
“Alex! Mainlah dulu dengan Sarah. Besok pagi kau bisa beramin dengan Bella!” bujuk Dante yang akhirnya memelankan suaranya sedikit karena anaknua yang sudah mau menangis.
“Aku tidak mau! Aku sudah rindu sekali pada Bella-ku! Ayo Bella, kita main kereta.” Alex bicara sambil mendongakkan kepalanya merajuk pada Bella.
“Alex!” sebelum Bella menjawab Dante sudah memanggil lagi anaknnya.
“Apa kau ke kamarku untuk mencari Bella?” tanya Dante ulang. ‘Apa-apaan mereka mau main kereta? Kenapa dia tidak menolak permintaan Alex? Sudah jelas dia meminta kepadaku untuk makan sup ikan! Dia memintaku untuk membuatkan untuknya hm….lalu kenapa sekarang jadi mau pergi dengan Alex?
‘Wanita ini kenapa memporak porandakan emosiku terus sih? Apa-apaan dia ini? Kenapa lebih memilih Aelx daripada aku?’ entah kenapa pikiran Dante jadi kacau balau dan membuatnya ingin bersaing dengan Alex anaknya sendiri untuk memperebutkan Bella. ‘Dia itu milikku! Kenapa malah Alex mau menguasainya sendiri? Ini tidak bisa dibiarkan, enak saja anak itu mau mengambil Bella.’
“Tidak!” Alex menggelengkan kepalanya. “Aku tadi merindukanmu Daddy! Aku tidak melihatmu hari ini makanya aku mencarimu.”
“Sekarang kau sudah melihatku. Kau mau apa Alex? Kau mau aku temani tidur?” tanya Dante pelan.
Alex menggelengkan kepalanya lagi, “Aku tidak mau! Aku mau tidur sama Bella-ku saja!” Alex lalu menatap Bella, “Ayo kita main kereta Bella.”
“Aelx! Kau tidak boleh mengganggunya. Bella belum istirahat, Alex! Bella baru datang dan masih lelah. Dia harus istirahat untuk memulihkan dirinya.”
“Tapi aku suda tidur lama tadi kan? Aku tidak lelah lagi sekarang.” jawab Bella yang membuat Dante hanya bisa mengatupkan bibirnya saja.
“Kata Bella dia tidak lelah daddy! Aku boleh main dengannya ya?” bujuk Alex.
“Tapi sekarang waktunya tidur Alex.” Dante tak mau kalah. Bagaimana pun dia tidak mau anaknya menguasai Bella dan tidur bersama wanita itu. Lalu dia tidur dengan siapa kalau Bella tidur bersama Alex? Apa-apaan ini?
“Tapi kata daddy aku boleh main kapan saja. Tidak ada batas waktu, daddy lupa ya?” Alex sudah cemberut dan menagih janji yang diberikan oleh Dante padanya. “Daddy, janji harus ditepati.”
“Hahahahah!” Hans tak bisa menahan diri lagi untuk tertawa.
Suara tawa itu berhasil membuat Dante sedikit geram sehingga menatap pemilik suara yang tak pilih-pilih tempat untuk meluapkan kegelian didalam dirinya.
__ADS_1
“Apa ini lucu Hans?”
“Jujur tidak lucu Dante! Tapi aku tahu apa yang ingin kau lakukan sehingga kau menjadi kesal. Dan kau juga baru bangun tidur ya kau belum sempat melakukan apa-apa bukan?” Hans mencibir tapi dia benar-benar tidak bisa menahan tawanya lagi sehingga sedikit tertawa dan wajahnya pun memerah.
“Alex, kembali ke kamarmu sekarang. Besok kau boleh bermain dengan Bella. Sekarang biarkan dia istirahat dulu ya.” bujuk Dante. Dia takkan mengalah pada anaknya kali ini.
“Dante! Jangan berdebat lagi dengan Alex. Dia hanya mau main kereta sebentar.” Bella mengerucutka n bibirnya dan memasang wajah cemberut seperti Alex.
“Jadi kau mau main dengannya? Bukankah tadi kau yang minta mau makan sup ikan? Tadi kau yang memintaku untuk memasak sup ikan bukan?” suara Dante mulai meninggi karena kesal.
“Nanti saja aku tidak terlalu lapar. Aku masih bisa tahan.” sekarang Bella berubah tak mau sup ikan lagi yang membuat Dante menjadi geram.
“Bella!” pria itu kembali memanggil Bella. Seperti biasa kalau dia marah maka dia akan memanggilnya dengan nama itu.
