
“Ayo aku antar ke kamarmu.”
“Terimakasih Sharon.”
“Aku rasa seharusnya aku dulu belajar bagaimana caranya menjadi babysitter.” ucap Sharon.
“Memangnya kenapa?” tanya Bella mengeryitkan dahinya.
“Kau tahu, Tuan memberikan kamar yang sangat besar untukmu! Kau tidak digabungkan dengan pelayan lainnya makanya tadi aku pikir kau kerabat mereka.”
“Oh ya? Benarkah kamarku besar?” Bella juga merasa tak percaya.
“Sebenarnya kamar itu kamar yang biasanya ditempati Tuan dan Nyonya seandainya mereka terpaksa harus bermalam dikamar Tuan Muda Alex karena Tuan tidak mau pisah dengan keduanya.”
“Oh begitu. Tadi dia juga sudah bilang saat bicara dengan istrinya, sekarang aku paham.”
“Ini kamarmu, semoga kau betah bekerja disini. Tuan Muda Alex tidak rewel.” ujar Sharon.
“Tunggu, apa kau mengenalnya dekat?” tanya Bella mencoba menggali informasi dari teman barunya.
“Tentu saja. Anak itu sangat lembut dan tidak merepotkan. Bekerja disini sangat menyenangkan karena Tuan ramah dan nyonya juga baik. Keduanya perhatian pada kami.” ujar Sharon menjelaskan yang membuat Bella tersenyum meringis dalam hatinya.
‘Ramah dari mananya? Dari jonggol?’ cibir Bella dalam hati.
“Aku permisi dulu ya, selamat beristirahat.”
Setelah Sharon pergi dan menutup pintu kamar, Bella pun menghempaskan tubuhnya keatas ranjang yang empuk dan berukuran besar. “Huh, nyaman sekali tempat tidur ini!” Bella pun memejamkan mata, karena kelelahan dan tidak bisa tidur dipesawat dia merasa nyaman hingga tak terasa dia sudah tidur sangat lama.
Sementara itu, Dante yang mengantarkan Alex ke kamarnya.
“Kau perhatian sekali, sayang.”
__ADS_1
“Tentu saja kau perhatian padamu dan Alex.” Dante mengeryitkan dahinya menatap Tatiana.
“Bukan itu maksudku Dante sayang!”
“Lalu apa maksudmu?” tanya Dante yang tidak mengerti maksud istrinya.
“Tentu saja aku tahu kau perhatian padaku dan Alex. Tapi maksudku bukan perhatian pada kami. Aku melihatmu sangat perhatian pada pengasuh baru Alex. Apa tadi setelah kau menelepon temanmu, kau sengaja menunggunya?” tanya Tatiana masih berusaha tenang padahal dalam hatinya bergejolak.
“Oh tentu saja tidak! Aku agak lama bicara tadi karena ada dua panggilan masuk yang penting. Saat aku ingin naik ke buggy, aku ingat dia belum turun makanya aku mengecek keatas.” jawab Dante. ‘Hufff…..kau sangat bodoh dengan tindakanmu Bella, aku jadi berbohong pada istriku.’
“Untung saja kau mengecek kedalam pesawat lagi, Dante! Apa ada sesuatu yang terjadi didalam sana?” tanya Tatiana pada Dante yang mendudukkan Alex ditempat tidurnya dan membuka pakaiaan Alex, bersiap hendak mandi.
“Tidak ada. Semua baik-baik saja pas aku mengeceknya pas dia baru keluar dari kamar mandi.”
“Jadi memang tidak ada masalah apapun?” tanya Tatiana lagi menyakinkan.
“Tidak ada sayang. Apa yang kau risaukan?” tanya Dante yang fokus melepaskan pakaian Alex.
“Oh tidak. Kupikir dia sakit perut atau apa karena dia lama sekali dikamar mandi.” ucap Tatiana lagi.
“Mungkin dia mulas atau sakit perut.” jawab Dante.
“Ya sudahlah Dante, untuk apa membahas sakit perutnya. Ha ha ha ha.” Tatiana terkekeh. “Bagaimana dengan teman-temanmu?”
“Hmm….agak berat. Sepertinya ada masalah berat dengan Barack. Aku akan mencoba untuk mengecek keadaan Barack nanti.” lalu Dante memegang telapak tangan istrinya. “Apa kau tidak apa-apa jika aku tinggal kembali ke Indonesia untuk mencari Barack?”
