
“Oh itu, aku masih ingat kemarin saat main bola, kau yang menyelamatkannya!” Dante tersenyum.
“Tidak mungkin! Anda tidak boleh menjadikan Bella sebagai tawanan diatas sana. Ini adalah permainan serius betulan bukan? Bagaimana jika peluru mengenai tubuhnya? Bagaimana jika dia terbunuh di permainan ini?” Anthony semakin ketakutan karena tidak menyangka.
Dante mendengus kesal, ‘Huh! Tadi kau kelihatan sangat tenang tapi saat aku menyebutkan nama Bella kenapa kau jadi sepanik itu? Mana ketenangan yang sedari tadi kau tunjukkan padaku?’
“Akulah yang membuat peraturan disini! Ada satu hal yang harus kau ingat Anthony! Aku ingin kondisinya sama seperti saat kau bermain bola! Bagaimana kau bisa menangkapnya saat dia hampir terjatuh, kini aku ingin kau menyelesaikan dua misi sekaligus. Kau pernah melakukannya dan aku yakin ini bukan hal sulit untukmu!”
‘Orang gila ini! Dia benar-benar menekanku? Kenapa harus melibatkan Bella disini? Dia benar-benar ingin merusak konsentrasiku, apa dia benar-benar ingin membunuhku? Tidak akan semudah itu! Apa yang akan terjadi pada Bella seandainya aku mati? Apa dia akan membunuhnya juga? Aku tidak akan membiarkan itu terjadi,’ gumam Anthony dihatinya, perasaannya semakin tidak tenang. Dia menatap Dante dengan tatapan tajam dan tegang membuat Nick memikirkan sesuatu.
‘Tidak mungkin dia penyusup! Tapi Dante marah padanya karena dia cemburu pada pria ini. Apa yang sudah dilakukan pria ini pada Bella? Ah, jadi karena cemburu Dante menyuruhku datang kesini untuk menghabisina? Dasar kau Dante! Tapi kurasa dia tidak mudah dihabisi, pelayan ini terlihat tenang dan menurutku dia tidak seperti pelayan biasa. Sejak kapan dia bekerja pada Dante?’ bisik hati Nick memikirkan kemungkinan Anthony adalah penyusup tapi dia berniat akan menanyakan soal itu pada Dante nanti setelah permainan itu selesai.
“Bella sudah bersama saya, Tuan!” ucapan Henry membuat semua orang menatap kearah Bella.
‘Ada apa aku dibawa kesini malam-malam begini?’ Bella bergumam karena heran.
“Henry! Satu peringatan untukmu! Panggil dia Nona Bella! Panggil dia seperti itu. Jangan pernah memanggil hanya dengan namanya saja.” ujar Dante yang selalu kesal jika orang lain tidak menghormati Bella. Dia sudah memberitahu kepada semua pelayan sebelumnya untuk memanggil wanita itu dengan sebutan Nona Bella.
Nick semakin heran dengan sikap Dante yang tak biasa, ‘Huh Dante! Kau semakin gila, bagaimana kalau istrimu mendengar ucapanmu? Tapi dimana Tatiana? Semoga saja dia tidak mendengar bisa habis Bella jika Tatiana marah.’
“Baik Tuan. Nona Bella maksud saya sudah ada disini.” Henry menatap Bella, “Maafkan saya atas kelancangan saya Nona Bella.”
“Hem…..” Bella mengangguk. ‘Ada apalagi sih ini? Kenapa dia memanggilku kesini. Kenapa pria gila itu mau mereka memanggilku seperti itu? Bukankah kami sama-sama pelayan di mansion ini? Bahkan Henry lebih tinggi posisiny sebagai kepala pelayan. Orang ini benar-benar tidak bisa ku mengerti.’ bisik hati Bella yang bingung dan bukan hanya Bella saja yang memikirkan ucapan Dante itu tapi orang lain yang berada disana pun berpikiran sama.
__ADS_1
‘Apa kau punya hubungan khusu dengan wanita ini? Kenapa kau memanggilnya dengan sebutan nona? Kau ingin kami memanggilnya seperti itu? Maksudmu kau sungguh menegaskan statusnya bukanlah pelayan biasa dan aku hanya pelayan biasa maka tidak boleh dekat denganny?’ Anthony pun mencoba menarik kesimpulan didalam hatinya berdasarkan ucapan Dante.
“Dudukkan wanita yang bersamamu itu bersama dengan medali diatas puncak dan pakaikan medali itu padanya.” perintah Dante pada Henry.