“Sebentar saja ya aku main sama Alex. Sebentar saja.” mata Bella pun sudah mulai berair mau menangis. Dia sangat merindukan Alex dan dia tidak tahu kalau Alex sudah ada dirumah itu bersamanya dari kemarin. Bella juga tidak tahu kalau Sarah juga ada disana sehingga saat ini Bella yang tadinya menginginkan sup ikan kini berubah haluan ingin menyenangkan Alex.
“Biarkan saja dulu, Dante.” ujar Hans.
“Bukan ikut campur. Hanya memberitahumu saja. Anakmu juga sebentar lagi akan tidur juga. Dia tidak akan lama membawa keluar Bella-mu.”
“Ehm….” Dante hanya berdehem sambil menatap temannya.
“Yang dia katakan itu benar. Bella hanya ingin bermain saja dengan Alex. Kau ini pelit sekali, dia kan sudah lama tidak bertemu dengan Alex.” kata Sarah menambahkan.
“Kau!” Dante melotot menatap Sarah.
“Sarah! Aku sudah katakan padmu agar menghormati Dante! Kau tidak boleh bicara begitu padanya.”
“Belinda!” Sarah memicingkan matanya menatap sang kakak.
__ADS_1
“Bella, kenapa dia memanggilmu Belinda?” tanya Alex heran memiringkan kepalanya menatapnya.
“Tidak apa-apa Alex. Sarah bisa memanggilku dengan nama Bella atau Belinda. Dia itukan adikku.”
“Ooooo begitu ya? Lalu aku apamu? Ayo Bella kita main.”
Dante memelototi anaknya, “Alex.....main sama Sarah. Tidak dengan Bella. Besok baru boleh main dengan Bella, jadilah anak yang patuh oke?”
Dante tetap berusaha, tak rela hatinya kalau harus membiarkan Bella bersama dengan Alex malam ini.
“Biarkan saja dia pergi, Dante. Dia hanya bermain sebentar saja dengan Alex. Percayalah padaku.” ujar Hans menyakinkan temannya yang tampak cemburu.
“Tapi dia belum makan sama sekali dari kemarin Hans. Bagaimana dengan bayiku?” Dante bicara lagi dan tidak biasanya dia membentak temannya untuk urusan pribadinya sehingga membuat Hans hanya mengeryitkan dahinya.
‘Cinta memang bisa merubah orang tapi kenapa Dante tidak overprotektif seperti ini pada Tatiana dulu ya?’ Hans tak mengerti tapi dia tak berani menanyakan hal itu pada Dante.
“Apa yang kau katakan, aku tidak mengerti.”
“Kata daddy kau belum makan dari kemarin Bella. Daddy mengkhawatirkan bayi, memangnya dimana ada bayi? Aku tidak lihat bayi?” Alex penasaran saat tadi dia mendengar ayahnya berkata ‘bayi’ pada Hans. Dia pun ingin tahu dimana ada bayi karena dia mau lihat. Ayahnya bicara pakai bahasa Italia pada Hans, dan Alex mengerti bahasa Italia dan bahasa Inggris.
“Wah kau pintar dan kau bisa jadi penterjemah kami.” Sarah tahu kalau kakaknya bingung menjawab pertanyaan anak itu sehingga dia mengalihkan pembicaraan. Sarah menepuk-nepuk kepala Alex dan Alex merasa senang dengan perlakukan Sarah padanya.
“Ayo Bella! Kita main.” Alex sudah membujuk Bella yang menatap Dante dengan memelas.
“Kalian bertiga pergilah dari hadapanku!” akhirnya Dante mengusir mereka bertiga dengan jarinya. ‘Fuhhh dasar wanita tidak punya pendirian! Dia sendiri yang minta sop ikan dari tadi, tapi apa yang dilakukannya sekarang? Mau main kereta dengan anaknya?’ susah payah dante menutupi kekesalannya tanpa mau memperlihatkan rasa kesalnya pada Bella.
“Apa itu artinya aku boleh main bersama Alex?” tanya Bella untuk memastikan. Dan Dante hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil menatap tajam wanita itu.
“Terimakasih Dante.” Bella merasa senang sekali sehingga senyumnya lebar dan segera menggendong Alex dan berjalan cepat sebelum Dante berubah pikiran. ‘Harus cepat pergi sebelum dia berubah pikiran.’bisik hati Bella yang secepat mungkin membawa Alex pergi kembali ke kamar tidurnya.
__ADS_1