
Apa-apaan kau ini? Senyum-senyum sendiri begitu? Lihatlah tubuhmu itu lembek tak ada otot sama sekali. Olahraga yang benar! Aku tidak suka yang kendor!”
Bella hanya diam tak ingin mengatakan apapun lagi. ‘Kau yang apa-apaan marah-marah nggak jelas. Aku pasti tidak tahanlah! Inikan olahraga untuk pria.’
“Kenapa dengan wajahmu?”
“Tidak apa-apa tuan…...”
“Kau pikir aku mau memuaskanmu, ha?”
“Tidak Tuan. Kau tidak memuaskanku!” jawab Bella cepat. ‘Tapi aku capek, lenganku sudah pegal dari tadi.’ hati Bella berdecak dan senang meskipun ucapan Dante menyakitkan hati dan membuatnya kesal.
Kenapa dia bawaannya marah terus? Semua yang kulakukan salah tidak ada yang benar dimatanya.’ Bella justru membayangkan sesuatu yang membuatnya melayang tinggi ke langit ke tujuh, nah gitu jatuh pasti sakitnya tak terkira ya.
Dia mencoba menikmati suasana di ruang gym, hanya ada mereka berdua. Dia bisa memandangi Dante sepuasnya meskipun pria itu selalu memarahinya.
“Hei apa yang kau lakukan? Kau puas menatapku dari tadi?” Dante menatap tak suka kearah Bella.
“Eh….maafkan aku tuan. Kau tampan sekali. Aku tidak tahan lagi.” ujar Bella jujur dengan senyum dan cara bicaranya yang polos tanpa dibuat-buat.
‘Apa seperti itu caramu bicara dengan semua pria yang tidur denganmu? Bodoh! Argggg…..apa kau tahu apa yang ada dipikiranku sekarang? Aku ingin mencari semua pria yang pernah tidur denganmu dan membunuh mereka semua. Menggergaji tubuh mereka sebelum aku membunuhnya. Aku benci mereka semua!’ ucap Dante dalam hatinya yang tiba-tiba merasa panas seperti luapan lava yang siap meluap meluluh lantakkan bumi.
“Cih!! Lihat tanganku jadi kotor! Bersihkan! Buka mulutmu!” Dante bicara sambil berdiri dan menyuruh Bella melakukan perintahnya.
“Buat tanganku bersih!”
Bella hanya menuruti permintaan Dante sambil mengomel dihatinya. ‘Dasar orang aneh! Kenapa dia tidak bersihkan saja pakai air malah menyuruhku memasukkan tangannya ke mulutku. Bukannya tangannya tetap kotor kena air liurku? Apa sih maunya dia ini?’
Kekesalan Bella sudah memuncak sampai kepuncak gunung semeru tapi dia tetap saja membersihkan jari-jari Dante. ‘Tapi kok ini sepertinya seksi ya. Membersihkan tangannya dengan mulutku.’ pikiran Bella kembali berimajinasi dan membayangkan sesuatu.
“Sudah bersih, Tuan.”
“Iss…..begini kau bilang bersih? Tanganku jadi bau karena ludahmu”
“Iya tuan….sudah bersih. Kalau mau lebih bersih lagi cuci tangan saja pakai air.”
Dante berdecak kesal, wanita ini selalu saja menjawabnya.
__ADS_1
“Apa kau masih menggigil kedinginan?”
“Kedinginan?” sejenak Bella berpikir. “Tidak...entah kenapa aku sudah tidak kedinginan lagi.”
“Itu artinya kau tidak butuh pakaian. Jangan pernah memintanya lagi.”
“Hee? Apa hubungan dengan itu tuan?”
“Kau hanya berpakaian saat keluar dari rumah ini dan menemui putraku baru aku berikan pakaianmu.” ucap dante lalu melihat kearah tangan Bella yang masih menggerakkan alat olahraga.
“Sudah cukup! Berdiri dan ikut aku, bersihkan punggungku dengan scrub.”
“Bersihkan punggungmu?” Bella mengeryitkan dahinya tapi dia engga untuk bertanya lagi karena takut Dante akan memarahinya. Pria itu sudah melangkah pergi dan Bella mengikuti dari belakang.
‘Syukurlah dia tidak kedinginan, ternyata berhasil juga rencana yang kubuat, setidaknya dia melupakan sedikit demi sedikit rasa sakit pengaruh obat. Dan dia juga sudah tidak mengingat untuk meminta obat itu meskipun aku terpaksa harus menyentuhnya.’ gumamnya sendiri.
