
“Ya begitu juga bagus.”
“Kau juga ingin aku mencari tahu sesuatu darinya?”
Anthony mengangguk lagi, “Pokoknya kau harus memastikan dia tidak bicara apapun pada ayahku! Itu hal yang paling penting. Yang kedua kau harus pastikan dia tidak banyak bertanya pada pelayan.”
“Aku paham! Itu artinya aku harus tidur bersamanya.”
“Begitulah kira-kira Anna. Apa tidak masalah bagimu?”
“Oh tentu saja tidak Anthony!” Anna mengangguk dengan senyum yang tidak bisa diartikan olehnya.
“Apa kau menginginkan sesuatu Anna?”
“Bayaran setimpal!” ujar Anna sambil membuka tangannya dan tertawa.
“Tenang saja. Aku sudah pikirkan itu.” jawab Anthony.
“Kalau bayarannya setimpal ya semua akan lancar. Aku setuju setuju saja.”
“Gila! Dasar perempuan matre!”
“Pekerjaanku ini sulit Anthony! Aku harus mengawasi.” Anna mencibir.
“Baiklah….baiklah….jadi mulai sekarang kau pindahkan barang-barangmu. Aku mau menyuruh Canta untuk mengirim orang untuk mengambil barang-barangmu dari rumahmu. Kau tidak keberatan kan?”
“Lakukan saja Anthony! Aku tidak keebratan asal bayarannya setimpal! Hehehe.” goda Anna.
“Terimakasih Anna!”
“Segitu saja? Sudah selesai ceramahmu?”
“Ya sudah selesai. Hanya itu saja yang ingin kusampaikan padamu.”
“Kalau begitu aku ke kamar ya sekarang. Aku harus memperkenalkan diri dulu padanya. Agar dia tidak terkejut dan ketakutan saat melihatku nanti.”
“Oke. Jelaskan padanya apa saja yang harus dilakukan. Aku tidak bisa terlalu banyak bicara dengannya. Wanita itu mengganggu sekali!”
“Baiklah Anthony. Aku akan menghubungimu nanti.”
“Terimakasih Anna.”
__ADS_1
Keduanya pun berpisah setelah Anthony selesai menjelaskan semuanya pada Anna. “Kau memang gadis manis sekali Anna! Dari dulu kau tidak berubah. Kau selalu membantuku kapanpun aku butuh! Dari zaman kita masih sekolah, aku senang bisa mengenalmu.” ujar Anthony menutup pintu kamarnya. Selalu ada kehangatan dihubungan Anthony dan Dokter Anna, mereka serasi dan cocok jadi partner sejak dulu. Segala yang mereka rencanakan tidak pernah gagal.
Dreeetttt dreeettttt drettttt
“Huh! Siapa lagi yang meneleponku?” Anthony pun mengeluarkan ponselnya lalu tersenyum melihat nama si penelepon dilayar ponselnya. “Hah! Sahabat lamaku ternyata!”
“Ada apa Henry?” tanya Anthony.
“Anthony! Ada yang ingin kutanyakan padamu.”
“Tenang saja Henry! Aku tidak mengatakan apapun pada Dante. Rahasiamu aman bersamaku. Dia juga tidak menanyakan siapa yang membantuku jadi semuanya aman!”
“Apa kau tahu apa yang ingin aku tanyakan? Kau masih hidup sekarang Anthony?”
“Memangnya kau mau aku mati Henry? Hahaha!”
“Jadi kau yang menyerahkan Bella pada Dante?” tanya Henry tak percaya jika Dante bisa berdamai dengan Anthony semudah itu.
“Iya! Aku akan menceritakan semuanya padamu suatu hari nanti saat kita bertemu diluar! Kapan-kapan datanglah main-main ke Slovenia. Aku tinggal disini Henry!”
“Terimakasih Anthony. Sekarang hatiku merasa tenang karena kau baik-baik saja. Baiklah, hanya itu saja yang ingin aku katakan padamu. Aku tutup dulu teleponnya.”
Klik.
Sementara itu dirumah sakit setelah Dante selesai menelepon Anthony.
‘Ku pikir ada hal penting makanya kau meneleponku Anthony! Ternyata hanya ingin membicarakan masalah wanita menyebalkan itu. Cih!’ oceh Dante menatap layar ponselnya kesal.
“Permisi Tuan.”
Beberapa pengawal datang menyapa Dante.
“Berapa orang yang datang?” tanya Dante pada anak buahnya yang sudah berdiri dihadapannya.
“Hanya kami saja Tuan. Sepuluh orang.”