“Apakah separah itu hingga kau harus kembali ke Indonesia?” tanya Tatiana. Didalam hatinya dia merasa sangat gusar, ‘Aku tidak boleh membiarkan Dante sendirian ke Indonesia, aku bisa bayangkan saat kami berada di Indonesia dia terus terusan menginginkan tubuhku lebih dari yang selalu diberikannya. Aku tidak mau dia pergi ke Indonesia sendirian!’ bisik hatinya yang ketakutan jika Dante merindukannya dan memuaskan dirinya dengan wanita-wanita disana.
“Aku rasa begitu. Aku yang harus mencarinya sendiri. Barack sedang bersama seseorang yang penting untuk kami jaga.”
“Penting?” Tatiana mengeryitkan dahinya.
__ADS_1
“Iya. Orang penting. Kau mau menginterogasiku atau ingin memandikan Alex?” tanya Dante melirik Tatiana sambil tersenyum.
“Ah, kita terlalu banyak bicara Dante.”
“Tunggu disini ya aku mandikan Alex dulu.” ucap Dante.
“Iya.” jawab Tatiana menganggukkan kepala.
“Kau bersiap juga. Kembalilah ke kamar kita dan setelah aku selesai memandikan Alex, aku akan menemuimu!”
“Mandikan Alex dulu. Tapi bisakah kita pergi ke kamar bersama? Aku tidak keberatan menunggumu disini sampai kau selesai mengurus Alex.” Tatiana berusaha mengelak, dia takut jika Dante akan menemuia Bella jika dia pergi ke kamar sendirian. Dia ingin mengawasi suaminya.
“Baiklah. Aku mandikan Alex sebentar.”
“Ok, biar aku bantu menyiapkan pakaian Alex.”
“Tidak usah. Kau beristirahat saja.” ujar dante. Akhirnya Tatiana pun menunggu.
‘Hmmm apa yang tadi dibicarakan suamiku dengan wanita itu ya? Mereka datang bersamaan, apa wanita itu mengadu pada suamiku tentang semua yang aku katakan padanya tadi? Tadi aku memang sangat khawatir makanya aku sengaja menunggu Dante diruang tamu dan mereka benar datang berdua! Apa Dante membohongiku? Kalau sampai mereka berdua ada hubungan, aku tidak akan tinggal diam! Aku akan menyingkirkan wanita itu selamanya!’ bisik hati Tatiana yang mulai merasa khawatir.
‘Kenapa wanita itu cantik sekali? Dimana Dante menemukannya, sepertinya dia juga bukan asli orang Indonesia. Pasti dia blasteran, warna matanya kebiruan dan indah, kulitnya putih mulus, tubuhnya juga sangat seksi. Darimana teman-teman Dante mendapatkan wanita itu? Tapi, kenapa ya aku merasa sangat familiar dengan wajah itu? Apa aku pernah melihatnya? Apa mungkin dia seorang artis atau model? Aku tidak akan terkejut kalau benar. Tapi sepertinya wajah itu sangat sering kulihat….tapi dimana? Sangat familiar!’ Tatiana masih belum mengetahui apapun tentang Bella dan dia juga belum mendapatkan jawaban dari suaminya sehingga yang banyak yang bisa dia lakukan selain mencoba menuntut penjelasan dari Dante.
“Apa yang kau pikirkan? Aku perhatikan kau melamun dari tadi seperti orang yang sedang banyak masalah, sayang.” tanya Dante berjalan mendekat bersama Alex yang sudah wangi dan rapi dengan pakaian baru.
“Daddy, aku mengantuk. Aku mau tidur.” ujar Alex.
“Tidak boleh! Kalau kau tidur sekarang maka nanti malam kau tidak bisa tidur lagi, kau harus sesuaikan jadwalmu dengan jam sekarang Alex!” ujar Tatiana menatap tajam Alex.
“No! Aku tidak mau! Aku mau tidur!” teriak Alex tak mau kalah.
“Alex, dengarkan saran mommy ok? Kau harus bersikap sopan dan menurut. Membantah orangtua itu tidak baik.” Dante sedikit tidak suka dengan sikap penolakan anaknya sehingga dia mengingatkannya.
__ADS_1
“Iya daddy.”
“Dante, sayang. Alex masih kecil dan belum mengerti. Biarkan saja.” ucap Tatiana berusaha bersikap lembut lagi berpura-pura sebagai ibu yang baik dan pengertian.