PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 151. APA KAU PENCURI


__ADS_3

“Tidak nyaman dengan pekerjaanmu? Apa Tuan Alex nakal?” bisik Rita.


“Bukan! Tuan Alex baik-baik saja. Tapi masalah itu….”


Saat Bella bicara tiba-tiba pintu terbuka sehingga ucapannya terpotong.


“Disini kau rupanya!”


“Nyonya!” belum sempat Bella bicara seorang wanita membuka pintu ruangan pelayan dan menatap tajam pada Bella yang sontak berdiri karena terkejut.


“Aku mencarimu dikamarmu tapi kau tidak ada! Apa kau lupa kalau kau dihukam selama tiga hari tidak boleh keluar kamar?”


Bella sedikit meringis.”Maaf nyonya! Saya lapar tadi makanya saya turun mengambil makanan.”


“Kau masih dihukum Bella!” wanita itu memicingkan matanya dan menatap Bella dari ujung kaki ke ujung rambut. “Apa kau ingin aku memberimu hukuman tambahan?”


Bella langsung menggelengkan kepalanya. “Tidak nyonya. Saya minta maaf!” Dia merasa takut dan khawatir melihat kemarahan Tatiana. ‘Ahhh pokoknya aku harus membujuk Tuan Dante supaya menruhku di bunker saja. Lebih baik aku tinggal didalam bunker daripada ketemu sama mak lampir ini.’ ucap Bella didalam hatinya. ‘Tidak….tidak! Aku juga tidak bisa tinggal di buker, kasihan Alex. Tidak ada yang menolongnya kalau wanita ini berbuat jahat pada Alex.’


Bella pasrah karena mengingat seorang anak kecil bernama Alex itu, dia masih menundukkan kepalanya dan menahan semua amarah didalam hatinya.


“Ikut aku sekarang!” perintah Tatiana.


“Baik nyonya.” Bella menganggukkan kepala dan mengikuti Tatiana.


“Berapa lama kau sudah bekerja disini?’” tanya Tatiana sambil menghempaskan tubuhnay di sofa sedangkan Bella berdiri menundukkan kepalanya.


“Belum lama nyonya. Empat atau lima hari.” jawab Bella mencoba berpikir.


“Kau baru bekerja disini sebentar tapi kau sudah membuat banyak masalah!”


“Maafkan saya nyonya!” Bella menundukkan kepala saat bicara. ‘Duh sabar---sabar Belinda sabar! Kalau bukan karena Alex, kalau bukan karena Sarah, aku tidak akan pernah tenang disini! Lebih baik aku dikembalikan pada Tuan Julian dan Madam Wendy untuk bekerja dijalan pun tidak masalah!’ gumam hati Bella yang berusaha tegar dan kuat bertahan.


“Kau akan mendapatkan hukuman tambahan!” Tatiana kembali menaikkan intonasi suaranya membuat hati Bella semakin khawatir.

__ADS_1


“Hukuman?” Bella mengulang kalimat Tatiana.


“Iya! Hukuman! Mulai hari ini kau harus terus ikut latihan piano dengan Alex!”


Bella mengerjapkan matanya, ‘Dia jadikan itu sebagai hukuman? Bukan sebagai tawaran? Bukannya kata Tuan Dante bahwa istrinya akan menawarkan itu untukku?’ Bella benar-benar tak paham.


“Baik Nyonya.” Bella menjawab sambil menganggukkan kepalanya.


“Kau tidak boleh absen selama latihan piano. Alex butuh orang yang bisa diajak bermain piano bersamanya jadi jangan membuatku bertambah kesal dengan tidak berlatih serius, kau mengerti?” ancam Tatiana lagi.


“Iya nyonya. Saya paham.”


“Bagus!” lalu Tatiana berdiri. “Bella….apa kau pencuri?” teriaknya tiba-tiba.


“Tidak nyonya, saya bukan pencuri!” jawab Bella masih menundukkan kepalanya.


“Darimana yang bisa membeli pakaian semacam ini? Apakah bosmu ditempat kau bekerja dulu memberikan gaji cukup besar, ha?” Tatiana mulai mengintimidasi saat melihat pakaian yang dipakai oleh Bella.


“Kau tidak bisa menjawab kan?” Tatiana terus saja mencecarnya.


