
FLASHBACK ON
Dante berjalan keluar dari kamar Alex sambil mengendong anak kesayangannya itu. Dia berjalan tanpa menoleh kebelakang. Rasa marahnya pada Bella benar-benar mengacaukannya, dia masuk kedalam kamarnya dan melihat istrinya sudah berpakaian rapi duduk didepan meja rias mengeringkan rambutnya. “Oh Dante, Alex…..kalian ada disini.”
“Cepatlah berkemas.” ujar Dante tanpa semangat dan wajah muram.
“Bukankah kau pergi kekota, sayang?”
“Ya, kalian berdua ikut denganku. Tidakkah kau senang menemaniku bekerja?” tanya Dante.
“Oh tentu saja aku senang sekali. Baiklah, biar aku merias wajahku dulu.”
“Daddy, kita ke kota?”
“Iya, sayangku. Kau suka kan bermain dikantor daddy.”
“Tapi aku mau Bella. Dia ikut dengan kita,daddy?”
“Tidak Alex!” jawab Tatiana cepat sebelum suaminya mengatakan sesuatu yang tak ingin didengarnya.
“Tapi----” ucap Alex.
“Kita bertiga saja yang pergi kekota. Daddy janji akan membelikanmu mainan baru. Hem?”
“Aku mau main dengan Bella. Aku suka, daddy.”
‘Lihatlah anak ini masih saja mencarimu tapi kau malah tidak menyayanginya. Apalagi yang harus kulakukan untukmu Belinda? Aku sudah memberimu kesempatan tapi apa yang kau lakukan? Kau tidak mengindahkan aturan dan laranganku! Seenaknya kau mengajak Alex bermain tanpa mandi. Apalagi itu hu? Senang kau disuapi pelayanku? Cuihhhhh! Aku sudah melarangmu dekat dengan pria lain dan pelayan pria dirumahku!’
“Kau bisa main dengannya lagi nanti, ok?”
“Hem...” jawab Alex menganggukkan kepalanya tanpa semangat.
“Kenapa dengan mukamu, Alex? Kau tidak suka ikut daddy?” Dante melihat Alex menekuk wajahnya.
__ADS_1
“Suka daddy. Tapi aku juga suka Bella, dia baik padaku.”
Tatiana yang mendengar ucapan Alex pun menggertakkan giginya marah, apa-apaan ini? Apa wanita itu sudah meracuni anakku sehingga anak ini menyukainya? Dia tidak pernah memasang wajah seperti itu sebelumnya dan dia juga tidak mudah berteman dengan orang lain.
“Aku sudah siap. Kita bisa berangkat sekarang.” ujar Tatiana yang tak ingin mendengar nama wanita itu diperbincangkan oleh kedua pria favoritnya.
“Ayo, sayang kita pergi.” Dante merangkul pinggan istrinya dengan tangan kanan dan tangan kirinya menggendong Alex hingga didepan rumah, supir pribadi sudah menunggu mereka. Ketiganya pun pergi meninggalkan mansion itu. Sepanjang perjalanan tak ada yang bicara, Dante sibuk dengan pikirannya yang dipenuhi oleh Bella. Hatinya merasa sakit dan marah dengan kejadian dirumah.
Awalnya dia ingin memasak untuk Bella tapi urung setelah apa yang terjadi. ‘Aku tidak akan memanjakanmu lagi setelah ini! Kau tidak pantas mendapatkan perhatianku! Kenapa kau tidak bisa bersikap manis dan lembut seperti Tatiana? Kau hanya tahu menentangku dan membuatku marah! Tapi anak ini sangat menyukaimu, apa kau tidak bisa lebih serius melakukan pekerjaanmu? Apa aku telah salah membawamu kesini dan memberimu kesempatan? Ahhhhh sial! Kau benar-benar mengacaukanku Belinda!’
Tatiana yang duduk disamping Dante memperhatikan sikap dan ekspresi wajah suaminya yang tidak seperti biasanya. Tapi dia ingat masalah yang sedang dihadapi Dante pasti itulah alasannya kenapa dia terlihat murung dan tak banyak bicara sejak tadi. Tatiana tidak tahu jika semuanya karena Bella.
Sesampainya mereka di kantor Dante, Tatiana duduk disofa sedangkan Alex bermain diatas karpet. Dante menyibukkan diri dengan pekerjaannya tapi pikirannya tidak fokus, berulang kali dia menghela napas panjang. Bukan hanya hatinya saja yang kacau, pikirannya ikut kacau. Benaknya dipenuhi bayang-bayang Bella yang disuapi Anthony tadi pagi. Tanpa sadar dia memegang pena emasnya dengan kuat, setiap gerak geriknya tak luput dari pandangan Tatiana.
