
“Apa maksudmu Tuan dante?” dia menatap netra pria itu. “Eh...baiklah. Aku rebahan dan tidak akan banyak tanya lagi.”
“Jangan selalu mengulang perkataanku kalau aku menyuruhmu sekali langsung lakukan. Aku tidak suka terlalu banyak ditanya-tanya.” ujar Dante lalu menari kedua tangan Bella.
“Mau kau apakan tanganku?” tanya Bella yang tidak sempat mengomentari ucapan Dante karena kedua tangannya sudah ditarik dante.
“Pegangan disini!” Dante menarik kedua tangan Bella.
“Di tiang-tiang penyangga tempat tidur ini?” tanya Bella dengan kedua tangannya diletakkan ditempat yang disebutkan Dante. Tempat tidur itu agak eksotik dengan model sandaran bukanlah busa yang empuk tapi justru tiang-tiang besi berlapis emas.
“Aku sudah memegangnya terus aku harus apa?”
Dante tidak menjawab dia melebarkan kedua kaki Bella dan memulai pemanasannya. “Ssshhh…….”
“Ah….ini sarapan enak untuk pagiku. Meskipun aku masih lelah akibat ulahnya tadi malam. Tapi ini…..enak banget! Kenapa dia pandai sekali?”
“Kau masih lelah?” tanya Dante namun dijawab Bella dengan gelengan kepala, membuat Dante tersenyum. Dia memperlakukan Bella sangat lembut lalu mengecup bibir merah mudanya.
“Ssshhhhh….Tuan…..aaahhhh…..emhhh…...aku…..sssshhhh….” semakin tak karuan pikiran Bella. Tiba-tiba surga dunia itu pun kembali dirasakan Bella pagi itu, dengan Dante yang masih bersemangat memanjakan Bella. Dante lupa waktu dan lupa pada aktivitas pentingnya pagi ini.
“Bellaku sayang…...ahhhh!” Dante merasakan bersamaan dengan Bella. Seakan belum puas, Dante menggendong Bella dan membawanya ke kamar mandi, mengulang kembali.n Bella merasa senang dan menang karena bisa menguasai Dante semalaman, dia ingat janji Dante yang akan menemaninya setiap malam.
‘Ha ha ha ha…...kasihan kau Tatiana tidur kedinginan sendirian. Maaf ya suamimu aku pinjam tadi malam dan mungkin untuk malam-malam berikutnya. Ah…..sudah kubilang kalau aku pasti akan mendapatkannya! Mana ada yang bisa menolakku!’ bisim hatinya merasa senang karena akhirnya Dante luluh dan memanjakannya.
Apalagi tadi malam Dante mengatakan kalau grand piano itu memang dia belikan untuk Bella tanpa sepengetahuan istrinya. Wah, semakin merasa bahagialah hati Bella sudah berhasil jadi pelakor istimewa.
‘Rasain! Siapa suruh jahatin aku, aku rebutlah suamimu! Awalnya aku tidak ada niatan tapi karena kau Tatiana selalu jahat padaku! Tekadku semakin besar untuk merebut suamimu dan aku berhasil! Ha ha ha ha.’ suasana hati Bella sangat baik, Dante mulai memanjakannya dengan sentuhan, perhatian dan hadiah.
Pukul delapan pagi pun sudah terlewatkan, sepertinya Dante masih enggan mengakhiri aktivitas mereka. Setiap sudut ruangan menjadi saksi bisu dan Bella pun terlihat penuh energi seperti batere yang sudah diisi full. Dunia bagai milik berdua karena di bunker memang hanya ada mereka berdua saja.
“Kau mengeluarkannya didalam terus?” tanya Bella menatap netra Dante.
“Hem….kenapa?” senyum smirk muncul diwajah tampan itu.
__ADS_1
“Kalau aku hamil bagaimana?” balas Bella dengan suara manja.
“Alex akan punya adik, kau tidak mau?”
“Bagaimana dengan istrimu? Dia pasti akan menghajarku!” Bella cemberut sambil mengerucutkan bibirnya padahal didalam hatinya, dia pun berharap bisa hamil agar pembalasannya pada Tatiana semakin sempurna.
“Sssttt….jangan terlalu dipikirkan. Tidak akan ada yang berani menyakitimu, kau wanitaku dan aku akan selalu menjagaku. Ingat itu.” ujar Dante seolah mengucapkan janji.
