menyapaku Henry?”


“Tentu saja saya ingin menyapa anda, Tuan Omero!” ujar Henry datar mengangguk hormat.


“Aku pikir kau sudah lupa namaku!” Omero sedikit menyindir Henry.


“Tentu tidak Tuan Omero!” Henry menggelengkan kepala.


“Apa kau ada urusan dulu dengan Dante?” Omero menatap Henry dan Dante bergantian.


“Iya Tuan!”


“Kalau begitu Alex ikutlah denganku dulu ya.” ajak Omero pada Alex.


“Tapi aku mau Bella, grandpa! Aku mau Bella ada disini!” Alex cemberut dan menolak ajakan. Dia masih bersikeras ingin menunggu Bella disana karena Alex takut jika Bella kembali dan tidak melihatnya diruang piano.


“Aku akan mencari Bella! Tapi aku harus mencari penculiknya dulu. Bersabarlah Alex!” ujar Dante berusaha membujuk anaknya.


“Ayo ikut grandpa dulu ya Alex! Biarkan daddy-mu mencarinya.”ujar Omero.

__ADS_1


“Tapi Bella akan kembali-kan?” tanya Alex mengerjapkan mata,wajahnya masih terlihat sedih.


“Iya Alex! Biarkan aku mencarinya dulu. Kau pergilah bersama grandpa ya. Tunggulah dibawah nanti aku akan menemuimu dibawah dan kita pergi ke makam Tante Cassandra dan Grandma Jeannie.”


“Iya daddy! Bawa Bella-ku pulang ya!”  Alex mengikuti kakeknya pergi meninggalkan ruangan itu.


“Apa yang ingin kau sampaikan padaku Henry? Apa kau sudah menemukannya?”


“Mohon maaf Tuan! Tapi saya tidak menemukannya.” jawab Henry.


Dante memijit keninganya, kepalanya pusing memikirkan hilangnya Bella.


“Apa tidak ada petunjuk yang tersisa?” tanya Dante.


“Kami tidak menemukan apa-apa disana, Tuan.”


“Kau tidak menemukan darah atau apapun atau sesuatu sosok dijurang?”


“Kami sudah mengirimkan drone ke bawah dasar jurang dan mencarinya tapi tidak ada, Tuan. Kami juga sudah mencari ke jalan dan tidak ada. Kami menggunakan anjing pelacak tapi tetap tidak bisa menemukan keberadaan mereka, Tuan.”


“Pufff….” Dante mulai panik dan dia menyugar rambutnya lagi.


“Apa maksudmu Henry?” Dante memicingkan matanya. Dia tak suka mendengar ucapan Henry.


“Mungkin saja mereka sepasang kekasih. Mereka ingin kabur karena mereka saling mencintai dan ingin menikmati hidup, Tuan.” jawab Henry sekenanya.


“Itu tidak akan pernah kubiarkan Henry! Kau tidak tahu seberapa pentingnya wanita itu bagiku Henry?” ujar Dante marah.


“Maksudnya Tuan?”


Dreeetttt dreeetttt dreeetttt


“Sebentar, aku jawab telepon dulu.” ucap Dante setelah melihat siapa yang meneleponnya.


“Baik, Tuan. Kalau begitu saya turun dulu kebawah dan menemani Tuan Alex dan Tuan Omero.”


“Silahkan!” Dante langsung berbalik arah dan masuk kembali kedalam ruangan piano.


“Ada apa Tatiana?”

__ADS_1


“Ehm...aku ingin minta tolong padamu. Bisakah kau bicara dulu pada ayahku? Tadi dia menghubungiku terus dan aku merasa terganggu karena kami sedang sibuk Dante!”


“Ah, ayahmu memang ada dirumah ini. Dia baru saja datang dan sekarang sedang berada dibawah bersama Alex!”


“Mau apa dia kerumah Dante?” tanya Tatiana dengan nada tak senang.


