
PLAAKKK!
Bella refleks mengangkat tangannya memegang pipinya yang terasa sakit bekas tamparan Dante dan dia merasakan rasa asin darah yang keluar dari sudut bibirnya yang robek akibat kerasnya tamparan Dante di pipinya. Kedua pipinya kini terlihat membengkak dan lebam.
“Kalaupun kau menghina Tatiana seperti ini, kau tidak akan pernah menjadi nyonya dirumah ini! Aku tidak akan pernah menggantinya dengan wanita manapun! Sebaiknya kau hati-hati jika bicara. Oh ya hadiahmu batal!”
“Aku tidak minat jadi nyonya dirumahmu! Aku tidak minat dengan hadiahmu!” teriakan Bella membalas ucapan dante masih sempat didengar pria itu saat dia memilih keluar dari kamar dan menutup pintu dengan perasaan kesal.
‘Sepertinya memang terlalu berbahaya jika aku menaruhnya disini. Apa kau pikir karena kau dekat dengan anakku maka kau bisa menjadi bagian dari keluargaku? Cih! Itu tidak akan pernah terjadi. Hari ini aku ingin berbaik hati padamu karena kau merawat Alex dan kau membuatku bisa menemukan penyusup dirumahku. Tapi apa yang kau lakukan?” Dante tersenyum sinis, masih menuduh Bella ingin menjelek-jelekkan Tatiana didepannya.
“Dante, sayang. Kau darimana saja?” suara manja Tatiana terdengar. Dia sudah bisa mengendalikan diri dan bersikap tenang seolah dia tidak pernah melihat dan mendengar apapun barusan. Dante berjalan ke meja makan dan menghempaskan tubuhnya di kursi. Tatiana memperhatikan gerak gerik suaminya tanpa mengedipkan mata, meski hatinya masih terasa sangat sakit tapi dia mencoba bertahan karena dia tidak akan membiarkan Dante direbut oleh wanita lain.
“Mengurus beberapa pekerjaan.” jawabnya tanpa ekspresi. ‘Aku harus bisa menjaga emosiku agar tidak terlihat Tatiana, jangan sampai Tatiana tahu apa yang dikatakan Bella padaku. Aku memang kesal padanya tapi aku tidak mungkin melepaskannya sekarang dari rumah ini. Tidak aman untuknya berada diluar sana! Aku harus bisa menjaga hati Tatiana.’ bisik hati Dante.
“Kau lama sekali, aku sudah menunggumu sejak tadi.” Tatiana memasang senyum manisnya pada Dante sambil memegang tangannya.
“Maafkan aku sudah membuatmu menunggu lama! Dan maaf juga karena tadi aku kelelahan jadi aku tidak sempat memandikan Alex, apa kau yang melakukan semuanya?” tanya Dante dengan tatapan penuh cinta pada istrinya.
“Tidak apa-apa sayang! Sudah lama aku tidak melakukan itu.” jawab Tatiana dengan tersenyum.
“Maafkan aku ya karena aku selalu merebut kegiatan itu darimu!”
__ADS_1
“Tidak masalah, kau selalu ingin mengurus Alex sendirian tak ingin berbagi denganku! Jadi saat kau sedang tidur aku menggunakan kesempatan itu.” Tatiana tetap tersenyum penuh kemenangan karena bisa mengurus Alex hari ini.
Dante pun tersenyum padanya dengan kehangatan lalu tangan Dante mengelus pipi Tatiana.
‘Cih! Kalau bukan karena kau! Kalau bukan karena aku menginginkanmu tetap ada disisiku, aku tidak akan pernah mau mengurus bayi itu! Aku sudah lelah sekali selama empat tahun ini mengasuhnya, dia masih belum bisa mandiri. Mau sampai kapan aku begini? Aku masih harus memandikannya, mengganti popoknya. Aku tidak bisa menggunakan pengasuh karena aku harus menunjukkan pada Dante betapa aku sayang pada Alex dihadapan Dante! Aku sudah lelah sekali dengan anak itu!’ ujar hati Tatiana yang tersembunyi jauh dibalik senyum hangat yang selalu ditunjukkannya pada Dante.
“Ya sudah ayo kita mulai makannya.”
Tatiana mengangguk, “Tunggu dulu Dante! Lorenzo akan segera datang, aku tadi sudah mengundangnya. Lebih baik kita menunggunya makan bersama.”
“Oh aku lupa kalu kita mengundangnya untuk makan malam dan Alex akan belajar dengannya.” Dante meletakkan kembali alat makan yang sudah dipegangnya.