“Baik Tuan.” ucap Henry.
“Diatas?” Bella mengerjapkan matanya menatap Dante menyela ucapan Henry.
“Baiklah Tuan.” jawab Henry. Dante sama sekali tidak menjawab Bella apalagi menatapnya.
‘Apa yang ingin dilakukannya? Apakah dia masih marah padaku karena aku tidak menyapanya saat dikamar Alex tadi? Sekarang dia malah menyuruh kepala pelayan ini membawaku kemana?’ bisik hati Bella yang agak kesal tapi akhirnya dia hanya diam dan mengikuti Henry. ‘Ada apa dengan Anthony? Kenapa dia tidak menatapku juga? Apa mereka ada masalah ya? Lalu apa hubungannya denganku sih? Apa Dante cemburu dan dia menyalahkan semuanya pada Anthony?’
Bella menghela napas panjang. ‘Tapi tidak mungkin juga dia cemburu padaku. Dia sama sekali tidak menyukaiku dan dia bilang kalau dia sangat mencintai istrinya!’ Bella mendengus dan mengomel sendiri dihatinya sambil kedua tangannya mengelus lengannya karena udara dingin semakin menusuk.
“Apa masih jauh kita berjalan?” tanya Bella yang berjalan dibelakang Henry.
“Kita harus naik keatas bukit itu, Nona.” jawab Henry menunjuk keatas puncak bukit.
“Ah? Bukit bohongan itu? Kenapa dia membuat tempat seperti ini?” ocehan Bella tidak dijawab Henry, dia tetap berjalan menaiki bukit memaksa Bella tetap diam dan mengikuti saja.
‘Kepala pelayan dan Tuannya memiliki sifat yang sama-sama dingin, keras dan tidak mau mendnegarkan penjelasanku.’ bisik hati Bella yang berjalan sambil berdecak.
“Ini medalinya. Silahkan duduk disini.” Henry mengangkat medali dan membiarkan Bella duduk dikursi yang sudah disiapkan.
__ADS_1
Bella yang kesal terus saja menggerutu didalam hatinya, ‘Kenapa sih aku harus ada ditempat permainan ini? Kenapa juga aku harus naik diatas sini seperti persembahan untuk para dewa saja. Ck!’
‘Anda harus memakai medalinya dan saya akan mengikat anda supaya tidak terjatuh. Ini bagian dari permainan yang diatur Tuan.” ucap Henry menjelaskan.
“Ha? Mengikatku?” matanya melotot tak percaya mendengar ucapan kepala pelayan itu.
“Iya. Ini aturan permainannya nona. Maaf saya tidak bisa menjelaskan lebih banyak lagi karena permainan akan segera dimulai. Bersiaplah.”
“Orang gila itu! Jadi begini caranya membalasku karena aku mengacuhkannya tadi? Dasar brengsek! Tidak bisakah dia sehari saja tidak membuat masalah denganku? Lama-lama aku rasanya ingin mencincangnya saja.” Bella semakin merasa kesal pada Dante, sumpah serapah tak henti keluar dari mulutnya.
“Baiklah, aku akan mengikuti permainannya.” Bella pun akhirnya pasrah disaat tubuhnya diikat ke kursi oleh Henry.
“Sudah selesai Nona. Permainan akan segera dimulai, sebaiknya anda diam saja disini dan jangan bergerak karena bisa membahayakan anda. Tunggulah orang yang akan menyelamatkan anda.” ujar Henry lagi yang membuat Bella marah.
“Mudah sekali kau bilang begitu? Apa-apaan ini?” Bella yang marah menatap Dante yang berjarak setengah kilometer dari tempatnya berada. Bella masih terus menatap pria itu meskipun wajah Dante tidak terlihat jelas di kegelapan malam.
“Apa yang akan dilakukannya padaku? Kenapa Anthony juga ada disini? Siapa orang yang naik keatas menara itu? Apa yang mereka akan lakukan?” hatinya bertanya-tanya dan mulai merasa ketakutan.
TEEETTTTTT
Suara bel panjang berbunyi memecah keheningan ditempat itu. ‘Suara bel apalagi itu?” belum sempat Bella mendapat jawaban, tiba-tiba dia memekik karena terdengar suara tembakan. Teriakannya seiring dengan rentetan suara tembakan dan bunga api yang terlihat keluar dari senjata api yang berada diatas menara, orang itu menyerang tanpa ampun pada sasarannya.
__ADS_1