
“Aku tidak perlu!” Dante bicara lagi dan dia segera turun dengan berlari kedalam dengan rasa khawatir yang sudah memenuhi hatinya. ‘Bertahanlah! Kau tidak apa-apa disana bukan? Kau baik-baik saja disana kan Belinda? Kau tidak terluka? Aku benar-benar bodoh, kenapa aku tidak percaya padamu? Kau adalah gadis yang polos, kau memang bodoh dan selalu menginginkan itu tapi satu hal yang aku lupa kalau kau tak pernah berbohong padaku. Arggg!”
Dante bergumam sendiri dengan rasa penyesalan. Dia pun masuk ke pintu kedua berlari turun ke bawah menuju keruangan tempat dia menempatkan Bella dan melakukan sesuatu yang buruk pada Bella. ‘Fuhh!’ tangan Dante gemetar ketika sudah sampai dan ingin membuka pintu.
‘Bel…..kenapa ruangan ini kosong?”
Flashback back on
Kemarin setelah Henry menutup pintu ruangan dimana Bella berada dn meninggalkan Bella didalam ruang penyiksaan.
‘Apa yang akan dilakukan oleh Tuan Dante pada Bella? Gadis itu sangat polos dan ketakutan!” Henry agak khawatir dan sejujurnya dia merasa hatinya tidak tenang. ‘Semoga Tuan Dante hanya ingin menakut-nakutinya dan tidak ingin menghukumnya. Karena yang harus dihukum adalah pria itu, Lorezo! Aku yakin sekali Bella tidak melakukan hal semacam itu.’
Henry semakin gundah memikirkan Bella. ‘Bella sangat menyayangi Tuan Alex. Apa yang harus kulakukan sekarang untuk membantunya?’ Didalam hati Henry ada keyakinan yang kuat bahwa Bella tidak bersalah dan dia tidak mengatakan pada siapapun. Henry berjalan kembali kearah mansion dan masuk kedalam. Tapi dia melihat Lorenzo, kepala pelayan itu membelalakkan matanya. Lorenzo berjalan turun dari tangga, lalu Henry secepatnya bersembunyi dibelakang tangga supaya dirinya tida terlihat.
“Kenapa dia bisa terlepas dari Tuan Dante?” bisik hati Henry.
“Berhati-hatilah Lorenzo! Besok aku akan menghubungimu!” ujar Tatiana tersenyum.
“Hem! Aku menunggumu Tatiana!” Lorenzo tersenyum pada Tatiana. Semua interaksi kedua orang itu diperhatikan oleh Henry tanpa sepengetahuan mereka.
“Terimakasih untuk bantuanmu hari ini Lorenzo!” Tatiana menghela napas kasar dan terdengar oleh Henry. ‘Aku sangat bersyukur sekali Lorenzo! Sebentar lagi wanita itu akan disingkirkan oleh Dante, aku yakin sekali dia tidak akan mungkin bertahan hidup.” ujar Tatiana dengan senyum merekah diwajahnya.
‘Kurang ajar! Dulu kau melakukan hal yang sama pada Cassandra dan sekarang kau juga ingin melakukan hal yang sama pada Bella? Aku tidak akan membiarkanmu! Sayangnya keluargamu tidak tahu apa yang sudah kau lakukan pada Cassandra! Waktu itu aku masih bersabar padamu karena aku pikir kau akan berubah dan aku melihat tangisanmu dimakam Cassandra! Tapi sekarang melihatmu bicara begitu untuk kedua kalinnya kau ingin membunuh seseorang yang sangat baik, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjado! Meskipun harus ditukar dengan nyawaku, aku akan berusaha menyelamatkan Bella!’ ujar Henry di persembunyiannya.
Henry pun bersembunyi semakin dalam kesudut tangga saat Tatiana membalikkan badan dan naik keatas tangga. ‘Siapa yang bisa menolong Bella?’
“Haruskah aku bicara pada Tuan Dante? Wanita iblis itu sudah mempengaruhi Tuan Dante sedemikian rupa sehingga Tuan Dante tunduk padanya. Dia membuat Tuan Dante bertekuk lutut padanya. Tuan Dante adalah seorang suami yang mudah sekali ditipu! Hahaha….” Henry berkata-kata didalam hatinya kemudian menghembuskan napas panjang.
“Ah apa yang kulakukan? Kalau sampai dia tahu aku mendengar percakapannya tadi, bisa mati aku!” Henry mulai merasa cemas. “Tapi aku tidak rela jika Bella harus dibunuh!” Henry mengganruk kepalanya yang tidak gatal.”Tapi siapa yang bisa menolongnya? Aku tidak mungkin menghancurkan Tuan Dante dan aku masih ingin dia berjaya. Tapi untuk hal yang satu ini aku tidak bisa membiarkannya. Bella sudah seperti anak bagiku! Gadis itu sangat baik dan aku berterimakasih padanya karena sejak tinggal disini, dia bisa mengambil hati Tuan Alex.” ujar Henry lagi ditempat persembunyiannya sehingga dia pun memutuskan untuk keluar dan kembali ke tempat tinggalnya.
