PELAKOR ISTIMEWA

PELAKOR ISTIMEWA
BAB 131. DIHUJANI TEMBAKAN


__ADS_3

Dooorrrrr Dooorrrrrr Dooorrrrrr Doooorrrrrrr Doooorrrrrrr


“ANTHONY!!!!!!” teriak Bella.


“Sepertinya kau khawatir sekali kalau dia kenapa-napa. Apa kau menyukainya ha?” tanya Dante.


“Sudahlah diam saja! Tidak perlu banyak komnetar, toh kau tidak ada disana berjibaku dengan tembakan-tembakan itu.” ucap Bella asal karena dia sama sekali tidak tahu dimana keberadaan Dante. Pandangan Bella kini fokus pada Anthony, dia mencari keberadaannya digelapan malam.


Doooorrrrr Doooorrrrr Doooorrrrr……….Duaaaarrrrrr.


Rentetan tembakan diiringi suara granat memecahkan keheningan ditempat itu.


“Ahhhhhh…...apa itu granat lagi? Ini benar-benar gila!” teriak Bella dengan tubuh bergetar.


“Apa kau takut Bella sayang?” ujar Dante menggoda.


“DIAM! Aku bukan sayangmu! Kenapa kau masih banyak bicara. Kau tahu granat itu meledak dekat sekali dari tempatku. Aku bisa merasakan anginnya menerpa wajahku. DANTE…..kau!”


Nick memang melemparkan granat tidak jauh dari tempat Bella berada, semburan tanah yang hancur terkena ke wajah Bella. “Dante, bisakah kau hentikan permainan ini?”


“Apa kau pikir aku akan menurutimu, hu?”


“Apa maumu? Apa kau ingin membunuhku dan Anthony? Kalaupun aku mati maka hantuku akan menghantuimu seumur hidupmu kau takkan tenang. Anakmu juga akan menyalahkanmu dan membencimu seumur hidupmu! Kau tahu jika Alex menyayangiku.” ujar Bella.


“Oh ya? Apa kau pikir itu penting bagiku? Kalau kau mati, hantumu juga akan kuhancurkan!”

__ADS_1


“Mana aku tahu apa yang penting bagimu! Aku tidak bisa membaca pikiranmu tapi kumohon jangan lakukan ini lagi…..Hyaaakkk…..Anthony hati-hati!” teriak Bella saat tiba-tiba dia melihat bayangan Anthony yang berlari kearah bukit dimana Bella berada.


“Ahhh, apa yang harus kulakukan? Dia sudah mau kesini.” ucap Bella.


“Tenanglah Bella! Peluru itu tidak akan mengenaimu, percayalah padaku, aku janji akan menyelamatkanmu. Tenang saja disana ok?” teriakan Anthony terdengar oleh Bella.


Doooorrrrr doooorrrrr doooooorrrrr


“Anthony! Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku ok. Bagaimana keadaanmu disana?”


Mereka berbicara diantara rentetan bullet yang terus memburu Anthony tanpa henti. “Anthony! Menyerah saja, kau tidak perlu naik keatas sini. Kau bisa mati tertembak jika kau naik kesini.”


“Tidak! Aku tidak akan pernah menyerah! Aku harus menyelamatkanmu Bella!”


Doooorrrr dooooorrrrr dooooorrrrr


“Jangan! Dia memiliki senjata yang banyak sekali. Sedangkan kau hanya memiliki senjata kecil. Pertarungan ini tidak seimbang, lebih baik kau menyerah saja Anthony! Aku tidak mau kau mati tertembak disana.” teriak Bella.


“Tenang saja. Aku tidak akan kalah, kau tenang dan diam disana saja ok?” Anthony terus berusaha menenangkan Bella yang cemas dan ketakutan.


“Tuan Dante! Apa yang ingin kau lakukan padanya? Lihatlah kasihan sekali Anthony, aku takut sekali dia terkena peluru itu. Tolong hentikan permainan ini! Hanya kau yang bisa menghentikannya! Aku mohon tolong hentikan semua ini! Suruh teman-temanmu berhenti menembak!”


Dalam kondisi yang sangat menegangkan, Bella berusaha untuk berbicara dengan Dante dan berteriak meskipun tidak ada jawaban dari pria itu.


“Dimana dia, kenapa dia tidak menjawabku lagi. Apa dia tidak lagi memperhatikan kami? Apa dia tidak mendengarku?” ucap Bella yang merasa tertekan, dia sengaja meninggikan intonasi suaranya agar terdengar oleh Dante.

__ADS_1


Doooooooooorrrrr……..DUUAARRRRRR


“Hiyaaaaa!” teriak Bella. “Anthony! Kau baik-baik saja disana?”