Dante memang berniat untuk menyentuh Bella untuk mengurangi kerinduannya, hatinya puas dan ada segurat senyum yang tak dilihat oleh Bella karena rencananya berhasil.
“Masuk!”
“Ada sauna disini?” tanya Bella kagum.
“Ah….aku tidak tahu kalau harus diambil dulu. Kupikir scrubnya ada disini, Tuan.”
“Jawab terus! Lebih peka sedikit bisa tidak? Tadi sudah kubilang untuk menggosok punggungku pakai scrub, harusnya kau lebih peka pada perintah-perintah kecil seperti itu.”
“Baik, Tuan…..”
“Kenapa kau masih berdiri disitu? Cepat ambil scubnya!” ujarnya gemas melihat tingkah Bella yang agak lemot jaringannya.
“He he….aku sedang berpikir, apa aku boleh melakukan itu?” tanya Bella dengan wajah penuh kebahagiaan menatap Dante.
“Lakukan saja! Jangan banyak bicara. Kau ini berisik!”
“Ah iya.” dengan cepat Bella keluar dan mengambil scrub. Setelah membuka segelnya dia kembali masuk keruangan sauna.
“Gosok punggungku dengan benar, jangan kasar dan sakit. Aku tidak mau kukumu melukai kulitku.”
__ADS_1
“Iya, tuan. Jangan khawatir.”
Bella mengoleskan scrub dipunggung Dante dan menggerakkan tangannya memijat. “Apa kencangnya cukup segini, Tuan?”
“Hem….pijat yang benar ya.”
Ah….aku senang sekali memijatnya. Aduh punggungnya saja sudah seperti ini apalagi yang didepan…..jujur dari kemarin aku sangat penasaran.’ ujarnya bahagia.
“Hei jangan melamun! Lakukan yang benar, agak bertenaga sedikit dan tekan yang enal. Pijatanmu tidak enak sama sekali! Kau ini apapun tidak bisa!”
“Eh...iya maaf tuan.”
‘Duh….kenapa aku susah fokusnya, pikiranku melayang kemana-mana seperti layang-layang putus terbawa angin. Dari kemarin aku ingin menyentuh tubuhnya dan sekarang dia mengijinkannya. Pengen rasanya aku memakannya! Dia memang pria menyebalkan dan tak pernah memperhatikanku tapi aku suka menyentuhnya. Seperti ada kerinduan dalam hatiku dan kenapa perasaanku seperti tak asing dengannya.’
“Kakiku juga ya.”
“Eh iya Tuan. Tapi biasanya yang saya tahu kalau ditempat pijat mereka pijat kaki duluan Tuan.”
“Hem...tahu begitu lantas kenapa kau pijat punggungku? Kau tak pernah pakai otakmu ya? Kenapa tidak memijatku sesuai urutan pijat?” oceh Dante yang masih berbaring tengkurap.
“Maaf Tuan, tadikan Tuan hanya menyuruh saya scrub di punggung.” Bella pun mulai berpindah memijat kaki.
“Kenapa kau lewatkan bagian yang penting? Kau memang tidak pernah fokus ya kadang kau memanggil dirimu saya, kadang aku, huhh dasar bodoh!” ujar Dante kesal bersungut-sungut.
“Maaf ya Tuan. Maksud tuan bagian penting apa ya?”
“Kenapa kau tidak memakaikan scrub dibagian itu? Kau juga harus membersihkan bagian itu, itu yang penting!”
“Ha? Benarkah?”
“Kenapa kau sepertinya kesenangan? Aku sudah menjelaskan dan kau terus saja bertanya. Bikin pusing saja kau ini!” kata Dante sambil menoleh ke belakang dan menatap Bella.
“Maaf Tuan.” tanpa menunggu lama bella langsung memakaikan scrub padsla Dante lalu menggosoknya agak kencang. Dia tak mau mencari keributan lagi, lebih baik menuruti saja perintah pria itu.
“Jangan lama-lama menatapnya. Lakukan tugasmu dengan baik.”
Dante masih terbaring dengan posisi tengkurap dan tak mengubris Bella lagi.
__ADS_1
‘Aihhh aku bisa melihat otot tubuhnya! Kenapa bisa berotot begitu? Ada roti sobeknya juga. Aduh.....pasti dia rajin olahraga makanya bentuk tubuhnya bisa sebagus ini. Tapi masa iya dia mau tubuhku berotot seperti ini? Issss......pasti jeleklah aku kan perempuan.