“Apa? Cuma sepuluh orang? Kenapa sedikit sekali?” Dante merasa cemas karena dia merasa kalau sepuluh orang tidak cukup untuk berjaga-jaga dirumah sakit.
“Sesuai perintah Tuan Eddie begitu, Tuan!” jawab salah satu anak buah Dante dengan sedikit takut kalau dia salah bicara dihadapan Dante.
“Baiklah. Tapi kalian harus benar-benar menjaga ruangan ini. Perhatikan dokter dan perawat yang masuk. Jangan lengah saat mereka masuk kedalam. Ingat ya siapapun yang masuk kalian harus menemani masuk kedalam dan melihat apa yang mereka lakukan. Aku tidak mau ada yang menyalahgunakan obat pada ayahku! Aku juga tidak mau kalian lengah sehingga ada seseorang yang bisa menyakiti ayahku dan membuat masalah serius. Apa kalian paham?”
__ADS_1
“Paham Tuan. Kami akan berusaha keras untuk menjaga Tuan Omero sesuai dengan yang anda perintahkan..” jawab anak buahnya lagi.
“Bagus.”
“Dante maaf aku telah sampai disini.” ujar Eddie yang terengah-engah.
“Kau terlambat lima menit. Gampang sekali kau bilang maaf?”
“Kan tadi aku sudah bilang kalau aku agak kesulitan.” jawab Eddie yang datang bersama satu anak buahnya yang mengikuti dibelakangnya sambil menenteng satu kantong tas besar yang sudah dipersiapkan Henry tadi.
“Hanya segitu senjata yang kau siapkan?”
“Iya Dante. Menurutku ini sudah cukup karena kita ada dirumah sakit. Kalau lebih itu akan membuat orang-orang merasa tidak nyaman.” jawab Eddie lagi.
“Ya masuk akal juga.”
“Siapa sebenarnya yang sakit Dante?”
“Heeeh...kau tidak tahu? Apa Henry tidak mengatakan apapun padamu?” tanya Dante yang merasa agak aneh karena Henry tak biasanya bersikap seperti itu. Henry selalu memberitahu apapun pada teman-teman Dante.
“Tidak ada. Aku malah tidak tahu kalau Henry juga tahu karena dia tidak cerita apapun dan sepertinya dia sedang ada masalah Dante! Dia hari ini tidak fokus.” celetuk Eddie langsung melihat ke jendela ruangan ICU.
“Masalah apa? Aku tidak punya waktu bergosip sekarang. Ada hal penting yang harus aku kerjakan sekarang dirumah. Aku harus pulang dulu! Aku titip ayahku ya Ed!” Dante teringat dengan pekerjaannya.
“Aku mengerti. Pergilah Dante,”
Mendengar ucapan Eddie, dia tak lagi banyak bicara lalu pergi meninggalkan ruangan Icu menuju ke mobilnya. ‘Huh! Aku sudah mau pulang daritadi tapi kau harus menunggu lebih dari empat puluh lima menit.’ Dante menggerutu sambil melewati koridor rumah sakit dan cepat-cepat mau menuju kearah mobilnya. Tapi dia teringat sesuatu.
“Kejadian yang menimpa Eddie tadi adalah penyerangan yang sudah direncanakan. Aku tidak bisa pergi kesana dengan cara begini. Mereka pasti sudah melihat mobilku.” ucapnya sambil memikirkan sesuatu. “Bagaimana caranya aku pulang? Sssshhhh!” Dante berdecak dan mengamati sekitarnya.
“Aha! Aku tahu aku harus kemana dulu!” Dante langsung menuju suatu tempat yang ingin dia datangi.
“Permisi Tuan. Ada keperluan apa anda kesini?”
“Ini tanda pengenalku. Aku ingin menanyakan tentang orang-orang yang datang berkunjung.”
“Oh, anda Tuan Dante Sebastian! Ehm...silahkan masuk kalau begitu Tuan.” sambutan ramah langsung diberikan pria itu setelah membaca nama di tanda pengenal milik Dante.
“Bisakah aku melihat rekaman CCTV?” tanya Dante dengan arogan melangkah masuk.
“Tentu saja bisa tuan.” ucap security itu semakin menghormati Dante. Dia tahu kalau Dante adalah orang terkaya dikota itu. Dia bahkan tidak pernah bermimpi akan bertemu langsung dengan Dante.
__ADS_1
“Anda ingin melihat rekaman dari jam berapa Tuan? Dimana lokasinya?”
“Saat aku datang dan aku juga ingin melihat saat sahabatku datang.”