“Maafkan saya nyonya.” hanya kalimat itu yang bisa diucapkan oleh Bella.


“Katakan padaku darimana kau bisa membeli baju mahal itu? Baju yang kau pakai itu limited edition! Aku tahu merknya! Aku bahkan tidak punya baju itu, bagaimana bisa kau punya uang membelinya? Tidak semua orang mampu membeli barang branded itu, karena harganya mahal dan itu baju limited edition!” Tatiana semakin tidak senang melihat baju yang pernah diincarnya tapi dia bahkan tidak bisa membelinya karena sudah dibeli orang lain. Dia tidak tahu kalau suaminya yang membeli baju itu.


“Aku yang memberikannya Tatiana!” suara bariton menjawab pertanyaan Tatiana. Suara itu membuat kedua wanita itu menatap kearah datangnya suara.


“Dante?” suami Tatiana mendekat tanpa bicara apapun.


“Aku yang memberikannya.” ucap Dante lalu mengecup kening istrinya.


“Kau?” Tatiana mengulang kalimatnya dengan tak percaya.


“Bella! Pergila temani Alex. Dia ada dikamarnya sendirian dan dia baru saja selesai mandi. Mungkin kau bisa mengajaknya makan dulu.” kata Dante menatap Bella yang masih menundukkan kepala.

__ADS_1


“Baik Tuan!” Bella menundukkan kepala hormat lalu segera pergi ke lantai atas meninggalkan Dante dan istrinya yang tampak tak senang.


“Dante?” Tatiana kembali mengulang ucapannya.


“Kau tadi bertanya padanya. Apakah dia pencuri? Darimana uang membeli baju itu? Kenapa dia memakai baju mahal itu?”


Tatiana menganggukkan kepalanya. “Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau memberikannya Dante? Itu baju yang sangat mahal! Apa kau memiliki perasaan padanya Dante?” Tatiana mendengus lalu melirik Dante dengan geram, wajahnya tak lagi dihiasi senyum seperti biasanya.


“Tidak! Aku baru sekali ini melihatmu cemburu Tatiana.” ujar Dante menarik Tatiana mendekat.


“Kau menggodaku Dante?” Tatiana mengeryitkan dahinya menatap Dante dengan wajah murung.


“Shhh….aku tidak menggodamu, sayang. Biar aku jelaskan dulu padamu ya.”


Tatiana mencoba untuk menahan dirinya sambil menganggukkan kepala. “Jangan buat aku jadi salah paham Dante! Kau tidak pernah memberikan apapun pada wanita lain sebelumnya.”


“Aku mengerti!” Dante menghela napas sebentar. “Kau tahu kenapa aku memberikannya baju itu?”


Tatiana menggelengkan kepalanya.


“Karena dia pengasuh Alex.”


“Maksudmu?” Tatiana mengeryitkan dahinya.


“Aku hanya ingin berbuat baik padanya.” Dante membelai rambut istrinya, “Kau bisa bayangkan misalnya dia berbuat buruk pada anak kita? Aku ingin menunjukkan padanya kalau aku bisa memberikan dia sesuatu yang bagus selama dia juga bersikap baik, menyayangi anakku dan menghormatimu! Tapi kalau dia berbuat kesalahan maka jangan harap aku akan berbaik hati lagi padanya. Bahkan hukuman ku pasti akan kejam!” penekanan diberikan pada akhir kalimat oleh Dante.


“Kau mengancamnya Dante?” Tatiana menyipitkan matanya tapi ada rasa senang didalam hatinya. ‘Ah syukurlah ternyata tidak seperti yang aku pikirkan! Aku berpikir terlalu jauh ternyata Dante hanya ingin pengasuh itu tahu dimana tempatnya! Mana mungkin dante akan tertarik pada perempuan itu.’


Dante menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Tatiana.


“Aku mengatakan padanya aku bisa memberikan kesenangan dunia selama anakku tidak tersakiti!” lalu Dante berbisik lagi pada Tatiana, “Tapi jika dia membuat masalah dan membuat Alex menangis maka jangan salahkan aku jika aku menghukumnya. Dia sudah mengerti semua ini karena sebelum aku berangkat membawanya menemuimu, aku sudah perjelas semuanya, Tatiana. Kau tidak perlu khawatir, dia tidak akan mengambil apapun dirumah ini.”


 

__ADS_1


__ADS_2