PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 209. BARACK DIBAWA KE LUAR NEGRI


__ADS_3

“Iya Alex, aku akan menolongnya tapi kau harus tinggal bersama Sarah dulu ya? Kau mengerti maksudku Alex?” bujuk Dante mengelus kepala anaknya.


“Iya daddy.” jawabnya mengangguk.


“Bagus! Kalian tunggulah disini.” Lalu Dante memberi kode pada teman-temannya untuk seegra keluar meninggalkan kedua orang itu tanpa pamitan pada Sarah dan Alex.


“Dante!” mendengar namanya dipanggil, dante menoleh pada orang yang memanggilnya.


“Apa maksud Barack melakukan itu?”


“Begitu saja pun kau tidak tahu, Hans?” Eddie menimpali.


“Kita disini mencarinya sungguh-sungguh tapi kenapa dia malah main perang-perangan dengan anak itu?” Hans merasa kesal.


“Karena dia mempersiapkan wanita itu.” jawab Eddie santai.


“Heh? Apa Barack mencintainya?” Hans bertanya lagi karena penasaran tapi kedua temannya bukannya menjawab tapi malah meninggalkannya.


“Hei! Kalian ini, apa salah aku bertanya?”


“Tidak ada waktu banyak untuk menjawab pertanyaanmu. Kita harus segera mencari Barack. Ayolah Hans.” ucap Eddie.


“Ya...ya….iya….”


“Dante, kau sudah punya istri tapi kau masih menyukai Bella. Barack sudah punya calon juga ternyata adiknya Bella. Lalu tinggallah aku, Nick dan Eddie yang belum mempunyai pasangan.” celetuk Hans.


“Banyak wanita yang bersama kita di bar.”


“Tapi Dante melarang mereka mendekati kita! Bahkan sudah beberapa hari ini aku tidak pernah ke klub dan tidak ada yang memuaskanku.” ujar Hans memasuki ruang kerjanya.


“Ambilkan laptop Hans!” bukannya merespon ucapan Hans, Dante malah memerintahnya.


“Nasibku!” sambil menggerutu Hans mengambil laptop dan memberikannya pada Dante.


“Ini yang kau inginkan Dante?” tanya Hans menghempaskan tubuhnya di sofa sedangkan Dante hanya meliriknya dan menganggukkan kepala saja.


“Kalian fokuslah. Saat ini kita tidak main-main bekerja.” ujar Dante memasukkan chip dari handphonenya ke laptop.

__ADS_1


“He? Dante ada apa? Kenapa wajahmu menegang?” Eddie bertanya tapi tak mendapat respon. “Dante!” dia kembali memanggilnya sambil merubah posisi duduknya pindah ke samping Dante.


“Ada apa?” Hans yang penasaran juga ikut berpindah ke samping kiri Dante.


“Waduh! Kenapa bisa jauh begitu?”


“Dante bagaimana ini? Mereka memindahkan Barack keluar negeri?” Eddie juga mengajukan pertanyaan tapi Dante masih fokus menatap layar laptop.


“Kita ambil satu hal positif disini. Barack masih hidup dan mereka sengaja membawanya pergi ke luar negeri. Aku tidak tahu apa tujuannya tapi mereka akan membawa Barack ke markasnya.” ucap Dante tanpa menatap teman-temannya pandangannya tetap melihat koordinat yang bergerak menjauh.


“Ini arahnya ke Amerika? Meksiko? Kemungkinan besar mereka menuju meksiko kah? Kalau mereka sudah di Meksiko bagaimana cara kita harus kesana Dante?”


“Dengan pesawatlah!” jawab Dante ketus menjawab pertanyaan bodoh temannya.


“Heis...aku tahu dengan pesawat. Tapi bagaimana mungkin kita masuk kesana Dante? Kau tidak tahu tempat tinggal mereka itu seperti apa. Pengamanannya pasti tidak jauh beda dengan pengamanan dirumahmu Dante” Hans menjelaskan dengan sedikti berdecak.


“Sesulit apapun aku akan menyelamatkan Barack!” Dante menatap monitor lagi, “Tapi sekarang kita harus menunggu dulu.”


“Menunggu apalagi?” tanya Hans.


“Kita harus tahu kemana mereka membawa Barack, biarkan saja dulu mereka berhenti bergerak baru kita bergerak menyerang mereka.” ujar Dante.


‘Mereka tidak akan membawa Barack ke markasnya kalau mereka tidak punya tujuan. Aku yakin sekali mereka tidak akan membunuh Barack.’ bisiknya dalam hati lalu dia menatap teman-temannya bergantian. “Barack sangat cerdik, tenanglah! Mereka membawa Barack itu pasti juga dengan penuh pertimbangan. Aku curiga ada yang mereka inginkan dari Barack.” Dante memberitahu analisanya.