__ADS_1
‘Hufff...untung aku bertemu denganmu!” ucap Henry lagi ketika dia nelihat seseorang yang baru akan masuk ke asrama pelayan.
“Hei kau!” panggil Henry pada seorang pria yang langsung menoleh saat mendengar dia dipanggil.
“Halo Tuan Henry. Aku letih sekali hari ini. Apa ada pekerjaan tambahan untukku?” tanya Anthony sambil terengah-engah.
“Syukurlah kau masih hidup.” Henry menepuk bahu Anthony.
“Hidup? Ah hahahahaha.” Anthony menimpali dengan tertawa terbahak-bahak. “Ada yang ingin kau katakan padaku?”
“Tidak ada! Tapi seharusnya kau paham jika aku bicara begini padamu.”
“Bicara apa?” Anthony tersenyum dan Henry melipat tangan didepan tubuhnya.
“Untuk apa seseorang yang sudah memperban tangannya yang terluka lalu dia kembali membuka perban itu dan bilang ingin pergi kerumah sakit?” tanya Henry kemudian dengan senyum diwajahnya sehingga membuat Anthony mulai merasa khawatir atas nasib dirinya.
“Tuan Henry, apa maksud anda berkata begitu?”
“Huff….apa yang kau inginkan?” Anthony seakan tahu maksud Henry, dia pun kembali memicingkan matanya menatap Henry.
“Hutang budi!”jawab Henry.
“Kau ingin apa?”
“Kau tahu kotak seg empat berwarna abu-abu dibelakang pohon-pohon sebelum kau menuju padang golf?” Henry mencoba memberikan pengarahan pada Anthony.
“Bukankah itu tempat kontrol listrik?”
“Maksudmu gardu listrik?” tanya Henry lagi.
__ADS_1
“Hem!” Anthony menganggukkan kepalanya.
“Bukan! Tapi aku ingin kau berada didekat gardu listrik malam ini. Aku tidak tahu tapi sepanjang malam ini kau berjagalah disana! Saat Tuan Dante sudah keluar dari sana dan aku juga sudah pergi, aku tidak akan mengunci pintu itu.” ujar Henry.
“Kau ingin aku mengambil sesuatu dari sana?” Anthony memicingkan matanya.
‘Siapa sebenarnya orang ini? Apakah dia mata-mata? Tapi kurasa tidak, dia selalu setia pada Tuan Dante tapi kenapa dia ingin aku melakukan ini? Ini bukan jebakan kan? Bagaimana kalau ternyata benar-benar jebakan?’ Anthony mencoba membayangkan dan memikirkan alasan Henry memberinya perintah itu padanya.
“Kau harus turun sampai kau ketemu tangga! Lalu kalau ada suara wanita yang memanggil untuk membukakan pintu, jangan kau bukakan! Itu bukan misimu! Pilihlah pintu yang berada tepat didepan tangga yang berseberangan dengan tangga itu, buka pintu itu lalu masuklah kebawah. Kau akan menemukan satu pintu terakhir, buka pintu itu dan keluarkan seseorang dari sana! Kalau kau tak ingin dia mati, bawalah dia keluar tapi kalau kau ingin dia mati kau tinggalkan saja dia disana. Kau akan menemukan bangkainya!”
“Tunggu dulu! Penjelasannya hanya seperti itu?” tanya Anthony.
“Kau ingin penjelasan apalagi?”
“Apa kau ingin menjebakku?” tanya anthony memicingkan matanya. Tapi tidak ada jawaban dari Henry, dia hanya menatap Anthony membiarkan pria itu mencari sendiri jawabannya.
“Aku rasa aku tidak akan datang!” akhirnya Anthony menolak.
“Apa kau yakin?” tanya Henry lagi.
“Hem! Apa alasannya kau menginginkan aku kesana?”
“Seorang intelijen sepertimu pasti paham apa yang harus kau lakukan Anthony!” ujar Henry lalu melangkah mendekat.
Deg! Jantung Anthony terkesiap mendengar ucapan Henry.
‘Bagaimana mereka bisa tahu tentangku? Siapa saja yang sudah tahu tentang ini? Apa yang dia inginkan? Aku sekarang terjebak dan harus melakukan keinginannya. Apa malam saat aku keluar dengan alasan kerumah sakit yang membuatnya curiga?’ rasa tak nyaman mulai muncul dihati Anthony.
Dia sama sekali tidak menyangka jika Henry akan mengatakan itu.
__ADS_1
“Kenapa kau diam saja Anthony? Apa kau tidak tahu kalau sekarang kau sedang berburu waktu dengan kehidupanmu dan kematianmu?” ujar Henry.