‘Ada apa dengan suamiku? Apa masalah yang dihadapinya begitu berat sehingga dia kelihatan muram dan tidak fokus sejak tadi dirumah. Ahhh….andai saja dia mau meninggalkan dunia hitam ini dan hidup tenang bersama aku dan Alex. Apalagi yang mau diraihnya? Uang? Harta? Semuanya sudah ada dan cukup untuk kami hidup mewah. Sebenarnya apa yang terjadi?’ gumam hati Tatiana.
Setelah satu jam, Tatiana mendekati Dante. “Sayang, aku bosan. Bisakah aku keluar bertemu temanku? Jarang sekali kita turun kekota dan karena kau sibuk kurasa aku bisa menghabiskan waktu bersama temanku. Aku akan mengajak Alex bersamaku.”
“Hemm…..baiklah kalau itu maumu. Aku juga tidak mau kau bosan menungguku disini. Apa kau mau membawa Alex juga?”
“No daddy! Aku disini. Disana tidak anak kecil teman main.” jawab Alex yang selalu enggan pergi bersama Tatiana. Wajahnya cemberut,m bibirnya engerucutkan membuatnya terlihat menggemaskan.
“Apa kau yakin? Daddy takut kau bosan disini.”
“No daddy. Aku bisa main saja.”
“Baiklah, sayang.” jawab Dante tersenyum.
“Kalau begitu aku pergi dulu ya sayang, kalau kau sudah selesai segera hubungi aku. Aku akan kembali secepatnya.” ujar Tatiana mendaratkan ciuman dibibir seksi suaminya.
“Bersenang-senanglah, sayang. Belanjalah agar kau tidak bosan Sudah lama kau tidak shopping dan bersenang-senang dengan teman-temanmu.”
“Iya sayang. Aku pergi dulu.”
__ADS_1
Seorang staf Dante membawa Alex keluar ruangan untuk bermain-main dan menemaninya makan siang. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat tapi Dante tak fokus bekerja. Jam sudah menunjukkan sore hari. Lalu dia menghubungi Tatiana untuk kembali kekantornya.
“Daddy!” Alex berjalan mendekati Dante sambil menarik bajunya.
“Iya Alex sayang. Ada apa? Kau bosan ya?”
“Kapan kita pulang? Aku rindu Bella, daddy.”
“Kita tunggu mommymu sebentar ya. Setelah itu kita pulang kerumah. Kau menyukai Bella?”
“Iya daddy.”
‘Ahh…..andai kau tahu kalau anak ini merindukanmu? Kenapa kau tidak mau berubah Belinda?’ Suara Tatiana yang masuk keruangannya membuyarkan lamunan Dante. “Kau sudah datang, sayang? Apa kau senang-senang dengan temanmu?”
“Terimakasih Dante, aku senang sekali hari ini bertemu temanku.” senyum Tatiana sumringah.
“Ayo kita pulang. Alex sudah bosan disini.”
“Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa sudah selesai?”
“Aku bisa lanjutkan nanti dirumah. Ayo kita pergi.” ujar Dante menggendong anaknya dan berjalan keluar bersama Tatiana menuju ke mansion. Sesampainya di mansion suasana tampak sepi.
“Sayang, kau bawa Alex ke kamarnya dulu. Aku mau keruang kerjaku dulu.”
“Baiklah. Jangan terlalu letih Dante! Ingat untuk menjaga kesehatanmu. Kami membutuhkanmu.”
“Heem….” jawab Dante menganggukkan kepala lalu mencium kening istrinya. Dia pun pergi keruang kerjanya. Setelah beberapa saat, dia keluar dari ruang kerjanya dan masuk kedalam kamar tidur Bella setelah dia melihat istrinya keluar dari kamar Alex dan masuk kekamar mereka, “Sepertinya Alex sudah tidur siang.”
Dante memasuki kamar Bella namun tidak melihat wanita itu disana, pria itu mengeryitkan keningnya. Dia pergi keruangan lain dilantai atas yang mengarah ke halaman belakang. Samar-samar dia mendengar suarah keriuhan dari luar serta tawa canda. Dante mendekati jendela dan menyingkapkan tirai.
Dia melihat para pelayan sedang bermain voli disana, ada Bella juga. Dante terus memperhatikan Bella dari jendela. Tiba-tiba dia melihat Bella terjatuh saat hendak memukul bola, dan seorang pria menangkap tubuh Bella dan memeluknya. Jakun Dante naik turun karena emosi melihat Bella dipeluk pria lain.
Rona wajahnya memerah saat kejadian serupa terulang kembali untuk kedua kalinya. Dante sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Saat ini juga dia ingin mematahkan kaki Bella. Dia bergegas meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamar Bella, menunggunya kembali. Awas kau!
__ADS_1
FLASHBACK OFF