“Ada satu hal lagi yang sebenarnya ingin kukatakan padamu Tatiana!” ujar Dante saat dia melihat Tatiana melirik jam tangannya, sehingga wanita itu kembali fokus pada Dante.
“Apa itu? Katakan saja.” ujar Tatiana berusaha fokus.
“Apa kau keberatan jika aku menyuruh Bella belajar piano bersama dengan Alex?” Dante mngutarakan keinginannya yang membuat hati Tatiana kembali berdesir panas.
“Tentu saja aku tidak keberatan. Tapi boleh aku tahu alasanmu?” tanya Tatiana masih tersenyum.
‘Lihatlah sekarang kau bahkan mau wanita ****** itu ikut les piano! Besok apa lagi yang akan kau lakukan atau berikan padanya? Cihhhh! Aku tidak bisa menerima ini, aku harus segera menyingkirkan perempuan itu! Aku masih membutuhkanmu Dante dan aku akan tetap membuatmu berada disisiku tanpa ada wanita lain! Aku tidak tahu sudah berapa kali kau melakukannya dengan wanita itu! Takkan kubiarkan dia mengandung anakmu! Tidak!
__ADS_1
“Aku ingin Alex dan Bella bisa bermain piano berdua . Selama ini Alex jarang berlatih karena kau sibuk dan aku juga sibuk, tidak bisa menemaninya kecuali jika ada Lorenzo! Tapi satu jam sehari tidak cukup untuk Alex, dia ingin melakukannya lebih. Jadi kupikir mungkin Bella bisa bermain piano juga, mereka bisa melakukan bersama ketimbang hanya bermain dan menghabiskan waktu tak jelas!” ujar Dante menjelaskan.
“Tentu saja. Silahkan lakukan itu jika menurutmu itu yang terbaik. Kau selalu tahu apa yang terbaik, bukan? Aku juga minta maaf Dante.” kata Tatiana.
“Maksudmu?” Dante mengeryitkan keningnya.
“Aku setuju Bella ikut latihan piano tapi aku minta maaf padamu karena aku terlalu sibuk dan tidak bisa menemani Alex bermain.”
‘Aduh, masalah ini! Apa aku ada salah bicara?’ bisik Dante dihatinya.
“Jangan terlalu sensitif, aku mengatakan itu bukan karena aku menyalahkanmu tapi karena memang kita memiliki keterbatasan waktu, sayang.” Dante tersenyum, “Itulah gunanya pengasuh, mereka bisa mengisi waktu luang Alex disaat kita tidak bisa menemani anak kita, kau paham kan maksudku?” tanya Dante sambil mengeryitkan dahi dan memegang tangan Tatiana.
‘Ya, mengisi waktumu juga kan saat aku sedang tidur atau saat aku jengah! Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan bersamany? Aku mencintaimu Dante dan ini yang kutakutkan. Aku wanita yang tidak sempurna dan kau punya segalanya untuk mendapatkan apapun yang kau inginkan termasuk wanita! Sejak awal kau membawa wanita itu aku sudah curiga, mana ada pengasuh secantik itu! Bisik hati Tatiana yang sangat cemburu dan marah pada Bella tapi dia selalu tampak tenang dihadapan Dante.
“Aku mengerti Dante! Tapi aku tetap merasa kecewa pada diriku sendiri karena aku tahu Alex berbakat bermain piano, tapi aku tidak bisa menemaninya.” jawab Tatiana lemas.
“Jangan kau pikirkan itu, sayang. Biarkan Alex bermain piano bersama Bella. Mungkin kita bisa melakukan sesuatu untuk membujuk Bella agar setuju, jadi Alex akan ada temannya main piano. Biarkan mereka berdua berlatih bersama tapi bukan malam ini, mungkin bisa mulai besok! Bagaimana?” tanya Dante lagi.
“Baiklah! Aku akan bicarakan hal ini dengannya mungkin dia mau.”
Dante tersenyum dan tak mengatakan apa-apa lagi setelah mendengar ucapan Tatiana. Meskipun didalam hatinya dia merasa tidak tenang, ‘Sebenarnya ini adalah hadiah untuknya yang ingin kuberikan malam ini. Aku sebenarnya ingin memperkenalkannya pada guru pianonya dan dia bisa mulai main piano hari ini juga. Aku juga memiliki satu hadiah lain untuknya, aku ingin menaruh sebuah piano dikamarnya. Ukurannya tidak sebesar grand piano tapi cukup untuknya bermain piano bersama Alex. Dengan begitu dia bisa melupakan kejenuhannya dikamar.’
__ADS_1