“Jujur saja, aku tidak tahu apa yang kau inginkan Dante tapi kalau kau sudah memutuskan seperti ini berarti kau membahayakan nyawa Barack.”


Dante menggelengkan kepalanya dengan tatapan tajam masih menatap monitor didepannya. “Aku tidak membahayakan nyawa siapapun! Tapi aku mengikuti permainan Barack!” kemudian dia menoleh menatap kedua sahabatnya itu. “Percayalah pada Barack! Dia adalah orang yang bertanggung jawab, tunggu saja. Kalian jangan khawatirkan dia.”


“Jadi maksudmu kalau dia sudah memperhitungkan ini?” tanya Eddie.


“Ya, aku tegaskan sekali lagi, kita tunggu sampai pesawat itu berhenti, baru kita putuskan apa yang akan kita lakukan selanjutnya.”


“Bagaimana jika dia membutuhkan bantuan?”


“Aku lebih mengenal Barack daripada kalian.” ujar Dante lagi menolak ucapan Hans.


“Tapi Dante?” Hans masih keberatan.

__ADS_1


“Sabarlah Hans! Kita tidak akan tahu apa rencana Barack jadi tunggulah sampai dia memberi kabar karena mungkin saja ini hanya sebuah jebakan? Kita tidak tahu apakah mereka punya alat pendeteksi chip?” kata Dante lagi.


“Kau lihat rencana Barack yang pertama gagal hingga dia tertangkap. Bukankah ini akan menambah masalah Dante?”


Dante menggelengkan kepala menatap lurus ke monitor, ”Mungkin menurut kalian gagal. Ada sesuatu yang ingin dilakukan Barack sebagai plan B, mana kita tahu! Jangan gegabah kalau memang itu markas mereka. Saat ini yang kita butuhkan adalah menunggu dan bersabar sambil memperhatikan perkembangan gerakan mereka.”


“Dante, kenapa kau selalu mempercayai Barack? Bagaimana jika dia memang dalam kondisi sulit dan memang dia tidak bisa meminta bantuan pada kita dan menunggu kita?”


“Barack tidak seperti itu Hans! Apa kalian tidak berpikir dari pengalaman sebelumnya?” Dante bertanya pada kedua temannya.


“Pengalaman apa Dante?”


“Fuuh! Aku sudah jelaskan tadi! Sarah!”


“Maksudmu?”


“Barack bisa saja langsung mendatangi kita, dan menghubungi kita dan membawa Sarah keluar lebih cepat dari hutan itu. Tapi apa yang dilakukannya? Dia malah bertahan disana, dia masih mencari informasi dari orang-orang yang mengejarnya dan dia mengajarkan Sarah cara untuk bertahan hidup. Aku menangkap satu hal disini, anak itu memiliki pola pikir yang berbeda, tunggu sajalah!”


Kali ini Hans mengerti dan menganggukkan kepalanya begitupun dengan Eddie, terlihat lebih tenang setelah mendengarkan penjelasan Dante.


“Jadi menurutmu sekarang Barack sedang melaukan triknya disana?”


“Hem! Dia ingin melakukan sesuatu. Dia memiliki suatu tujuan tapi aku tidak tahu apa tujuannya itu.” berdasarkan sikap Barack selama ini, Dante memang tidak pernah berpikiran buruk tentangnya. Tentu saja dia pun tak sampai berpikiran kalau Barack memiliki masalah gangguan ingatan. Tidak ada diantara mereka yang berpikir sampai kesana. Justru kecerdasan Barack dijadikan sebagai salah satu alasan kenapa musuh membawa Barack.


“Jadi kita hanya menunggu sampai mereka berhenti, baru kita menyusul kan?”


“Hem! Aku…..”


Dreeetttt dreeetttt dreeettttt


Belum sempat Dante menjawab pertanyaan temannya, handphonenya kembali berbunyi. Dia menatap nomor yang muncul dilayar ponselnya lalu menghela napas dengan malas. ‘Apa dia sudah dirumah? Huh, apa yang diinginkan wanita itu sekarang? Mencoba merayuku dan menipuku lagi? Huh!’


Dengan enggan dia menjawab panggilan itu, “Ada apa kau menghubungiku Tatiana?”


“Dante sayang! Apa semua urusanmu berjalan dengan lancar?”


Saat mendengar suara Tatiana, muncul senyum sinis diwajah Dante, entah kenapa kini dia merasa jijik mendengar suara yang manja dan mendayu-dayu itu.

__ADS_1


“Ya lancar!” dengan enggan dia menjawab sesingkat mungkin.


__ADS_2