‘Oh tidak! Tua bangka itu mau apalagi datang kesana? Isss….dia satu-satunya yang menyusahkanku, harusnya dulu dia mati saja di kecelakaan itu. Kenapa sih dia satu-satunya yang masih hidup?’ kesal sekali hati Tatiana sehingga dia mengomel dihatinya.


“Tatiana, kenapa intonasi suaramu meninggi? Ayahmu datang seperti biasa setiap tahun, dia ingin mengajak kita bersama-sama ke makam ibumu dan Cassandra.” ujar Dante menherutkan alis, dia tak suka dengan cara bicara Tatiana kali ini.


“Oh itu! Maafkan aku Dante, aku pikir ayahmu mau apa datang kerumah.”


“Apalagi yang dilakukannya kerumah selain bersama Alex? Dia ingin bermain dengan cucunya.”


‘Itulah yang paling tidak kusuka! Dia menganggap Alex benar-benar sebagai cucunya! Anak itu bukan anakku tapi dia selalu memperlakukannya seperti cucunya sendiri, menyebalkan!’ Tatiana mengumpat kesal dihatinya.


“Baiklah kalau begitu, selamat bersenang-senang untuk kalian. Aku agak cemas saja karena dia meneleponku terus, maaf aku mengganggumu Dante.”


“Apa yang kau cemaskan? Aku rasa kehadirannya tidak mengganggu kita.” Dante tak mengerti apa maksud ucapan istrinya itu.


“Aku kurang suka kalau dia kerumah….ehm….dia….hmmm….selalu mengingatkan aku tentang masa lalu dan itu akan membuatmu merasa tertekan terus.” jawab Tatiana yang tidak bisa konsentrasi karena saat itu dia sedang bersenang-senang bersama sepuluh orang pria yang sedang menikmati tubuhnya. ‘Aduh! Aku tidak bisa konsentrasi bicara dengannya! Aku harus mulai berhati-hati, dia bisa curiga kepadaku.’ bisik hati Tatiana.


“Kau salah jika berpikir begitu. Ayahmu tidak pernah salah, dia hanya menceritakan tentang masa lalu kenangan kita bersama dengan ibumu dan Cassandra. Aku sama sekali tidak merasa terbebani.


“Tapi…..”


“Sudahlah jangan terlalu dipikirkan ya Tatiana! Kau nikmatilah acaramu. Oh ya kenapa gaya bicaramu begitu? Kau seperti menahan sesuatu, apa kau sakit?” tanya Dante agak heran.


“Tidak Dante! Aku matikan dulu ya teleponnya, aku hanya panik saja dan sekarang aku sedang dalam acara, jadi aku tidak bisa konsentrasi. Tolong katakan pada ayahku jangan meneleponku terus!”


“Baiklah Tatiana! Nikmatlah acaramu biar aku mengurus disini.”


“Maafkan aku Dante sayang. Aku sudah mengganggumu padahal kau harus mengerjakan banyak pekerjaanmu.”


“Tidak perlu kau pikirkan!” ujar Dante lalu memutuskan telepon.


Sementara itu ditempat Tatiana berada.


“Ssssshhhh….ada apa dengan kalian semua? Aku tahu kalian sedang menikmati tubuhku, tapi saat suamiku menelepon kalian melakukan itu membuatnya mencurigaiku!” ucap Tatiana dengan suara mendayu menahan enak-enak yang muncul ditubuhnya. ‘Ugh…..inilah impianku, aku suka begini dianggap paling cantik, hanya satu-satunya diantara semua laki-laki ini. Ughh….aku suka mereka memperlakukan tubuhku begini.ehmm….nikmat.’ Tatiana memang sedang menikmati dirinya sendiri.

__ADS_1


“Kau jangan marah Tatiana, mana ada yang begini ini bisa ditahan! Kalau kau lagi menelepon dan kami harus menghentikannya itu tidak akan menyenangkan! Itu justru akan membuat permainan ini kurang menari, tak ada lagi gairah.”


__ADS_2