“Iya, aku ingat. He he he he kalau aku hamil, aku mau anak perempuan.”
“Hem...kau sudah bilang.”
Dante memandikan Bella, lalu dia mengambil handuk besar membalutkannya ketubuh Bella lalu menggendongnya keluar dari kamar mandi.
“Ambil bajumu!”
“Aku tidak punya baju Tuan Dante!”
“Wah bajunya bagus-bagus. Apa semua baju ini untukku?” wajahnya bersinar ketika lemari pakaian dibuka oleh Dante dan deretan baju-baju mahal terpampang disana.
“Pakaian-pakaian ini sengaja disimpan disini untuk cadangan bila harus bersembunyi didalam bunker.”
“Ah….kalau pakaian ini milik istrimu, aku tidak berani memakainya. Nanti kalau istrimu tahu aku pasti digiling.” Bella bergidik ngeri membayangka Tatiana yang marah.
“Semua baju ini masih baru. Coba lihat, semua masih ada tag-nya. Tatiana belum pernah masuk kesini dan kau wanita pertama yang memasuki tempat ini. Aku hanya datang kesini dengan teman-temanku saja untuk minum dan bekerja.”
'Sebenarnya aku membeli pakaian-pakaian ini untukmu dan menyimpannya disini karena tidak mungkin aku membawanya ke kamarmu. Sepatu, tas dan semuanya adalah milikmu Bella.' bisik hati Dante tapi dia masih gengsi untuk menunjukkan perasaannya.
“Wah benarkah? Betapa beruntungnya aku. Bisakah aku tinggal disini saja Tuan Dante? Aku tidak perlu lagi keluar kesana, aku lebih nyaman tinggal disini bersamamu saja, bolehkan?”
Dante tak menjawab, dia menarik sebuah baju lalu memberikannya pada Bella. “Pakai baju ini, jangan banyak bicara lagi. Ini sepatu dan tasnya. Kita sudah terlalu lama dibawah sini.”
“Kau memilihkan baju ini untukku?” Bella mengambil baju itu dengan bersemangat. Baju itu sangat bagus dan terlihat mewah.
__ADS_1
“Wah banyak brankas juga disini!” tangan Bella hendak memegang brankas tapi dihentikan Dante.
“Jangan main-main, nanti kalau kau memasukkan PIN yang salah akan membuat bunyi bising, aku malas mencari keributan.”
“Apa yang kau simpan di brankas-brankas itu?” tanya Bella semakin penasaran.
“Eh...jangan coba-coba membukanya!”
“Aku hanya ingin coba, bolehkan? Seperti di film-film action buka brankas, kau kan mafia jadi keren he he he he.” Bella sudah membayangkan didalam benaknya.
“Satu kali ya? Karena kalau kau sampai salah memasukkan PIN tiga kali akan membuat keributan.”
‘Aihhh kenapa aku malah memberikan izin padanya? Kenapa sekarang hatiku lembut padanya. Wanita ini benar-benar sudah mengikatku erat!’ Dante tak habis pikir dengan dirinya. ‘Aku membawanya ketempat yang istriku pun belum masuki, Tatiana bahkan tidak tahu kalau tempat ini ada.’
“Asyikkkk aku coba sekali.” Bella mengusap-usapkan tangannya sambil berpikir. Dia mencoba memikirkan nomor yang akan dia masukkan untuk membuka brankas.
“Apa yang kau lakukan? Sudah kau masukkan PIN-nya?” tanya Dante melihat Bella hanya berdiri saja didepan brankas paling besar. “Kau berdiri disana sejak tadi.”
“Belum. Aku sedang berpikir.” jawab Bella, “Aku mau sekali memasukkan PIN langsung terbuka.”
“Masukkan saja cepat, setelah itu selesai. Jangan berlama-lama lagi. Aku menunggumu memencet PIN brankas itu.” ujar Dante.
“Kenapa kau menungguku?” tanya Bella lagi menatap Dante yang belum beranjak.
“Aku ingin memastikan kau tidak salah memasukkan PIN. Jangan pencet sembarangan.”
“Baiklah. Biar aku coba dulu ya.” Bella mencibir.
“Kau masukkan nomor berapa?” tanya Dante penasaran.
“Jangan mengintip, biar aku saja yang masukkan.”
__ADS_1