“Dimana dia? Aku tidak melihatnya lagi, apa dia naik kesini atau dia naik ke menara disana?” Kondisi tempat Bella berada sekarang berupa kerucut tapi bentuknya setengah kerucut dibagian belakang Bella adalah sebuah tembok besar sebagai penyekat antara tempat mereka berlatih dengan pemandangan dibalik tembok. Hanya ada satu tangga untuk naik kesana, tidak ada tempat yang bisa dijadikan persembunyian. Tempat Bella duduk adalah tempat yang paling terang dan tangga tidak terlalu terang tapi ada cahaya dari lampu yang menyinari diatas kepala Bella.


Tepat dibelakang Bella adalah semen yang dibentuk seperti batu besar seolah-olah adalah sebuah puncak gunung. Bella bisa melihat ke bawah tapi saat ini dia tidak bisa menemukan keberadaan Anthony. “Bagaimana dia bisa datang kesini kalau dia hanya melewati tangga itu? Dia pasti akan terkena tembakan” Bella semakin panik karena tadi Anthony mencoba menaiki tangga itu tapi justru dia dihujani peluru tanpa henti sehingga Bella bingun mencari keberadaan Anthony.


“Arrrrgggghhhhhh! Dimana kau bersembunyi!” teriak bella panik.


Dooooorrrr  doooooorrrrr dooooorrrrr


Kini Nick kembali menembak sembarangan sambil menggerakkan lampu sorot mencari keberadaan Anthony yang masih tidak bisa dia temukan. Nick mulai terlihat frustasi dan membuat Bella pun tambah stress menyaksikannya.


“Anthony kemana sih? Aku tidak melihatnya dimanapun. Pasti temannya Dante itu merasa resah diatas sana, dia juga mencari Anthony. Apa yang dilakukannya? Kenapa dia tidak mencariku kesini?” ucap Bella. “Dante! Tolong hentikan permainan ini. Kau membuat ii seakan-akan arena pertempuran sungguhan. Ini mengerikan sekali! Kau menjadikanku sandera dan seseorang ingin menyelamatkanku tapi harus melawan orang itu.” Bella memanggil lagi Dante tapi tetap tidak ada jawaban dari pria itu.


“Aduh….dimana sih dia?” Bella kembali bergumam dan kebingungan. “Anthony! Dimana kau bersembunyi? Aku tidak bisa melihatmu. Apa kau masih hidup?”


Suara rentetan tembakan kembali terdengar dan semakin instens seolah orang yang sedang menembak itu kehilangan akal sehatnya. Nick menembakkan peluru tanpa henti berbarengan dengan melemparkan granat, dia bertindak semakin diluar kendali.


“Dante! Temanmu semakin tak terkendali, aku mohon hentikan ini. Jangan sembarangan melempar granat. Dia baru melontarkan tiga granat sekaligus, itu bisa mengenai Anthony. Dimana orang itu berada? Aku tidak melihatnya, tidak ada pergerakan apapun disana.” Bella semakin panik dan tak berhenti bicara, dia bingung dan menangis dan ketakutan dihatinya yang membuatnya tidak bisa konsentrasi. Tangannya menggigil kedinginan karena malam itu suhu udaranya dibawah tiga derajat celcius. Bella hanya mengenakan pakaian tidur biasa karena terburu-buru pergi.


Bukan hanya udara dingin yang membuatnya menggigil tapi juga suara tembakan dan ledakan granat membuat suasana hatinya tidak karuan. “Kemana dia pergi? Aku masih belum menemukannya.” Bella kembali bergumam dengan mata yang berusaha mencari di kegelapan.


“Bantun yang bisa aku lihat hanya lampu sorot itu saja. Orang diatas menara itu menyorot tempat yang baru saja diledakkannya tapi disana tidak ada pelindung, kalau Anthony melewati tempat itu maka dia akan terlihat jelas. Di area ini hampir semua tempat sudah terkena granat, hancur dan bau mesiu. Dia hanya bisa bersembunyi disemak-semak tapi dimana? Apa dibelakang batu? Tapi batu yang mana? Bebatuan itu juga tidak terlalu besar, kalau disorot lampu pasti langsung kelihatan.”

__ADS_1


“Apa kau takut?” tiba-tiba terdengar suara Dante.


“Tuan, kondisi sudah genting kau masih bertanya padaku sesuatu yang kau sudah tahu jawabannya. Kau kemana saja sih? Apa kau menikmati rasa takutku? Kau baru saja menjawabku setelah sekian lama aku memanggilmu. Kau benar-benar keterlaluan, kau membuat suasana disini mengerikan. Temanmu itu ingin membunuh Anthony.” bella terus saja mengomel tanpa henti.


__ADS_2